Part 22: Cuma Gue yang Bisa
Ify terus mandangin Rio yang sedang menerangkan materi kepada Ify di gazebo tempat Ify belajar bersama Rio.
‘Kak Riooo, gue gak sabar mau di tembak sama loo…’ batin Ify sambil senyam-senyum.
“Apa lo mandangin gue? Ganteng?” Tanya Rio.
“Emang lo ganteng, Kak…mirip kayak Justin Bieber, hehee…” kata Ify (Kayaknya penulis lagi fanatic banget sama Justin Bieber -.-)
“Najong! Gombal banget lo!” Keluh Rio.
“Tapi sayang, JB putih lo item celeng!” celetuk Ify. Rio langsung ngelempar penghapus ke kepala Ify.
“Itu mah namanya nyindir guee!!!”
“Iih, sakiit! Gue lempar sandal lagi lho!!” Kata Ify sambil mengambil sendalnya.
“Eh
lo pake sendal, gue pake sepatu!!” Balas Rio sambil mengambil
sepatunya. Lagi-lagi perang sendal vs sepatu, Deva dan Ray yang baru
datang, kena lemparan sendal Ify.
PLAAAKK!!!
“Aduuuh!!” Ify dan Rio menoleh kearah suara, Deva sedang memegang hidungnya yang kena lemparan sendal Ify.
“Kak Ify jeleekk!! Hidung gue jadi pesek niih!!” Ringis Deva.
“Idiih, berasa mancung idung lo, Dev!” kata Ray.
“Sori, my brother!!” Seru Ify.
“Sori, sori lubang idung lo tuh sori!!” Deva nyolot.
“Eh, kita lulus lho!!!” Seru Ray.
“Yang bener lo!? Lo gak nyogok diknas kan? Otak lo kan bebel, Ray!!” Kata Rio.
“Kan keturunan elo, Kak, hehee…liat dah nilai gue!!” Ray memberikan hasil UNnya.
“Widiiih, MTK 10, Bahasa 9,75, Inggris 9,5, IPA 10?? Keren gila lo!!” puji Rio.
“Thanks atas bantuan lo, Kak!” kata Ray.
“Sama-sama, Bro! Traktir gue dong!” kata Rio.
“Tongpes gue, kapan-kapan aja deh!” keluh Ray.
“Yeuuh, dasar kere!” kata Rio.
“Dev, lo lulus kagak?” Tanya Ify.
“Lulus laah, liat nih nilai gue!!” kata Deva sombong.
“Yaahh, lumayanlaahh…” kata Ify.
“Kok kita disini berempat udah kayak keluarga bahagia yaa??” Tanya Ray.
“Kak Rio ayahnya, kita anaknya, Kak Ify pembantunya!” celetuk Deva.
“Kenapa gue pembantunyaa?? Istrinya doong!!” keluh Ify.
“Iih, ngarep banget lo!!” kata Rio.
“Tapi lo seneng kan kalo gue jadi istri lo?? Hidup lo bakal bahagia, Kak!!” seru Ify.
“Hidup gue sengsaraa!! Gue gak bakal mau jadi suami lo!!” Ify manyun, kesel sama Rio.
“Ray, maen PS yuk!” ajak Deva.
“Ayo!” Ray dan Deva masuk kedalam rumah dan meninggalkan Rio dan Ify.
“Fy, lanjutin lagi, gue gak mau reputasi gue jatoh di mata nyokap lo gara-gara nilai ujian lo jelek!” kata Rio. Ify menggeleng.
“Belajaar!!”
“Nggak! Gue gak mau!!” Seru Ify.
“Ify! Darah gue udah naek ke ubun-ubun nih!” keluh Rio.
“Gue mau belajar, tapi ada satu syarat!” usul Ify.
“Apaan?”
“Lo harus ngomong sekarang yang waktu itu ketunda pas final!” kata Ify.
“Fy,
kita mau ujiaan! Jangan mikir yang nggak-nggak deh! Nilai lo jelek gue
juga yang di marahin!” keluh Rio. Ify langsung melempar sendalnya kearah
Rio.
“Tuh, belajar aja sama sendal guee!!” Ify langsung pergi kekamarnya.
“Ngambek kan tuh anak!” gerutu Rio.
***
Mereka
terheran-heran melihat Ify dan Rio yang gak mau ngomong sama sekali,
Rio diem, Ify juga diem. Gak ada omongan sama sekali.
“Lah, kenapa nih anak berdua pada diem-dieman gini?” Tanya Gabriel.
“Biasa pertengkaran suami istri,” celetuk Alvin, yang kemudian di pelototin oleh Ify dan Rio. Alvin langsung mengkerut.
“Fy, kenapa? Lo berantem?” Tanya Sivia.
“Tanya aja tuh sama si muka tembok!” gerutu Ify.
“Yo, lo berantem?” Tanya Alvin.
“Tanya aja sama si muka taplak!” gerutu Rio.
“Eh, lo ngatain muka gue kayak taplak?? Dasar tembok!” Seru Ify.
“Taplak!”
“Cungkring!”
“Begeng!”
“Sedeng!”
“Gila!!”
“Cumi!”
“Curut!”
“Item!!”
“Pesek!”
“Jelek!”
“Gue cakep!”
“Gue yang cakep!”
“Gue!”
“Gue!”
“Gue!!”
“STOOOPP!!!” Teriak Sivia. Mereka langsung pada diem.
“Heloo…ini kantin! Ntar mau ujian! Mending belajar!!” Lerai Sivia.
“Kayak anak kecil lo berdua!” Keluh Gabriel.
“Udaah, ngapain belajar…mending kayak gue bikin contekan!” celetuk Cakka, yang langsung ditimpukin pake buku.
Tiba-tiba
BB Ify berbunyi, wajah Ify menjadi berseri-seri melihat nama yang
terpampang di BB-nya. Rio yang berada di sebelahnya (berantem kok duduk
sebelahan-.-) ngintip ke BB-nya Ify.
“Apa lo ngintip-ngintip??” Tanya Ify.
“Apaan sih!!” seru Rio ngeles.
Ify
langsung menjauh dan menerima telepon tersebut, Ify tertawa-tertawa.
Begitu Ify melihat Rio sedang melihat kearahnya, langsung ngejulurin
lidah. Rio langsung panas, buku yang ada di tangannya langsung di
bejeg-bejeg sampe mau dimakan.
“Yo, jangan dimakan!!” Seru Gabriel.
“Emang telepon dari siapa, Kak?” Tanya Sivia.
“Debo!!” gerutu Rio.
“Yaudah sih Yo, siapa tau Debo nelepon Ify ada masalah, bukannya mau PDKT,” kata Alvin.
“Tapi kenapa ketawa-ketawa gitu??” Tanya Rio.
“Lo udah kayak anak cewek kehilangan Barbie tau gak!” goda Cakka. Rio langsung neken muka Cakka pake buku fisikanya.
“Makan tuh buku!!” seru Rio. Rio langsung pergi ke kelasnya.
“Yah, ngambek dah!” kata Alvin.
Kemudian Ify datang dengan senyam-senyum sendiri.
“Kenapa lo, Fy? Kayak orang gila lo!” kata Shilla.
“Aaah, nggak kok!” kata Ify.
“Dari siapa??” Tanya Agni.
“Darii…Kak debo…” gumam Ify.
“Lo udah ngasih jawaban sama dia?” Tanya Sivia. Ify manggut-manggut.
“Lo jawab apaan?” Tanya Shilla.
“Mau tau aja lo semua, hehee…” kata Ify yang langsung pergi ke kelasnya.
“Kayaknya Ify nerima Debo, deh!” kata Cakka.
“Lah? Kok lo bisa ngomong kayak gitu??” Tanya Gabriel heran.
“Buktinya tadi malu-malu gitu…berarti di terima dong!” kata Cakka optimis.
“Kalo lo salah, mau diapain??” Tanya Alvin.
“Cium gue dah!” kata Cakka.
“Idiih najong tralala! Kagak mau guee!! Jijay!” kata Sivia sambil memasang wajah jijik.
“Itu mah mau lu, Cak!” kata Gabriel sambil menoyor kepala Cakka.
“Yaudah deh, terserah lo semua! Gue yakin Ify terima Debo!!” Kata Cakka.
“Kasih tau Rio!!” kata Alvin. Mereka langsung pergi ngabur dari kantin.
***
Pulang ujian…
“Yo, kita mau ngomong!!” kata Gabriel.
“Apaan??” Tanya Rio.
“Penting banget!!” kata Shilla panik.
“Kenapa lo semua udah kayak di kejar-kejar anjing sih!!” keluh Rio.
“Ify kayaknya nerima Kak Debo deh!” kata Sivia.
“APAAA!!!” Seru Rio shock.
“Kalah start lo, Yo!” kata Alvin.
“Saya turut bersuka cita, eh salah berduka cita!” kata Cakka.
“Kata siapaa??” Tanya Rio.
“Kata Cakka!!!” Seru semua berbarengan sampe nunjuk Cakka.
“Lo yang bener, Cak!!!” kata Rio sambil menarik kerah Cakka.
“Lo nanya kayak mau ngajak berantem, Yo!! Lepasin dong!!” keluh Cakka.
“Abis tadi pas bilang telpon dari Debo, mukanya merah gitu, Yo!” kata Cakka.
“Hancur dah hati lo, Yo…” kata Alvin sambil menepuk bahu Rio.
“Pokoknya abis ujian lo harus nembak Ify, siapa tau Ify jadi berubah pikiran!” usul Gabriel.
“Iya, Kak kita bantuin deh!” kata Shilla.
“Pokoknya lo semua harus bantuin gue, kalo nggak lo semua bakal gue gorok, gue buang ke Lubang Buaya!” Ancam Rio.
***
Ujian pun selesai…
Sampai
Ify sama Rio masih berantem, gak mau ngomong, sekalinya ketemu langsung
maen pelotot-pelototan. Tapi kadang-kadang Rio suka melirik Ify,
begitupun Ify. Tapi mereka berdua JAIM, gak ada yang mau minta maaf satu
sama lain.
“Yo, kalo lo kayak gini terus, gimana mau nembak Ify??” Keluh Gabriel.
“Pokoknya tunggu aja, lo harus siapin tempatnya bareng anak-anak yang laen!” suruh Rio.
“Iya, deh!” kata Alvin yang kurang begitu yakin.
***
Ify
sedang browsing internet di gazebo rumahnya. Ify selalu membuka FB Rio.
Jujur dia sedikit bersalah sama Rio, Ify terlalu egois, Cuma memikirkan
kesenangannya sendiri. Dia rindu mengobrol dengan Rio. Saat ia sedang
memikirkan Rio, orangnya panjang umur (??). Rio datang. Penampilan Rio
sedikit berbeda, bukan Rio yang santai yang cuma memakai kaos dibalut
dengan jaket, tapi memakai kemeja biru lengan panjang yang digulung
sampai sikut di balut dengan vest. Pokoknya rapih banget dah, kereen.
“Ngapain lo? Ujian udah selesai lo gak usah ngajarin gue lagi!” kata Ify.
“Gue gak mau ngajarin elo kok,” jawab Rio.
“Lo ngapain rapih kayak gitu? Mau kondangan?” Tanya Ify heran.
“Gue mau jemput lo! Sekarang cepet lo dandan yang rapih!” suruh Rio sambil menarik Ify dan membawanya ke kamar.
“Iih, apaan sih tarik-tarik! Mau kemana??” Tanya Ify.
“Mau kondangan!! Ah ribet amat lo! Cepetan! Gue tunggu di bawah!!” suruh Rio.
“Iiih, nyebeliin!!” gerutu Ify.
Ify
segera berganti baju dengan dress warna putih. Simple tapi terlihat
glamour. Ify memakai bando warna putih, dan berdandan dengan seadanya
tidak menor. Ify pun turun kebawah. Deva dan Ray yang sedang di main PS
mangap ngeliat Ify yang begitu cantik.
“Kak, cantik amat lo! Mau kemana??” Tanya Deva.
“Tau tuh, Kak Rio yang ngajak!”
“Daripada sama Kak Rio, mending sama gue aja , Kak!” kata Ray, tapi langsung ditoyor sama Deva.
“Kakak gua, monyong! Maen nyosor ajaa!” seru Deva.
“Gue cabut ya!” kata Ify.
“Masuk!”
suruh Rio. Ify masuk kedalam Toyota Yaris Rio. Waktu menunjukkan pukul 3
sore, Rio tidak mau memberitahu Ify kemana mereka akan pergi, mata Ify
melotot begitu Rio membawanya ke Puncak.
“Kak, ngapain kita ke Puncaak??” Tanya Ify panik.
“Mau gue jual!! Ya nggak laah, bawel amat sih lo! Diem ajaa!” Seru Rio. Ify manyun.
Sampailah mereka di Cimory Restaurant, restoran yang terkenal dengan pemandangannya (tau kan semua??).
“Ayo,
masuk…” Rio menarik tangan Ify. Ify heran, tidak ada pengunjung, sepi,
hanya mereka berdua, tapi ada yang mengganjal, restoran itu seperti di
dekorasi, mereka duduk di meja yang dekat dengan area untuk melihat
pemandangan yang terbuka. Sehingga udara terasa lebih segar. Meja
tersebut dihiasi oleh lilin-lilin kecil, dan bungan mawar putih yang
ditaruh di sebuah vas kecil yang cantik.
“Tempatnya bagus banget, Kak…” kata Ify takjub.
“Makanya gue seneng kesini.” Kata Rio.
Tiba-tiba seorang pelayan datang…
“Ini daftar menunya…”
Ify menoleh kearah pelayan itu, mata Ify melotot.
“Kak Alvin??”
“Hehee…udah gak usah shock gitu, Fy, pesen cepat!!” suruh Alvin.
Mereka memesan 2 tenderloin steak dan 2 milshake coklat. Kemudian Rio memulai pembicaraan
“Fy, maafin gue ya waktu itu gue marah-marah sama lo,” kata Rio.
“Gue yang harusnya minta maaf, gue udah egois banget…” gumam Ify.
“Yaahh, kita sama-sama salah…” ujar Rio.
Kemudian mereka diem, gak ada yang ngomong, tapi tiba-tiba…
“Heii, kami mau nyanyi dulu yaa…” kata Sivia dan Shilla.
“Lah kenapa mereka juga ada??” Tanya Ify heran. Rio tidak menjawab hanya senyam-senyum saja.
Dengan iringan gitar Gabriel dan Agni, Sivia dan Agni memulai nyanyiannya.
Bila cinta menggugah rasa
Begitu indah mengusik hatiku
Menyentuh jiwaku hapuskan semua gelisah
Duhai cintaku
Duhai pujaanku
Datang padaku dekat disampingku
Kuingin hidupku selalu dalam peluknya
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia, karena dia
Begitu indaahh…
Duhai cintaku..pujaan hatiku
Peluk diriku dekap jiwaku
Bawalah aku melayang memeluk
bintang
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia, karena dia
Begitu indaahh…
Rio
dan Ify menikmati santapan mereka sambil mendengarkan suara lembut
Sivia dan Shilla. Saat sedang menikmati makanan, tiba-tiba ada yang
berteriak…
“Yaaahh, kok gue jadi badut sapi cimory siih!!! Kan gue bisa maen gitaarr!!” Seru Cakka.
Ify tertawa ngakak melihat penampilan Cakka yang memakai kostum sapi yang merupakan mascot dari restaurant Cimory.
“Lo lebih cocok jadi sapi, Cak!!” Celetuk Alvin.
“Fy, kayaknya sekarang aja gue ngomongnya,” kata Rio. Ify mengangkat alis.
“Nih kayaknya bikin gue kegeeran deh…” gumam Ify.
“Hah?”
“Lo mau nembak gue ya??” Tanya Ify.
“Skakmat!” gumam Gabriel.
“Hah?
Orang gue mau bilang kalo mulut lo tuh celemotan! Lo-nya aja yang
geer!! Gue cuma mau ngajak lo makan doang disini!” Rio ngeles. Ify mulai
kesal lagi sama Rio.
“Ooh, jadi lo cuma mau ngerjain gue doaanng!! Bete banget guee!!” gerutu Ify.
“Yo, lo tuh ngeles mulu bisanya!! Ngomong sekarang!!” teriak Alvin.
“Ayo, Kak Rio!! Buang rasa jaim lo jauh-jauh!!” seru Sivia.
“Kak Rio, lo pasti bisaa!!” kata Shilla.
“Ngomong langsung!!” seru Gabriel.
“Ayo, Yo!!” seru Agni.
“Cepetan ngomong, ntar beneran diambil Debo lho!!” kata Cakka.
“CAKKAA!!” Teriak mereka bersamaan. Cakka cuma nyengir dan nyembunyiin mukanya di kepala kostum sapi.
“Maksud lo semua apaan sih?? Lo pada mau ngerjain gue??” Tanya Ify heran.
“Fy, gue mau ngomong sama lo..” kata Rio.
“Ngomong apaan? Mulut gue celemotan
lagi??” tanya Ify.
“Nggak!!”
“Apaan?”
‘Yo, lo bisa!! Tarik napaas, buaang..’ pikir Rio.
“Guesukasamalo!!” gumam Rio. Ify melotot.
“Lo ngomong apaan?”
“Guesukasamalo!!”
“Apaan
sih?? Lo jangan kayak orang kelelep deh!!” gerutu Ify. Rio sudah habis
kesabarannya, ia langsung membawa Ify ke area untuk melihat pemandangan
yang berbentuk seperti beranda. Kemudian Rio berteriak.
“GUE..MARIO STEVANO…KENA KARMA SUKA SAMA ALYSSA SAUFIKAA!!!” Teriak Rio. Ify terkejut.
“Apa? Lo mau bilang gue kayak orang kelelep lagi??” Rio nyolot. Muka Ify memerah dan langsung menggelengkan kepalanya.
“Gue
tau lo udah balikan sama Debo, tapi gak ada salahnya kan gue nyatain
perasaan gue ke elo??” Tanya Rio. Ify mendadak bingung.
“Hah? Balikan sama Kak Debo?? Kata siapa?” Tanya Ify.
“Kata Cakka.”
“Hah? Gue gak balikan!!”
“Lah? Katanya lo pas nerima telpon dari Debo seneng-seneng gitu, kayak orang lagi jatuh cinta!!” kata Rio.
“Lo
semua salah paham, Kak Debo suka curhat sama gue dia suka sama cewek
lain, terus waktu itu dia nelpon bilang kalo dia diterima, makanya gue
senyam-senyum,” kata Ify.
“Berarti kita semua salah paham??” Tanya Sivia.
“Yaiyalah, Kak Cakka dipercaya!” keluh Ify. Mereka semua melotot kearah Cakka. Cakka menyembunyikan muka dibalik kostum sapi.
“MOOO…” Cakka niruin suara sapi (kurang kerjaan -.-).
“CAKKAAAA!!!” Cakka dikejar-kejar oleh Gabriel, Alvin, Shilla, Sivia dan Agni. Sekarang hanya ada Rio dan Ify.
“Jadi??” Tanya Rio.
“Jadi apaan?” Tanya Ify.
“Lo mau gak jadi pacar gue??” Ify tidak menjawab dan hanya tersenyum. Kemudian ia menarik napas dalam-dalam.
“WOIII!!!
ANGGOTA RISE!!! JANGAN NGIRI SAMA GUEE!! SOALNYAA CUMA GUE YANG BISA
JADI CEWEKNYA KAK RIOO!!” Teriak Ify. Rio terbelalak. Ify hanya nyengir.
“DEBOO!! SORIII IFY GUE AMBIIL!! SOALNYA CUMA GUE YANG BISA NGADEPIN CEWEK SEDENG KAYAK DIAAA!!” Teriak Rio.
“Kok Kak Debo dibawa-bawa??” keluh Ify.
“Takutnya Debo gak ridho, hahaa..”
Kemudian Ify cengar-cengir, Rio mengangkat alis.
“Berarti…jadi dong kita di jodohiin??” Tanya Ify.
“Haaahh…terserah lo deh mau nganggep apa,” keluh Rio.
“Asiik!!
Nanti Kak Rio jadi suami gue di masa depaaann!!” Ify langsung memeluk
lengan Rio. Rio hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat kelakuan
pacar barunya itu.
"Optimis banget lo! Kalo gue gak mau gimana??"
"Gue gorok lo, kak!"
"Idiih sadis amat!"
Kemudian teman-temannya datang sambil membawa sapi eh, Cakka.
“Asiiik udaah jadiaaann!! PJ!PJ!PJ!!” Teriak Gabriel.
“PJ PJ, gigi lo tuh PJ!!” seru Rio.
“Eh, kira-kira Kak Cakka mau di apain yaa? Katanya kan kalo salah, dia mau diapain ajaa..” celetuk Shilla.
“Ag, mau kita apain nih??” Tanya Gabriel.
“Ngapain yaa??” Pikir Agni.
“Gue tahu!!” kata Rio.
“Apaan?”
“Jual aja!!” usul Rio, mereka langsung menarik Cakka keluar.
“Huwaaa!!! Gue jangan dijuaaall!!” teriak Cakka.
Mereka pun menghabiskan malam bersama di Puncak.
***
Showing posts with label Cuma Gue yang Bisa. Show all posts
Showing posts with label Cuma Gue yang Bisa. Show all posts
Sunday, April 22, 2012
Cuma Gue yang Bisa part 21 (re-post)
Part 21: Sivia Kabur?
Di kantin…
“Fy, lo gak mau dateng ke pertandingan perempat final?” Tanya Shilla. Ify hanya menghela napas.
“Kak Rio gak mau liat gue lagi, kemaren aja dia buang muka sama gue,” ujar Ify.
“Kok lo gitu sih, Fy? Kak Rio butuh banget support lo,” kata Shilla.
“Gak tau deh, gue pikir-pikir dulu,” kata Ify. Kemudian Agni dan Cakka datang dan duduk di meja Ify dan Shilla.
“Widiih, kemajuan pesat nih, kok lo bisa dateng berdua?” Tanya Shilla.
“Aaaahh, kurang gaul lo, Shil! Lo gak liat infotainment? Kan ada berita gue!”
“Hah? Lo yang bikin video mesum sama Luna Maya?” Tanya Shilla.
“Kampret!! Ya nggak lah! Gue kan good boy! ” kata Cakka.
“Emang ada apaan?” Tanya Shilla heran.
“Gue udah jadian sama Agni!” Ify yang sedang minum langsung nyembur ke muka Cakka.
“Sialan! Ify jorook!!!” Seru Cakka sambil mengelap mukanya. Ify hanya nyengir.
“Kak Agni? Beneran? Gak salah? Sumpah? Suer? Gak boong?” Tanya Shilla.
“Iya, gue jadian sama si curut satu ini,” kata Agni.
“Ceritain dong!” Kata Ify.
“Dari sudut pandang gue aja ya!” kata Cakka.
“Nggak, kalo dari lo, pasti dilebih-lebih kan Kak!” kata Shilla. Cakka cuma manyun.
“Oke, gini ceritanya…”
Agni sedang belajar di kamarnya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang yang sedang mengamen di depan rumahnya. Agni merasa sangat terganggu, dan ia segera turun kebawah.
“Siapa sih yang ngamen malem-malem gini??” keluh Agni.
Agni membuka pintu dan pengamen itu masih tetap bernyanyi.
“Maaf, bang!!” Seru Agni. Tapi pengamen itu tetap bernyanyi, Agni sudah mulai kesal, ia kembali ke dalam rumah dan mengambil seember air, dan segera ia lempar ke pengamen tersebut.
BYUUURRR!!!
“Astagfirullah!!” Seru sang pengamen. Agni melotot.
‘Kayaknya gue tau nih suara!’ batin Agni. Ia membuka pagernya dan mendapati seseorang dengan muka ditutupin ember dan baju basah kuyup berdiri di depan pagar.
“Cakka??” Agni tak percaya kalo pengamen itu adalah Cakka. Cakka mengangkat ember yang sudah bersarang di kepalanya.
“Kejam banget lu, Ag, kasian kan guee…” Cakka memasang wajah cemberut. Tawa Agni meledak.
“Lo ngapain sih, ngamen di depan rumah gue??” Tanya Agni yang mempersilahkan Cakka untuk duduk di teras rumahnya.
“Gue mau ngomong sesuatu sama lo, tapi gue mau nyanyi dulu ya,” Cakka bersiap-siap dengan gitarnya.
I’ve always known you were the best
The coolest girl I know, So prettier than
All the rest the star of all the show.
So many times I wish you could be the one for me
I never knew you’d be like this girl, what you do
To me.
Your who I’m thinking of
Girl you’re my runner up no matter what, your
Always number one, My prized
possesion, one and
Only, adore you girl I want you.
The one I can't
Live without, that’s you, that’s you.
You’re my precious little lady, the one that
Make’s me crazy, Of all the girls
I’ve ever Known , It’s you, it’s you.
My favorite, my favorite, my
favorite, my Favorite girl, my favorite girl,
Your always goin out your way to
impress These mr.wrongs, I never knew
you’d
Get like this I’ll take you as you are,
You always said believe in love, it’s a dream That can’t be real, never thought
of fairytales
I’ll show you how it feels.
Your who I’m
Thinking of, girl you're my runner up,
No matter what your always number one.
My prized possesion one and only, adore ya
Girl I want you, of all the girls
I’ve ever
Known it’s you, it's you, you’re my
precious
Little lady, the one that makes me
crazy of all the girls I’ve ever
known it’s you, it’s you.
My favorite, my favorite, my
favorite, my
Favorite girl, my favorite girl.
You take my breathe away, with every thing
You say. I just wanna be with you
my baby,
My baby, ohhh. My miss don’t
play no games,
Treats you no other way, that you
deserve,
Cause you’re the girl of my
dreams.
My prize position one and only,
adore you
Girl I want you, the one I can’t
live
Without, that’s you, that’s you.
You’re my precious little lady, the
one that
Makes me crazy of all the girls
I’ve ever
Known it’s you, it’s you, ohhhh
I want you ohhh it’s you, it’s you.
My favorite, my favorite, my
favorite, my
Favorite girl, my favorite girl.
It’s you (Justin Bieber-Favorite Girl)
Agni terkagum-kagum dengan nyanyian Cakka yang ditujukan khusus untuknya, salut dengan perjuangan Cakka, mengamen di depan rumahnya sampe-sampe disiram sama Agni, muka Agni pun memerah.
“Ag, lo mau gak jadi pacar gue??” Tanya Cakka serius.
“Lo gak boong kan?” Tanya Agni.
“Ngapain gue boong, coba…gue emang bener-bener suka ama lo! Mau gak?” Tanya Cakka dengan muka mupeng.
“Stop! Jangan pandang gue dengan muka mupeng!! Haahh, kayaknya cuma gue yang bisa pacaran sama orang gila kayak lo!” kata Agni.
“Ya, ampuuun!! Alhamdulillah!! Allahu Akbar!!” Cakka sampai sujud syukur. Agni hanya tertawa.
“Gue punya satu lagu lagi buat lo!”
An empty street
An empty house
A hole inside my heart
I'm all alone and the rooms are
getting smaller
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we
sang together
And oh my love
I'm holding on forever
Reaching for a love that seem so
far
Chorus:
So I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas from coast to coast
To find the place I love the most
Where the fields are green
To see you once again, my love
I try to read
I go to work
I'm laughing with my friends
But I can't stop to keep myself
from thinking
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together
And oh my love
I'm holding on forever
Reaching for a love that seem so
far
Repeat chorus
To hold you in my arms
To promise you my love
To tell you from the heart
You're all I'm thinking of
I'm reaching for a love seem so far
Repeat chorus (Westlife-My Love)
“Begitulah ceritanya..” kata Agni.
“Kereen lo, Kak!!” salut Ify.
“Berarti tinggal Ify sama Kak Rio, niih..hehee…” goda Shilla.
“Apaan sih! Gue udah di tolak mentah-mentah sama dia!” keluh Ify.
“Aduuuh, Ify..jangan nyerah gitu dong, bukan Ify namanya kalo nyerah gitu aja…” hibur Shilla.
“Heheee…udah ah!” kata Ify cengengesan.
“Ntar dateng gak nih?” Tanya Agni.
“Iya, iya gue dateng…” kata Ify.
***
Rio selalu celingak-celinguk kearah tribun penonton, tapi tak ada orang yang di carinya. Rio pun hanya menghela napas. Gabriel dan Alvin hanya geleng-geleng kepala saja.
“Separuuh jiwakuu..pergiii…” Gabriel menyanyikan lagu Anang, Alvin pura-pura memegang gitar. Rio langsung melempar bola basket kearah mereka, sampai mereka terlonjak.
“Kacrut lu berdua!! Orang lagi sedih, malah disindiir!!” Seru Rio.
“Kita kan cuma mau menghibur si pujangga kesepian ini, iya kan, Vin?” Tanya Gabriel sambil merangkul pundak Rio.
“Iya, gimana kalo kita cariin cewek lagi? Daripada lo jadi bujang lapuk, Yo! Gak seru dong masa orang ganteng bin keren jadi bujangan seumur hidup?” kata Alvin.
“Aaah, lo semua cuma mau nyindir gue doang!!” keluh Rio.
“Pasti lo kepikiran Ify, kan?” Tanya Gabriel. Rio mengangguk.
“Gue udah jahat banget sama Ify, Ify pasti benci sama gue…” gumam Rio.
“Gak mungkin Ify benci sama lo, Yo!” kata Alvin.
“Gimana lo bisa ngomong kayak gitu??"
“Kalo dia benci sama lo, ngapain dia dateng coba sekarang??” Rio menoleh kearah belakang. Ify tepat berada di belakangnya.
“Ify?”
Ify hanya tersenyum masam, di belakang Ify sudah ada Shilla, Agni, dan Cakka.
“Kayaknya ada yang perlu ngomong berdua, gak enak jadi nyamuk disini, hehe…” goda Shilla. Mereka langsung pergi entah kemana. Hanya ada Ify dan Rio. Berdua. Gedung sepi. Anak-anak pada keluar. Bener-bener sepi. Tak ada orang. Sunyi. Senyap. Krik Krik.
“Kak, lo marah ya sama gue?” Tanya Ify.
Rio hanya diam saja, gak mungkin kan dia ngomong marah gara-gara cemburu sama Ify? Kan Rio JAIM (pengen gue timpuk pake bola basket lama-lama).
“Kalo misalnya lo marah, gue minta maaf deh,” ujar Ify sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
“Gue kira lo yang marah sama gue, gara-gara gue buang muka,” kata Rio.
“Hah? Gue gak marah kok, tapi kenapa lo tiba-tiba buang muka kayak gitu? Sumpah, gue tuh kecewa banget ngeliat lo buang muka kayak gitu…hancur hati gueee…apa salahku??apa salah bunda menganduung?” kata Ify lebay.
“Pliis, deeh jangan lebay, Fy…lo tau kenapa gue bisa kayak gitu sama lo?”
“Kenapa?”
“Soalnya gue…” baru saja Rio mau menyebutkan kata-kata keramat, tapi tiba-tiba…
GEDEBUG!!
Rio dan Ify menoleh kebelakang, semua teman-temannya terjatuh gara-gara ngintipin mereka berdua. Mereka cuma nyengir aja, muka Rio udah panas. Udah berapa kali, Yo digangguin? Berapa? TIGA KALIIII!!!
“Oh my GOD!!! Gue udah bener-bener gilaaa!! Sompret lo semua!! Kapan gue ngomongnyaaa!!” Teriak Rio.
“Ampun, Yoo!!” kata semuanya berbarengan.
Tiba-tiba Rio dicolek sama Ify. Rio melihat Ify udah cengengesan sambil malu-malu tapi mau gitu (??).
“Kenapa lo?” Tanya Rio heran.
“Kak Rio tadi mau nyatain cinta sama gue kaan? Ngakuu..lo gak bisa boong lagi dari guee…” selidik Ify. Muka Rio memerah.
“Mungkin.” Jawab Rio. Mata Ify terbelalak.
“Beneran? Lo suka sama guee??” kata Ify sambil menarik-narik seragam tim basket Rio.
“Jangan ditarik!! Melaaarr!!” Seru Rio.
“Beneran gaak??” Rio menghela napas.
Ify sudah memasang wajah mupeng. Kemudian Rio berbisik di telinga Ify.
“Bakal gue kasih tau kalo gue menang di Final,” bisik Rio. Tentu saja saat Ify mendengarnya langsung hatinya langsung berbunga-bunga. Kemudian Ify mengambil BB-nya dan memijit-mijit nomor.
“Ngapain lo?” Tanya Rio.
“Gue mau nelpon nyokap lo, gue mau bilang kalo gue mau di jodohin sama lo!!” Seru Ify kegirangan. Mata Rio terbelalak.
“Ify!!! Jangaaan!!” Seru Rio. Mereka malah main kejar-kejaran di lapangan basket.
Sementara itu, Alvin mencoba untuk menelepon Sivia, tapi handphonenya gak aktif.
“Shil, Via kemana?” Tanya Alvin.
“Tadi sih, Sivia gak masuk sekolah, kata Papanya sakit.” Kata Shilla.
Entah mengapa Alvin tak percaya dengan Shilla, sepertinya ada yang tak
beres, perasaannya tak enak.
***
“SIVIAA!! Sudah Papa bilang kamu gak boleh melukis lagii!! Kenapa kamu tetap melukis!! Darimana alat lukis ituu!!??” Seru Pak Rendra. Sivia tak menjawab. Alat lukis itu berasal dari Alvin. Sivia tak mungkin bilang kalau itu pemberian Alvin, pasti ayahnya akan marah-marah sama Alvin.
“Pa, udaaahh!” ujar Bu Vina.
“Kamu ini belain Sivia teruus!! Sivia kamu gak boleh keluar rumah, kamu Papa hukum selama seminggu!! Kamu gak boleh keluar!!! Papa bilang sama gurumu kalo kamu sakiit!!” Papanya mengunci Sivia di kamar. Sivia hanya menangis.
“Kak Alvin..” gumam Sivia sesenggukan. Kejadian tadi pagi itu masih terbayang di benak Sivia. Sivia dihukum tidak boleh keluar rumah, keluar kamarpun tak boleh. Sivia tak menyangka Papanya yang dulu baik sekarang menjadi kejam padanya. Kemudian pandangannya tertuju pada selembar kertas putih yang berada di atas meja belajarnya.
***
“Non Via, ini makan dulu…” seru Mbok Ela dari luar kamar. Tapi tak ada jawaban, Mbok Ela terus menerus mengetok pintu kamar Sivia. Tetap tak ada jawaban. Kemudian Mbok Ela memanggil Bu Vina.
“Bu, tadi saya mengetok kamar Non Via, tapi tak ada jawaban, saya takut, Bu…” kata Mbok Ela khawatir.
Bu Vina segera mencari kunci kamar Sivia dan mencoba membukanya, mereka terkejut bukan main. Sivia tak ada di kamar, jendelanya terbuka. Pandangan mereka tertuju pada sebuah kertas putih tersebut. Bu Vina membacanya dan kemudian menangis.
“Bu Vina!!” Seru Mbok Ela yang makin panik, karena Bu Vina pingsan.
***
Sudah dua hari ini Sivia tak ada kabar sama sekali, ingin sekali Alvin datang kerumahnya, tapi sejak dulu Sivia melarangnya untuk kerumahnya karena Papanya. Sebelum pertandingan final dimulai , Alvin terus menelepon Sivia, tapi tak ada jawaban, itu semakin membuat Alvin khawatir.
SMA Citra Bangsa sudah memasuki pertandingan final (pertandingan perempat final sama Semifinal di skip anggep aja menang :p) setelah mengalahkan SMA Tarumanegara dan SMA Nasional. Dan sekarang, saatnya
mereka melawan SMA Tunas Pusaka untuk memperebutkan gelar juara. Jumlah penonton pun meningkat karena final diadakan hari Sabtu, yaitu hari libur.
“Kak Alvin, ada jawaban?” Tanya Ify. Alvin menggeleng.
“Kita kerumah Sivia deh, pertandingan dimulai 3 jam lagi kan?” Tanya Shilla.
“Iya, ntar telpon gue ya, kalo lo berdua udah ketemu Sivia.” Kata Alvin.
Shilla, Ify, Agni dan Cakka pergi meninggalkan arena pertandingan untuk pergi kerumah Sivia. Mereka pergi kerumah Sivia dengan mobil milik Cakka. Agni duduk di sebelah Cakka, sedangkan Ify dan Shilla di belakang.
“Jujur ya, sebenarnya gue rada aneh, gak biasanya handphone Sivia gak aktif,” ucap Ify.
“Iya, kalaupun dia sakit pasti dia ngabarin kita,” Kata Shilla.
“Gue rasa ada yang gak beres sama Sivia,” kata Cakka.
“Yang nyetir gak usah komentar! Ntar ketabrak!!” seru Agni.
“Iyaa..Agni cantik..” goda Cakka sambil nyolek dagu Agni.
“Mau gue bogem, Cak??” Tanya Agni.
“Ahahahaha..nggak…” kata Cakka.
Sampailah mereka di depan rumah Sivia. Rumah Sivia terihat sepi, mereka berempat memencet bel rumah Sivia.
“SIVIAA!!” Seru Bu Vina saat membuka pintu, tapi pandangannya berubah kecewa begitu yang ada di depannya bukan Sivia.
“Tante Vina?” Gumam Ify. Bu Vina langsung memeluk Ify dan menangis.
“Tante, Tante kenapaa?” Tanya Ify. Mereka membawa Bu Vina masuk, mereka juga melihat Pak Rendra terlihat berantakan, mereka semua menunggu didepan telepon.
“Tante sebenernya ada apa?” Tanya Ify.
“Sivia kabur dari rumah…” gumam Bu Vina.
Mereka semua terkejut, mendengar kalimat yang di lontarkan dari mulut Bu Vina.
“Via kabuur?? Kenapa?” Tanya Shilla tak percaya.
“Ini semua salah saya, saya terlalu mengekang Sivia dan menuntut Sivia untuk berhenti melukis, saya gak tau kalo ternyata Sivia sangat tersiksa dengan perlakuan saya, saya khilaf…” ujar Pak Rendra lirih.
“Jadi sebenarnya Sivia gak sakit tapi kabur?” Tanya Cakka.
“Iya, saya sudah mengirim ajudan-ajudan saya untuk mencari Sivia, tapi sampai sekarang tidak ketemu,” kata Pak Rendra. (ceilah ajudaan :p)
“Kami akan bantu Oom dan Tante untuk mencari Sivia,” kata Agni.
“Terima kasih…” kata Bu Vina.
“Oom boleh minta sesuatu sama kalian?” Tanya Pak Rendra.
“Apa Oom?”
“Boleh saya ketemu Alvin?”
***
“Akhirnya gue ketemu lo juga di final…” ujar Debo.
“Gue nepatin janji gue kan?” Tanya Rio.
“Kita tentuin siapa yang jadi pemenangnya, kita tanding habis-habisan.”
“Oke, gue terima tantangan lo,” Rio dan Debo sebagai kapten tim berjabat tangan.
“Ify mana?” Tanya Debo.
“Dia kerumah Sivia dulu,” kata Rio.
“Ooh.”
“PRIIIITTT!!!” Peluit tanda dimulainya pertandingan dimulai, CB dan TP sama-sama saling menyerang, mereka sama-sama kuat, yang membuat seru adalah pertandingan antara Rio dan Debo.
Sementara itu, Alvin tidak bisa berkonsentrasi karena kekhawatirannya pada Sivia, temen-temennya juga belum datang. Alvin terus menengok kearah tribun penonton, tapi tak Sivia. Kemudian teman-temannya datang, tapi tanpa Sivia yang ada malah Pak
Rendra dan Bu Vina, orang tua Sivia.
“Vin, konsen!!!” Teriak Gabriel. Alvin mengangguk.
CB dan TP saling mengejar satu sama lain, kadang-kadang CB unggul kadang-kadang TP unggul, perolehan angka saling kejar mengejar. Waktu tinggal 1 menit lagi, kedudukan sekarang adalah 82-84 dengan keunggulan TP, tim CB mulai bermain dengan habis-habisan untuk mengejar perolehan angka. Saat ini bola ada di tangan Gabriel, Gabriel bingung harus mengoper ke siapa, Rio di jaga ketat oleh Debo, Alvin di jaga oleh yang lain, akhirnya Gabriel mengoper ke Obiet. Waktu tinggal 30 detik lagi.
“Yo, lo gak bisa ngelewatin gue…” kata Debo sambil terengah-engah.
“O, ya? Lo terlalu ngeremehin gue!” kata Rio.
Ternyata dengan kegesitan Rio, Rio berhasil melewati Debo, dan mendapat operan dari Obiet. Rio mendribble bolanya.
“Kak Riooo!!! Lo bisaaa!!!” Teriak Ify.
‘Satu-satunya yang harus gue lakuin cuma lemparan three points!!’ Rio melempar bola dari jarak yang cukup jauh. Semua orang berdiri, terutama teman-temannya. Ify sampai menganga. Cakka malah sibuk makan popcorn. Lo kata nonton film??
“MASUUUKKK!!!”
“PRIIITT!!!!”
Peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi, pertandingan selesai dengan kemenangan Citra Bangsa dengan kedudukan yang sangat tipis 85-84.
“Yeeeyyy!!! Kita menaaaangg!!” Teriak Ify.
Rio pun menerima trophy bergilir turnamen basket se-jabodetabek, Rio mengangkatnya tinggi-tinggi, dan Rio juga di angkat oleh timnya. Begitu melihat Debo, Rio turun.
“Yo, selamat ya! Tim lo pantes jadi jadi juara, lo juga pantes jadi MVP (Most Valuable Player).” ujar Debo.
“Thanks, De!” Mereka berjabat tangan.
“Mau tau gak apa yang gue sama Ify omongin?”
“Apaan?” Tadinya Debo mau ngasih tau Rio, tapi Ify keburu dateng.
“Gak jadi deh, kapan-kapan aja! Hehee!” Debo langsung pergi ke timnya.
“Yeuuh, ribet dah akh!” keluh Rio.
Ify sudah berdiri di depannya dengan tersenyum.
“Kak, lo keren banget, makin demen gue sama lo!” kata Ify cengengesan. Rio mulai risih tapi agak seneng juga.
“Gue udah janji kan, gue mau ngomong sama lo sekarang? Gue itu…” tiba-tiba Ify menyela omongan Rio.
“STOP!!” Sela Ify. Rio udah habis
kesabaran.
“Apa lagi siih!! Heran susah banget gue
ngomong ama lo!” Keluh Rio.
“Masalahnya sekarang bukan waktu yang tepat, Sivia kabur dari rumah!!” Seru Ify. Mata Rio melotot.
“Ah, boong lo!?”
“Ngapain gue boong!!!” kata Ify. Alvin yang mendengar kata-kata Ify langsung mematung.
“Fy, beneran?” Tanya Alvin.
“Iya Kak. Kak Alvin, orang tua Sivia mau ngomong sama Kakak,” kata Ify. Alvin menghampiri orang tua Sivia yang sedang bersama Cakka, Agni, Shilla, dan Gabriel.
“Alvin, Oom minta maaf, dulu Oom mau nampar kamu, Oom udah kehilangan akal sehat, gara-gara Oom Sivia kabur,” gumam Pak Rendra.
“Alvin, tolong bantu kami cari Sivia, mudah-mudahan Sivia pulang kalo kamu ada, Vin…” ujar Bu Vina sambil
menangis.
“Alvin bakal bantu Oom sama Tante,” kata Alvin.
“Tapi kita nyari dimana, Vin?” Tanya Cakka. Alvin mulai memutar otaknya tempat apa yang bakal Sivia datangi.
“Puncak!” Seru Alvin.
“Puncak??” Tanya Cakka heran.
“Iya, Puncak! Ayo kesana sekarang! Yo, lo bawa mobil kan??” Teriak Alvin. Rio dan Ify langsung berlari menghampiri mereka.
“Iya gue bawa,” kata Rio.
“Ayo, cabut ke Puncak kita cari Sivia!”
***
“Kak Via, kenapa kabur dari rumah?” Tanya Osa.
“Kak Via ngerasa kalo kakak gak berguna, Sa. Kakak cuma ngecewain mereka aja, Papa selalu marah sama Kak Via” ujar Sivia yang sedang membantu Osa berjualan Strawberry di Gunung Mas.
“Kenapa gitu, Kak? Orang tua Kakak marah, karena sayang sama Kakak,” ucap Osa. Sivia tersenyum lalu mengacak-acak rambut Osa.
“Gak usah dibahas lagi ya, Kak Via lebih suka tinggal di sini daripada di Jakarta, Osa gak keberatan kan?” Tanya Sivia.
“Nggak, Osa malah seneng bisa tinggal sama Kakak.” Kata Osa.
“Jualan lagi, yuk!” ajak Sivia. Saat mereka sedang berjualan, dua buah mobil berhenti di samping Sivia dan Osa. Yang ada di dalamnya keluar. Sivia terkejut, ternyata yang keluar orang tuanya, teman-temannya dan juga Alvin.
“Mama, Papa?”
“Via, pulang yaa sama Papa dan Mama, jangan bikin kami khawatir lagi…” kata Bu Vina.
“Via, maafin Papa, Papa udah jahat sama kamu, Papa emang bukan orang tua yang baik, sekarang kita pulang yaa..” ajak Pak Rendra.
“Vi, pulang ya, jangan bikin gue khawatir, plis pulang…” kata Alvin. Sivia menggeleng.
“Vi, ayo pulang…” ujar Ify.
“Via gak mau!! Via mau tetep disinii!!”
Sivia berlari meninggalkan mereka.
“Siviaaa!!!” Alvin mengejar Sivia, begitupun orang tuanya.
“Osa, jangan ikut yaa, Osa pulang aja…” kata Ify. Osa mengangguk. Ify dkk pun ikut menyusul untuk mengejar Sivia.
***
Sivia berhenti di pinggir sungai, dia tak bisa kemana-mana. Alvin dan yang lain sudah berada di belakangnya.
“Vi, plis jangan lari lagi, lo gak boleh egois, tolong ngertiin perasaan ortu lo, temen-temen lo, ngertiin perasaan gue,” gumam Alvin yang mendekat padanya dan langsung mengenggam tangannya.
“Via, ayo pulaang,” ajak Mamanya.
“Via, udah sakit hati, Ma…kenapa Via gak boleh ngelakuin yang Via suka, kenapa Papa gak bisa ngertiin Via?” Sivia menangis sesenggukan.
“Via, maafin Papa, Papa udah kehilangan akal sehat, Papa terlalu egois, Papa gak nyadar kalo kamu sakit hati, Papa gak pantas jadi orang tua,” Pak Rendra menangis, karena merasa bersalah terlalu mementingkan ambisi daripada kebahagiaan anaknya. Bu Vina memeluk Pak Rendra.
“Vi, maafin Papa kamu, ya…” kata Alvin. Sivia masih menangis.
Shilla, Ify, Rio, Gabriel, Agni dan Cakka hanya bisa melihat mereka, yang
mereka lihat bagaikan sinetron, kisah seorang anak yang terlalu dikekang hanya untuk sebuah ambisi yang harus dicapai oleh orang tua. Ingin melihat anaknya bahagia, tapi kenyataannya malah tersiksa dan tidak bahagia. (kemaren kayak komik sekarang kayak sinetron -.- tambah aneh aja cerita gue) Sivia berlari memeluk Papa dan Mamanya. Alvin tersenyum melihat Sivia yang sudah bisa memaafkan kesalahan Papanya.
“Via, maafkan Papa…”
“Iya, Pa. Via juga minta maaf, udah bikin Mama sama Papa khawatir.”
“Mama dan Papa akan memberikan semua yang kamu mau, asalkan kamu bisa bahagia…” kata Pak Rendra.
“Via cuma ingin Mama dan Papa selalu sayang sama Via, dan membiarkan Via melakukan apa yang Via senangi, meskipun jalan hidup Via tidak sejalan dengan apa yang Papa dan Mama inginkan, Via cuma mau itu aja, gak ada yang lain,” kata Sivia dengan jujur.
“Iya, Via…semuanya terserah kamu…” kata Bu Vina. Sivia memeluk orang tuanya.
“Akhirnya selesei juga masalah Sivia,” kata Gabriel.
“Jadi lo bisa sering-sering ngapel kerumahnya Sivia, Vin, hahaa..” celetuk Cakka.
“Ngapain gue ngepel di rumah Sivia, kan ada pembantunya,” kata Alvin polos.
“Dih budeeekk!!! Ngapeel! Bukan ngepeel!!” teriak Rio.
“Kak Alvin budeeekk!!” Teriak Ify.
“Yeee…ini kan di deket sungai! Gue kan jadi kagak dengeer!!” teriak Alvin.
“Iiih, ganggu masa-masa bahagia gue sama ortu gue aja niih!!” Sivia sewot.
“Udah ah, pulang yuk! Kita makan-makan, buat ngerayain kemenangan CB!!” kata Shilla.
“Oom aja yang bayarin, kalian makan aja sepuasanya," kata Pak Rendra.
"Yang bener, Oom?? Asiik!! Makan gratiiiss!!" kata Cakka kegirangan.
"Yeee..yang maen siapa, yang makan gratis siapa..lo bayar sendiri, Cak!" Seru Gabriel. Cakka cuma manyun, dan akhirnya mereka kembali ke Jakarta.
***
Di kantin…
“Fy, lo gak mau dateng ke pertandingan perempat final?” Tanya Shilla. Ify hanya menghela napas.
“Kak Rio gak mau liat gue lagi, kemaren aja dia buang muka sama gue,” ujar Ify.
“Kok lo gitu sih, Fy? Kak Rio butuh banget support lo,” kata Shilla.
“Gak tau deh, gue pikir-pikir dulu,” kata Ify. Kemudian Agni dan Cakka datang dan duduk di meja Ify dan Shilla.
“Widiih, kemajuan pesat nih, kok lo bisa dateng berdua?” Tanya Shilla.
“Aaaahh, kurang gaul lo, Shil! Lo gak liat infotainment? Kan ada berita gue!”
“Hah? Lo yang bikin video mesum sama Luna Maya?” Tanya Shilla.
“Kampret!! Ya nggak lah! Gue kan good boy! ” kata Cakka.
“Emang ada apaan?” Tanya Shilla heran.
“Gue udah jadian sama Agni!” Ify yang sedang minum langsung nyembur ke muka Cakka.
“Sialan! Ify jorook!!!” Seru Cakka sambil mengelap mukanya. Ify hanya nyengir.
“Kak Agni? Beneran? Gak salah? Sumpah? Suer? Gak boong?” Tanya Shilla.
“Iya, gue jadian sama si curut satu ini,” kata Agni.
“Ceritain dong!” Kata Ify.
“Dari sudut pandang gue aja ya!” kata Cakka.
“Nggak, kalo dari lo, pasti dilebih-lebih kan Kak!” kata Shilla. Cakka cuma manyun.
“Oke, gini ceritanya…”
Agni sedang belajar di kamarnya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang yang sedang mengamen di depan rumahnya. Agni merasa sangat terganggu, dan ia segera turun kebawah.
“Siapa sih yang ngamen malem-malem gini??” keluh Agni.
Agni membuka pintu dan pengamen itu masih tetap bernyanyi.
“Maaf, bang!!” Seru Agni. Tapi pengamen itu tetap bernyanyi, Agni sudah mulai kesal, ia kembali ke dalam rumah dan mengambil seember air, dan segera ia lempar ke pengamen tersebut.
BYUUURRR!!!
“Astagfirullah!!” Seru sang pengamen. Agni melotot.
‘Kayaknya gue tau nih suara!’ batin Agni. Ia membuka pagernya dan mendapati seseorang dengan muka ditutupin ember dan baju basah kuyup berdiri di depan pagar.
“Cakka??” Agni tak percaya kalo pengamen itu adalah Cakka. Cakka mengangkat ember yang sudah bersarang di kepalanya.
“Kejam banget lu, Ag, kasian kan guee…” Cakka memasang wajah cemberut. Tawa Agni meledak.
“Lo ngapain sih, ngamen di depan rumah gue??” Tanya Agni yang mempersilahkan Cakka untuk duduk di teras rumahnya.
“Gue mau ngomong sesuatu sama lo, tapi gue mau nyanyi dulu ya,” Cakka bersiap-siap dengan gitarnya.
I’ve always known you were the best
The coolest girl I know, So prettier than
All the rest the star of all the show.
So many times I wish you could be the one for me
I never knew you’d be like this girl, what you do
To me.
Your who I’m thinking of
Girl you’re my runner up no matter what, your
Always number one, My prized
possesion, one and
Only, adore you girl I want you.
The one I can't
Live without, that’s you, that’s you.
You’re my precious little lady, the one that
Make’s me crazy, Of all the girls
I’ve ever Known , It’s you, it’s you.
My favorite, my favorite, my
favorite, my Favorite girl, my favorite girl,
Your always goin out your way to
impress These mr.wrongs, I never knew
you’d
Get like this I’ll take you as you are,
You always said believe in love, it’s a dream That can’t be real, never thought
of fairytales
I’ll show you how it feels.
Your who I’m
Thinking of, girl you're my runner up,
No matter what your always number one.
My prized possesion one and only, adore ya
Girl I want you, of all the girls
I’ve ever
Known it’s you, it's you, you’re my
precious
Little lady, the one that makes me
crazy of all the girls I’ve ever
known it’s you, it’s you.
My favorite, my favorite, my
favorite, my
Favorite girl, my favorite girl.
You take my breathe away, with every thing
You say. I just wanna be with you
my baby,
My baby, ohhh. My miss don’t
play no games,
Treats you no other way, that you
deserve,
Cause you’re the girl of my
dreams.
My prize position one and only,
adore you
Girl I want you, the one I can’t
live
Without, that’s you, that’s you.
You’re my precious little lady, the
one that
Makes me crazy of all the girls
I’ve ever
Known it’s you, it’s you, ohhhh
I want you ohhh it’s you, it’s you.
My favorite, my favorite, my
favorite, my
Favorite girl, my favorite girl.
It’s you (Justin Bieber-Favorite Girl)
Agni terkagum-kagum dengan nyanyian Cakka yang ditujukan khusus untuknya, salut dengan perjuangan Cakka, mengamen di depan rumahnya sampe-sampe disiram sama Agni, muka Agni pun memerah.
“Ag, lo mau gak jadi pacar gue??” Tanya Cakka serius.
“Lo gak boong kan?” Tanya Agni.
“Ngapain gue boong, coba…gue emang bener-bener suka ama lo! Mau gak?” Tanya Cakka dengan muka mupeng.
“Stop! Jangan pandang gue dengan muka mupeng!! Haahh, kayaknya cuma gue yang bisa pacaran sama orang gila kayak lo!” kata Agni.
“Ya, ampuuun!! Alhamdulillah!! Allahu Akbar!!” Cakka sampai sujud syukur. Agni hanya tertawa.
“Gue punya satu lagu lagi buat lo!”
An empty street
An empty house
A hole inside my heart
I'm all alone and the rooms are
getting smaller
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we
sang together
And oh my love
I'm holding on forever
Reaching for a love that seem so
far
Chorus:
So I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas from coast to coast
To find the place I love the most
Where the fields are green
To see you once again, my love
I try to read
I go to work
I'm laughing with my friends
But I can't stop to keep myself
from thinking
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together
And oh my love
I'm holding on forever
Reaching for a love that seem so
far
Repeat chorus
To hold you in my arms
To promise you my love
To tell you from the heart
You're all I'm thinking of
I'm reaching for a love seem so far
Repeat chorus (Westlife-My Love)
“Begitulah ceritanya..” kata Agni.
“Kereen lo, Kak!!” salut Ify.
“Berarti tinggal Ify sama Kak Rio, niih..hehee…” goda Shilla.
“Apaan sih! Gue udah di tolak mentah-mentah sama dia!” keluh Ify.
“Aduuuh, Ify..jangan nyerah gitu dong, bukan Ify namanya kalo nyerah gitu aja…” hibur Shilla.
“Heheee…udah ah!” kata Ify cengengesan.
“Ntar dateng gak nih?” Tanya Agni.
“Iya, iya gue dateng…” kata Ify.
***
Rio selalu celingak-celinguk kearah tribun penonton, tapi tak ada orang yang di carinya. Rio pun hanya menghela napas. Gabriel dan Alvin hanya geleng-geleng kepala saja.
“Separuuh jiwakuu..pergiii…” Gabriel menyanyikan lagu Anang, Alvin pura-pura memegang gitar. Rio langsung melempar bola basket kearah mereka, sampai mereka terlonjak.
“Kacrut lu berdua!! Orang lagi sedih, malah disindiir!!” Seru Rio.
“Kita kan cuma mau menghibur si pujangga kesepian ini, iya kan, Vin?” Tanya Gabriel sambil merangkul pundak Rio.
“Iya, gimana kalo kita cariin cewek lagi? Daripada lo jadi bujang lapuk, Yo! Gak seru dong masa orang ganteng bin keren jadi bujangan seumur hidup?” kata Alvin.
“Aaah, lo semua cuma mau nyindir gue doang!!” keluh Rio.
“Pasti lo kepikiran Ify, kan?” Tanya Gabriel. Rio mengangguk.
“Gue udah jahat banget sama Ify, Ify pasti benci sama gue…” gumam Rio.
“Gak mungkin Ify benci sama lo, Yo!” kata Alvin.
“Gimana lo bisa ngomong kayak gitu??"
“Kalo dia benci sama lo, ngapain dia dateng coba sekarang??” Rio menoleh kearah belakang. Ify tepat berada di belakangnya.
“Ify?”
Ify hanya tersenyum masam, di belakang Ify sudah ada Shilla, Agni, dan Cakka.
“Kayaknya ada yang perlu ngomong berdua, gak enak jadi nyamuk disini, hehe…” goda Shilla. Mereka langsung pergi entah kemana. Hanya ada Ify dan Rio. Berdua. Gedung sepi. Anak-anak pada keluar. Bener-bener sepi. Tak ada orang. Sunyi. Senyap. Krik Krik.
“Kak, lo marah ya sama gue?” Tanya Ify.
Rio hanya diam saja, gak mungkin kan dia ngomong marah gara-gara cemburu sama Ify? Kan Rio JAIM (pengen gue timpuk pake bola basket lama-lama).
“Kalo misalnya lo marah, gue minta maaf deh,” ujar Ify sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
“Gue kira lo yang marah sama gue, gara-gara gue buang muka,” kata Rio.
“Hah? Gue gak marah kok, tapi kenapa lo tiba-tiba buang muka kayak gitu? Sumpah, gue tuh kecewa banget ngeliat lo buang muka kayak gitu…hancur hati gueee…apa salahku??apa salah bunda menganduung?” kata Ify lebay.
“Pliis, deeh jangan lebay, Fy…lo tau kenapa gue bisa kayak gitu sama lo?”
“Kenapa?”
“Soalnya gue…” baru saja Rio mau menyebutkan kata-kata keramat, tapi tiba-tiba…
GEDEBUG!!
Rio dan Ify menoleh kebelakang, semua teman-temannya terjatuh gara-gara ngintipin mereka berdua. Mereka cuma nyengir aja, muka Rio udah panas. Udah berapa kali, Yo digangguin? Berapa? TIGA KALIIII!!!
“Oh my GOD!!! Gue udah bener-bener gilaaa!! Sompret lo semua!! Kapan gue ngomongnyaaa!!” Teriak Rio.
“Ampun, Yoo!!” kata semuanya berbarengan.
Tiba-tiba Rio dicolek sama Ify. Rio melihat Ify udah cengengesan sambil malu-malu tapi mau gitu (??).
“Kenapa lo?” Tanya Rio heran.
“Kak Rio tadi mau nyatain cinta sama gue kaan? Ngakuu..lo gak bisa boong lagi dari guee…” selidik Ify. Muka Rio memerah.
“Mungkin.” Jawab Rio. Mata Ify terbelalak.
“Beneran? Lo suka sama guee??” kata Ify sambil menarik-narik seragam tim basket Rio.
“Jangan ditarik!! Melaaarr!!” Seru Rio.
“Beneran gaak??” Rio menghela napas.
Ify sudah memasang wajah mupeng. Kemudian Rio berbisik di telinga Ify.
“Bakal gue kasih tau kalo gue menang di Final,” bisik Rio. Tentu saja saat Ify mendengarnya langsung hatinya langsung berbunga-bunga. Kemudian Ify mengambil BB-nya dan memijit-mijit nomor.
“Ngapain lo?” Tanya Rio.
“Gue mau nelpon nyokap lo, gue mau bilang kalo gue mau di jodohin sama lo!!” Seru Ify kegirangan. Mata Rio terbelalak.
“Ify!!! Jangaaan!!” Seru Rio. Mereka malah main kejar-kejaran di lapangan basket.
Sementara itu, Alvin mencoba untuk menelepon Sivia, tapi handphonenya gak aktif.
“Shil, Via kemana?” Tanya Alvin.
“Tadi sih, Sivia gak masuk sekolah, kata Papanya sakit.” Kata Shilla.
Entah mengapa Alvin tak percaya dengan Shilla, sepertinya ada yang tak
beres, perasaannya tak enak.
***
“SIVIAA!! Sudah Papa bilang kamu gak boleh melukis lagii!! Kenapa kamu tetap melukis!! Darimana alat lukis ituu!!??” Seru Pak Rendra. Sivia tak menjawab. Alat lukis itu berasal dari Alvin. Sivia tak mungkin bilang kalau itu pemberian Alvin, pasti ayahnya akan marah-marah sama Alvin.
“Pa, udaaahh!” ujar Bu Vina.
“Kamu ini belain Sivia teruus!! Sivia kamu gak boleh keluar rumah, kamu Papa hukum selama seminggu!! Kamu gak boleh keluar!!! Papa bilang sama gurumu kalo kamu sakiit!!” Papanya mengunci Sivia di kamar. Sivia hanya menangis.
“Kak Alvin..” gumam Sivia sesenggukan. Kejadian tadi pagi itu masih terbayang di benak Sivia. Sivia dihukum tidak boleh keluar rumah, keluar kamarpun tak boleh. Sivia tak menyangka Papanya yang dulu baik sekarang menjadi kejam padanya. Kemudian pandangannya tertuju pada selembar kertas putih yang berada di atas meja belajarnya.
***
“Non Via, ini makan dulu…” seru Mbok Ela dari luar kamar. Tapi tak ada jawaban, Mbok Ela terus menerus mengetok pintu kamar Sivia. Tetap tak ada jawaban. Kemudian Mbok Ela memanggil Bu Vina.
“Bu, tadi saya mengetok kamar Non Via, tapi tak ada jawaban, saya takut, Bu…” kata Mbok Ela khawatir.
Bu Vina segera mencari kunci kamar Sivia dan mencoba membukanya, mereka terkejut bukan main. Sivia tak ada di kamar, jendelanya terbuka. Pandangan mereka tertuju pada sebuah kertas putih tersebut. Bu Vina membacanya dan kemudian menangis.
“Bu Vina!!” Seru Mbok Ela yang makin panik, karena Bu Vina pingsan.
***
Sudah dua hari ini Sivia tak ada kabar sama sekali, ingin sekali Alvin datang kerumahnya, tapi sejak dulu Sivia melarangnya untuk kerumahnya karena Papanya. Sebelum pertandingan final dimulai , Alvin terus menelepon Sivia, tapi tak ada jawaban, itu semakin membuat Alvin khawatir.
SMA Citra Bangsa sudah memasuki pertandingan final (pertandingan perempat final sama Semifinal di skip anggep aja menang :p) setelah mengalahkan SMA Tarumanegara dan SMA Nasional. Dan sekarang, saatnya
mereka melawan SMA Tunas Pusaka untuk memperebutkan gelar juara. Jumlah penonton pun meningkat karena final diadakan hari Sabtu, yaitu hari libur.
“Kak Alvin, ada jawaban?” Tanya Ify. Alvin menggeleng.
“Kita kerumah Sivia deh, pertandingan dimulai 3 jam lagi kan?” Tanya Shilla.
“Iya, ntar telpon gue ya, kalo lo berdua udah ketemu Sivia.” Kata Alvin.
Shilla, Ify, Agni dan Cakka pergi meninggalkan arena pertandingan untuk pergi kerumah Sivia. Mereka pergi kerumah Sivia dengan mobil milik Cakka. Agni duduk di sebelah Cakka, sedangkan Ify dan Shilla di belakang.
“Jujur ya, sebenarnya gue rada aneh, gak biasanya handphone Sivia gak aktif,” ucap Ify.
“Iya, kalaupun dia sakit pasti dia ngabarin kita,” Kata Shilla.
“Gue rasa ada yang gak beres sama Sivia,” kata Cakka.
“Yang nyetir gak usah komentar! Ntar ketabrak!!” seru Agni.
“Iyaa..Agni cantik..” goda Cakka sambil nyolek dagu Agni.
“Mau gue bogem, Cak??” Tanya Agni.
“Ahahahaha..nggak…” kata Cakka.
Sampailah mereka di depan rumah Sivia. Rumah Sivia terihat sepi, mereka berempat memencet bel rumah Sivia.
“SIVIAA!!” Seru Bu Vina saat membuka pintu, tapi pandangannya berubah kecewa begitu yang ada di depannya bukan Sivia.
“Tante Vina?” Gumam Ify. Bu Vina langsung memeluk Ify dan menangis.
“Tante, Tante kenapaa?” Tanya Ify. Mereka membawa Bu Vina masuk, mereka juga melihat Pak Rendra terlihat berantakan, mereka semua menunggu didepan telepon.
“Tante sebenernya ada apa?” Tanya Ify.
“Sivia kabur dari rumah…” gumam Bu Vina.
Mereka semua terkejut, mendengar kalimat yang di lontarkan dari mulut Bu Vina.
“Via kabuur?? Kenapa?” Tanya Shilla tak percaya.
“Ini semua salah saya, saya terlalu mengekang Sivia dan menuntut Sivia untuk berhenti melukis, saya gak tau kalo ternyata Sivia sangat tersiksa dengan perlakuan saya, saya khilaf…” ujar Pak Rendra lirih.
“Jadi sebenarnya Sivia gak sakit tapi kabur?” Tanya Cakka.
“Iya, saya sudah mengirim ajudan-ajudan saya untuk mencari Sivia, tapi sampai sekarang tidak ketemu,” kata Pak Rendra. (ceilah ajudaan :p)
“Kami akan bantu Oom dan Tante untuk mencari Sivia,” kata Agni.
“Terima kasih…” kata Bu Vina.
“Oom boleh minta sesuatu sama kalian?” Tanya Pak Rendra.
“Apa Oom?”
“Boleh saya ketemu Alvin?”
***
“Akhirnya gue ketemu lo juga di final…” ujar Debo.
“Gue nepatin janji gue kan?” Tanya Rio.
“Kita tentuin siapa yang jadi pemenangnya, kita tanding habis-habisan.”
“Oke, gue terima tantangan lo,” Rio dan Debo sebagai kapten tim berjabat tangan.
“Ify mana?” Tanya Debo.
“Dia kerumah Sivia dulu,” kata Rio.
“Ooh.”
“PRIIIITTT!!!” Peluit tanda dimulainya pertandingan dimulai, CB dan TP sama-sama saling menyerang, mereka sama-sama kuat, yang membuat seru adalah pertandingan antara Rio dan Debo.
Sementara itu, Alvin tidak bisa berkonsentrasi karena kekhawatirannya pada Sivia, temen-temennya juga belum datang. Alvin terus menengok kearah tribun penonton, tapi tak Sivia. Kemudian teman-temannya datang, tapi tanpa Sivia yang ada malah Pak
Rendra dan Bu Vina, orang tua Sivia.
“Vin, konsen!!!” Teriak Gabriel. Alvin mengangguk.
CB dan TP saling mengejar satu sama lain, kadang-kadang CB unggul kadang-kadang TP unggul, perolehan angka saling kejar mengejar. Waktu tinggal 1 menit lagi, kedudukan sekarang adalah 82-84 dengan keunggulan TP, tim CB mulai bermain dengan habis-habisan untuk mengejar perolehan angka. Saat ini bola ada di tangan Gabriel, Gabriel bingung harus mengoper ke siapa, Rio di jaga ketat oleh Debo, Alvin di jaga oleh yang lain, akhirnya Gabriel mengoper ke Obiet. Waktu tinggal 30 detik lagi.
“Yo, lo gak bisa ngelewatin gue…” kata Debo sambil terengah-engah.
“O, ya? Lo terlalu ngeremehin gue!” kata Rio.
Ternyata dengan kegesitan Rio, Rio berhasil melewati Debo, dan mendapat operan dari Obiet. Rio mendribble bolanya.
“Kak Riooo!!! Lo bisaaa!!!” Teriak Ify.
‘Satu-satunya yang harus gue lakuin cuma lemparan three points!!’ Rio melempar bola dari jarak yang cukup jauh. Semua orang berdiri, terutama teman-temannya. Ify sampai menganga. Cakka malah sibuk makan popcorn. Lo kata nonton film??
“MASUUUKKK!!!”
“PRIIITT!!!!”
Peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi, pertandingan selesai dengan kemenangan Citra Bangsa dengan kedudukan yang sangat tipis 85-84.
“Yeeeyyy!!! Kita menaaaangg!!” Teriak Ify.
Rio pun menerima trophy bergilir turnamen basket se-jabodetabek, Rio mengangkatnya tinggi-tinggi, dan Rio juga di angkat oleh timnya. Begitu melihat Debo, Rio turun.
“Yo, selamat ya! Tim lo pantes jadi jadi juara, lo juga pantes jadi MVP (Most Valuable Player).” ujar Debo.
“Thanks, De!” Mereka berjabat tangan.
“Mau tau gak apa yang gue sama Ify omongin?”
“Apaan?” Tadinya Debo mau ngasih tau Rio, tapi Ify keburu dateng.
“Gak jadi deh, kapan-kapan aja! Hehee!” Debo langsung pergi ke timnya.
“Yeuuh, ribet dah akh!” keluh Rio.
Ify sudah berdiri di depannya dengan tersenyum.
“Kak, lo keren banget, makin demen gue sama lo!” kata Ify cengengesan. Rio mulai risih tapi agak seneng juga.
“Gue udah janji kan, gue mau ngomong sama lo sekarang? Gue itu…” tiba-tiba Ify menyela omongan Rio.
“STOP!!” Sela Ify. Rio udah habis
kesabaran.
“Apa lagi siih!! Heran susah banget gue
ngomong ama lo!” Keluh Rio.
“Masalahnya sekarang bukan waktu yang tepat, Sivia kabur dari rumah!!” Seru Ify. Mata Rio melotot.
“Ah, boong lo!?”
“Ngapain gue boong!!!” kata Ify. Alvin yang mendengar kata-kata Ify langsung mematung.
“Fy, beneran?” Tanya Alvin.
“Iya Kak. Kak Alvin, orang tua Sivia mau ngomong sama Kakak,” kata Ify. Alvin menghampiri orang tua Sivia yang sedang bersama Cakka, Agni, Shilla, dan Gabriel.
“Alvin, Oom minta maaf, dulu Oom mau nampar kamu, Oom udah kehilangan akal sehat, gara-gara Oom Sivia kabur,” gumam Pak Rendra.
“Alvin, tolong bantu kami cari Sivia, mudah-mudahan Sivia pulang kalo kamu ada, Vin…” ujar Bu Vina sambil
menangis.
“Alvin bakal bantu Oom sama Tante,” kata Alvin.
“Tapi kita nyari dimana, Vin?” Tanya Cakka. Alvin mulai memutar otaknya tempat apa yang bakal Sivia datangi.
“Puncak!” Seru Alvin.
“Puncak??” Tanya Cakka heran.
“Iya, Puncak! Ayo kesana sekarang! Yo, lo bawa mobil kan??” Teriak Alvin. Rio dan Ify langsung berlari menghampiri mereka.
“Iya gue bawa,” kata Rio.
“Ayo, cabut ke Puncak kita cari Sivia!”
***
“Kak Via, kenapa kabur dari rumah?” Tanya Osa.
“Kak Via ngerasa kalo kakak gak berguna, Sa. Kakak cuma ngecewain mereka aja, Papa selalu marah sama Kak Via” ujar Sivia yang sedang membantu Osa berjualan Strawberry di Gunung Mas.
“Kenapa gitu, Kak? Orang tua Kakak marah, karena sayang sama Kakak,” ucap Osa. Sivia tersenyum lalu mengacak-acak rambut Osa.
“Gak usah dibahas lagi ya, Kak Via lebih suka tinggal di sini daripada di Jakarta, Osa gak keberatan kan?” Tanya Sivia.
“Nggak, Osa malah seneng bisa tinggal sama Kakak.” Kata Osa.
“Jualan lagi, yuk!” ajak Sivia. Saat mereka sedang berjualan, dua buah mobil berhenti di samping Sivia dan Osa. Yang ada di dalamnya keluar. Sivia terkejut, ternyata yang keluar orang tuanya, teman-temannya dan juga Alvin.
“Mama, Papa?”
“Via, pulang yaa sama Papa dan Mama, jangan bikin kami khawatir lagi…” kata Bu Vina.
“Via, maafin Papa, Papa udah jahat sama kamu, Papa emang bukan orang tua yang baik, sekarang kita pulang yaa..” ajak Pak Rendra.
“Vi, pulang ya, jangan bikin gue khawatir, plis pulang…” kata Alvin. Sivia menggeleng.
“Vi, ayo pulang…” ujar Ify.
“Via gak mau!! Via mau tetep disinii!!”
Sivia berlari meninggalkan mereka.
“Siviaaa!!!” Alvin mengejar Sivia, begitupun orang tuanya.
“Osa, jangan ikut yaa, Osa pulang aja…” kata Ify. Osa mengangguk. Ify dkk pun ikut menyusul untuk mengejar Sivia.
***
Sivia berhenti di pinggir sungai, dia tak bisa kemana-mana. Alvin dan yang lain sudah berada di belakangnya.
“Vi, plis jangan lari lagi, lo gak boleh egois, tolong ngertiin perasaan ortu lo, temen-temen lo, ngertiin perasaan gue,” gumam Alvin yang mendekat padanya dan langsung mengenggam tangannya.
“Via, ayo pulaang,” ajak Mamanya.
“Via, udah sakit hati, Ma…kenapa Via gak boleh ngelakuin yang Via suka, kenapa Papa gak bisa ngertiin Via?” Sivia menangis sesenggukan.
“Via, maafin Papa, Papa udah kehilangan akal sehat, Papa terlalu egois, Papa gak nyadar kalo kamu sakit hati, Papa gak pantas jadi orang tua,” Pak Rendra menangis, karena merasa bersalah terlalu mementingkan ambisi daripada kebahagiaan anaknya. Bu Vina memeluk Pak Rendra.
“Vi, maafin Papa kamu, ya…” kata Alvin. Sivia masih menangis.
Shilla, Ify, Rio, Gabriel, Agni dan Cakka hanya bisa melihat mereka, yang
mereka lihat bagaikan sinetron, kisah seorang anak yang terlalu dikekang hanya untuk sebuah ambisi yang harus dicapai oleh orang tua. Ingin melihat anaknya bahagia, tapi kenyataannya malah tersiksa dan tidak bahagia. (kemaren kayak komik sekarang kayak sinetron -.- tambah aneh aja cerita gue) Sivia berlari memeluk Papa dan Mamanya. Alvin tersenyum melihat Sivia yang sudah bisa memaafkan kesalahan Papanya.
“Via, maafkan Papa…”
“Iya, Pa. Via juga minta maaf, udah bikin Mama sama Papa khawatir.”
“Mama dan Papa akan memberikan semua yang kamu mau, asalkan kamu bisa bahagia…” kata Pak Rendra.
“Via cuma ingin Mama dan Papa selalu sayang sama Via, dan membiarkan Via melakukan apa yang Via senangi, meskipun jalan hidup Via tidak sejalan dengan apa yang Papa dan Mama inginkan, Via cuma mau itu aja, gak ada yang lain,” kata Sivia dengan jujur.
“Iya, Via…semuanya terserah kamu…” kata Bu Vina. Sivia memeluk orang tuanya.
“Akhirnya selesei juga masalah Sivia,” kata Gabriel.
“Jadi lo bisa sering-sering ngapel kerumahnya Sivia, Vin, hahaa..” celetuk Cakka.
“Ngapain gue ngepel di rumah Sivia, kan ada pembantunya,” kata Alvin polos.
“Dih budeeekk!!! Ngapeel! Bukan ngepeel!!” teriak Rio.
“Kak Alvin budeeekk!!” Teriak Ify.
“Yeee…ini kan di deket sungai! Gue kan jadi kagak dengeer!!” teriak Alvin.
“Iiih, ganggu masa-masa bahagia gue sama ortu gue aja niih!!” Sivia sewot.
“Udah ah, pulang yuk! Kita makan-makan, buat ngerayain kemenangan CB!!” kata Shilla.
“Oom aja yang bayarin, kalian makan aja sepuasanya," kata Pak Rendra.
"Yang bener, Oom?? Asiik!! Makan gratiiiss!!" kata Cakka kegirangan.
"Yeee..yang maen siapa, yang makan gratis siapa..lo bayar sendiri, Cak!" Seru Gabriel. Cakka cuma manyun, dan akhirnya mereka kembali ke Jakarta.
***
Cuma Gue yang Bisa part 20 (re-post)
Part 20: Rio Cemburu
“Gimana? Deal?” Tanya Debo.
“Deal.” Mereka berjabat tangan.
Rio dan Debo membuka jaketnya, Rio mengambil bola basketnya dan membawanya ketengah lapangan. Ia berikan kepada Debo. Mereka sudah bersiap-siap di tengah lapangan. Debo memulai permainannya, Rio merasa sangat kesulitan untuk mengimbangi permainan Debo karena baru sembuh dari sakitnya. Akhirnya Debo mendapat poin pertama. Rio sudah mulai kelelahan. 2-0
“Lo kenapa, Yo? Permainan lo gak sebagus biasanya!” Seru Debo sambil mendribble bola. Rio menghapus keringatnya yang sudah bercucuran. Rio gak mau bilang tentang dirinya yang baru sembuh dari sakit, karena akan membuat Debo mengalah dan memperlambat permainannya. Rio langsung berlari mencoba mengambil bola Debo, dan kedudukannya pun menjadi 2-2. Persaingan semakin sengit, sampai akhirnya nilai mereka 8-8, hanya
dengan satu lemparan lagi, Rio ataupun Debo akan memenangkan duel mereka berdua. Karena Rio semakin kelelahan dan lemah, angka terakhir berhasil di rebut oleh Debo. Rio kalah.
“Lo kalah, Yo.” Kata Debo. Rio menghapus keringatnya dengan tangannya.
“Oke, gue bakal nyerahin Ify ke elo.” Kata Rio. Debo menggeleng.
“Nggak, gue tau kayaknya lo lagi sakit, jadi pertandingan kita gak sah. Kita lihat pas turnamen, lo harus bawa tim lo masuk final dan bertemu dengan tim sekolah gue, di sana kita bakal tanding habis-habisan,” ujar Debo sambil melempar bola basket kearah Rio.
“O,ya satu hal lagi yang perlu lo tahu, yang berhak memilih adalah Ify sendiri, kita gak berhak, sampai ketemu di final,” kata Debo dan langsung pergi meninggalkan Rio sendirian.
Rio duduk di bangku yang berada di
pinggir lapangan, ia langsung mengacak-acak rambutnya,
“Kok gue bego banget sih!” Keluh Rio.
***
“Turnamen mau dimulai tapi kok si Ify belom dateng ya?” Tanya Sivia.
“Iya, nih! Kemana tuh anak!” keluh Shilla.
“Dandan dulu kali yang rapi, supaya dilirik sama Rio, wakakak!” kata Agni.
“Kak Cakka, ngintilin Kak Agni mulu nih!” celetuk Sivia.
“Hehee..Agninya gak marah kok!” kata Cakka nyengir.
“Haaahh, capek gue ngadepin dia,” keluh Agni.
***
Rio terus-menerus melirik kearah tribun penonton, ia melihat kearah tempat duduk Sivia, Shilla, Agni, dan Cakka tidak ada Ify. Ia melihat kearah tempat pendukung Rio yang berasal dari RISE, juga tidak ada. Rio hanya menghela napas. Ify tak datang.
“Yo, semangat dong!” kata Alvin sambil merangkul bahu Rio.
“Muka lo jangan di tekuk gitu, kasian fans-fans lo, gue tau lo kecewa gara-gara Ify gak dateng, tapi lo itu kapten Yo, lo harus nyemangatin semuanya, gue yakin Ify dateng, cuma macet doang kali di jalan!” Hibur Gabriel.
“Iya, Yo. Ayo kita tunjukkan yang terbaik, kita bisa masuk final!” kata Alvin. Rio tersenyum.
“Ayo!”
Tim CB berkumpul untuk menyusun strategi, dengan Rio yang menjadi kaptennya. Saat Rio berjalan menuju ke tengah lapangan, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
“Kak Riooo!!!” Panggil seorang cewek. Rio menoleh.
“Ify? Gue kira lo gak dateng!” kata Rio.
“Gue kesiangan, gue tau lo pasti ngarepin gue dateng, hehee…” kata Ify nyengir.
‘Ini dia Ify yang biasa, Ify yang gue suka…’ pikir Rio sambil tersenyum.
“Ini buat lo!” kata Ify sambil memberikan sesuatu kepada Rio.
“Jimat??” Tanya Rio heran, (nih bener-bener kayak komik -.-) Ify mengangguk.
“Musyrik lo!” Tuduh Rio.
“Yeee…gue kan cuma maen-maen doang! Siapa tau ampuh kaan? Kan gue mau ngikutin yang dikomik-komik, pas cowoknya mau tanding ceweknya ngasih jimat supaya menang, terakhirnya cowoknya menang kan?” kata Ify.
“Sejak kapan gue jadi cowok lu?” Tanya Rio melengos.
“Dikit lagi, Kak. Lagipula ortu lo sudah merestui, hehee…” ujar Ify malu-malu.
“Dapet dari mana? Mama Lauren? Ki Joko Bodo?” tanya Rio.
“Mama Lauren udah meninggal tau! Kalo gue ke Ki Joko Bodo, ntar gue malah gak boleh idup di darat, ntar bilang gue cocok idup di aer, gue bikin sendiri.” kata Ify. Rio hanya tertawa.
“Gue simpen baik-baik!” Rio langsung pergi ke tengah lapangan.
“Kak Rio semangaaat!!!” Teriak Ify. Rio mengacungkan jempolnya.
Ify pun pergi ke tribun penonton. Dan di liatin oleh teman-temannya, Ify merasa risih diliatin kayak gitu.
“Kenapa lo pada ngeliatin gue kayak gitu??” Tanya Ify.
“Asiiik, dah yang mulai mesra gitu sama Rio, hehehee..” goda Cakka. Muka Ify memerah.
“Dikit lagi ada yang bikin hajatan deeh,” kata Sivia.
“Udah ah, tuh pertandingannya mau dimulai!!” Ify ngeles.
Pertandingan pun dimulai, pertandingan pertama Citra Bangsa melawan SMA Pelita Jaya. CB bermain sangat bagus, terutama sang kapten, Rio tampil sangat memukau. Membuat semua orang terkagum-kagum. Akhirnya SMA Citra Bangsa menang telak 86-62.
Jadwal hari ini, SMA Citra Bangsa bermain 2 kali. Pertandingan berikutnya CB melawan Nusantara. Tapi pertandingan diselingi dulu dengan dua pertandingan. Mereka makan siang dulu di kantin dekat tempat pertandingan.
“Yo, lo udah sehatan nih ceritanya pas Ify dateng??” Celetuk Gabriel.
“Paan sih lo!” Keluh Rio.
“Tuh, kan kalo gue dateng lo jadi lebih semangat gitu, hehee..” kata Ify cengengesan. Rio mulai risih lagi.
“Berarti tinggal Agni Cakka sama Rio Ify, hahaa..” goda Gabriel.
“Betul! Sekalian aja kita jodohin sekarang!” kata Sivia.
“Eit, gak usah dijodohin, sama nyokapnya Kak Rio juga katanya gue mau dijodohin sama Kak Rio! Hahaa…” kata Ify tertawa ngakak. Semua terbelalak.
“Yang bener, Yo??” Tanya Alvin gak percaya.
“Itu bualannya nyokap gue doang, gara-gara ketemu Ify!” Seru Rio.
“Eh, buktinya nyokap lo masih setia nungguin gue supaya gue mau di jodohin sama lo!” kata Ify.
“Eh gue yang gak mauu!!” Seru Rio.
‘Gue gak mau sekarang, tapi ntar aja…hehee’ batin Rio.
“Ify!!!” Panggil seseorang dari kejauhan. Ify menoleh.
“Gue kesana dulu ya!” Ify meninggalkan mereka semua.
“Ify dicariin Debo?” Tanya Alvin.
“Ngapain lagi si Debo?” Tanya Cakka.
Rio yang udah mulai panas, ia meremas gelas yang dipegangnya dari tadi dengan sangat kencang. Begitu melihat Ify dan Debo tertawa-tawa, Rio semakin mengecangkan remasannya sampai-sampai…PRAAKK
Semua mata terbelalak, Rio pun sama, gelas yang di pegangnya retak saking kencengnya di remas sama Rio.
“Rioo, masya Allah! Tenaga lo! Gilaa!!” kata Cakka takjub.
“Tenaganya keluar saking cemburunya, hahaaa…” Alvin tertawa ngakak.
“Gue mau ke dalem dulu, keki gue disini!!” Rio langsung meninggalkan teman-temannya.
“Yah, pergi deh,” kata Gabriel.
“Namanya juga orang cemburu,” kata Shilla.
“Udah yuk masuk ke dalem!” Ajak Agni.
Mereka pun pergi ke dalam gedung, meninggalkan Ify dan Debo yang sedang diluar.
***
“Eh, ternyata lo semua disini?? Gue cari-cari tau gak!” kata Ify.
“Fy, lo tadi ngapain sama Kak Debo?” Tanya Sivia.
“Ng..nggak kok, cuma ngobrol doang..hehee…” kata Ify. Rio hanya diam saja. Ify menatap Rio dengan wajah penuh penasaran.
“Kak Rio? Kenapa?” Tanya Ify yang duduk di samping Rio.
“Nggak papa,” kata Rio ketus.
“Lo marah ya sama gue? Salah gue apaan? Tanya Ify.
“Tanya aja sama tembok!” Kata Rio sambil meninggalkan Ify.
“Kak Alvin, Kak Rio kenapa sih?” Tanya Ify.
“Ehm, ngambek!” celetuk Cakka.
“Ngambek? Ngambek sama siapa?”
“Sama tembok kali, udah ah biarin aja si Rio, mending kita tonton pertandingannya TP sama Kasih!” kata Gabriel.
“Oh, iya Kak Debo ya maen?” Tanya Ify. Gabriel mengangguk.
Rio pindah tempat duduk yang lumayan jauh dari Ify dan teman-temannya yang berada diatas, ia terus memandang Ify yang memasang wajah senang saat Debo bertanding. Malah memberi semangat. Rio yang sedang memegang handuk kecilnya langsung diremas-remas dan hampir dimakan sama Rio saking kesel dan cemburunya. Alvin yang melihat kearah atas, melihat Rio yang memasang wajah kesal,
“Kak Alvin, kenapa?” Tanya Sivia.
“Aura diatas udah kayak neraka, liat aja.” Suruh Alvin. Sivia nengok keatas.
“Eh, iya, serem amat!” kata Sivia.
“Rio terlalu jaga image, makanya ngerasain kan sekarang sakitnya, Rio…Rio…” keluh Alvin.
“Ifynya juga gak nyadar, daritadi diliatin terus sama Kak Rio, tapi dianya malah dukung Kak Debo,” kata Sivia.
“Dua orang gak peka,” kata Alvin. Sivia hanya menghela napas.
Pertandingan hampir dimulai, Debo melirik kearah tribun penonton dan melihat Ify yang terus-menerus memberi semangat untuk Debo. Debo tersenyum kearah Ify, kemudian pendangannya beralih kearah Rio yang sedang kesal melihat Ify mendukungnya.
“Makin seru aja,” gumam Debo.
“Hah? Lo ngomong apaan, De?” Tanya Abner.
“Nggak kok,” jawab Debo.
Pertandingan di mulai, TP bermain menyerang, Kasih terus-menerus diserang oleh pasukan Debo. Tak heran banyak TP banyak mencuri angka, dan Kasih semakin kewalahan, karena pertahanannya selalu ditembus oleh mereka.
“Gila, TP mainnya cepet banget!” kata Gabriel.
“Debo, udah kayak musang!” keluh Alvin.
“Keren sumpah, kerjasamanya bagus!” kata Shilla.
Pertandingan pun selesai, dengan kemenangan telak TP dengan skor 88-52. Debo langsung menghampiri Ify dan teman-temannya. Otomatis Rio yang berada diatas, langsung ngamuk-ngamuk sendiri, Rio sampai melempar handuknya dengan kencang. Tapi…
“Heh! Kamu ya yang ngelempar anduk ke saya ? Tanya Bapak-bapak dengan muka yang sangat amat garang, seperti mau memakan Rio. Muka Rio semakin pucat.
“Eng..ma..maaf, Pak, saya gak sengaja!” Rio memohon maaf, pada Bapak itu.
“Makan tuh anduknya!” Bapak itu langsung melempar handuk Rio kearah muka Rio.
“Sial kan tuh gue!!” Gumam Rio.
***
“Gimana permainan gue?” Tanya Debo.
“Keren banget, De! Gue salut sama lo!” Kata Alvin.
“Cepet banget, gue yakin tim lo bakal masuk final!” ujar Gabriel.
“Gue juga yakin tim lo juga masuk final,” kata Debo.
“Sampe ketemu di final, Bro!” kata Alvin sambil menepuk bahu Debo, dan bersiap-siap untuk pertandingan berikutnya.
“Yel, ayo!” Ajak Alvin. Alvin mencari-cari Rio diatas.
“Yo, ayo! Muka lo jangan ditekuk gitu! Fans lo berkurang lho!” kata Alvin. Rio berdiri dari tempat duduknya dan pergi kebawah menuju arena.
“Biarin aja, gue seneng kok!” jawab Rio jutek. Ify terus memandang Rio yang tiba-tiba saja berubah drastis, Debo melihat Ify yang memasang wajah kecewa. Debo hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Ify.
“Udahlah, Fy. Kali aja Rio suasana hatinya lagi gak enak,” kata Debo. Ify tersenyum masam.
Pertandingan Citra Bangsa dengan Nusantara pun dimulai, tapi entah kenapa Rio tak bisa berkonsentrasi dalam pertandingan, bola yang dioper
ke Rio, tak ada satupun yang bisa ia tangkap.
“Yo, lo kenapa sih? Konsen!!” suruh Alvin.
“Iya, gue konsen!!” jawab Rio marah-marah.
Tapi tetap saja Rio tak bisa konsen, pandangannya tertuju pada Ify yang sedang mengobrol dengan Debo. Ify tak memberinya semangat lagi. Membuat Rio semakin jengkel. Tiba-tiba…
BRUUUKK!!!
Rio tersungkur di tengah lapangan, ia didorong oleh pemain lawan. Tentu saja Alvin dkk mengajukan protes ke wasit karena tim lawan melakukan pelanggaran.
Ify terkejut melihat Rio yang didorong oleh tim lawan. Ify pun turun ke bawah melihat keadaan Rio yang kurang bersemangat.
“TIME!!!” Pelatih CB meminta waktu sebentar untuk berunding.
“Yo, lo gak papa?” Tanya Gabriel.
“Iya, gue gak papa.” Jawab Rio singkat.
“Rio, kamu kenapa? Permainanmu jelek sekali! Kamu gak mau tim kita masuk final??” Tanya pelatih.
“Maafin saya, Pak. Saya kurang konsen,” kata Rio.
“KONSENTRASII!!” Teriak Pelatih. (Rio kasiaan di marahin pelatih T.T)
“Kembali ke lapangan!” suruh Pelatih.
Gabriel menghampiri Rio dan menepuk bahunya.
“Yo, gue tau lo cemburu sama Debo yang daritadi deketin Ify terus, tapi tolong lupain aja masalah pribadi lo itu sebentar supaya lo konsen! Debo udah ngarepin kita masuk final, Yo!” Ujar Gabriel.
Rio hanya diam saja dan meninggalkan Gabriel. Gabriel hanya menghela napas. Rio melihat Ify sedang berdiri di pinggir lapangan dengan wajah penuh kekhawatiran. Tapi Rio hanya membuang muka, membuat Ify semakin sakit. Ify pun pergi meninggalkan gedung.
Pertandingan kembali dimulai, Rio bermain semakin cepat, dengan bantuan teman satu timnya, menembus pertahanan Nusantara. Pertandingan dimenangkan oleh, Citra Bangsa dengan skor yang tipis 76-72.
“Seluruh pertandingan hari ini selesai, dan perempat final akan dilakukan besok, dimulai pukul 08.00, terima kasih.”
Rio celingak-celinguk mencari sosok Ify, tapi tidak ia temukan, akhirnya ia bertanya kepada Sivia.
“Vi, Ify mana?” Tanya Rio. Sivia melengos.
“Udah pulang.” Jawab Sivia ketus dan pergi meninggalkan Rio. Shilla, Agni,
Cakka, dan Gabriel juga pergi meninggalkan Rio, kecuali Alvin. Rio mengacak-acak rambutnya karena kesal dengan dirinya sendiri, Alvin hanya memukul bahu Rio. Alvin menyuruh Rio duduk disampingnya.
“Kenapa sih gue gak bisa bersikap baik sama Ify?” Gumam Rio.
“Yang bisa jawab pertanyaan lo itu, cuma lo sendiri, bukan gue,” ujar Alvin.
“Gue gak pantes buat Ify, Vin. Dia udah sakit hati banget, gue yakin dia udah nyerah buat ngedapetin gue,” ujar Rio.
“Jujur ya, Yo. Lo itu terlalu ngejaga image lo, lo gak mau Ify tau soalnya perasaan lo ke dia, soalnya lo pikir harga diri lo bakal jatoh gitu aja, dulu orang-orang kenal lo sebagai Rio yang jutek, nyebelin, jarang yang namanya deket sama cewek, sensi banget kalo dideketin Ify, sekaramg malah kebalikannya, lo ngejar-ngejar Ify, seakan-akan lo itu bener-bener kena karma.” Jelas Alvin.
“Gue sampe segitunya? Gak nyadar gue…”
“Iya, lo gak nyadar, tapi semua orang sadar! Tau gak, lo sama Ify sama-sama saling kejar satu sama lain, tapi gak pernah ketemu, pasti ada penghalang yang bikin lo berdua itu gak ketemu, yaitu diri lo sendiri, Yo. Diri lo sendiri penghalangnya yang bikin lo sama Ify gak pernah ketemu.” Kata Alvin.
Rio terdiam mendengar penjelasan sahabat baiknya itu. Hanya Alvin yang mengerti seluk beluk kehidupan Rio. Alvin yang selalu memberi nasihat pada Rio.
"Lo terlalu menutup diri lo, gak pernah mau ngebuka sedikit aja buat Ify. Lo sayang kan sama Ify? Lo gak mau kan kehilangan dia? Mulai sekarang lo harus buka diri lo, kayak lagunya ARMADA, buka hatimuuu…bukalah sedikit untukku…” kata Alvin.
“Ahelah, ngelawak aja lo, Vin!! But, Thanks, lo emang sahabat gue banget,” kata Rio.
“Nasehat gue ada gunanya juga sekarang, hehee…” kata Alvin.
“Gue bakal nyatain perasaan gue kalo misalnya gue menang ngelawan Debo di final.” Kata Rio optimis.
“Kalo gak menang, Yo?”
“Jangan bilang gak menang!!! Harus menang!!!” Seru Rio.
“Oke! Kita bakal menang, Yo!!!”
***
“Gimana? Deal?” Tanya Debo.
“Deal.” Mereka berjabat tangan.
Rio dan Debo membuka jaketnya, Rio mengambil bola basketnya dan membawanya ketengah lapangan. Ia berikan kepada Debo. Mereka sudah bersiap-siap di tengah lapangan. Debo memulai permainannya, Rio merasa sangat kesulitan untuk mengimbangi permainan Debo karena baru sembuh dari sakitnya. Akhirnya Debo mendapat poin pertama. Rio sudah mulai kelelahan. 2-0
“Lo kenapa, Yo? Permainan lo gak sebagus biasanya!” Seru Debo sambil mendribble bola. Rio menghapus keringatnya yang sudah bercucuran. Rio gak mau bilang tentang dirinya yang baru sembuh dari sakit, karena akan membuat Debo mengalah dan memperlambat permainannya. Rio langsung berlari mencoba mengambil bola Debo, dan kedudukannya pun menjadi 2-2. Persaingan semakin sengit, sampai akhirnya nilai mereka 8-8, hanya
dengan satu lemparan lagi, Rio ataupun Debo akan memenangkan duel mereka berdua. Karena Rio semakin kelelahan dan lemah, angka terakhir berhasil di rebut oleh Debo. Rio kalah.
“Lo kalah, Yo.” Kata Debo. Rio menghapus keringatnya dengan tangannya.
“Oke, gue bakal nyerahin Ify ke elo.” Kata Rio. Debo menggeleng.
“Nggak, gue tau kayaknya lo lagi sakit, jadi pertandingan kita gak sah. Kita lihat pas turnamen, lo harus bawa tim lo masuk final dan bertemu dengan tim sekolah gue, di sana kita bakal tanding habis-habisan,” ujar Debo sambil melempar bola basket kearah Rio.
“O,ya satu hal lagi yang perlu lo tahu, yang berhak memilih adalah Ify sendiri, kita gak berhak, sampai ketemu di final,” kata Debo dan langsung pergi meninggalkan Rio sendirian.
Rio duduk di bangku yang berada di
pinggir lapangan, ia langsung mengacak-acak rambutnya,
“Kok gue bego banget sih!” Keluh Rio.
***
“Turnamen mau dimulai tapi kok si Ify belom dateng ya?” Tanya Sivia.
“Iya, nih! Kemana tuh anak!” keluh Shilla.
“Dandan dulu kali yang rapi, supaya dilirik sama Rio, wakakak!” kata Agni.
“Kak Cakka, ngintilin Kak Agni mulu nih!” celetuk Sivia.
“Hehee..Agninya gak marah kok!” kata Cakka nyengir.
“Haaahh, capek gue ngadepin dia,” keluh Agni.
***
Rio terus-menerus melirik kearah tribun penonton, ia melihat kearah tempat duduk Sivia, Shilla, Agni, dan Cakka tidak ada Ify. Ia melihat kearah tempat pendukung Rio yang berasal dari RISE, juga tidak ada. Rio hanya menghela napas. Ify tak datang.
“Yo, semangat dong!” kata Alvin sambil merangkul bahu Rio.
“Muka lo jangan di tekuk gitu, kasian fans-fans lo, gue tau lo kecewa gara-gara Ify gak dateng, tapi lo itu kapten Yo, lo harus nyemangatin semuanya, gue yakin Ify dateng, cuma macet doang kali di jalan!” Hibur Gabriel.
“Iya, Yo. Ayo kita tunjukkan yang terbaik, kita bisa masuk final!” kata Alvin. Rio tersenyum.
“Ayo!”
Tim CB berkumpul untuk menyusun strategi, dengan Rio yang menjadi kaptennya. Saat Rio berjalan menuju ke tengah lapangan, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
“Kak Riooo!!!” Panggil seorang cewek. Rio menoleh.
“Ify? Gue kira lo gak dateng!” kata Rio.
“Gue kesiangan, gue tau lo pasti ngarepin gue dateng, hehee…” kata Ify nyengir.
‘Ini dia Ify yang biasa, Ify yang gue suka…’ pikir Rio sambil tersenyum.
“Ini buat lo!” kata Ify sambil memberikan sesuatu kepada Rio.
“Jimat??” Tanya Rio heran, (nih bener-bener kayak komik -.-) Ify mengangguk.
“Musyrik lo!” Tuduh Rio.
“Yeee…gue kan cuma maen-maen doang! Siapa tau ampuh kaan? Kan gue mau ngikutin yang dikomik-komik, pas cowoknya mau tanding ceweknya ngasih jimat supaya menang, terakhirnya cowoknya menang kan?” kata Ify.
“Sejak kapan gue jadi cowok lu?” Tanya Rio melengos.
“Dikit lagi, Kak. Lagipula ortu lo sudah merestui, hehee…” ujar Ify malu-malu.
“Dapet dari mana? Mama Lauren? Ki Joko Bodo?” tanya Rio.
“Mama Lauren udah meninggal tau! Kalo gue ke Ki Joko Bodo, ntar gue malah gak boleh idup di darat, ntar bilang gue cocok idup di aer, gue bikin sendiri.” kata Ify. Rio hanya tertawa.
“Gue simpen baik-baik!” Rio langsung pergi ke tengah lapangan.
“Kak Rio semangaaat!!!” Teriak Ify. Rio mengacungkan jempolnya.
Ify pun pergi ke tribun penonton. Dan di liatin oleh teman-temannya, Ify merasa risih diliatin kayak gitu.
“Kenapa lo pada ngeliatin gue kayak gitu??” Tanya Ify.
“Asiiik, dah yang mulai mesra gitu sama Rio, hehehee..” goda Cakka. Muka Ify memerah.
“Dikit lagi ada yang bikin hajatan deeh,” kata Sivia.
“Udah ah, tuh pertandingannya mau dimulai!!” Ify ngeles.
Pertandingan pun dimulai, pertandingan pertama Citra Bangsa melawan SMA Pelita Jaya. CB bermain sangat bagus, terutama sang kapten, Rio tampil sangat memukau. Membuat semua orang terkagum-kagum. Akhirnya SMA Citra Bangsa menang telak 86-62.
Jadwal hari ini, SMA Citra Bangsa bermain 2 kali. Pertandingan berikutnya CB melawan Nusantara. Tapi pertandingan diselingi dulu dengan dua pertandingan. Mereka makan siang dulu di kantin dekat tempat pertandingan.
“Yo, lo udah sehatan nih ceritanya pas Ify dateng??” Celetuk Gabriel.
“Paan sih lo!” Keluh Rio.
“Tuh, kan kalo gue dateng lo jadi lebih semangat gitu, hehee..” kata Ify cengengesan. Rio mulai risih lagi.
“Berarti tinggal Agni Cakka sama Rio Ify, hahaa..” goda Gabriel.
“Betul! Sekalian aja kita jodohin sekarang!” kata Sivia.
“Eit, gak usah dijodohin, sama nyokapnya Kak Rio juga katanya gue mau dijodohin sama Kak Rio! Hahaa…” kata Ify tertawa ngakak. Semua terbelalak.
“Yang bener, Yo??” Tanya Alvin gak percaya.
“Itu bualannya nyokap gue doang, gara-gara ketemu Ify!” Seru Rio.
“Eh, buktinya nyokap lo masih setia nungguin gue supaya gue mau di jodohin sama lo!” kata Ify.
“Eh gue yang gak mauu!!” Seru Rio.
‘Gue gak mau sekarang, tapi ntar aja…hehee’ batin Rio.
“Ify!!!” Panggil seseorang dari kejauhan. Ify menoleh.
“Gue kesana dulu ya!” Ify meninggalkan mereka semua.
“Ify dicariin Debo?” Tanya Alvin.
“Ngapain lagi si Debo?” Tanya Cakka.
Rio yang udah mulai panas, ia meremas gelas yang dipegangnya dari tadi dengan sangat kencang. Begitu melihat Ify dan Debo tertawa-tawa, Rio semakin mengecangkan remasannya sampai-sampai…PRAAKK
Semua mata terbelalak, Rio pun sama, gelas yang di pegangnya retak saking kencengnya di remas sama Rio.
“Rioo, masya Allah! Tenaga lo! Gilaa!!” kata Cakka takjub.
“Tenaganya keluar saking cemburunya, hahaaa…” Alvin tertawa ngakak.
“Gue mau ke dalem dulu, keki gue disini!!” Rio langsung meninggalkan teman-temannya.
“Yah, pergi deh,” kata Gabriel.
“Namanya juga orang cemburu,” kata Shilla.
“Udah yuk masuk ke dalem!” Ajak Agni.
Mereka pun pergi ke dalam gedung, meninggalkan Ify dan Debo yang sedang diluar.
***
“Eh, ternyata lo semua disini?? Gue cari-cari tau gak!” kata Ify.
“Fy, lo tadi ngapain sama Kak Debo?” Tanya Sivia.
“Ng..nggak kok, cuma ngobrol doang..hehee…” kata Ify. Rio hanya diam saja. Ify menatap Rio dengan wajah penuh penasaran.
“Kak Rio? Kenapa?” Tanya Ify yang duduk di samping Rio.
“Nggak papa,” kata Rio ketus.
“Lo marah ya sama gue? Salah gue apaan? Tanya Ify.
“Tanya aja sama tembok!” Kata Rio sambil meninggalkan Ify.
“Kak Alvin, Kak Rio kenapa sih?” Tanya Ify.
“Ehm, ngambek!” celetuk Cakka.
“Ngambek? Ngambek sama siapa?”
“Sama tembok kali, udah ah biarin aja si Rio, mending kita tonton pertandingannya TP sama Kasih!” kata Gabriel.
“Oh, iya Kak Debo ya maen?” Tanya Ify. Gabriel mengangguk.
Rio pindah tempat duduk yang lumayan jauh dari Ify dan teman-temannya yang berada diatas, ia terus memandang Ify yang memasang wajah senang saat Debo bertanding. Malah memberi semangat. Rio yang sedang memegang handuk kecilnya langsung diremas-remas dan hampir dimakan sama Rio saking kesel dan cemburunya. Alvin yang melihat kearah atas, melihat Rio yang memasang wajah kesal,
“Kak Alvin, kenapa?” Tanya Sivia.
“Aura diatas udah kayak neraka, liat aja.” Suruh Alvin. Sivia nengok keatas.
“Eh, iya, serem amat!” kata Sivia.
“Rio terlalu jaga image, makanya ngerasain kan sekarang sakitnya, Rio…Rio…” keluh Alvin.
“Ifynya juga gak nyadar, daritadi diliatin terus sama Kak Rio, tapi dianya malah dukung Kak Debo,” kata Sivia.
“Dua orang gak peka,” kata Alvin. Sivia hanya menghela napas.
Pertandingan hampir dimulai, Debo melirik kearah tribun penonton dan melihat Ify yang terus-menerus memberi semangat untuk Debo. Debo tersenyum kearah Ify, kemudian pendangannya beralih kearah Rio yang sedang kesal melihat Ify mendukungnya.
“Makin seru aja,” gumam Debo.
“Hah? Lo ngomong apaan, De?” Tanya Abner.
“Nggak kok,” jawab Debo.
Pertandingan di mulai, TP bermain menyerang, Kasih terus-menerus diserang oleh pasukan Debo. Tak heran banyak TP banyak mencuri angka, dan Kasih semakin kewalahan, karena pertahanannya selalu ditembus oleh mereka.
“Gila, TP mainnya cepet banget!” kata Gabriel.
“Debo, udah kayak musang!” keluh Alvin.
“Keren sumpah, kerjasamanya bagus!” kata Shilla.
Pertandingan pun selesai, dengan kemenangan telak TP dengan skor 88-52. Debo langsung menghampiri Ify dan teman-temannya. Otomatis Rio yang berada diatas, langsung ngamuk-ngamuk sendiri, Rio sampai melempar handuknya dengan kencang. Tapi…
“Heh! Kamu ya yang ngelempar anduk ke saya ? Tanya Bapak-bapak dengan muka yang sangat amat garang, seperti mau memakan Rio. Muka Rio semakin pucat.
“Eng..ma..maaf, Pak, saya gak sengaja!” Rio memohon maaf, pada Bapak itu.
“Makan tuh anduknya!” Bapak itu langsung melempar handuk Rio kearah muka Rio.
“Sial kan tuh gue!!” Gumam Rio.
***
“Gimana permainan gue?” Tanya Debo.
“Keren banget, De! Gue salut sama lo!” Kata Alvin.
“Cepet banget, gue yakin tim lo bakal masuk final!” ujar Gabriel.
“Gue juga yakin tim lo juga masuk final,” kata Debo.
“Sampe ketemu di final, Bro!” kata Alvin sambil menepuk bahu Debo, dan bersiap-siap untuk pertandingan berikutnya.
“Yel, ayo!” Ajak Alvin. Alvin mencari-cari Rio diatas.
“Yo, ayo! Muka lo jangan ditekuk gitu! Fans lo berkurang lho!” kata Alvin. Rio berdiri dari tempat duduknya dan pergi kebawah menuju arena.
“Biarin aja, gue seneng kok!” jawab Rio jutek. Ify terus memandang Rio yang tiba-tiba saja berubah drastis, Debo melihat Ify yang memasang wajah kecewa. Debo hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Ify.
“Udahlah, Fy. Kali aja Rio suasana hatinya lagi gak enak,” kata Debo. Ify tersenyum masam.
Pertandingan Citra Bangsa dengan Nusantara pun dimulai, tapi entah kenapa Rio tak bisa berkonsentrasi dalam pertandingan, bola yang dioper
ke Rio, tak ada satupun yang bisa ia tangkap.
“Yo, lo kenapa sih? Konsen!!” suruh Alvin.
“Iya, gue konsen!!” jawab Rio marah-marah.
Tapi tetap saja Rio tak bisa konsen, pandangannya tertuju pada Ify yang sedang mengobrol dengan Debo. Ify tak memberinya semangat lagi. Membuat Rio semakin jengkel. Tiba-tiba…
BRUUUKK!!!
Rio tersungkur di tengah lapangan, ia didorong oleh pemain lawan. Tentu saja Alvin dkk mengajukan protes ke wasit karena tim lawan melakukan pelanggaran.
Ify terkejut melihat Rio yang didorong oleh tim lawan. Ify pun turun ke bawah melihat keadaan Rio yang kurang bersemangat.
“TIME!!!” Pelatih CB meminta waktu sebentar untuk berunding.
“Yo, lo gak papa?” Tanya Gabriel.
“Iya, gue gak papa.” Jawab Rio singkat.
“Rio, kamu kenapa? Permainanmu jelek sekali! Kamu gak mau tim kita masuk final??” Tanya pelatih.
“Maafin saya, Pak. Saya kurang konsen,” kata Rio.
“KONSENTRASII!!” Teriak Pelatih. (Rio kasiaan di marahin pelatih T.T)
“Kembali ke lapangan!” suruh Pelatih.
Gabriel menghampiri Rio dan menepuk bahunya.
“Yo, gue tau lo cemburu sama Debo yang daritadi deketin Ify terus, tapi tolong lupain aja masalah pribadi lo itu sebentar supaya lo konsen! Debo udah ngarepin kita masuk final, Yo!” Ujar Gabriel.
Rio hanya diam saja dan meninggalkan Gabriel. Gabriel hanya menghela napas. Rio melihat Ify sedang berdiri di pinggir lapangan dengan wajah penuh kekhawatiran. Tapi Rio hanya membuang muka, membuat Ify semakin sakit. Ify pun pergi meninggalkan gedung.
Pertandingan kembali dimulai, Rio bermain semakin cepat, dengan bantuan teman satu timnya, menembus pertahanan Nusantara. Pertandingan dimenangkan oleh, Citra Bangsa dengan skor yang tipis 76-72.
“Seluruh pertandingan hari ini selesai, dan perempat final akan dilakukan besok, dimulai pukul 08.00, terima kasih.”
Rio celingak-celinguk mencari sosok Ify, tapi tidak ia temukan, akhirnya ia bertanya kepada Sivia.
“Vi, Ify mana?” Tanya Rio. Sivia melengos.
“Udah pulang.” Jawab Sivia ketus dan pergi meninggalkan Rio. Shilla, Agni,
Cakka, dan Gabriel juga pergi meninggalkan Rio, kecuali Alvin. Rio mengacak-acak rambutnya karena kesal dengan dirinya sendiri, Alvin hanya memukul bahu Rio. Alvin menyuruh Rio duduk disampingnya.
“Kenapa sih gue gak bisa bersikap baik sama Ify?” Gumam Rio.
“Yang bisa jawab pertanyaan lo itu, cuma lo sendiri, bukan gue,” ujar Alvin.
“Gue gak pantes buat Ify, Vin. Dia udah sakit hati banget, gue yakin dia udah nyerah buat ngedapetin gue,” ujar Rio.
“Jujur ya, Yo. Lo itu terlalu ngejaga image lo, lo gak mau Ify tau soalnya perasaan lo ke dia, soalnya lo pikir harga diri lo bakal jatoh gitu aja, dulu orang-orang kenal lo sebagai Rio yang jutek, nyebelin, jarang yang namanya deket sama cewek, sensi banget kalo dideketin Ify, sekaramg malah kebalikannya, lo ngejar-ngejar Ify, seakan-akan lo itu bener-bener kena karma.” Jelas Alvin.
“Gue sampe segitunya? Gak nyadar gue…”
“Iya, lo gak nyadar, tapi semua orang sadar! Tau gak, lo sama Ify sama-sama saling kejar satu sama lain, tapi gak pernah ketemu, pasti ada penghalang yang bikin lo berdua itu gak ketemu, yaitu diri lo sendiri, Yo. Diri lo sendiri penghalangnya yang bikin lo sama Ify gak pernah ketemu.” Kata Alvin.
Rio terdiam mendengar penjelasan sahabat baiknya itu. Hanya Alvin yang mengerti seluk beluk kehidupan Rio. Alvin yang selalu memberi nasihat pada Rio.
"Lo terlalu menutup diri lo, gak pernah mau ngebuka sedikit aja buat Ify. Lo sayang kan sama Ify? Lo gak mau kan kehilangan dia? Mulai sekarang lo harus buka diri lo, kayak lagunya ARMADA, buka hatimuuu…bukalah sedikit untukku…” kata Alvin.
“Ahelah, ngelawak aja lo, Vin!! But, Thanks, lo emang sahabat gue banget,” kata Rio.
“Nasehat gue ada gunanya juga sekarang, hehee…” kata Alvin.
“Gue bakal nyatain perasaan gue kalo misalnya gue menang ngelawan Debo di final.” Kata Rio optimis.
“Kalo gak menang, Yo?”
“Jangan bilang gak menang!!! Harus menang!!!” Seru Rio.
“Oke! Kita bakal menang, Yo!!!”
***
Cuma Gue yang Bisa part 19 (re-post)
Part 19: Ify Kecewa
“Pliis..gue gak mau lo pergi..gue..suka..sama..lo..jangan pergi..” gumam Rio.
Ify terkejut mendengar kata-kata Rio. Apa benar yang dikatakan oleh Rio beberapa detik yang lalu?
“Gue pasti mimpi!” Ify langsung mencubit pipinya, dan..
“AWWW!!” Ringis Ify. Itu memang bukan mimpi.
“Aduuh, siapa sih berisik banget..” gumam Rio sambil tidur. Dan sekarang Ify baru sadar. Rio mengigau. Yang dikatakan Rio hanya igauan biasa. Bukan yang sebenarnya dan bukan kenyataan. Hati Ify berubah kecewa.
“Ternyata cuma ngigau, kalo gue pikir-pikir gak mungkinlah Kak Rio suka sama gue..mending gue manasin bubur dulu deh,” Ify pun keluar dari kamar Rio dan pergi ke dapur.
“Pliis..gue gak mau lo pergi..gue..suka..sama..lo..jangan pergi..” Ify hanya menghela napas mengingat kalimat yang diucapkan oleh Rio, Ify tahu kalau yang diucapkan Rio hanyalah igauan saja, bukan kenyataan. Tapi di dalam hatinya, ada rasa yang membuat dirinya senang, meskipun itu hanyalah igauan.
Saat Ify membuka pintu kamar Rio, Rio sudah duduk di kasurnya, sambil memencet tombol TV.
“Udah bangun lo, Kak?” Tanya Ify.
“Udahlah, buktinya gue lagi ngapain..” jawab Rio. Ify duduk di samping tempat tidur Rio.
“Nih buburnya,” kata Ify sambil memberikan semangkuk bubur ke Rio. Rio mengangkat alis.
‘Perasaan nih anak tadi ngebet banget mau nyuapin gue, kenapa jadi lemes kayak gini?’ Batin Rio sambil memandang Ify. Ify memasang wajah lesu sambil melihat kearah TV.
‘Nih anak kenapa sih? Tiba-tiba jadi lemes kayak gitu, udah abis apa baterainya?’ Pikir Rio sambil memakan buburnya.
“Fy, lo kenapa sih?” Tanya Rio.
“Eng..enggak papa kok,” kata Ify.
Kemudian terdengar pintu rumah dibuka,
“Kak, gue ke bawah dulu, siapa tau itu Ray.” Ify beranjak pergi. Rio masih terus menatap kearah pintu kamarnya.
“Ify kenapa sih? Kayaknya ada yang nggak beres nih..” gumam Rio.
***
“Aduuuh, si Ray kok gak ada siih? Udah tau kakaknya lagi sakiit..” ujar seorang wanita paruh baya berusia sekitar 30 keatas.
“Dasar Ray, paling belajar bareng dirumah Deva, Ma..” kata seorang pria yang merupakan suaminya.
“Ray, akhirnya lo..” kalimat Ify terhenti begitu ia melihat sesosok suami istri sedang melihat kearahnya dengan pandangan janggal. Tapi begitu sang istri melihat seragam sekolah yang dipakai Ify, ia langsung sadar.
“Kamu temennya Rio, ya?” Tanya si Wanita.
“Iya, Tante, saya Ify.” Kata Ify sambil menyunggingkan senyumannya.
“Saya Rita, Ibunya Rio dan Ray.”
“Saya Tegar, Ayahnya.”
“Ray mana, Fy?” Tanya Bu Dina.
“Ray, lagi belajar dirumah adik Ify, Deva,Tante.”
“Ooh, kamu Kakaknya Deva, ya?” Tanya Bu Dina.
“Iya,” ujar Ify malu-malu. Tiba-tiba Ray datang.
“Mama? Papa?” Tanya Ray.
Mamanya memasang wajah penuh kekesalan. Ia menghampiri Ray dan menjitak kepalanya.
“Aduuuh! Kakak kamu lagi sakit, malah ditinggalin! Untuk ada Ify, dasar kamu ini!” gerutu Bu Rita.
“Aduuuh, sakit Mamaa..” Ringis Ray sambil memegang kepalanya.
“Tante, maafin aja Ray, Ray juga niatnya buat belajar jadi Ify bolehin,” kata Ify.
“Iya, Ma. Kasian Ray, dijitak mulu kepalanya, kasian udah banyak tuh benjolannya di kepala!” kata Pak Tegar.
“Biarin! Supaya tambah ganteng!”
“Gak ada hubungannya Mamaa!!” Seru Ray.
“Oom, Tante Ify pulang dulu ya,” kata Ify.
“Jangan, Fy! Makan dulu aja disini, ntar pulangnya dianter sama Ray! Mau ya?” Ajak Bu Rita.
“Ify gak enak, Tante…”
“Gak papa kok, Fy. Ayo!” Ajak Bu Rita.
Akhirnya Ify ikut keluarga Rio makan malam di meja makan, tiba-tiba Rio pun datang ke meja makan. Ify menoleh kearah Rio, Rio duduk di samping Ify.
“Udah sehat, Yo?” Tanya Pak Tegar.
“Lumayan, Pa. Besok Rio udah bisa sekolah,” kata Rio sambil memegang kepalanya.
“Yaiyalah baikan, orang dirawat sama
cewek cantik!” Celetuk Ray.
“Ray!” kata Bu Rita.
Muka Ify dan Rio memerah, Ify meneruskan makannya, Rio garuk-garuk kepala. Pak Tegar hanya mesem-mesem aja ngeliat tingkah laku Ify dan Rio.
“Fy, kamu baik banget ya, mau ngurusin Rio pas Rio sakit,” kata Bu Rita.
“Yaiyalah, secara Kak Ify demen sama Kak Rio, ya pasti mau!” cerocos Ray.
BLETAK!
Kepala Ray di jitak lagi sama mamanya, Ray meringis kesakitan.
“Maaf ya, Fy emang Ray kelakuannya masih kayak anak kecil,” kata Bu Rita.
“Hehee..gak papa kok, Ify mau ngurusin Kak Rio, soalnya dulu pas di Puncak Kak Rio yang ngejagain Ify pas Ify sakit,” ujar Ify.
“Kamu gak diapa-apain kan sama Rio??” Tanya Pak Tegar.
“Papa, kenapa malah nyurigain Rio sih!?” Seru Rio.
“Muka lo gak bisa di percaya, Kak!” kata Ray.
“Kampret lu!”
“Heeehh, di meja makan gak boleh berantem! Meja makan buat makan! Bukan buat berantem!” Seru Pak Tegar.
Mereka pun kembali makan, tiba-tiba Bu Rita memulai pembicaraan.
“Ify?”
“Iya, Tante?”
“Gimana kalo kamu Tante jodohin aja sama Rio, mau kan?” Tanya Bu Rita polos. Rio yang lagi minum, keselek. Ray menganga, Pak Tegar hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya.
“Di..dijodohin??” Tanya Ify dengan muka memerah.
“Mama, apaan sih!? Masih aja mau jodohin Rio sama cewek! Ini udah tahun 2010, Ma! Jadul banget sih pikirannya! Rio bisa cari cewek sendiri!” kata Rio.
“Ahelah kamu, Yo! Kayak kamu laku aja!” kata Bu Rita.
Otomatis tawa Ray meledak, karena mamanya sendiri bilang bahwa kakaknya gak laku. Sedang kan Ify hanya menahan tawa, begitu juga Pak Tegar.
“Eng…gak tau deh, Tan, Ify masih mau belajar dulu…” kata Ify.
Rio dan Ray diem. Gak biasanya Ify kalo ngedenger kayak gitu, responnya gak seheboh yang kemaren-kemaren, biasanya heboh gak ketulungan. Sekarang? Keliatannya sedikit agak pendiem, dengan muka penuh kekecewaan.
“Tante, Oom, Ify pulang dulu…” kata Ify.
“Ntar kalo kamu mau di jodohin, Tante siap terima kok, Tante belom buka lowongan masih ngarepin kamu, Fy..” kata Bu Rita.
“Mamaa..” Rio menatap Mamanya sinis
“Ma, aku anterin Kak Ify dulu, ya!” kata Ray.
“Iya, kamu gak usah balik-balik lagi, ya! Cuma ngerepotin doang disini!” kata Bu Rita. Orang tua jaman sekarang emang yaa -.-
Selama diperjalanan, Ify diam saja, gak bicara, sampai Ray heran dibuatnya, biasanya Ify udah kayak belut gak bisa diem, pasti bakal ngomongin Rio terus.
Sesampainya di rumah Ify,
“Ray, thanks ya udah nganterin gue,” Ify tersenyum masam.
“Kak, daritadi gue liat, lo tuh murung mulu, kenapa sih?” Tanya Ray penasaran.
“Ng…nggak papa kok, gue masuk ya…”
Ify pun masuk ke dalam rumahnya.
***
"Kira-kira yang di omongin Kak Rio bener gak yaa?” Gumam Ify sambil memutar-mutar pensilnya.
“Haaahh, masa sih beneraan?” Ify menjatuhkan kepalanya di atas meja belajar, pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto kecil berwarna biru, foto Rio yang sedang bermain basket terpampang di depan mukanya. Ify mengambil bingkai itu dan terus memandangnya.
“Kak, apa gak ada harapan buat gue??” gumam Ify.
“Ah daripada ngelakuin gak jelas gini, mending gue update blog RISE aja,” kata Ify.
***
“Heiii, Rioo my man!!” Seru Cakka. Rio tak menggubrisnya dan duduk di bangkunya.
“Woi! Ada orang ganteng nih, di depan lo!!” kata Cakka. Rio malah melamun.
“Rio, ada Ify tuh!!” Seru Gabriel. Rio langsung berdiri dan celingak-celinguk nyari Ify.
“Mana?Mana?” Temen-temennya hanya ketawa melihat Rio. Rio menatap mereka sinis.
“Yeuuuh, sompret lo bertiga! Ngibulin gue ya?” keluh Rio.
“Abisnya lo baru dateng muka udah di tekuk, setrika lo di ambil lagi sama Cakka?” Celetuk Alvin.
“Nggak, dirusakin sama dia!” kata Rio. Cakka hanya manyun.
“Lo kok sedih gitu sih? Berantem sama Ify?” Tanya Gabriel.
“Gak tau.”
“Lah kenapa gak tau?”
“Harusnya kan lo seneng bisa dirawat sama Ify, bukannya lemes gitu, tau gak semua cewek pas tau lo sakit, mereka langsung bikin pengajian dan doa bersama di tengah lapangan buat ngedoain elo,” kata Alvin.
“Woelah, lebay amat, emang gue udah mati apa?” Tanya Rio.
“Makanya jadi orang jangan ganteng-ganteng, Yo! Kan pamor gue turun drastis pas temenan sama lo!” kata Cakka.
“Heuh, pamor,pamor masih aja mikirin pamor!” Seru Gabriel.
“Masa, tiba-tiba pas gue baru bangun tampangnya Ify tuh kayak kecewa gitu, gue takutnya pas gue tidur gue ngomong yang nggak-nggak, gue kan kalo tidur suka ngigau, Yel. Yang tadinya ngebet banget mau nyuapin gue, jadi kagak mau,” Kata Rio sambil menghela napas.
“Berarti bener, Yo. Lo udah ngomong yang nggak-nggak, mungkin lo bilang kalo Ify jelek, nakutin, ato apapun itu…” kata Gabriel.
“Buset! Sadis amat gue! Kayaknya gue gak ngomong kayak gitu deh!” Keluh Rio.
“Yeee..mana lo tau, lo lagi tidur! Apa jangan-jangan lo nendang Ify lagi…” selidik Alvin.
“Yeeuuh..pikiran lo, Vin! Tapi masa gue ngerasa kalo gue ngomong suka sama dia,” ujar Rio sambil memangku dagunya dengan satu tangannya.
“Hah? Gila lo, Yo! Itu mah fatal banget! Kayaknya gak mungkin deh, itu pasti cuma pikiran lo doang!” seru Alvin.
“Kan gue gak tau, China Glodook!!” kata Rio.
“Ntar lo bikin konferensi pers deh di kantin, supaya Ify ngerti,” kata Gabriel.
“Lo kira gue ama Ify bikin skandal?? Berasa artis gue!” keluh Rio.
“Yaudah gue aja yang bikin, ntar gue mau kasih tau ke orang-orang kalo Mario Stevano udah ngakuin gue, Cakka Kawekas Nuraga lebih ganteng daripada dia, hahaa…” kata Cakka. Rio melempar buku matematika ke muka Cakka.
“Sakiiit!!” Ringis Cakka sambil memegang hidungnya.
***
“Yaudahlah Fy, jangan dipikirin…” kata Shilla sambil membawa sepiring siomay dan duduk di samping Ify.
“Tapi, kan kalo lo semua denger dengan telinga lo sendiri, lo pasti bakal seneng kan?” Tanya Ify.
“Yaa..bakal seneng juga lah, Fy…” kata Agni.
“Kalo gue jadi lo, Fy…jiwa gue udah terbang kemana-mana, tapi pas begitu tau ternyata dia ngigau, jiwa gue langsung masuk jurang yang sangat amat dalem,” ujar Sivia layaknya orang bijak.
“Yang udah punya pacar gak usah komentar! Bikin gue sirik aja sih!” Seru Ify.
“Yaaah, minta maaf deh, fy. Eh berarti Shilla juga gak boleh komentar dong??” Kata Sivia. Muka Shilla langsung memerah. Ify dan Agni mengangkat alis.
“Maksud lo, Vi?” Tanya Agni penasaran.
“Shilla kan udah jadian sama Kak Iel, Kak.” Kata Sivia.
“Beneran, Shil??” Tanya Ify. Shilla akhirnya mengangguk.
“Kapan?? Ceritain dong!!!” Kata Agni.
“Jadi, gini ceritanya…”
Gabriel membawa Shilla ke pantai untuk berjalan-jalan di sore hari sambil menikmati indahnya sunset. Mereka berlari-larian di pinggir pantai layaknya telenovela, film korea, film india atau apapun itulah…pokoknya lari-larian deh, Karena sudah kelelahan, Gabriel dan Shilla duduk di pinggir pantai,
“Aduuh, capek banget, dari tadi lari-larian mulu udah kayak marathon,” keluh Shilla sambil menghapus keringat yang membasahi wajah cantiknya.
“Kayaknya kalo lo ikut marathon, lo bakal dapet medali emas, Shil. Cepet banget!” kata Gabriel.
“Hahaa..bisa aja lo, Kak!” Keringat Shilla terus bercucuran tak berhenti. Gabriel yang melihatnya langsung mengambil saputangan dari kantong celananya, dan menghapus keringat Shilla. Wajahnya menjadi merah merona.
“Eh, Shil, ada yang mau gue tunjukkin,” kata Gabriel.
“Apaan?” Tanya Shilla. Gabriel tersenyum. Ia langsung menarik tangan Shilla dan membawanya pergi.
“Ikut gue!” Ajak Gabriel.
Mereka sampai di depan tebing yang tidak begitu tinggi, tapi tetap saja terlihat seram buat Shilla. Tiba-tiba Gabriel menaiki tebing tersebut.
“Eh, lo mau ngapain?? Awas jatoh!!” Seru Shilla panik. Tapi ternyata Gabriel sampai dengan selamat.
“Naik!”
“Hah?”
“Ayo, Shil naik!”
“Ah, gila lo, Kak! Gue takut!” kata Shilla.
“Sini gue pegang tangan lo!” Gabriel sudah mengulurkan tangannya untuk membantu Shilla. Tapi Shilla tetap tidak mau. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Yaudah kalo lo gak mau, padahal yang mau gue tunjukkin ke elo, harus dilihat dari sini, lo gak percaya sama gue,” kata Gabriel. Shilla berpikir matang-matang.
“Mana tangan lo?” Tanya Shilla. Gabriel tersenyum dan mengulurkan tangannya. Shilla memegang tangan Gabriel dengan sangat erat.
“Jangan dilepas!!” Seru Shilla.
“Gak bakal gue lepas!” Akhirnya Shilla sampai di atas tebing.
“Mana kejutannya? Lo boong ya?”
“Tutup mata lo!” Suruh Gabriel. Shilla menutup mata. Gabriel menuntun Shilla sampai ke pinggir tebing.
“Ah, lo mau ngapain?? Lo mau ceburin gue ke laut? Gilaa!!” Seru Shilla.
“Dih, cantik-cantik bego juga lo! Sekarang buka mata lo dan lihat ke bawah!” Suruh Gabriel.
Shilla membuka matanya secara perlahan dan ia melihat kebawah. Shilla menutup mulutnya dengan tangannya, merasa sangat tersentuh dengan sesuatu yang ia lihat di bawah. Sebuah kalimat I LOVE YOU yang di bentuk oleh batu-batu kecil ia lihat di tebing bawah. Satu kalimat yang dibuat Gabriel hanya untuk Shilla.
“Lo yang buat?” Tanya Shilla.
“Iya, gue buat tadi pagi, hehee… gimana? Lo mau terima gue?” Tanya Gabriel. Shilla mengangguk. Gabriel langsung memeluk Shilla saking senangnya.
“Kak, Kak..! Awas ntar jatoh nihh!!” Teriak Shilla.
“Gitu ceritanya…” muka Shilla memerah.
“Ya, ampun Gabriel bisa juga romantis hahaa..” kata Agni.
“Sekarang tinggal Kak Agni sama Ify doang nih, hehee..” kata Sivia.
“Nyindir, nih ceritanya??” Tanya Ify dengan menyipitkan mata.
“Bukannya nyindir, tapi pengen lo berdua nyusul!” kata Shilla cengar-cengir.
“Udah ah, makan aja yuk!” kata Agni.
Tiba-tiba Geng Ganteng atau apapun namanya, saya gak tau, datang dan menghampiri meja keempat cewek itu.
“Halo, Agni!! Makin cantik aja niih!” Goda Cakka.
“Halo, Cakka!! Makin jelek aja lo!!” kata Agni dengan senyum maksa. Cakka cuma manyun.
Sivia dan Alvin sedang bercanda sambil melihat foto-foto hasil jepretan Alvin, Gabriel dan Shilla sedang mengobrol dan makan bareng, Cakka dan Agni sedang berantem, sedangkan Rio dan Ify?? Mereka hanya diam saja. Ify gak seagresif dulu lagi, hatinya terlanjur kecewa, tapi bukan Ify namanya kalo gak agresif begitu ngeliat Rio.
“Eh ada Kak Rio, hehee..duduk di samping gue lagi, jadi gimana gituu..” kata Ify cengengesan. Tumben Rio gak marah-marah atau risih, dia malah memandang Ify terus, membuat Ify semakin salting.
“Kenapa? Makin cantik ya guee??” Celetuk Ify.
‘Bukan Ify yang dulu lagi, gue yakin ada yang gak beres kemaren…’pikir Rio.
“Eh, gue kekelas dulu ya, ada yang mau gue kerjain,” Ify pergi meninggalkan mereka.
Rio tertunduk lemas. Mereka tak tega melihat keadaan Rio.
“Shil, apa kita bilang aja?” Tanya Sivia.
“Daripada Kak Rio gitu terus, Kak Agni gimana?” Tanya Shilla.
“Mau gak mau bilang,” Agni mengangkat bahu.
“Kalian pada kenapa sih?” Tanya Rio heran.
“Tadi Ify cerita semuanya ke kita bertiga, tentang kemaren pas lo di rawat sama Ify, Kak…” ujar Sivia.
Mata Rio terbelalak, ternyata mereka bertiga sudah tahu masalahnya.
“Beneran??” Mereka bertiga mengangguk.
“Plis cerita sama gue,” kata Rio.
“Jadi, pas lo tidur lo ngigau lo ngomong suka sama Ify, Kak,” kata Shilla. Cakka yang sedang minum keselek, Gabriel dan Alvin menganga, apalagi Rio, Rio udah kayak kena serangan jantung,
“Lo gak boong kan, Shil?” Tanya Rio.
“Ngapain juga gue boong, tadinya Ify gak percaya, tapi yang namanya cewek pasti seneng kalo ternyata cowok yang dia sukai punya perasaan yang sama, tapi pas Ify tau lo ngigau, Ify jadi ngerasa kecewa, dan dia mikir kalo lo gak mungkin suka sama dia, cuma igauan biasa, makanya dia jadi sedih gitu…” ujar Shilla.
“Hayo lo, Yo!! Anak orang tuh! Tanggung jawab! Lo udah kayak ngasih harapan palsu ke Ify!” Tuduh Cakka.
“Heh!! Berisik lo!!” Seru Rio.
“Woe, jangan berantem!” lerai Gabriel.
“Jadi gue udah bikin Ify sakit hati?” Tanya Rio. Semuanya mengangguk.
“Gak peka banget sih! Iya, lo udah bikin Ify ngarep banget ke elo!” kata Sivia.
“Kalo gitu beneran nih kayaknya gue bakal bikin konferensi pers,” ujar Rio.
“Ngakuin kalo gue lebih ganteng?” Tanya Cakka.
“Ngakuin kalo lo lebih jelek daripada gue!” kata Rio.
***
Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Rio langsung mengambil tasnya, dan langsung pergi ke kelas Ify. Ia celingak-celinguk nyari Ify di kelasnya, tak memperdulikan anak-anak kelas satu yang udah ngerubungin dia minta foto, minta tanda tangan, minta nomor hape atau apapun itu. Begitu melihat Sivia dan Shilla keluar, Rio langsung menghampirinya.
“Sivia! Shilla!” Panggil Rio. Mereka berdua menoleh.
“Ify mana?”
“Ify, udah pulang duluan…lo susul gih, siapa tau masih ada di depan gerbang!” Suruh Sivia.
“Siip! Thanks ya!” Rio meninggalkan mereka berdua, dan pergi ke depan gerbang mencari Ify. Senyumnya pun mengembang begitu melihat Ify sedang menunggu di depan pohon jambu. Tapi senyumnya cepat memudar begitu melihat seorang pemuda yang berhenti di depan Ify. Yap, pemuda itu adalah Debo. Ify menerima ajakan Debo untuk pulang bareng dan pergi meninggalkan sekolahnya. Rio sangat hancur begitu melihatnya, ia merasa kalah dengan Debo.
***
Di depan rumah Ify,
“Makasih ya, Kak,” kata Ify.
“Sama-sama, tadi kebetulan gue lewat sekolah lo, terus gue ngeliat lo lagi di depan gerbang,”kata Debo.
“Gue masuk dulu,” tiba-tiba tangannya di tarik Debo.
“Fy, lo lupa sesuatu!” kata Debo.
“Apaan?”
“Jawaban lo…” kata Debo.
Ify menghela napas, ia lupa memberikan jawaban yang sudah Ify janjikan untuk menjawabnya lewat sms, dan Ify memutuskan untuk menjawab sekarang.
“Gue…”
***
Debo menjalankan motornya dengan sangat pelan, kembali mengingat ucapan Ify yang tadi, ia hanya menggeleng-geleng kepala tapi kadang-kadang malah tersenyum sendiri.
“Ify…Ify…” gumam Debo.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya, seorang laki-laki yang memakai helm full-face. Debo membuka helmnya.
“Heh, ngapain berhenti di depan motor gue? Minggir!” Seru Debo.
Laki-laki itu membuka helmnya. Mata Debo melotot.
“Rio?” Gumam Debo.
“Gue pengen ngomong sama lo di lapangan depan sana.” Kata Rio. Debo menerima ajakan Rio.
***
Rio berdiri di hadapan Debo, Debo hanya mengangkat alis. Rio menatapnya dengan tajam.
“Lo mau ngomong apa?” Tanya Debo.
“Tadi lo sama Ify ngomong apa aja di depan rumahnya?”
Tiba-tiba Debo tersenyum dan menghela napas.
“Bukan urusan lo kan, Yo?”
“Lho? Kenapa?” Tanya Rio.
“Lo bukan siapa-siapa Ify, kan? Lo gak berhak tau masalah gue sama Ify,” kata Debo.
“Lo, ya!!” Hampir saja kepalan tangan Rio mendarat di wajah Debo, tapi ditangkis dengan mudahnya oleh Debo.
“Eh, gak pake kekerasan. Gue tanya balik, lo suka sama Ify?” Tanya Debo. Rio tak bisa menjawab.
“Gue gak tau…” kata Rio.
“Gak tau? Kalo gak tau gimana perasaan lo sama Ify, ngapain lo mau tau?” Tanya debo yang mulai memanas-manasi Rio. Memang benar Rio sudah semakin panas.
“Iya, gue ngaku! Gue suka sama Ify! Gue gak mau dia balikan lagi sama lo!” Seru Rio dengan wajah penuh keseriusan.
“Oh, lo suka sama Ify? Tapi kenapa dulu lo sia-siain Ify? Gue gak ngerti sama lo, lo cuma ngejaga image lo doang, Yo! Sampe-sampe cewek yang suka sama lo, lo buang gitu aja, kalo misalnya Ify nyerah buat ngedapetin lo, dan dia lebih milih gue, lo mau apa?” tanya Debo.
Rio tetap tidak menjawab, ia tahu ia salah, ia membuat kesalahan yang sangat besar, Rio menyia-nyiakan Ify yang selalu ada buatnya.
“Lo gak bisa jawab kan? Gini aja, gue tantang lo sekarang, kita sekarang tanding 1 on 1 sekarang di lapangan ini, lo bawa bola basket kan? Kalo misalnya lo bisa masukin bola ke ring ngedapetin nilai 10 lebih dulu daripada gue, gue bakal nyerahin Ify ke elo, tapi kalo sebaliknya lo harus nyerahin Ify ke gue, gimana?”
Rio diam, ia masih butuh waktu untuk berpikir matang-matang.
“Gimana, deal?”
“Deal.” Mereka berjabat tangan.
***
“Pliis..gue gak mau lo pergi..gue..suka..sama..lo..jangan pergi..” gumam Rio.
Ify terkejut mendengar kata-kata Rio. Apa benar yang dikatakan oleh Rio beberapa detik yang lalu?
“Gue pasti mimpi!” Ify langsung mencubit pipinya, dan..
“AWWW!!” Ringis Ify. Itu memang bukan mimpi.
“Aduuh, siapa sih berisik banget..” gumam Rio sambil tidur. Dan sekarang Ify baru sadar. Rio mengigau. Yang dikatakan Rio hanya igauan biasa. Bukan yang sebenarnya dan bukan kenyataan. Hati Ify berubah kecewa.
“Ternyata cuma ngigau, kalo gue pikir-pikir gak mungkinlah Kak Rio suka sama gue..mending gue manasin bubur dulu deh,” Ify pun keluar dari kamar Rio dan pergi ke dapur.
“Pliis..gue gak mau lo pergi..gue..suka..sama..lo..jangan pergi..” Ify hanya menghela napas mengingat kalimat yang diucapkan oleh Rio, Ify tahu kalau yang diucapkan Rio hanyalah igauan saja, bukan kenyataan. Tapi di dalam hatinya, ada rasa yang membuat dirinya senang, meskipun itu hanyalah igauan.
Saat Ify membuka pintu kamar Rio, Rio sudah duduk di kasurnya, sambil memencet tombol TV.
“Udah bangun lo, Kak?” Tanya Ify.
“Udahlah, buktinya gue lagi ngapain..” jawab Rio. Ify duduk di samping tempat tidur Rio.
“Nih buburnya,” kata Ify sambil memberikan semangkuk bubur ke Rio. Rio mengangkat alis.
‘Perasaan nih anak tadi ngebet banget mau nyuapin gue, kenapa jadi lemes kayak gini?’ Batin Rio sambil memandang Ify. Ify memasang wajah lesu sambil melihat kearah TV.
‘Nih anak kenapa sih? Tiba-tiba jadi lemes kayak gitu, udah abis apa baterainya?’ Pikir Rio sambil memakan buburnya.
“Fy, lo kenapa sih?” Tanya Rio.
“Eng..enggak papa kok,” kata Ify.
Kemudian terdengar pintu rumah dibuka,
“Kak, gue ke bawah dulu, siapa tau itu Ray.” Ify beranjak pergi. Rio masih terus menatap kearah pintu kamarnya.
“Ify kenapa sih? Kayaknya ada yang nggak beres nih..” gumam Rio.
***
“Aduuuh, si Ray kok gak ada siih? Udah tau kakaknya lagi sakiit..” ujar seorang wanita paruh baya berusia sekitar 30 keatas.
“Dasar Ray, paling belajar bareng dirumah Deva, Ma..” kata seorang pria yang merupakan suaminya.
“Ray, akhirnya lo..” kalimat Ify terhenti begitu ia melihat sesosok suami istri sedang melihat kearahnya dengan pandangan janggal. Tapi begitu sang istri melihat seragam sekolah yang dipakai Ify, ia langsung sadar.
“Kamu temennya Rio, ya?” Tanya si Wanita.
“Iya, Tante, saya Ify.” Kata Ify sambil menyunggingkan senyumannya.
“Saya Rita, Ibunya Rio dan Ray.”
“Saya Tegar, Ayahnya.”
“Ray mana, Fy?” Tanya Bu Dina.
“Ray, lagi belajar dirumah adik Ify, Deva,Tante.”
“Ooh, kamu Kakaknya Deva, ya?” Tanya Bu Dina.
“Iya,” ujar Ify malu-malu. Tiba-tiba Ray datang.
“Mama? Papa?” Tanya Ray.
Mamanya memasang wajah penuh kekesalan. Ia menghampiri Ray dan menjitak kepalanya.
“Aduuuh! Kakak kamu lagi sakit, malah ditinggalin! Untuk ada Ify, dasar kamu ini!” gerutu Bu Rita.
“Aduuuh, sakit Mamaa..” Ringis Ray sambil memegang kepalanya.
“Tante, maafin aja Ray, Ray juga niatnya buat belajar jadi Ify bolehin,” kata Ify.
“Iya, Ma. Kasian Ray, dijitak mulu kepalanya, kasian udah banyak tuh benjolannya di kepala!” kata Pak Tegar.
“Biarin! Supaya tambah ganteng!”
“Gak ada hubungannya Mamaa!!” Seru Ray.
“Oom, Tante Ify pulang dulu ya,” kata Ify.
“Jangan, Fy! Makan dulu aja disini, ntar pulangnya dianter sama Ray! Mau ya?” Ajak Bu Rita.
“Ify gak enak, Tante…”
“Gak papa kok, Fy. Ayo!” Ajak Bu Rita.
Akhirnya Ify ikut keluarga Rio makan malam di meja makan, tiba-tiba Rio pun datang ke meja makan. Ify menoleh kearah Rio, Rio duduk di samping Ify.
“Udah sehat, Yo?” Tanya Pak Tegar.
“Lumayan, Pa. Besok Rio udah bisa sekolah,” kata Rio sambil memegang kepalanya.
“Yaiyalah baikan, orang dirawat sama
cewek cantik!” Celetuk Ray.
“Ray!” kata Bu Rita.
Muka Ify dan Rio memerah, Ify meneruskan makannya, Rio garuk-garuk kepala. Pak Tegar hanya mesem-mesem aja ngeliat tingkah laku Ify dan Rio.
“Fy, kamu baik banget ya, mau ngurusin Rio pas Rio sakit,” kata Bu Rita.
“Yaiyalah, secara Kak Ify demen sama Kak Rio, ya pasti mau!” cerocos Ray.
BLETAK!
Kepala Ray di jitak lagi sama mamanya, Ray meringis kesakitan.
“Maaf ya, Fy emang Ray kelakuannya masih kayak anak kecil,” kata Bu Rita.
“Hehee..gak papa kok, Ify mau ngurusin Kak Rio, soalnya dulu pas di Puncak Kak Rio yang ngejagain Ify pas Ify sakit,” ujar Ify.
“Kamu gak diapa-apain kan sama Rio??” Tanya Pak Tegar.
“Papa, kenapa malah nyurigain Rio sih!?” Seru Rio.
“Muka lo gak bisa di percaya, Kak!” kata Ray.
“Kampret lu!”
“Heeehh, di meja makan gak boleh berantem! Meja makan buat makan! Bukan buat berantem!” Seru Pak Tegar.
Mereka pun kembali makan, tiba-tiba Bu Rita memulai pembicaraan.
“Ify?”
“Iya, Tante?”
“Gimana kalo kamu Tante jodohin aja sama Rio, mau kan?” Tanya Bu Rita polos. Rio yang lagi minum, keselek. Ray menganga, Pak Tegar hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya.
“Di..dijodohin??” Tanya Ify dengan muka memerah.
“Mama, apaan sih!? Masih aja mau jodohin Rio sama cewek! Ini udah tahun 2010, Ma! Jadul banget sih pikirannya! Rio bisa cari cewek sendiri!” kata Rio.
“Ahelah kamu, Yo! Kayak kamu laku aja!” kata Bu Rita.
Otomatis tawa Ray meledak, karena mamanya sendiri bilang bahwa kakaknya gak laku. Sedang kan Ify hanya menahan tawa, begitu juga Pak Tegar.
“Eng…gak tau deh, Tan, Ify masih mau belajar dulu…” kata Ify.
Rio dan Ray diem. Gak biasanya Ify kalo ngedenger kayak gitu, responnya gak seheboh yang kemaren-kemaren, biasanya heboh gak ketulungan. Sekarang? Keliatannya sedikit agak pendiem, dengan muka penuh kekecewaan.
“Tante, Oom, Ify pulang dulu…” kata Ify.
“Ntar kalo kamu mau di jodohin, Tante siap terima kok, Tante belom buka lowongan masih ngarepin kamu, Fy..” kata Bu Rita.
“Mamaa..” Rio menatap Mamanya sinis
“Ma, aku anterin Kak Ify dulu, ya!” kata Ray.
“Iya, kamu gak usah balik-balik lagi, ya! Cuma ngerepotin doang disini!” kata Bu Rita. Orang tua jaman sekarang emang yaa -.-
Selama diperjalanan, Ify diam saja, gak bicara, sampai Ray heran dibuatnya, biasanya Ify udah kayak belut gak bisa diem, pasti bakal ngomongin Rio terus.
Sesampainya di rumah Ify,
“Ray, thanks ya udah nganterin gue,” Ify tersenyum masam.
“Kak, daritadi gue liat, lo tuh murung mulu, kenapa sih?” Tanya Ray penasaran.
“Ng…nggak papa kok, gue masuk ya…”
Ify pun masuk ke dalam rumahnya.
***
"Kira-kira yang di omongin Kak Rio bener gak yaa?” Gumam Ify sambil memutar-mutar pensilnya.
“Haaahh, masa sih beneraan?” Ify menjatuhkan kepalanya di atas meja belajar, pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto kecil berwarna biru, foto Rio yang sedang bermain basket terpampang di depan mukanya. Ify mengambil bingkai itu dan terus memandangnya.
“Kak, apa gak ada harapan buat gue??” gumam Ify.
“Ah daripada ngelakuin gak jelas gini, mending gue update blog RISE aja,” kata Ify.
***
“Heiii, Rioo my man!!” Seru Cakka. Rio tak menggubrisnya dan duduk di bangkunya.
“Woi! Ada orang ganteng nih, di depan lo!!” kata Cakka. Rio malah melamun.
“Rio, ada Ify tuh!!” Seru Gabriel. Rio langsung berdiri dan celingak-celinguk nyari Ify.
“Mana?Mana?” Temen-temennya hanya ketawa melihat Rio. Rio menatap mereka sinis.
“Yeuuuh, sompret lo bertiga! Ngibulin gue ya?” keluh Rio.
“Abisnya lo baru dateng muka udah di tekuk, setrika lo di ambil lagi sama Cakka?” Celetuk Alvin.
“Nggak, dirusakin sama dia!” kata Rio. Cakka hanya manyun.
“Lo kok sedih gitu sih? Berantem sama Ify?” Tanya Gabriel.
“Gak tau.”
“Lah kenapa gak tau?”
“Harusnya kan lo seneng bisa dirawat sama Ify, bukannya lemes gitu, tau gak semua cewek pas tau lo sakit, mereka langsung bikin pengajian dan doa bersama di tengah lapangan buat ngedoain elo,” kata Alvin.
“Woelah, lebay amat, emang gue udah mati apa?” Tanya Rio.
“Makanya jadi orang jangan ganteng-ganteng, Yo! Kan pamor gue turun drastis pas temenan sama lo!” kata Cakka.
“Heuh, pamor,pamor masih aja mikirin pamor!” Seru Gabriel.
“Masa, tiba-tiba pas gue baru bangun tampangnya Ify tuh kayak kecewa gitu, gue takutnya pas gue tidur gue ngomong yang nggak-nggak, gue kan kalo tidur suka ngigau, Yel. Yang tadinya ngebet banget mau nyuapin gue, jadi kagak mau,” Kata Rio sambil menghela napas.
“Berarti bener, Yo. Lo udah ngomong yang nggak-nggak, mungkin lo bilang kalo Ify jelek, nakutin, ato apapun itu…” kata Gabriel.
“Buset! Sadis amat gue! Kayaknya gue gak ngomong kayak gitu deh!” Keluh Rio.
“Yeee..mana lo tau, lo lagi tidur! Apa jangan-jangan lo nendang Ify lagi…” selidik Alvin.
“Yeeuuh..pikiran lo, Vin! Tapi masa gue ngerasa kalo gue ngomong suka sama dia,” ujar Rio sambil memangku dagunya dengan satu tangannya.
“Hah? Gila lo, Yo! Itu mah fatal banget! Kayaknya gak mungkin deh, itu pasti cuma pikiran lo doang!” seru Alvin.
“Kan gue gak tau, China Glodook!!” kata Rio.
“Ntar lo bikin konferensi pers deh di kantin, supaya Ify ngerti,” kata Gabriel.
“Lo kira gue ama Ify bikin skandal?? Berasa artis gue!” keluh Rio.
“Yaudah gue aja yang bikin, ntar gue mau kasih tau ke orang-orang kalo Mario Stevano udah ngakuin gue, Cakka Kawekas Nuraga lebih ganteng daripada dia, hahaa…” kata Cakka. Rio melempar buku matematika ke muka Cakka.
“Sakiiit!!” Ringis Cakka sambil memegang hidungnya.
***
“Yaudahlah Fy, jangan dipikirin…” kata Shilla sambil membawa sepiring siomay dan duduk di samping Ify.
“Tapi, kan kalo lo semua denger dengan telinga lo sendiri, lo pasti bakal seneng kan?” Tanya Ify.
“Yaa..bakal seneng juga lah, Fy…” kata Agni.
“Kalo gue jadi lo, Fy…jiwa gue udah terbang kemana-mana, tapi pas begitu tau ternyata dia ngigau, jiwa gue langsung masuk jurang yang sangat amat dalem,” ujar Sivia layaknya orang bijak.
“Yang udah punya pacar gak usah komentar! Bikin gue sirik aja sih!” Seru Ify.
“Yaaah, minta maaf deh, fy. Eh berarti Shilla juga gak boleh komentar dong??” Kata Sivia. Muka Shilla langsung memerah. Ify dan Agni mengangkat alis.
“Maksud lo, Vi?” Tanya Agni penasaran.
“Shilla kan udah jadian sama Kak Iel, Kak.” Kata Sivia.
“Beneran, Shil??” Tanya Ify. Shilla akhirnya mengangguk.
“Kapan?? Ceritain dong!!!” Kata Agni.
“Jadi, gini ceritanya…”
Gabriel membawa Shilla ke pantai untuk berjalan-jalan di sore hari sambil menikmati indahnya sunset. Mereka berlari-larian di pinggir pantai layaknya telenovela, film korea, film india atau apapun itulah…pokoknya lari-larian deh, Karena sudah kelelahan, Gabriel dan Shilla duduk di pinggir pantai,
“Aduuh, capek banget, dari tadi lari-larian mulu udah kayak marathon,” keluh Shilla sambil menghapus keringat yang membasahi wajah cantiknya.
“Kayaknya kalo lo ikut marathon, lo bakal dapet medali emas, Shil. Cepet banget!” kata Gabriel.
“Hahaa..bisa aja lo, Kak!” Keringat Shilla terus bercucuran tak berhenti. Gabriel yang melihatnya langsung mengambil saputangan dari kantong celananya, dan menghapus keringat Shilla. Wajahnya menjadi merah merona.
“Eh, Shil, ada yang mau gue tunjukkin,” kata Gabriel.
“Apaan?” Tanya Shilla. Gabriel tersenyum. Ia langsung menarik tangan Shilla dan membawanya pergi.
“Ikut gue!” Ajak Gabriel.
Mereka sampai di depan tebing yang tidak begitu tinggi, tapi tetap saja terlihat seram buat Shilla. Tiba-tiba Gabriel menaiki tebing tersebut.
“Eh, lo mau ngapain?? Awas jatoh!!” Seru Shilla panik. Tapi ternyata Gabriel sampai dengan selamat.
“Naik!”
“Hah?”
“Ayo, Shil naik!”
“Ah, gila lo, Kak! Gue takut!” kata Shilla.
“Sini gue pegang tangan lo!” Gabriel sudah mengulurkan tangannya untuk membantu Shilla. Tapi Shilla tetap tidak mau. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Yaudah kalo lo gak mau, padahal yang mau gue tunjukkin ke elo, harus dilihat dari sini, lo gak percaya sama gue,” kata Gabriel. Shilla berpikir matang-matang.
“Mana tangan lo?” Tanya Shilla. Gabriel tersenyum dan mengulurkan tangannya. Shilla memegang tangan Gabriel dengan sangat erat.
“Jangan dilepas!!” Seru Shilla.
“Gak bakal gue lepas!” Akhirnya Shilla sampai di atas tebing.
“Mana kejutannya? Lo boong ya?”
“Tutup mata lo!” Suruh Gabriel. Shilla menutup mata. Gabriel menuntun Shilla sampai ke pinggir tebing.
“Ah, lo mau ngapain?? Lo mau ceburin gue ke laut? Gilaa!!” Seru Shilla.
“Dih, cantik-cantik bego juga lo! Sekarang buka mata lo dan lihat ke bawah!” Suruh Gabriel.
Shilla membuka matanya secara perlahan dan ia melihat kebawah. Shilla menutup mulutnya dengan tangannya, merasa sangat tersentuh dengan sesuatu yang ia lihat di bawah. Sebuah kalimat I LOVE YOU yang di bentuk oleh batu-batu kecil ia lihat di tebing bawah. Satu kalimat yang dibuat Gabriel hanya untuk Shilla.
“Lo yang buat?” Tanya Shilla.
“Iya, gue buat tadi pagi, hehee… gimana? Lo mau terima gue?” Tanya Gabriel. Shilla mengangguk. Gabriel langsung memeluk Shilla saking senangnya.
“Kak, Kak..! Awas ntar jatoh nihh!!” Teriak Shilla.
“Gitu ceritanya…” muka Shilla memerah.
“Ya, ampun Gabriel bisa juga romantis hahaa..” kata Agni.
“Sekarang tinggal Kak Agni sama Ify doang nih, hehee..” kata Sivia.
“Nyindir, nih ceritanya??” Tanya Ify dengan menyipitkan mata.
“Bukannya nyindir, tapi pengen lo berdua nyusul!” kata Shilla cengar-cengir.
“Udah ah, makan aja yuk!” kata Agni.
Tiba-tiba Geng Ganteng atau apapun namanya, saya gak tau, datang dan menghampiri meja keempat cewek itu.
“Halo, Agni!! Makin cantik aja niih!” Goda Cakka.
“Halo, Cakka!! Makin jelek aja lo!!” kata Agni dengan senyum maksa. Cakka cuma manyun.
Sivia dan Alvin sedang bercanda sambil melihat foto-foto hasil jepretan Alvin, Gabriel dan Shilla sedang mengobrol dan makan bareng, Cakka dan Agni sedang berantem, sedangkan Rio dan Ify?? Mereka hanya diam saja. Ify gak seagresif dulu lagi, hatinya terlanjur kecewa, tapi bukan Ify namanya kalo gak agresif begitu ngeliat Rio.
“Eh ada Kak Rio, hehee..duduk di samping gue lagi, jadi gimana gituu..” kata Ify cengengesan. Tumben Rio gak marah-marah atau risih, dia malah memandang Ify terus, membuat Ify semakin salting.
“Kenapa? Makin cantik ya guee??” Celetuk Ify.
‘Bukan Ify yang dulu lagi, gue yakin ada yang gak beres kemaren…’pikir Rio.
“Eh, gue kekelas dulu ya, ada yang mau gue kerjain,” Ify pergi meninggalkan mereka.
Rio tertunduk lemas. Mereka tak tega melihat keadaan Rio.
“Shil, apa kita bilang aja?” Tanya Sivia.
“Daripada Kak Rio gitu terus, Kak Agni gimana?” Tanya Shilla.
“Mau gak mau bilang,” Agni mengangkat bahu.
“Kalian pada kenapa sih?” Tanya Rio heran.
“Tadi Ify cerita semuanya ke kita bertiga, tentang kemaren pas lo di rawat sama Ify, Kak…” ujar Sivia.
Mata Rio terbelalak, ternyata mereka bertiga sudah tahu masalahnya.
“Beneran??” Mereka bertiga mengangguk.
“Plis cerita sama gue,” kata Rio.
“Jadi, pas lo tidur lo ngigau lo ngomong suka sama Ify, Kak,” kata Shilla. Cakka yang sedang minum keselek, Gabriel dan Alvin menganga, apalagi Rio, Rio udah kayak kena serangan jantung,
“Lo gak boong kan, Shil?” Tanya Rio.
“Ngapain juga gue boong, tadinya Ify gak percaya, tapi yang namanya cewek pasti seneng kalo ternyata cowok yang dia sukai punya perasaan yang sama, tapi pas Ify tau lo ngigau, Ify jadi ngerasa kecewa, dan dia mikir kalo lo gak mungkin suka sama dia, cuma igauan biasa, makanya dia jadi sedih gitu…” ujar Shilla.
“Hayo lo, Yo!! Anak orang tuh! Tanggung jawab! Lo udah kayak ngasih harapan palsu ke Ify!” Tuduh Cakka.
“Heh!! Berisik lo!!” Seru Rio.
“Woe, jangan berantem!” lerai Gabriel.
“Jadi gue udah bikin Ify sakit hati?” Tanya Rio. Semuanya mengangguk.
“Gak peka banget sih! Iya, lo udah bikin Ify ngarep banget ke elo!” kata Sivia.
“Kalo gitu beneran nih kayaknya gue bakal bikin konferensi pers,” ujar Rio.
“Ngakuin kalo gue lebih ganteng?” Tanya Cakka.
“Ngakuin kalo lo lebih jelek daripada gue!” kata Rio.
***
Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Rio langsung mengambil tasnya, dan langsung pergi ke kelas Ify. Ia celingak-celinguk nyari Ify di kelasnya, tak memperdulikan anak-anak kelas satu yang udah ngerubungin dia minta foto, minta tanda tangan, minta nomor hape atau apapun itu. Begitu melihat Sivia dan Shilla keluar, Rio langsung menghampirinya.
“Sivia! Shilla!” Panggil Rio. Mereka berdua menoleh.
“Ify mana?”
“Ify, udah pulang duluan…lo susul gih, siapa tau masih ada di depan gerbang!” Suruh Sivia.
“Siip! Thanks ya!” Rio meninggalkan mereka berdua, dan pergi ke depan gerbang mencari Ify. Senyumnya pun mengembang begitu melihat Ify sedang menunggu di depan pohon jambu. Tapi senyumnya cepat memudar begitu melihat seorang pemuda yang berhenti di depan Ify. Yap, pemuda itu adalah Debo. Ify menerima ajakan Debo untuk pulang bareng dan pergi meninggalkan sekolahnya. Rio sangat hancur begitu melihatnya, ia merasa kalah dengan Debo.
***
Di depan rumah Ify,
“Makasih ya, Kak,” kata Ify.
“Sama-sama, tadi kebetulan gue lewat sekolah lo, terus gue ngeliat lo lagi di depan gerbang,”kata Debo.
“Gue masuk dulu,” tiba-tiba tangannya di tarik Debo.
“Fy, lo lupa sesuatu!” kata Debo.
“Apaan?”
“Jawaban lo…” kata Debo.
Ify menghela napas, ia lupa memberikan jawaban yang sudah Ify janjikan untuk menjawabnya lewat sms, dan Ify memutuskan untuk menjawab sekarang.
“Gue…”
***
Debo menjalankan motornya dengan sangat pelan, kembali mengingat ucapan Ify yang tadi, ia hanya menggeleng-geleng kepala tapi kadang-kadang malah tersenyum sendiri.
“Ify…Ify…” gumam Debo.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya, seorang laki-laki yang memakai helm full-face. Debo membuka helmnya.
“Heh, ngapain berhenti di depan motor gue? Minggir!” Seru Debo.
Laki-laki itu membuka helmnya. Mata Debo melotot.
“Rio?” Gumam Debo.
“Gue pengen ngomong sama lo di lapangan depan sana.” Kata Rio. Debo menerima ajakan Rio.
***
Rio berdiri di hadapan Debo, Debo hanya mengangkat alis. Rio menatapnya dengan tajam.
“Lo mau ngomong apa?” Tanya Debo.
“Tadi lo sama Ify ngomong apa aja di depan rumahnya?”
Tiba-tiba Debo tersenyum dan menghela napas.
“Bukan urusan lo kan, Yo?”
“Lho? Kenapa?” Tanya Rio.
“Lo bukan siapa-siapa Ify, kan? Lo gak berhak tau masalah gue sama Ify,” kata Debo.
“Lo, ya!!” Hampir saja kepalan tangan Rio mendarat di wajah Debo, tapi ditangkis dengan mudahnya oleh Debo.
“Eh, gak pake kekerasan. Gue tanya balik, lo suka sama Ify?” Tanya Debo. Rio tak bisa menjawab.
“Gue gak tau…” kata Rio.
“Gak tau? Kalo gak tau gimana perasaan lo sama Ify, ngapain lo mau tau?” Tanya debo yang mulai memanas-manasi Rio. Memang benar Rio sudah semakin panas.
“Iya, gue ngaku! Gue suka sama Ify! Gue gak mau dia balikan lagi sama lo!” Seru Rio dengan wajah penuh keseriusan.
“Oh, lo suka sama Ify? Tapi kenapa dulu lo sia-siain Ify? Gue gak ngerti sama lo, lo cuma ngejaga image lo doang, Yo! Sampe-sampe cewek yang suka sama lo, lo buang gitu aja, kalo misalnya Ify nyerah buat ngedapetin lo, dan dia lebih milih gue, lo mau apa?” tanya Debo.
Rio tetap tidak menjawab, ia tahu ia salah, ia membuat kesalahan yang sangat besar, Rio menyia-nyiakan Ify yang selalu ada buatnya.
“Lo gak bisa jawab kan? Gini aja, gue tantang lo sekarang, kita sekarang tanding 1 on 1 sekarang di lapangan ini, lo bawa bola basket kan? Kalo misalnya lo bisa masukin bola ke ring ngedapetin nilai 10 lebih dulu daripada gue, gue bakal nyerahin Ify ke elo, tapi kalo sebaliknya lo harus nyerahin Ify ke gue, gimana?”
Rio diam, ia masih butuh waktu untuk berpikir matang-matang.
“Gimana, deal?”
“Deal.” Mereka berjabat tangan.
***
Cuma Gue yang Bisa part 18 (re-post)
Part 18: Rio Sakit Ify Khawatir Setengah Mati
Setelah UN SMA selesai (anggep aja udahan, di skip :p), sekarang saatnya UN untuk SMP, hari ini merupakan hari pertarungan hidup dan mati Deva. Akhirnya inilah saatnya Deva meminta restu orang tua dan juga kakaknya.
“Ma, doain Deva yaa..” kata Deva sambil mencium tangan Mamanya.
“Gak nyangka kamu udah dewasa, Dev..” kata Bu Risna.
“Emangnya Deva mau nikah apa, Ma??” Tanya Ify.
“Pa, doain Deva..” kata Deva sambil mencium tangan Papanya.
“Dev, kalo kamu kepepet, tanya aja ama yang dibelakang kamu,” nasihat Pak Indra.
“Mimpi apa gue punya orang tua kayak gini??” Gumam Ify.
Deva sekarang sudah ada di hadapan Ify, Ify sudah mengulurkan tangannya karena Deva akan mencium tangannya. Dan ternyata, Deva malah melewatkan Ify.
“Ma, Pa..Deva berangkat yaa!!” Pamit Deva. Ify menganga.
“Elu Dev! Dasar kacrut! Gak minta restu ama guee!!” Teriak Ify. Akhirnya Deva balik lagi ke Ify, daripada dikutuk sama Ify. Deva pun mencium tangan Ify dengan terpaksa.
“Nah gitu dong! Kayaknya gue itung-itung, lo cium tangan gue baru sekali seumur idup deh..” ujar Ify.
“Gue gak mau cium tangan lo, soalnya tangan lo bau terasi!!” Seru Deva yang langsung kabur dari hadapan Ify.
“DEVAAAAA!!!!!”
***
“Kau gadisku yang cantiik..coba lihat aku disinii..disini ada aku yang cinta padamu..” Cakka sedang melaksanakan aksi gombalnya di kantin. Agni memasang wajah betenya, karena mendengar suara cempreng Cakka sambil bermain gitar.
“Kau gadisku yang cantik, coba lihat aku disini..disini ada aku yang sayang padamuu..huohuoo..” Cakka terus bernyanyi, padahal semua murid yang berada di kantin sudah merasa terganggu.
“Cak, berenti napa, fals suara lo!!” Seru Gabriel.
“Napas aja udah fals, apalagi nyanyi!” Celetuk Alvin.
Ify, Shilla, dan Sivia hanya tertawa saja melihat tingkah laku Cakka yang ingin mencari perhatian Agni. Cakka terus bernyanyi sampai teriak-teriakan. Semakin lama Agni semakin panas, dan merasa terganggu, tiba-tiba Agni menggebrak meja.
BRAAK!!!
Otomatis semua orang terkejut dibuatnya, Agni mendelik kearah Cakka dengan tatapan membunuh. Muka Cakka menjadi pucat.
“Heh! Cumi! Belom pernah kelilipan sepatu yaa!!’ Seru Agni.
“Woelah, nyantai dong Ag.. eh,gue heran deh ama lo, kok lo gak kena pesona gue siih, cewek lain aja gue kedipin langsung pada masuk UKS semua gara-gara pingsan kena kedipan gue..” kata Cakka.
“Kalo lo kedipin gue, lo yang bakal masuk UKS duluan gara-gara dapet bogem mentah dari gue!” Kata Agni sambil menunjukan kepalan tangannya ke muka Cakka.
“Lo kalo godain Agni sama aja lo ganggu macan lagi tidur, Cak!” Celetuk Gabriel.
“Ag, lo kagak ada apa sedikit ajaa rasa
buat guee..” keluh Cakka.
“Ada!”
“Hah? Beneran?”
“Iya ada rasa pengen ngebunuh lo!!” Seru Agni. Cakka hanya manyun.
Sementara Cakka masih mencoba untuk gombal sama Agni, Ify hanya manyun saja sambil memutar-mutar sendoknya, semangkok bakso yang ia pesan tak di makannya. Di sebelahnya, Sivia selalu melirik kearah mangkok bakso Ify.
“Fy..”
Ify tak menjawab.
“Fy..gue minta baksonya yaa..sayang gak dimakan..” kata Sivia.
Ify tetap tak menjawab, ia tetap melamun. Akhirnya Sivia mengambil bakso satu-satu dengan sendoknya. Shilla yang melihatnya langsung melotot.
“Vi, parah banget lo!” kata Shilla.
“Vi, balikin baksonya Ify, gue beliin lagi deh!” kata Alvin.
“Ify-nya juga gak marah kok, biarin aja, kan sayang kalo gak dimakan,” keluh Sivia.
Alvin dan Shilla hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan Sivia, Sivia keasyikan memakan bakso hasil curiannya dari Ify.
‘Kak Rio, kemana siih..ah, udahlah nanti juga kesini, mendingan gue makan dulu,’ pikir Ify yang sekarang matanya tertuju pada semangkuk baksonya.
Tapi…
“Kok baksonya gak adaaa?? Cuma kuahnya doaaangg!!” Teriak Ify. Kemudian Ify melotot kearah Sivia yang sedang mengunyah bakso hasil curian.
“VIAAA MALIIING!!!” Teriak Ify sambil mengacak-acak rambut Sivia.
“Aduuuh, jangan di acak-acak doong!!! Gue beliin lagi deh!!” Kata Sivia yang langsung pergi ke tukang bakso.
“Cantik-cantik maling juga tuh, anak!” gerutu Ify.
“Gitu-gitu temen lo, Fy..” kata Shilla.
“Iya, iyaa..Kak Alvin, Kak Rio mana sih, hampa banget idup gue kalo gak liat dia..” keluh Ify sambil memasang wajah cemberut.
“Lo gak tau? Rio kan sakit,” kata Alvin. Ify diem.
“Hah?? KAK RIOO SAKIIT!!??” Teriak Ify. Begitu mendengar suara cempreng Ify, mereka terkejut bukan main.
“Biasa, Fy!” Seru Gabriel.
“Paling Rio sakit gara-gara gak dikasih jatah Chitato ama nyokapnya!” Kata Cakka enteng.
“Aduuh, aduuh gimana nih, Kak Rio ama siapa di rumah?? Jangan-jangan
sendirian..ntar kalo ada yang iseng masuk kerumah Kak Rio buat maling, terus nanti kalo Kak Rio ngelawan malingnya, ntar Kak Rio..” cerocos Ify.
“Weiishh, napas Mbak! Khayalan lo ketinggian!!” Kata Shilla.
“Gak ada yang gak mungkin, Shil!” kata Ify khawatir.
“Rio gak mungkin mati, kaan?” Tanya Cakka.
“Aduuh, gue gak bawa obat-obatan nih, buat Kak Rio, kalo betadine bisa gak?” Tanya Ify.
“Dodol! Betadine buat luka ama borok!” Kata Agni.
“Berarti gak bisa ya?” Tanya Ify.
“Nih anak kayaknya otaknya ketinggalan dirumah deh,” keluh Alvin.
“Lo minumin aja betadine ke Rio, paling langsung masuk kuburan tuh anak!” kata Cakka.
“Ada apaan sih? Rame banget!” Kata Sivia sambil memberikan semangkok bakso ke Ify.
“Rio sakit, si Ify kayak orang kesetanan pas denger Rio sakit,” kata Alvin.
“Kalo Rio sakit, ntar lusa pas turnamen siapa yang bakal mimpin nih? Susah juga!” keluh Gabriel.
“Biar gue aja yang mimpin, ntar gue yang mimpin latihan,” kata Alvin.
“Pokoknya nanti gue mau ke rumah Kak Rio, lo semua pada mau ikut gak?” Tanya Ify.
“Gue, Iel, latihan basket,” kata Alvin.
“Gue gak boleh main,” kata Sivia.
“Gue mau shopping,” kata Shilla.
“Gue mau ke toko buku,” kata Agni.
“Kalo lo, Kak?” Tanya Ify.
“Gue mau ngikutin Agni, hehee..” kata Cakka cengengesan.
“Paan sih lo!?” Seru Agni.
“Aaaah, yaudah deh, pada gak seru lo semua!” seru Ify.
“Salam ya buat Rio!” kata Alvin, dianggukan oleh Gabriel.
“Salam ya dari dari orang ganteng!” kata Cakka. Kemudian ditimpukin sama anak-anak.
“Yaaah, titip salam deh,” kata Agni, di setujui oleh Shilla dan Sivia.
“Iyaa..iyaa..”
***
“Aduuuuh, kenapa gue jadi sakit gini sih!” keluh Rio. Rio merasa bosan dirumah, karena tak bisa bertemu dengan sohib-sohibnya, terutama si biang rusuh, Ify. Apalagi besok lusa ada turnamen se-jabodetabek.
“Apa jangan-jangan dosis makan Chitato gue kurang kali ya, Chitato gue abis lagi, kagak dikasih ama nyokap, gue malah dikatain lama-lama gue bakal jadi kentang beneran,” gerutu Rio.
Kemudian terdengar suara ketokan pintu.
“Kak Riooo!!! Gua masuk yaa!!” teriak Ray sambil membuka pintu kamar Rio.
“Eh, gondrong gak usah teriak-teriakan deh di rumah! Kuping gue gak budek!!” Seru Rio.
“Lu sakit masih aja banyak bacot! Ntar Mama sama Papa pulang malem, makanya gue yang bakal ngurusin lo!” kata Ray.
“Hah? Nggak ah! Bisa mati gue diurusin lo! Dulu aja pas gue sakit, tablet gue ketuker ama vitamin si belang! (kucingnya Rio :p) untung gue belom minum!” kata Rio.
“Yeee..gue kan khilaf, Kak. Kali ini nggak deh, nih minum obat sirupnya!” kata Ray sambil menyuguhkan satu sendok makan sirup obat. Rio merasa curiga, biasanya Ray suka salah ngambil obat, makanya dia cium dulu.
“Eh, gue mau liat botolnya.” Suruh Rio.
Ray memberikan botolnya, matanya melotot.
“BEGOOO!!! Itu obat kutu si belaaang!!” kata Rio sambil menoyor kepala Ray.
“Aduuuh, sakiit! Gue khilaf!” Ringis Ray.
“Elo tuh khilaf mulu kerjaannya! Apa jangan-jangan lo mau nyingkirin Kakak lo yang paling ganteng ini ha? Makanya tuh rambut gunting aja!!” kata Rio.
“Gak bakal!!”
Tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi,
“Buka tuh!” Suruh Rio. Ray pun pergi menuju pintu rumah, dan mendapati Ify membawa bungkusan besar di tangannya.
“Eh, elo Kak,” sapa Ray.
“Raydut, Kak Rio mana?” Tanya Ify.
“Asal maen ngubah nama orang aja lu! Kak Rio dikamar, ngapain?”
“Mau jenguk calon pacar gue, heheee..” kata Ify nyengir. *GUBRAK*.
“Yeuuuhh, masih ngarep aja lo, Kak! Eh, bawa apaan tuh, gede banget plastiknya!” kata Ray penasaran.
“Mau tau aja, ini buat Kak Rio, ntar kalo gue kasih tau, diembat lagi sama lo!” kata Ify.
“Iiih, pedit amat lo!” gerutu Ray.
“Biariin, gue masuk ya!” kata Ify.
“Oke! Titip Kak Rio, Kak! Gue mau kerumah lo!” kata Ray.
“Hah? Kok lo pergi sih??”
“Gue mau belajar bareng Deva!” seru Ray.
“Yaudah deh..ahelah palng ujung-ujungnya lo berdua maen PS bukannya belajar.” kata Ify. Ray hanya nyengir.
Ray pun pergi meninggalkan rumah, otomatis dirumah hanya ada Rio, Ify dan si belang, tapi si belang pergi nyari pacar :p, namanya juga kucing kabur mulu!
“Aduuh, kok gue deg-degan ya??” Gumam Ify. Ify mengetok-ngetok kamar Rio.
“Masuukk..” seru Rio dengan suara serak. Ify pun membuka pintu kamar Rio.
“Ray, lo ngapain dulu sih!? Tidur? Ngambil obat aja lama bangeet..” Rio melotot begitu melihat Ify udah cengar-cengir di depannya.
“Ngapain lo kesini??” Tanya Rio.
“Gue? Mau nyangkul! Ya mau jenguk lo laaah!” Seru Ify.
“Sakit apaan sih lo?” Tanya Ify.
“Cuma demam kok,” jawab Rio enteng.
“Demam aja cuma?? Aduuuhh, lo tuh gimana siih!! Mana AC dinyalain lagi, jangan dinyalain!! Badan lo harus ditutupin selimut, terus kepala lo dikompres!! Gue ambilin deh kompresnya!” Seru Ify yang langsung keluar mencari kompresan.
'Buset, lebih galak dari nyokap, tapi asik juga di rawat sama Ify, hehee..' Mukanya memerah dan Rio mulai cengar-cengir. Pas Ify dateng lagi, Rio langsung nutupin mukanya pake selimut, takut keliatan muka merahnya.
“Kak Rio, selimutnya bukaa..sini kepala lo mau gue kompres!” Kata Ify sambil membuka selimut Rio, tapi Rio malah menarik selimutnya lagi keatas.
“Iih buka..!” Ify menarik selimut Rio dengan kuat. Gara-gara Rio sakit dia jadi gak punya kekuatan. Ify pun memeras handuk kecil dan menaruhnya di dahi Rio.
“Nah, gitu kek dari tadi! diem kayak gini kan, bagus!” kata Ify. Rio tak bisa menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah, karena tersentuh dengan perhatian Ify yang begitu tulus.
“Kak, kok muka lo merah?? Kepanasan yaa??” Tanya Ify khawatir.
‘Untung nih anak bego, kalo nggak, ketauan gue suka sama dia..’ pikir Rio. Tiba-tiba Ify memegang dahi Rio. Muka Rio mulai panas, jantungnya deg-degan, jiwanya udah terbang kemana tau.
“Panas banget, udah minum obat belom??” Tanya Ify.
“Belom, tadi si Ray kelewat bego, obat gue ketuker sama obat kutu kucing gue, kalo gue minum, sekarang udah dipasang bendera kuning di pager rumah gue!”
“Obat lo yang mana sih?? Gue ambilin deh!”
“Ada di rak obat!”
“Gue ambilin dulu ya,” kata Ify. Ify pun keluar dari kamar Rio untuk mengambil obat.
“Aduuuh, panas banget gila! Mana selimutnya tiga lapis lagi, parah tuh anak!” keluh Rio sambil membuka selimutnya.
“Kak Riooo!!! Jangan dibukaaa!!!” Teriak Ify. Ify langsung menyelimuti badan Rio dengan selimut tiga lapis.
‘Sial! Ini namanya bukan perhatian! Ini penyiksaan!!’ Pikir Rio.
“Nih, makan dulu, tadi Ray udah nyiapin bubur buat lo, mulutnya bukaa..AAA..” kata Ify seperti babysitter nyuapin anak kecil.
“Gue maunya makan sendiri, sini mangkoknya!” Seru Rio.
“Yang sakit jangan banyak bacot!! Nurut aja sama gue! Kalo lo gak nurut, ntar beneran bendera kuning bakal dipasang di pager rumah lo!” Ancam Ify.
“Ih,” gerutu Rio.
“Buka mulutnya,” suruh Ify. Rio menggeleng.
“Buka!” Rio tetap menggeleng.
“Jangan kayak anak keciil!!” Seru Ify. Rio tetap menggeleng.
“Yaudah, kalo gak mau, padahal gue kan bawa Chitato seplastik gede buat lo tadi, lo-nya gak mau makan mending buat gue deh!” Kata Ify sambil mengambil sebungkus Chitato gede dan membuka bungkusannya. Mata Rio langsung hijau begitu melihat Chitato di tangan Ify.
“Beneran tuh buat gue?” Tanya Rio.
“Lo gak mau makan, jadinya buat gue aja..” kata Ify. Ia mengambil satu kripik dan mau memasukkannya ke mulut dengan gerak lambat.
“Sini Chitatonya!!” Rio menarik bungkusan Chitatonya dari tangan Ify. Ify tak mau kalah.
“Nggak, ini punya gue!”
“Kan tadi lo niatnya ngasih ke gue berarti punya gue!”
“Gue!”
“Gue!”
“Gue!”
“Gue!!”
Tetap Ify yang paling kuat, tenaganya Ify udah kayak tenaga badak, rebut-rebutan Chitato sama Rio. Alhasil Rio pun cemberut dan membalikan badannya, membelakangi Ify. Ify juga tak mau kalah, ia memanyunkan bibirnya beberapa centi.
“Ah, mendingan gue pulang, Chitatonya gue abisin sendiri di rumah!” kata Ify.
“Eh, jangaaann!!” Seru Rio. Ify menoleh.
“Jadii, lo seneng gue disini, Kak? Lo gak mau gue pulang? Ya, ampuun ternyata lo ada hati sama gue!” kata Ify kesenengan.
“Bukan, Chitatonya jangan dibawa!” kata Rio. Ify jadi manyun lagi, Ify marah.
“Tuh, makan tuh Chitato! Biar lo jadi kentang beneran!!” Seru Ify melengos sambil melempar seplastik Chitato kearah Rio. Ify langsung keluar dari kamar Rio.
“Aduh! Bego banget lo, Yo!” Kata Rio. Rio beranjak dari tempat tidurnya dan mengejar Ify. Ify masih berada di depan pintu rumah. Rio berlari mengejar Ify, dan ia menarik tangan Ify.
“Fy, jangan pulang!” kata Rio sambil terengah-engah. Muka Ify pun memerah.
“Sori, gue minta maaf..” kata Rio tapi kemudian Rio pingsan.
“Lah, Kak Rio! Bangun! Jangan mati! Eh, salah! Jangan pingsan!! Tadi gue cuma mau beli permen yupi didepan komplek!!”
***
Ify duduk disamping Rio yang sedang tertidur lelap, akibat demam. Dengan penuh perjuangan, Ify berhasil menggotong Rio yang pingsan ke kamarnya yang berada di lantai atas. Ify memeras handuk kecil dan menaruhnya di dahi Rio. Ify merasa sangat khawatir dengan kondisi Rio sangat lemah. Badannya sangat panas.
“Lo tuh bego banget ya, Kak. Percaya aja sama gue..hehee..” Ify tertawa kecil begitu mengingat kejadian tadi yang sampai membuat Rio pingsan. Tiba-tiba Ify mulai penasaran, ia terus memperhatikan rambut Rio.
“Gue jadi pengen megang rambutnya Kak Rio deh..” gumam Ify. Jantung Ify berdetak kencang.
“Kok gue jadi deg-degan gini sih, cuma megang doang kok..” gumam Ify. Ify menyentuh rambut Rio.
“Alus banget..” kata Ify. Tiba-tiba badan Rio bergerak sedikit, membuat Ify langsung menarik tangannya.
“Ya, Allah gue kaget..” gumam Ify sambil mengelus-elus dadanya. Rasa penasaran Ify timbul lagi, sekarang Ify mau nyentuh pipi Rio. (buset, banyak maunya niih -,-)
“Nyentuh gak ya? Nyentuh gak ya?” Pikir Ify. Akhirnya tangan Ify mulai menyentuh pipi Rio yang panas akibat demam.
“Cepet sembuh ya, Kak. Semua orang butuh lo, terutama…gue..” gumam Ify. Kemudian Ify ingat bahwa buburnya mulai dingin.
“Gue panasin lagi deh buburnya,” Ify beranjak dari duduknya dan mengambil bubur yang ada di meja. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik sama Rio, Ify melihat bahwa mata Rio terbuka sedikit dan
terus memandang Ify.
“Ify..jangan pergi…jangan tinggalin gue..lo harus disamping gue..” gumam Rio. Ify terkejut mendengar kalimat yang diucapkan oleh Rio dengan suara kecil.
“Kak, gue cuma mau manasin bubur doang kok, bentar,” kata Ify.
“Pliis..gue gak mau lo pergi..gue..suka..sama..lo, Fy..jangan pergi..” gumam Rio.
Ify kembali terkejut, Ify tak percaya apa yang diucapkan oleh Rio, mukanya memerah. Tangannya terus di pegang oleh Rio, Rio terus memandang Ify
dengan mata setengah terbuka dan wajah yang pucat pasi. Ify menjadi tak bisa bergerak, ia terus memandang Rio yang terbaring lemah di tempat tidurnya.
***
Setelah UN SMA selesai (anggep aja udahan, di skip :p), sekarang saatnya UN untuk SMP, hari ini merupakan hari pertarungan hidup dan mati Deva. Akhirnya inilah saatnya Deva meminta restu orang tua dan juga kakaknya.
“Ma, doain Deva yaa..” kata Deva sambil mencium tangan Mamanya.
“Gak nyangka kamu udah dewasa, Dev..” kata Bu Risna.
“Emangnya Deva mau nikah apa, Ma??” Tanya Ify.
“Pa, doain Deva..” kata Deva sambil mencium tangan Papanya.
“Dev, kalo kamu kepepet, tanya aja ama yang dibelakang kamu,” nasihat Pak Indra.
“Mimpi apa gue punya orang tua kayak gini??” Gumam Ify.
Deva sekarang sudah ada di hadapan Ify, Ify sudah mengulurkan tangannya karena Deva akan mencium tangannya. Dan ternyata, Deva malah melewatkan Ify.
“Ma, Pa..Deva berangkat yaa!!” Pamit Deva. Ify menganga.
“Elu Dev! Dasar kacrut! Gak minta restu ama guee!!” Teriak Ify. Akhirnya Deva balik lagi ke Ify, daripada dikutuk sama Ify. Deva pun mencium tangan Ify dengan terpaksa.
“Nah gitu dong! Kayaknya gue itung-itung, lo cium tangan gue baru sekali seumur idup deh..” ujar Ify.
“Gue gak mau cium tangan lo, soalnya tangan lo bau terasi!!” Seru Deva yang langsung kabur dari hadapan Ify.
“DEVAAAAA!!!!!”
***
“Kau gadisku yang cantiik..coba lihat aku disinii..disini ada aku yang cinta padamu..” Cakka sedang melaksanakan aksi gombalnya di kantin. Agni memasang wajah betenya, karena mendengar suara cempreng Cakka sambil bermain gitar.
“Kau gadisku yang cantik, coba lihat aku disini..disini ada aku yang sayang padamuu..huohuoo..” Cakka terus bernyanyi, padahal semua murid yang berada di kantin sudah merasa terganggu.
“Cak, berenti napa, fals suara lo!!” Seru Gabriel.
“Napas aja udah fals, apalagi nyanyi!” Celetuk Alvin.
Ify, Shilla, dan Sivia hanya tertawa saja melihat tingkah laku Cakka yang ingin mencari perhatian Agni. Cakka terus bernyanyi sampai teriak-teriakan. Semakin lama Agni semakin panas, dan merasa terganggu, tiba-tiba Agni menggebrak meja.
BRAAK!!!
Otomatis semua orang terkejut dibuatnya, Agni mendelik kearah Cakka dengan tatapan membunuh. Muka Cakka menjadi pucat.
“Heh! Cumi! Belom pernah kelilipan sepatu yaa!!’ Seru Agni.
“Woelah, nyantai dong Ag.. eh,gue heran deh ama lo, kok lo gak kena pesona gue siih, cewek lain aja gue kedipin langsung pada masuk UKS semua gara-gara pingsan kena kedipan gue..” kata Cakka.
“Kalo lo kedipin gue, lo yang bakal masuk UKS duluan gara-gara dapet bogem mentah dari gue!” Kata Agni sambil menunjukan kepalan tangannya ke muka Cakka.
“Lo kalo godain Agni sama aja lo ganggu macan lagi tidur, Cak!” Celetuk Gabriel.
“Ag, lo kagak ada apa sedikit ajaa rasa
buat guee..” keluh Cakka.
“Ada!”
“Hah? Beneran?”
“Iya ada rasa pengen ngebunuh lo!!” Seru Agni. Cakka hanya manyun.
Sementara Cakka masih mencoba untuk gombal sama Agni, Ify hanya manyun saja sambil memutar-mutar sendoknya, semangkok bakso yang ia pesan tak di makannya. Di sebelahnya, Sivia selalu melirik kearah mangkok bakso Ify.
“Fy..”
Ify tak menjawab.
“Fy..gue minta baksonya yaa..sayang gak dimakan..” kata Sivia.
Ify tetap tak menjawab, ia tetap melamun. Akhirnya Sivia mengambil bakso satu-satu dengan sendoknya. Shilla yang melihatnya langsung melotot.
“Vi, parah banget lo!” kata Shilla.
“Vi, balikin baksonya Ify, gue beliin lagi deh!” kata Alvin.
“Ify-nya juga gak marah kok, biarin aja, kan sayang kalo gak dimakan,” keluh Sivia.
Alvin dan Shilla hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan Sivia, Sivia keasyikan memakan bakso hasil curiannya dari Ify.
‘Kak Rio, kemana siih..ah, udahlah nanti juga kesini, mendingan gue makan dulu,’ pikir Ify yang sekarang matanya tertuju pada semangkuk baksonya.
Tapi…
“Kok baksonya gak adaaa?? Cuma kuahnya doaaangg!!” Teriak Ify. Kemudian Ify melotot kearah Sivia yang sedang mengunyah bakso hasil curian.
“VIAAA MALIIING!!!” Teriak Ify sambil mengacak-acak rambut Sivia.
“Aduuuh, jangan di acak-acak doong!!! Gue beliin lagi deh!!” Kata Sivia yang langsung pergi ke tukang bakso.
“Cantik-cantik maling juga tuh, anak!” gerutu Ify.
“Gitu-gitu temen lo, Fy..” kata Shilla.
“Iya, iyaa..Kak Alvin, Kak Rio mana sih, hampa banget idup gue kalo gak liat dia..” keluh Ify sambil memasang wajah cemberut.
“Lo gak tau? Rio kan sakit,” kata Alvin. Ify diem.
“Hah?? KAK RIOO SAKIIT!!??” Teriak Ify. Begitu mendengar suara cempreng Ify, mereka terkejut bukan main.
“Biasa, Fy!” Seru Gabriel.
“Paling Rio sakit gara-gara gak dikasih jatah Chitato ama nyokapnya!” Kata Cakka enteng.
“Aduuh, aduuh gimana nih, Kak Rio ama siapa di rumah?? Jangan-jangan
sendirian..ntar kalo ada yang iseng masuk kerumah Kak Rio buat maling, terus nanti kalo Kak Rio ngelawan malingnya, ntar Kak Rio..” cerocos Ify.
“Weiishh, napas Mbak! Khayalan lo ketinggian!!” Kata Shilla.
“Gak ada yang gak mungkin, Shil!” kata Ify khawatir.
“Rio gak mungkin mati, kaan?” Tanya Cakka.
“Aduuh, gue gak bawa obat-obatan nih, buat Kak Rio, kalo betadine bisa gak?” Tanya Ify.
“Dodol! Betadine buat luka ama borok!” Kata Agni.
“Berarti gak bisa ya?” Tanya Ify.
“Nih anak kayaknya otaknya ketinggalan dirumah deh,” keluh Alvin.
“Lo minumin aja betadine ke Rio, paling langsung masuk kuburan tuh anak!” kata Cakka.
“Ada apaan sih? Rame banget!” Kata Sivia sambil memberikan semangkok bakso ke Ify.
“Rio sakit, si Ify kayak orang kesetanan pas denger Rio sakit,” kata Alvin.
“Kalo Rio sakit, ntar lusa pas turnamen siapa yang bakal mimpin nih? Susah juga!” keluh Gabriel.
“Biar gue aja yang mimpin, ntar gue yang mimpin latihan,” kata Alvin.
“Pokoknya nanti gue mau ke rumah Kak Rio, lo semua pada mau ikut gak?” Tanya Ify.
“Gue, Iel, latihan basket,” kata Alvin.
“Gue gak boleh main,” kata Sivia.
“Gue mau shopping,” kata Shilla.
“Gue mau ke toko buku,” kata Agni.
“Kalo lo, Kak?” Tanya Ify.
“Gue mau ngikutin Agni, hehee..” kata Cakka cengengesan.
“Paan sih lo!?” Seru Agni.
“Aaaah, yaudah deh, pada gak seru lo semua!” seru Ify.
“Salam ya buat Rio!” kata Alvin, dianggukan oleh Gabriel.
“Salam ya dari dari orang ganteng!” kata Cakka. Kemudian ditimpukin sama anak-anak.
“Yaaah, titip salam deh,” kata Agni, di setujui oleh Shilla dan Sivia.
“Iyaa..iyaa..”
***
“Aduuuuh, kenapa gue jadi sakit gini sih!” keluh Rio. Rio merasa bosan dirumah, karena tak bisa bertemu dengan sohib-sohibnya, terutama si biang rusuh, Ify. Apalagi besok lusa ada turnamen se-jabodetabek.
“Apa jangan-jangan dosis makan Chitato gue kurang kali ya, Chitato gue abis lagi, kagak dikasih ama nyokap, gue malah dikatain lama-lama gue bakal jadi kentang beneran,” gerutu Rio.
Kemudian terdengar suara ketokan pintu.
“Kak Riooo!!! Gua masuk yaa!!” teriak Ray sambil membuka pintu kamar Rio.
“Eh, gondrong gak usah teriak-teriakan deh di rumah! Kuping gue gak budek!!” Seru Rio.
“Lu sakit masih aja banyak bacot! Ntar Mama sama Papa pulang malem, makanya gue yang bakal ngurusin lo!” kata Ray.
“Hah? Nggak ah! Bisa mati gue diurusin lo! Dulu aja pas gue sakit, tablet gue ketuker ama vitamin si belang! (kucingnya Rio :p) untung gue belom minum!” kata Rio.
“Yeee..gue kan khilaf, Kak. Kali ini nggak deh, nih minum obat sirupnya!” kata Ray sambil menyuguhkan satu sendok makan sirup obat. Rio merasa curiga, biasanya Ray suka salah ngambil obat, makanya dia cium dulu.
“Eh, gue mau liat botolnya.” Suruh Rio.
Ray memberikan botolnya, matanya melotot.
“BEGOOO!!! Itu obat kutu si belaaang!!” kata Rio sambil menoyor kepala Ray.
“Aduuuh, sakiit! Gue khilaf!” Ringis Ray.
“Elo tuh khilaf mulu kerjaannya! Apa jangan-jangan lo mau nyingkirin Kakak lo yang paling ganteng ini ha? Makanya tuh rambut gunting aja!!” kata Rio.
“Gak bakal!!”
Tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi,
“Buka tuh!” Suruh Rio. Ray pun pergi menuju pintu rumah, dan mendapati Ify membawa bungkusan besar di tangannya.
“Eh, elo Kak,” sapa Ray.
“Raydut, Kak Rio mana?” Tanya Ify.
“Asal maen ngubah nama orang aja lu! Kak Rio dikamar, ngapain?”
“Mau jenguk calon pacar gue, heheee..” kata Ify nyengir. *GUBRAK*.
“Yeuuuhh, masih ngarep aja lo, Kak! Eh, bawa apaan tuh, gede banget plastiknya!” kata Ray penasaran.
“Mau tau aja, ini buat Kak Rio, ntar kalo gue kasih tau, diembat lagi sama lo!” kata Ify.
“Iiih, pedit amat lo!” gerutu Ray.
“Biariin, gue masuk ya!” kata Ify.
“Oke! Titip Kak Rio, Kak! Gue mau kerumah lo!” kata Ray.
“Hah? Kok lo pergi sih??”
“Gue mau belajar bareng Deva!” seru Ray.
“Yaudah deh..ahelah palng ujung-ujungnya lo berdua maen PS bukannya belajar.” kata Ify. Ray hanya nyengir.
Ray pun pergi meninggalkan rumah, otomatis dirumah hanya ada Rio, Ify dan si belang, tapi si belang pergi nyari pacar :p, namanya juga kucing kabur mulu!
“Aduuh, kok gue deg-degan ya??” Gumam Ify. Ify mengetok-ngetok kamar Rio.
“Masuukk..” seru Rio dengan suara serak. Ify pun membuka pintu kamar Rio.
“Ray, lo ngapain dulu sih!? Tidur? Ngambil obat aja lama bangeet..” Rio melotot begitu melihat Ify udah cengar-cengir di depannya.
“Ngapain lo kesini??” Tanya Rio.
“Gue? Mau nyangkul! Ya mau jenguk lo laaah!” Seru Ify.
“Sakit apaan sih lo?” Tanya Ify.
“Cuma demam kok,” jawab Rio enteng.
“Demam aja cuma?? Aduuuhh, lo tuh gimana siih!! Mana AC dinyalain lagi, jangan dinyalain!! Badan lo harus ditutupin selimut, terus kepala lo dikompres!! Gue ambilin deh kompresnya!” Seru Ify yang langsung keluar mencari kompresan.
'Buset, lebih galak dari nyokap, tapi asik juga di rawat sama Ify, hehee..' Mukanya memerah dan Rio mulai cengar-cengir. Pas Ify dateng lagi, Rio langsung nutupin mukanya pake selimut, takut keliatan muka merahnya.
“Kak Rio, selimutnya bukaa..sini kepala lo mau gue kompres!” Kata Ify sambil membuka selimut Rio, tapi Rio malah menarik selimutnya lagi keatas.
“Iih buka..!” Ify menarik selimut Rio dengan kuat. Gara-gara Rio sakit dia jadi gak punya kekuatan. Ify pun memeras handuk kecil dan menaruhnya di dahi Rio.
“Nah, gitu kek dari tadi! diem kayak gini kan, bagus!” kata Ify. Rio tak bisa menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah, karena tersentuh dengan perhatian Ify yang begitu tulus.
“Kak, kok muka lo merah?? Kepanasan yaa??” Tanya Ify khawatir.
‘Untung nih anak bego, kalo nggak, ketauan gue suka sama dia..’ pikir Rio. Tiba-tiba Ify memegang dahi Rio. Muka Rio mulai panas, jantungnya deg-degan, jiwanya udah terbang kemana tau.
“Panas banget, udah minum obat belom??” Tanya Ify.
“Belom, tadi si Ray kelewat bego, obat gue ketuker sama obat kutu kucing gue, kalo gue minum, sekarang udah dipasang bendera kuning di pager rumah gue!”
“Obat lo yang mana sih?? Gue ambilin deh!”
“Ada di rak obat!”
“Gue ambilin dulu ya,” kata Ify. Ify pun keluar dari kamar Rio untuk mengambil obat.
“Aduuuh, panas banget gila! Mana selimutnya tiga lapis lagi, parah tuh anak!” keluh Rio sambil membuka selimutnya.
“Kak Riooo!!! Jangan dibukaaa!!!” Teriak Ify. Ify langsung menyelimuti badan Rio dengan selimut tiga lapis.
‘Sial! Ini namanya bukan perhatian! Ini penyiksaan!!’ Pikir Rio.
“Nih, makan dulu, tadi Ray udah nyiapin bubur buat lo, mulutnya bukaa..AAA..” kata Ify seperti babysitter nyuapin anak kecil.
“Gue maunya makan sendiri, sini mangkoknya!” Seru Rio.
“Yang sakit jangan banyak bacot!! Nurut aja sama gue! Kalo lo gak nurut, ntar beneran bendera kuning bakal dipasang di pager rumah lo!” Ancam Ify.
“Ih,” gerutu Rio.
“Buka mulutnya,” suruh Ify. Rio menggeleng.
“Buka!” Rio tetap menggeleng.
“Jangan kayak anak keciil!!” Seru Ify. Rio tetap menggeleng.
“Yaudah, kalo gak mau, padahal gue kan bawa Chitato seplastik gede buat lo tadi, lo-nya gak mau makan mending buat gue deh!” Kata Ify sambil mengambil sebungkus Chitato gede dan membuka bungkusannya. Mata Rio langsung hijau begitu melihat Chitato di tangan Ify.
“Beneran tuh buat gue?” Tanya Rio.
“Lo gak mau makan, jadinya buat gue aja..” kata Ify. Ia mengambil satu kripik dan mau memasukkannya ke mulut dengan gerak lambat.
“Sini Chitatonya!!” Rio menarik bungkusan Chitatonya dari tangan Ify. Ify tak mau kalah.
“Nggak, ini punya gue!”
“Kan tadi lo niatnya ngasih ke gue berarti punya gue!”
“Gue!”
“Gue!”
“Gue!”
“Gue!!”
Tetap Ify yang paling kuat, tenaganya Ify udah kayak tenaga badak, rebut-rebutan Chitato sama Rio. Alhasil Rio pun cemberut dan membalikan badannya, membelakangi Ify. Ify juga tak mau kalah, ia memanyunkan bibirnya beberapa centi.
“Ah, mendingan gue pulang, Chitatonya gue abisin sendiri di rumah!” kata Ify.
“Eh, jangaaann!!” Seru Rio. Ify menoleh.
“Jadii, lo seneng gue disini, Kak? Lo gak mau gue pulang? Ya, ampuun ternyata lo ada hati sama gue!” kata Ify kesenengan.
“Bukan, Chitatonya jangan dibawa!” kata Rio. Ify jadi manyun lagi, Ify marah.
“Tuh, makan tuh Chitato! Biar lo jadi kentang beneran!!” Seru Ify melengos sambil melempar seplastik Chitato kearah Rio. Ify langsung keluar dari kamar Rio.
“Aduh! Bego banget lo, Yo!” Kata Rio. Rio beranjak dari tempat tidurnya dan mengejar Ify. Ify masih berada di depan pintu rumah. Rio berlari mengejar Ify, dan ia menarik tangan Ify.
“Fy, jangan pulang!” kata Rio sambil terengah-engah. Muka Ify pun memerah.
“Sori, gue minta maaf..” kata Rio tapi kemudian Rio pingsan.
“Lah, Kak Rio! Bangun! Jangan mati! Eh, salah! Jangan pingsan!! Tadi gue cuma mau beli permen yupi didepan komplek!!”
***
Ify duduk disamping Rio yang sedang tertidur lelap, akibat demam. Dengan penuh perjuangan, Ify berhasil menggotong Rio yang pingsan ke kamarnya yang berada di lantai atas. Ify memeras handuk kecil dan menaruhnya di dahi Rio. Ify merasa sangat khawatir dengan kondisi Rio sangat lemah. Badannya sangat panas.
“Lo tuh bego banget ya, Kak. Percaya aja sama gue..hehee..” Ify tertawa kecil begitu mengingat kejadian tadi yang sampai membuat Rio pingsan. Tiba-tiba Ify mulai penasaran, ia terus memperhatikan rambut Rio.
“Gue jadi pengen megang rambutnya Kak Rio deh..” gumam Ify. Jantung Ify berdetak kencang.
“Kok gue jadi deg-degan gini sih, cuma megang doang kok..” gumam Ify. Ify menyentuh rambut Rio.
“Alus banget..” kata Ify. Tiba-tiba badan Rio bergerak sedikit, membuat Ify langsung menarik tangannya.
“Ya, Allah gue kaget..” gumam Ify sambil mengelus-elus dadanya. Rasa penasaran Ify timbul lagi, sekarang Ify mau nyentuh pipi Rio. (buset, banyak maunya niih -,-)
“Nyentuh gak ya? Nyentuh gak ya?” Pikir Ify. Akhirnya tangan Ify mulai menyentuh pipi Rio yang panas akibat demam.
“Cepet sembuh ya, Kak. Semua orang butuh lo, terutama…gue..” gumam Ify. Kemudian Ify ingat bahwa buburnya mulai dingin.
“Gue panasin lagi deh buburnya,” Ify beranjak dari duduknya dan mengambil bubur yang ada di meja. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik sama Rio, Ify melihat bahwa mata Rio terbuka sedikit dan
terus memandang Ify.
“Ify..jangan pergi…jangan tinggalin gue..lo harus disamping gue..” gumam Rio. Ify terkejut mendengar kalimat yang diucapkan oleh Rio dengan suara kecil.
“Kak, gue cuma mau manasin bubur doang kok, bentar,” kata Ify.
“Pliis..gue gak mau lo pergi..gue..suka..sama..lo, Fy..jangan pergi..” gumam Rio.
Ify kembali terkejut, Ify tak percaya apa yang diucapkan oleh Rio, mukanya memerah. Tangannya terus di pegang oleh Rio, Rio terus memandang Ify
dengan mata setengah terbuka dan wajah yang pucat pasi. Ify menjadi tak bisa bergerak, ia terus memandang Rio yang terbaring lemah di tempat tidurnya.
***
Cuma Gue yang Bisa part 17 (re-post)
Part 17: Gagal lagi
“Kak Riooo!! Gua gak ngerti!!” Seru Ray.
“Iih bebel banget sih lu jadi orang! Apalagi kalo bukan orang lu!” Kata Rio sambil mengacak-acak rambutnya.
“Ini simbol apaan lagi, gak jelas banget sih gambarnya!” Keluh Ray.
“Keberatan rambut sih lo!” Kata Rio sambil menoyor kepala Ray.
“Eeeeh, jangan salah, ini rambut daya tarik gua, Kak!” Kata Ray sambil merapihkan rambutnya.
“Lebih menarik lagi kalo pala lo botak plontos!” celetuk Rio.
“Euh, saraap!!”
“Besok lo belajar dirumah Deva aja deh, gue sekalian ngajarin lo berdua, gue mulai setiap hari nih ngajar dirumah Deva,” kata Rio.
“Yaudah deh,” kata Ray sambil mengerjakan soal yang diberikan Rio. Kemudian Rio melirik laptop hitam miliknya nganggur di samping Ray yang sedang memakai meja belajar Rio. Rio pun mengambil laptopnya dan membawanya ke kasur. Ia membuka website Facebook, dan Twitter. Dan akhir-akhir ini Rio penasaran dengan fansite RISE bikinan Ify.
Pertama-tama ia membuka Facebook, karena Rio sudah jarang membuka akunnya, tak pernah diurus. Di layar tertulis“576 Friends Requests”. Rio melotot.
“Buset! Sebanyak ini??” Gumam Rio takjub. Rio memencet mousenya, yaaa maklumlaah namanya orang ganteng, pasti yang nge-request cewek semua, punya gue ada gak, Yo?? =p
Mata Rio tertuju pada satu nama yang sangat familiar baginya, Alyssa Saufika Umari. Rio tersenyum dan kemudian meng-confirm FB cewek itu. Beberapa menit kemudian, Rio mendapat 1 Notifications. “Alyssa Saufika Umari posted something on your wall”. Rio membuka profilenya dan terdapat wall dari Ify.
Alyssa Saufika Umari huwaaaaaa… akhirnya setelah menunggu berabad-abad diconfirm juga ama lo, kak!!!
Tengso yaa ganteeeng!!^^
Rio bergidik ngeri, tapi ada kesenangan sendiri di dalam hatinya, makanya Rio jadi cengengesan sendiri kayak orang kesambet. Ray melihat Rio dengan pandangan Itu-orang-pasti-sudah-gila. Tiba-tiba…
BLETAAK!!
“Aduuh!” Ringis Rio. Rio ditimpuk penghapus sama Ray.
“Woi! Gue gimana!!” Kata Ray. Rio melengos.
“Ganggu orang lagi seneng aja lo! Sini bawa buku lo!” Kata Rio. Ray memberikan bukunya pada Rio, Rio hanya geleng-geleng kepala.
“Bener, kaaan??” Kata Ray sambil memainkan alisnya.
“Bener,bener, gigi lo tuh bener! Salah semuaa!! Kerjain lagi!!” Suruh Rio.
“Iiih, punya Kakak kok kepinteran banget yak??” Gumam Ray.
“Bagus dong! Udah pinter, ganteng lagi! Cuma lo-nya aja yang gak sadar!” kata Rio.
“Iih, narsis!”
Rio kembali berkutat dengan laptopnya, sekarang ia mulai membuka Twitter, dan ternyata followers Rio sudah ada 542 followers, termasuk Twitter Ify (Ifyalyssa). Rio melihat home Twitternya.
cakkawekas gantengan gua apa
@9alvinosztaCR7??
Rio menahan ketawanya, melihat tweet
Cakka.
ielstevent gantengan gua lah RT
@cakkawekas: gantengan gua apa
@9alvinosztaCR7??
cakkawekas gak ada yang aja maen
siih RT @ielstevent: gantengan gua lah
RT @cakkawekas: gantengan gua apa
@9alvinosztaCR7??
9alvinosztaCR7 eh @cakkawekas,
@ielstevent gua aja yg gnteng biasa
aj knp lo b2 yg rbut?
Tiba-tiba mata Rio terbelalak melihat nama seseorang yang dikenalnya..
Ifyalyssa gantengan @rioni_gin
drpd lo b3 :p RT @9alvinosztaCR7: eh
@cakkawekas, @ielsteventgua aja yg gnteng biasa aj knp lo b2 yg rbut?
Rio hanya tertawa melihat timeline-nya, yang penuh dengan tweet gila teman-temannya,
rioni_gin eh lo b4 nyampah aj d
home gue!! RT @Ifyalyssa: gantengan
@rioni_gin drpd lo b3 :p RT
@9alvinosztaCR7: eh @cakkawekas,
@ielsteventgua aja yg gnteng biasa
aj knp lo b2 yg rbut?
Tiba-tiba Rio mendapat mention dari
Ify.
Ifyalyssa hei @rioni_ginyang
paling ganteng, hehee!!
Rio membalas mention Ify dengan singkat.
rioni_gin -,- RT @Ifyalyssa: hei
@rioni_gin yang paling ganteng, hehee!!
Dan website terakhir yang dibuka Rio adalah fansite RISE. Yang baru dibuka sekali seumur hidup sama Rio. Tiba-tiba jantungnya deg-degan.
“Kok jantung gue deg-degan sih..” gumam Rio. Rio memasukkan alamat fansitenya di address bar. mariogantengsiapayangpunya.ning.com (masya Allah alay banget alamatnya -,-)
Rio terbelalak, baru masuk ke fansitenya aja, foto dia sedang main basket saat ngeshoot bola terpampang sebagai layout fansitenya.
“Kapan Ify ngambil foto gue yang ini??” gumam Rio.
“Kok gue ganteng ya?” gumam Rio (-,-)
Rio membaca-baca tentang forum, blog, dll. Ternyata Ify menulis dengan lengkap tentang dirinya, Ify sangat tahu tentang pribadi Rio melebihi keluarganya, padahal Ify baru mengenal Rio kurang dari setahun. Rio salut dengan kegigihan Ify mendapatkan informasi dirinya. Setelah itu, ia mengantuk dan tertidur.
“Kak Riooo!!! Jangaaan moloor!!” teriak Ray yang ditinggal tidur oleh Rio.
***
“Asiiiikk…yang udaah jadiaaan!!” Goda Ify.
Sivia dan Alvin jadi salting, begitu dipergoki Ify pergi bareng ke sekolah. Udah gitu Ify mergokin Alvin megangin tangan Sivia.
“Eh, langsung bikin syukuran di kantin!” Kata Cakka.
“Langsung peseenn!!” kata Gabriel.
“Eh, kampret lo semua!!” seru Alvin.
Mereka tertawa bersama-sama sampai membuat kantin sangat gaduh, rusuh gara-gara kelakuan mereka.
“Kak Rioo, hehee..kapan nih kita nyusuul..??” Tanya Ify cengengesan.
“Nyusul,nyusul gigi lo tuh nyusuull!!” Seru Rio ngeles.
‘Secepatnya, Fy..hehee..’ Pikir Rio. Itu dia orang yang perkataannya tak sesuai dengan pikirannya -,-, jangan ditiru..!
Ify melihat kearah Agni sedang membeli makanan sendiri. Ify pun memanggil Agni.
“Kak Agniii!!!” Panggil Ify dengan suara cemprengnya. Agni menoleh kearah Ify, ia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Ify.
“Kak, makan disini ajaaa!!” Kata Ify. Agni pun pergi ke meja Ify.
Cakka yang melihat Agni sedang menuju mejanya, langsung mengeluarkan handphone buat ngaca dan merapihkan rambutnya.
“Eh, Yel, gue ganteng kan?” Tanya Cakka.
“Jempol lo tuh yang ganteng!” Celetuk Gabriel. Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Kemudian Agni pun duduk disamping Ify.
“Gak papa kan gue gabung?” Tanya Agni.
“Hehee..gak papa kok, kok gak duduk di samping gue, Ag??” Tanya Cakka nyengir.
“Serem gue!” Seru Agni. Cakka kicep.
“Tuh kan Cak, Agni aja gak mau deket- deket ama lo, makanya jangan sok kegantengan deeh..” kata Rio.
“Eh, hari minggu kita jalan-jalan bareng yuk!” Ajak Shilla.
“Iya tuh, kita gak pernah jalan-jalan bareng..” kata Sivia.
“Judulnya doang jalan bareng, ntar juga pas nyampe sana lo sama Alvin langsung ngilang, Vi!” Celetuk Cakka.
“Sirik banget sih lo, Kak!” Keluh Sivia.
“Cakka ngiri ama kita, Vi. Soalnya gak ada yang mau ama diaa..” goda Alvin. Cakka nimpuk Alvin pake mangkok, waduh nggak deh pake sendok aja.
“Sori ya, kayaknya gue gak bisa ikut kalian jalan bareng deh..” gumam Ify. Semuanya nengok.
“Kenapa, Fy??” Tanya Shilla.
“Gue..”
“Guee..”
“Gue apaan, Fy?” Tanya Gabriel.
“Gue ngapain yaa?? Hehee..gue pikir-pikir dulu deh..” kata Ify ngeles.
“Jaah..ni anak gak bisa boong..” keluh Alvin. Sivia berbisik di telinga Ify,
“Emang mau ngapain, Fy?” Bisik Sivia.
“Gue mau ketemuan ama Debo.” Kata Ify.
“Hah? Ngapain?”
“Tauk, jangan ngomong lo ama mereka! Gue gorok lu!” Ancam Ify.
“Insya Allah!” kata Sivia sambil memegang lehernya.
TEEEEEETTTT….bel masuk berkicau,
eh salah berbunyi…forum terbuka
mereka pun bubar (??).
Ify, Shilla, Sivia dan Agni pergi kekelas
bareng meskipun Agni tidak sekelas
dengan mereka, mereka masih tertawa- tawa sambil bercerita. Tiba-tiba handphone Sivia berbunyi..Sivia mengeluarkan handphonenya dari saku bajunya.
From: Kak Rio
Vi, dia mau ngapain hari minggu?
To: Kak Rio
Gimana yaa?? Gue takut digorok sama Ify…
From: Kak Rio
Lo mau Ify yang gorok apa gua yang gorok??
To: Kak Rio
Iyaa deeh, gue bilang…
Ify mau ketemuan sm DEBO
***
“APAAAA!!!??” Teriak Rio.
Gabriel yang lagi minum tersedak, Cakka yang ngerapihin rambutnya jadi makin berantakan, Alvin yang sedang SMS-an sama Sivia hapenya mental hampir jatoh ke lantai.
“Kenapa sih lo, Yo!! Kesambet??” Tanya Gabriel.
“Elo, sih Yo! Rambut gue jadi makin berantakan!!” Keluh Cakka.
“Elo rambut mulu yang diurus, Cak!” Kata Alvin. Bibir Cakka manyun.
“Kenapa?” Tanya Alvin. Rio memberikan handphonenya pada Alvin dan Alvin pun membacanya.
“Ify mau ketemuan sama Debo?” Tanya Alvin.
“Udah tau nanya lagi lo, Vin!” Seru Rio.
“Wah, gawat tuh!! Jangan-jangan Debo minta balikan lagi sama Ify.” kata Gabriel.
“Gawatan rambut gue nih! Jadi lepek banget!” Keluh Cakka.
“Gue gibeng juga lo, Cak!” Kata Rio.
“Gimana kalo hari Minggu kita ngikutin Ify sama Debo??” Usul Alvin.
“Boleh juga tuuh!!” Kata Gabriel.
“Pulang sekolah kita kasih tau ke cewek-ceweknya!” kata Rio.
***
Hari minggu…
Ify sudah sampai di mall, dan ia langsung pergi ke café Violet yang berada di lantai paling atas. Dandanan Ify serba rapi hari ini. Ify memakai dress biru muda, dan tak lupa memakai bando biru. Ify celingak-celinguk di depan café Violet, mencari Debo.
“Ify!” Seseorang memanggil dari meja yang berada dekat jendela. Jujur, Ify merasa sedikit terpana melihat sosok Debo. Debo sangat berubah drastis dengan Debo yang kenal saat SMP dulu. Debo jauh lebih tinggi, meskipun tak setinggi Rio. Debo memakai kemeja hitam dibalut dengan jaket putih. Ify langsung menepok kedua pipinya.
‘Stop, Fy! Jangan terpana sama Kak Debo! Lo udah punya Kak Rio!!’ pikir Ify.
“Duduk, Fy!” Debo mempersilahkan Ify
duduk.
“Mau pesen apa?” Tanya Debo sambil menyunggikan senyumnya.
“Pe..pesen banana split aja deh,” kata Ify gelagapan.
“Mbak, banana split satu, capuchino satu!” kata Debo.
“Lo..lo mau ngomong apa?” Tanya Ify.
“Gue…”
***
Rio, Alvin, Gabriel, Sivia, Shilla, dan Agni menatap Cakka dari bawah sampai atas dengan heran. Cakka mengangkat alis.
“Kenapa pada ngeliatin gue kayak gitu??” Tanya Cakka.
“Lo niat banget, Cak!” Kata Gabriel.
Cakka emang bener-bener niat. Cakka memakai kacamata hitam, jaket kulit, pokoknya pengen kayak mata-mata tapi jadinya malah kayak tukang ojek. T.T’
“Sumpah, Cakka lo kayak..” kata Alvin.
“Kayak apa? Justin Bieber??”
“Justin Blewer!!” Seru Alvin sambil tertawa, semua tertawa ngakak.
“Eh, gue kan ngikutin style mata-mata terkenal.” Cakka mencibir.
“Tapi lo malah kayak alay, Cak! Orang kita cuma ngikutin Ify doang!” keluh Rio.
“Yeuuuh, sirik lo ya semua! Gak keren kayak gue!” kata Cakka.
“Ya, Tuhan bukakan pintu otaknya,” kata Gabriel.
“Udah, ah. Gak bakal mulai nih, sekarang kita mencar, Alvin sama Sivia, Gabriel sama Shilla, Cakka ama Agni, gue sendiri, gimana? Tanya Rio.
“Ahelah kenapa gue ama Cakka sih, Yo? Malu gue jalan ama orang gila kayak dia!” Keluh Agni.
“Yeuuh, jarang-jarang bisa jalan sama seorang Cakka Kawekas Nuraga, yang paling ganteng ini..” kata Cakka.
“Sabodo teuing!” kata Agni.
“Kalo malu-maluin pura-pura aja gak kenal, oke mencar yaa!” Suruh Rio. Semua berpencar.
***
“Lo..lo mau ngomong apa?” Tanya Ify.
“Gue…gue udah putus sama Oik, Fy..” kata Debo.
“Kenapa?”
“Ternyata dia udah punya cowok lagi selaen gue, gue mergokin dia lagi jalan berdua sama cowoknya.” Kata Debo.
“Karma berlakuu..” gumam Ify.
“Apa, Fy??”
“Ah, nggak ada kucing terbang tadi, terus?”
“Yaa..gue mau jujur sama lo..” kata Debo.
“Ha?”
“Gue jujur ternyata masih lebih baik elo daripada Oik, Fy.” Aku Debo.
“Permisi,” seorang pelayan mengantar pesanan Debo dan Ify. Ify segera memakan banana splitnya dengan lahap.
“Fy..” panggil Debo.
“Apaan?? Gue masih dengeer..” kata Ify yang masih menikmati banana split.
“Gue pengen balikan lagi.” Jawab Debo singkat. Ify pun jadi tersedak.
“APAAN??” Tanya Ify tak percaya.
“Gue pengen balikan lagi sama lo!” kata Debo.
***
“Vi, mana Ify sama Debo?” Tanya Alvin celingak-celinguk.
“Tuh dia!” Kata Sivia sambil menunjuk kearah meja yang deket jendela. Mereka mengintip dari kolong meja (kurang kerjaan banget dah -,-).
“Foto-fotoin gih, Kak!” kata Sivia. Alvin mengambil foto Ify dan Debo yang sedang mengobrol. Tapi tiba-tiba seorang pelayan memandang heran mereka berdua.
“Mas, Mbak ngapain ngumpet di kolong meja? Maen petak umpet ya?” Tanya seorang pelayan. Alvin dan Sivia hanya nyengir dari kolong meja.
“Eng..eng..bayangan saya tadi kabur, Mas jadinya saya cari-cari disini, hehee..” Sivia ngeles. Alvin melotot pada Sivia. Sivia hanya nyengir.
“Kabur, Kak!!” Sivia dan Alvin keluar dari kolong meja, tapi si Alvin pake kepentok meja dulu..
DUUUK!!
“Aduuuh!!” Alvin meringis kesakitan, setelah mereka keluar dari kolong meja, mereka langsung kabur keluar.
***
Gabriel dan Shilla masih sibuk ngumpet di belakang tiang, mereka terus mengikuti Ify dan Debo yang sedang jalan berdua. Ify dan Debo seperti terlihat senang.
“Ify keliatan seneng banget..” gumam Shilla.
“Iya, juga,” kata Gabriel.
“Eh,eh Kak mereka jalan lagi tuh! Ikutin!” Kata Shilla. Gabriel dan Shilla masih mengikutin Ify dan Debo dari belakang.
Sementara itu Debo-Ify..
“Kita kemana lagi nih?” Tanya Debo.
“Terserah deh, gue juga bingung mau kemana..” kata Ify.
Mereka terus berkeliling mall, tanpa mereka sadari Shilla dan Gabriel masih mengikuti mereka dari belakang. Kemudian Ify merasa bahwa daritadi ada yang ngikutin mereka berdua, ia menoleh kebelakang tapi tak ada orang, beberapa menit kemudian Ify menoleh lagi tetap tidak ada orang.
“Kenapa, Fy?” Tanya Debo.
“Gak papa kok,” gumam Ify.
***
Shilla dan Gabriel masih mengendap-endap mengikuti Debo dan Ify, mereka terus mengikuti Debo dan Ify dari belakang.
“Shil, jangan cepet-cepet!”
“Ntar ketinggalan!”
Tiba-tiba Ify melihat kebelakang, Gabriel dan Shilla langsung ngumpet di tiang terdekat (??). Setelah Ify mengalihkan pandangannya, Gabriel dan Shilla langsung keluar dari persembunyiannya, dan terus mengikuti Debo dan Ify. Kemudian Ify menoleh lagi kebelakang, Shilla dan Gabriel panik, soalnya gak ada tiang terdekat, jauh semua..
“Shil, jadi patung!!!” Suruh Gabriel. Shilla mengangguk.
Mereka berubah menjadi patung, eh maksud saya pura-pura jadi patung di depan butik baju. Shilla memakai gaya pragawati, dan Gabriel memakai gaya coolnya. Tiba-tiba seorang anak kecil
berdiri di depan mereka, menatap mereka dengan takjub.
“Rara, kenapa?” Tanya Ibu anak itu.
“Kok, patungnya kayak beneran ya?” Tanya Anak yang bernama Rara itu. Ibunya mengamati secara seksama.
“Eh iya bener juga,” kata Ibu itu.
Shilla dan Gabriel mulai pucat dan berkeringat, takut diapa-apain sama mereka. Tiba-tiba…
“Kak, kabuur!!!” Suruh Shilla. Gabriel dan Shilla langsung kabur dari depan ibu-anak itu. Mereka menganga.
“Mamaaa…patungnya bisa geraaakk!!!” Teriak anak itu takjub. (namanya juga anak-anak -,-)
***
“Cak, gua malu jalan sama lo!” keluh Agni.
“Kenapa??”
“Gue berasa jalan sama orang stress!” kata Agni. Agni memandang Cakka dari bawah sampai atas. Alay mode: on-,-.
“Apa lo liat-liat? Naksir yaa?” Tanya Cakka sambil memegang-megang rambutnya.
“Iiiihh, geuleuh..” kata Agni dengan memasang wajah jijik. Kemudian Agni melihat kearah arena permainan, dan disana ternyata ada Ify dan Debo.
“Eh, eh itu Ify sama Debo!!” Tunjuk Agni sambil nyolek-nyolek Cakka. Tapi Cakka gak nyaut-nyaut. Agni menoleh kearah Cakka. Ternyata Cakka masih sibuk ngerapih-rapihin rambutnya sambil ngaca lewat handphonenya.
“Ag, gue ganteng banget kaan? Masa lo gak tertarik ama guee..hehee..” kata Cakka. Saking kesalnya, Agni merampas handphone Cakka dan melemparnya ke bawah, Cakka menganga.
“Handphone gueee!!!” Seru Cakka sambil memungut handphonenya.
“Gila lo, Ag!! Handphone gue niihh..” keluh Cakka.
“Elo yang gila!! Tuh, Ify sama Debo!" Cakka melihat kearah arena permainan dan melihat Ify dan Debo.
“Lah itu Ify sama Debo!!” Seru Cakka.
“Daritadi guee ngomong ama eluu, ganteeng!! Makanya jangan kebanyakan gayaa!!” Seru Agni.
“Ayo cepetan masuuk!!” Agni menarik tangan Cakka. Tiba-tiba jantungnya Cakka deg-deg ser gitu. Baru kali ini Agni memegang tangannya. Agni dan Cakka ngumpet supaya Ify dan Debo tidak melihat mereka. Karena mereka ingin melihat lagi lebih dekat, Cakka mengumpet di belakang Ibu-ibu yang sedang duduk menunggu anaknya bermain. Ibu itu merasa ada yang aneh di belakangnya. Saat Ibu itu menoleh
kebelakang, ia melihat Cakka sedang mengumpet di belakangnya.
“HEH! Kamu mau nyopet yaa!!?” Seru Ibu tersebut. Cakka terkejut.
“Weiish, nyantai Bu..masa orang ganteng mirip Justin Bieber gini dibilang copet!” Sanggah Cakka. Agni yang melihat dari jauh, cuma nepok jidat.
“Alaaahh, bohoong kamuu!! Dasar copeet!!” Cakka dipukul-pukul pakai tas Ibu-ibu itu.
“Aduuuh!! Sakiit!!” Seru Cakka, kemudian Agni datang.
“Ah, maaf ya, Bu. Ini adik saya emang agak kurang waras gitu deh, Bu..hehee..maaf yaa..kabur, Cak!!” Seru Agni.
Agni dan Cakka segera kabur keluar dari arena permainan, karena Cakka di sangka copet.
Sementara itu Ify dan Debo..
“Kok tadi gue denger di belakang ada yang teriak copet ya??” Tanya Ify.
“Iya, Fy gue tadi denger, udahlah, jalan-jalan lagi yuk..” ajak Debo. Ify mengangguk.
***
Rio mengintip Ify dan Debo dari balik rak buku di sebuah toko buku. Rio terus mengikuti mereka selama mereka di toko buku. Ify dan Debo sedang berada di tempat buku novel terjemahan. Rio berpura-pura baca Koran supaya tidak ketahuan mereka. Tapi tiba-tiba seorang Bapak menatap Rio dengan heran.
“Pak, kenapa mandang saya kayak gitu?” Tanya Rio.
“Kamu bisa baca kebalik ya?”
“Ha? Maksud Bapak?”
“Itu, kamu baca Koran terbalik,” kata Bapak itu sambil menunjuk kearah Koran yang Rio (pura-pura) baca. Rio melihatnya dan kemudian menepok jidatnya.
‘Malu banget guee!!’ pikir Rio. Rio segera menaruh Koran tersebut di rak, dan segera pergi tapi tiba-tiba..
DUUUUKK!!!
“Aduuuhh!!” Rio menabrak rak buku, dan kemudian buku-buku yang berada di rak tersebut jatuh dan ada yang mengenai kepala Rio.
“Aduuuh!!” Ringis Rio sambil memegangi kepalanya.
Begitu mendengar ada sebuah keributan di sana, Ify segera menoleh kearah sumber keributan.
“Kenapa, Fy?” Tanya Debo.
“Kayaknya ada yang jatoh ya?”
“Hah?”
“Iya, itu ada yang ketimpa buku..” gumam Ify. Mata Ify terbelalak begitu melihat seseorang yang sedang memegang kepalanya.
‘Hah? Itu kayak Rio..’ batin Ify.
Balik lagi ke Rio…
“Mas, gak papa??” Tanya seorang pegawai.
“Ng..nggak papa, kok..” kata Rio, kemudian pandangannya tertuju pada tempat Ify dan Debo, mata Rio melotot begitu melihat Ify juga sedang melihatnya.
“Mampus gue!” Gumam Rio. Rio langsung segera meninggalkan tempat tersebut.
***
Debo dan Ify berjalan menuju parkiran, kemudian Debo menatap Ify dalam-dalam. Ify tak bisa mengalihkan pandangannya dari Debo.
“Fy, jawaban lo apaan??” Tanya Debo.
Ify hanya menggaruk-garuk kepala. Balik lagi ke anak-anak-yang-mau-tau- urusan-orang -,- Mereka semua –Sivia, Alvin, Gabriel, Shilla, Agni, Cakka, Rio- mengintip dari belakang semak-semak yang berada tak jauh dari mobil Debo.
“Eh kedengeran gak??” Tanya Sivia.
“Enggak, Vi!” Keluh Shilla.
“Aduuh, sempit banget sih!” Gerutu Alvin.
“Cakka makan tempat nih!!” Kata Gabriel.
“Udah malem, tampang gue masih keren aja!” kata Cakka.
“Mau gue lempar lagi tuh handphone??” Ancam Agni.
“Eh, berisik banget siih!!” Kata Rio. Tapi tiba-tiba..
“Eh,eh semaknya kenapa??”
“Eh kenapa nih??”
“Gawat! Gawat!!”
Dan…
BRUUUKK!!!
Ify dan Debo segera menoleh kearah semak-semak, mata mereka terbelalak begitu melihat teman-temannya tersungkur di semak-semak pada ketindih-tindih.
“Aduuh sakiit..” Rintih Sivia.
“Aduuh,” Ringis Shilla.
“Ah elu sih Cak!!” Tuduh Alvin.
“Kok gue sih!” Sanggah cakka.
“Bego lo, Cak!!” Kata Agni.
“Eh, bangun doong!!” Teriak Gabriel gara-gara ketindih mereka.
“Gue kagak bisa napas niih!!” kata Rio.
Ify dan Debo menghampiri mereka dengan tatapan tidak percaya. Ify hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka hanya bisa nyengir.
“Ternyata daritadi lo semua ngintilin guee??” Tanya Ify.
“Heheheee…” mereka semua tetap nyengir.
“Siviaaa…”
“Eung, maaf Fy, gue emang takut digorok sama lo, tapi gue lebih takut kalo di gorok sama…” kalimat Sivia terhenti begitu mulutnya di bekep sama anak-anak.
“Kak Debo, gue pulang bareng mereka aja deh, omongannya gue kasih tahu di sms,” kata Ify.
“Oke, gue duluan ya semua!” Pamit Debo.
***
Ify masih memasang wajah jutek ke mereka semua, gak mau bicara.
“Fy, jangan marah doong..” rayu Shilla.
“Iya, Fy..kita minta maaf deeh..” kata Sivia.
Ify tetap manyun, gak mau ngomong sama mereka semua. Yang lain lagi pada ngerayu Ify, Rio hanya garuk-garuk kepala saja.
“Fy, jangan manyun gituu..gue beliin yupi sebungkus deeh..” Rayu Cakka.
“Sori gue lagi gak napsu makan yupi, gigi gue udah ompong satu!” kata Ify jutek.
“Yaiyalah ompong, makan nasi aja dia bareng ama makan yupi..” celetuk Alvin.
“Bego lu, Vin!” Kata Gabriel.
“Fy, pliis dong jangan marah, kita kan khawatir sama lo..” kata Agni.
Ify tetap gak mau ngomong, terus membelakangi mereka. Semuanya malah melirik Rio. Rio menatap mereka dengan heran.
“Heh? Ngapain lo pada ngeliatin gue? Baru liat orang ganteng ya?? Iiih sedih amat idup lo pada..” kata Rio ngeles.
“Tanggung jawab lo, Yo!!” Seru Cakka.
“Kita gak mau tau! Pokoknya besok Ify udah normal lagi!” kata Sivia.
“Udah yuk pulang!” Ajak Agni.
Mereka meninggalkan Rio dan Ify berdua, Rio gelagapan pas mereka pada pulang.
“Yah,yah tuh kan!!” keluh Rio.
Ify masih melipat tangannya di dada, tak mau melihat Rio sekalipun. Rio hanya menghela napas, gak bisa ngomong apa-apa.
‘Gue ngomong apaan niih..’ pikir Rio.
Akhirnya Rio memutuskan untuk mendekat ke Ify yang masih mengeluarkan aura neraka.
“Fy, gue minta maaf deh..” kata Rio.
“Ngomong tuh ama selop gue!” Kata Ify enteng.
Rio melengos, emang bener kata Deva, Ify kalo udah ngambek susah dibikin redanya, apa harus Rio bawa satu truk permen yupi buat Ify supaya dia gak marah lagi.
“Fy, maafin gue ama temen-temen dong, kita semua khawatir ama elo, masa lo ngambek kayak gini sih, kayak anak kecil tauk gak!” kata Rio.
“Eh, apa maksud lo, orang sok kegantengan?? Gue bisa ngatasin semuanya sendiri!” kata Ify.
“Hah?? Apa?? Gue gak salah denger?? Orang sedeng bin kurang waras kayak lo bisa ngatasin semuanya?? Yang ada lo malah tambah gila!!” Balas Rio.
“Kenapa sih lo gak bisa bersikap baik ama gue!! Lo selalu aja ngeledek ato marahin gue!! Gue udah kayak orang bego suka sama lo!!” Seru Ify yang hampir saja menangis.
“Tuh kan gue sebel banget kalo udah ngeliat lo nangis!” Kata Rio.
“Yaudah kalo sebel, tinggalin aja guee!!” kata Ify.
‘Kalo dipikir-pikir bener juga kata Ify, selama ini gue gak bisa bersikap baik sama dia,’ pikir Rio.
“Tau gak kenapa gue bisa kayak gitu sama lo?? Soalnya guee.."
“Gue apaan??”
"Gue..su..”
“RIOOO!!!!”
Ucapan Rio terhenti karena mendengar suara seseorang memanggilnya. Ingin sekali ia gantung diri di pohon duren (pohon duren lagi pohon duren lagi -.-). Rio menatapnya dengan aura neraka.
“Yo, dompet gue ada di elo tadi! Gara-gara kantong gue penuh, siniin dompet gue, gue gak bisa pulang!” Kata Cakka. Rio memberikan dompet Cakka yang tadi Cakka titipkan padanya.
‘Nih orang bener-bener, kemaren si China sekarang si orang sarap, heuuh gagal lagi kan gue!!!’ Batin Rio.
“Gue pulang yaa!” Pamit Cakka.
“Tadi lo mau ngomong apaan??” Tanya Ify.
“Gak jadi!” Ketus Rio.
“Lo mau nembak gue kaan??” Tanya Ify.
“Nggak!! Ngarep banget sih!”
Akhirnya Ify gak ngambek lagi dan mau pulang bareng Rio.
***
“Kak Riooo!! Gua gak ngerti!!” Seru Ray.
“Iih bebel banget sih lu jadi orang! Apalagi kalo bukan orang lu!” Kata Rio sambil mengacak-acak rambutnya.
“Ini simbol apaan lagi, gak jelas banget sih gambarnya!” Keluh Ray.
“Keberatan rambut sih lo!” Kata Rio sambil menoyor kepala Ray.
“Eeeeh, jangan salah, ini rambut daya tarik gua, Kak!” Kata Ray sambil merapihkan rambutnya.
“Lebih menarik lagi kalo pala lo botak plontos!” celetuk Rio.
“Euh, saraap!!”
“Besok lo belajar dirumah Deva aja deh, gue sekalian ngajarin lo berdua, gue mulai setiap hari nih ngajar dirumah Deva,” kata Rio.
“Yaudah deh,” kata Ray sambil mengerjakan soal yang diberikan Rio. Kemudian Rio melirik laptop hitam miliknya nganggur di samping Ray yang sedang memakai meja belajar Rio. Rio pun mengambil laptopnya dan membawanya ke kasur. Ia membuka website Facebook, dan Twitter. Dan akhir-akhir ini Rio penasaran dengan fansite RISE bikinan Ify.
Pertama-tama ia membuka Facebook, karena Rio sudah jarang membuka akunnya, tak pernah diurus. Di layar tertulis“576 Friends Requests”. Rio melotot.
“Buset! Sebanyak ini??” Gumam Rio takjub. Rio memencet mousenya, yaaa maklumlaah namanya orang ganteng, pasti yang nge-request cewek semua, punya gue ada gak, Yo?? =p
Mata Rio tertuju pada satu nama yang sangat familiar baginya, Alyssa Saufika Umari. Rio tersenyum dan kemudian meng-confirm FB cewek itu. Beberapa menit kemudian, Rio mendapat 1 Notifications. “Alyssa Saufika Umari posted something on your wall”. Rio membuka profilenya dan terdapat wall dari Ify.
Alyssa Saufika Umari huwaaaaaa… akhirnya setelah menunggu berabad-abad diconfirm juga ama lo, kak!!!
Tengso yaa ganteeeng!!^^
Rio bergidik ngeri, tapi ada kesenangan sendiri di dalam hatinya, makanya Rio jadi cengengesan sendiri kayak orang kesambet. Ray melihat Rio dengan pandangan Itu-orang-pasti-sudah-gila. Tiba-tiba…
BLETAAK!!
“Aduuh!” Ringis Rio. Rio ditimpuk penghapus sama Ray.
“Woi! Gue gimana!!” Kata Ray. Rio melengos.
“Ganggu orang lagi seneng aja lo! Sini bawa buku lo!” Kata Rio. Ray memberikan bukunya pada Rio, Rio hanya geleng-geleng kepala.
“Bener, kaaan??” Kata Ray sambil memainkan alisnya.
“Bener,bener, gigi lo tuh bener! Salah semuaa!! Kerjain lagi!!” Suruh Rio.
“Iiih, punya Kakak kok kepinteran banget yak??” Gumam Ray.
“Bagus dong! Udah pinter, ganteng lagi! Cuma lo-nya aja yang gak sadar!” kata Rio.
“Iih, narsis!”
Rio kembali berkutat dengan laptopnya, sekarang ia mulai membuka Twitter, dan ternyata followers Rio sudah ada 542 followers, termasuk Twitter Ify (Ifyalyssa). Rio melihat home Twitternya.
cakkawekas gantengan gua apa
@9alvinosztaCR7??
Rio menahan ketawanya, melihat tweet
Cakka.
ielstevent gantengan gua lah RT
@cakkawekas: gantengan gua apa
@9alvinosztaCR7??
cakkawekas gak ada yang aja maen
siih RT @ielstevent: gantengan gua lah
RT @cakkawekas: gantengan gua apa
@9alvinosztaCR7??
9alvinosztaCR7 eh @cakkawekas,
@ielstevent gua aja yg gnteng biasa
aj knp lo b2 yg rbut?
Tiba-tiba mata Rio terbelalak melihat nama seseorang yang dikenalnya..
Ifyalyssa gantengan @rioni_gin
drpd lo b3 :p RT @9alvinosztaCR7: eh
@cakkawekas, @ielsteventgua aja yg gnteng biasa aj knp lo b2 yg rbut?
Rio hanya tertawa melihat timeline-nya, yang penuh dengan tweet gila teman-temannya,
rioni_gin eh lo b4 nyampah aj d
home gue!! RT @Ifyalyssa: gantengan
@rioni_gin drpd lo b3 :p RT
@9alvinosztaCR7: eh @cakkawekas,
@ielsteventgua aja yg gnteng biasa
aj knp lo b2 yg rbut?
Tiba-tiba Rio mendapat mention dari
Ify.
Ifyalyssa hei @rioni_ginyang
paling ganteng, hehee!!
Rio membalas mention Ify dengan singkat.
rioni_gin -,- RT @Ifyalyssa: hei
@rioni_gin yang paling ganteng, hehee!!
Dan website terakhir yang dibuka Rio adalah fansite RISE. Yang baru dibuka sekali seumur hidup sama Rio. Tiba-tiba jantungnya deg-degan.
“Kok jantung gue deg-degan sih..” gumam Rio. Rio memasukkan alamat fansitenya di address bar. mariogantengsiapayangpunya.ning.com (masya Allah alay banget alamatnya -,-)
Rio terbelalak, baru masuk ke fansitenya aja, foto dia sedang main basket saat ngeshoot bola terpampang sebagai layout fansitenya.
“Kapan Ify ngambil foto gue yang ini??” gumam Rio.
“Kok gue ganteng ya?” gumam Rio (-,-)
Rio membaca-baca tentang forum, blog, dll. Ternyata Ify menulis dengan lengkap tentang dirinya, Ify sangat tahu tentang pribadi Rio melebihi keluarganya, padahal Ify baru mengenal Rio kurang dari setahun. Rio salut dengan kegigihan Ify mendapatkan informasi dirinya. Setelah itu, ia mengantuk dan tertidur.
“Kak Riooo!!! Jangaaan moloor!!” teriak Ray yang ditinggal tidur oleh Rio.
***
“Asiiiikk…yang udaah jadiaaan!!” Goda Ify.
Sivia dan Alvin jadi salting, begitu dipergoki Ify pergi bareng ke sekolah. Udah gitu Ify mergokin Alvin megangin tangan Sivia.
“Eh, langsung bikin syukuran di kantin!” Kata Cakka.
“Langsung peseenn!!” kata Gabriel.
“Eh, kampret lo semua!!” seru Alvin.
Mereka tertawa bersama-sama sampai membuat kantin sangat gaduh, rusuh gara-gara kelakuan mereka.
“Kak Rioo, hehee..kapan nih kita nyusuul..??” Tanya Ify cengengesan.
“Nyusul,nyusul gigi lo tuh nyusuull!!” Seru Rio ngeles.
‘Secepatnya, Fy..hehee..’ Pikir Rio. Itu dia orang yang perkataannya tak sesuai dengan pikirannya -,-, jangan ditiru..!
Ify melihat kearah Agni sedang membeli makanan sendiri. Ify pun memanggil Agni.
“Kak Agniii!!!” Panggil Ify dengan suara cemprengnya. Agni menoleh kearah Ify, ia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Ify.
“Kak, makan disini ajaaa!!” Kata Ify. Agni pun pergi ke meja Ify.
Cakka yang melihat Agni sedang menuju mejanya, langsung mengeluarkan handphone buat ngaca dan merapihkan rambutnya.
“Eh, Yel, gue ganteng kan?” Tanya Cakka.
“Jempol lo tuh yang ganteng!” Celetuk Gabriel. Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Kemudian Agni pun duduk disamping Ify.
“Gak papa kan gue gabung?” Tanya Agni.
“Hehee..gak papa kok, kok gak duduk di samping gue, Ag??” Tanya Cakka nyengir.
“Serem gue!” Seru Agni. Cakka kicep.
“Tuh kan Cak, Agni aja gak mau deket- deket ama lo, makanya jangan sok kegantengan deeh..” kata Rio.
“Eh, hari minggu kita jalan-jalan bareng yuk!” Ajak Shilla.
“Iya tuh, kita gak pernah jalan-jalan bareng..” kata Sivia.
“Judulnya doang jalan bareng, ntar juga pas nyampe sana lo sama Alvin langsung ngilang, Vi!” Celetuk Cakka.
“Sirik banget sih lo, Kak!” Keluh Sivia.
“Cakka ngiri ama kita, Vi. Soalnya gak ada yang mau ama diaa..” goda Alvin. Cakka nimpuk Alvin pake mangkok, waduh nggak deh pake sendok aja.
“Sori ya, kayaknya gue gak bisa ikut kalian jalan bareng deh..” gumam Ify. Semuanya nengok.
“Kenapa, Fy??” Tanya Shilla.
“Gue..”
“Guee..”
“Gue apaan, Fy?” Tanya Gabriel.
“Gue ngapain yaa?? Hehee..gue pikir-pikir dulu deh..” kata Ify ngeles.
“Jaah..ni anak gak bisa boong..” keluh Alvin. Sivia berbisik di telinga Ify,
“Emang mau ngapain, Fy?” Bisik Sivia.
“Gue mau ketemuan ama Debo.” Kata Ify.
“Hah? Ngapain?”
“Tauk, jangan ngomong lo ama mereka! Gue gorok lu!” Ancam Ify.
“Insya Allah!” kata Sivia sambil memegang lehernya.
TEEEEEETTTT….bel masuk berkicau,
eh salah berbunyi…forum terbuka
mereka pun bubar (??).
Ify, Shilla, Sivia dan Agni pergi kekelas
bareng meskipun Agni tidak sekelas
dengan mereka, mereka masih tertawa- tawa sambil bercerita. Tiba-tiba handphone Sivia berbunyi..Sivia mengeluarkan handphonenya dari saku bajunya.
From: Kak Rio
Vi, dia mau ngapain hari minggu?
To: Kak Rio
Gimana yaa?? Gue takut digorok sama Ify…
From: Kak Rio
Lo mau Ify yang gorok apa gua yang gorok??
To: Kak Rio
Iyaa deeh, gue bilang…
Ify mau ketemuan sm DEBO
***
“APAAAA!!!??” Teriak Rio.
Gabriel yang lagi minum tersedak, Cakka yang ngerapihin rambutnya jadi makin berantakan, Alvin yang sedang SMS-an sama Sivia hapenya mental hampir jatoh ke lantai.
“Kenapa sih lo, Yo!! Kesambet??” Tanya Gabriel.
“Elo, sih Yo! Rambut gue jadi makin berantakan!!” Keluh Cakka.
“Elo rambut mulu yang diurus, Cak!” Kata Alvin. Bibir Cakka manyun.
“Kenapa?” Tanya Alvin. Rio memberikan handphonenya pada Alvin dan Alvin pun membacanya.
“Ify mau ketemuan sama Debo?” Tanya Alvin.
“Udah tau nanya lagi lo, Vin!” Seru Rio.
“Wah, gawat tuh!! Jangan-jangan Debo minta balikan lagi sama Ify.” kata Gabriel.
“Gawatan rambut gue nih! Jadi lepek banget!” Keluh Cakka.
“Gue gibeng juga lo, Cak!” Kata Rio.
“Gimana kalo hari Minggu kita ngikutin Ify sama Debo??” Usul Alvin.
“Boleh juga tuuh!!” Kata Gabriel.
“Pulang sekolah kita kasih tau ke cewek-ceweknya!” kata Rio.
***
Hari minggu…
Ify sudah sampai di mall, dan ia langsung pergi ke café Violet yang berada di lantai paling atas. Dandanan Ify serba rapi hari ini. Ify memakai dress biru muda, dan tak lupa memakai bando biru. Ify celingak-celinguk di depan café Violet, mencari Debo.
“Ify!” Seseorang memanggil dari meja yang berada dekat jendela. Jujur, Ify merasa sedikit terpana melihat sosok Debo. Debo sangat berubah drastis dengan Debo yang kenal saat SMP dulu. Debo jauh lebih tinggi, meskipun tak setinggi Rio. Debo memakai kemeja hitam dibalut dengan jaket putih. Ify langsung menepok kedua pipinya.
‘Stop, Fy! Jangan terpana sama Kak Debo! Lo udah punya Kak Rio!!’ pikir Ify.
“Duduk, Fy!” Debo mempersilahkan Ify
duduk.
“Mau pesen apa?” Tanya Debo sambil menyunggikan senyumnya.
“Pe..pesen banana split aja deh,” kata Ify gelagapan.
“Mbak, banana split satu, capuchino satu!” kata Debo.
“Lo..lo mau ngomong apa?” Tanya Ify.
“Gue…”
***
Rio, Alvin, Gabriel, Sivia, Shilla, dan Agni menatap Cakka dari bawah sampai atas dengan heran. Cakka mengangkat alis.
“Kenapa pada ngeliatin gue kayak gitu??” Tanya Cakka.
“Lo niat banget, Cak!” Kata Gabriel.
Cakka emang bener-bener niat. Cakka memakai kacamata hitam, jaket kulit, pokoknya pengen kayak mata-mata tapi jadinya malah kayak tukang ojek. T.T’
“Sumpah, Cakka lo kayak..” kata Alvin.
“Kayak apa? Justin Bieber??”
“Justin Blewer!!” Seru Alvin sambil tertawa, semua tertawa ngakak.
“Eh, gue kan ngikutin style mata-mata terkenal.” Cakka mencibir.
“Tapi lo malah kayak alay, Cak! Orang kita cuma ngikutin Ify doang!” keluh Rio.
“Yeuuuh, sirik lo ya semua! Gak keren kayak gue!” kata Cakka.
“Ya, Tuhan bukakan pintu otaknya,” kata Gabriel.
“Udah, ah. Gak bakal mulai nih, sekarang kita mencar, Alvin sama Sivia, Gabriel sama Shilla, Cakka ama Agni, gue sendiri, gimana? Tanya Rio.
“Ahelah kenapa gue ama Cakka sih, Yo? Malu gue jalan ama orang gila kayak dia!” Keluh Agni.
“Yeuuh, jarang-jarang bisa jalan sama seorang Cakka Kawekas Nuraga, yang paling ganteng ini..” kata Cakka.
“Sabodo teuing!” kata Agni.
“Kalo malu-maluin pura-pura aja gak kenal, oke mencar yaa!” Suruh Rio. Semua berpencar.
***
“Lo..lo mau ngomong apa?” Tanya Ify.
“Gue…gue udah putus sama Oik, Fy..” kata Debo.
“Kenapa?”
“Ternyata dia udah punya cowok lagi selaen gue, gue mergokin dia lagi jalan berdua sama cowoknya.” Kata Debo.
“Karma berlakuu..” gumam Ify.
“Apa, Fy??”
“Ah, nggak ada kucing terbang tadi, terus?”
“Yaa..gue mau jujur sama lo..” kata Debo.
“Ha?”
“Gue jujur ternyata masih lebih baik elo daripada Oik, Fy.” Aku Debo.
“Permisi,” seorang pelayan mengantar pesanan Debo dan Ify. Ify segera memakan banana splitnya dengan lahap.
“Fy..” panggil Debo.
“Apaan?? Gue masih dengeer..” kata Ify yang masih menikmati banana split.
“Gue pengen balikan lagi.” Jawab Debo singkat. Ify pun jadi tersedak.
“APAAN??” Tanya Ify tak percaya.
“Gue pengen balikan lagi sama lo!” kata Debo.
***
“Vi, mana Ify sama Debo?” Tanya Alvin celingak-celinguk.
“Tuh dia!” Kata Sivia sambil menunjuk kearah meja yang deket jendela. Mereka mengintip dari kolong meja (kurang kerjaan banget dah -,-).
“Foto-fotoin gih, Kak!” kata Sivia. Alvin mengambil foto Ify dan Debo yang sedang mengobrol. Tapi tiba-tiba seorang pelayan memandang heran mereka berdua.
“Mas, Mbak ngapain ngumpet di kolong meja? Maen petak umpet ya?” Tanya seorang pelayan. Alvin dan Sivia hanya nyengir dari kolong meja.
“Eng..eng..bayangan saya tadi kabur, Mas jadinya saya cari-cari disini, hehee..” Sivia ngeles. Alvin melotot pada Sivia. Sivia hanya nyengir.
“Kabur, Kak!!” Sivia dan Alvin keluar dari kolong meja, tapi si Alvin pake kepentok meja dulu..
DUUUK!!
“Aduuuh!!” Alvin meringis kesakitan, setelah mereka keluar dari kolong meja, mereka langsung kabur keluar.
***
Gabriel dan Shilla masih sibuk ngumpet di belakang tiang, mereka terus mengikuti Ify dan Debo yang sedang jalan berdua. Ify dan Debo seperti terlihat senang.
“Ify keliatan seneng banget..” gumam Shilla.
“Iya, juga,” kata Gabriel.
“Eh,eh Kak mereka jalan lagi tuh! Ikutin!” Kata Shilla. Gabriel dan Shilla masih mengikutin Ify dan Debo dari belakang.
Sementara itu Debo-Ify..
“Kita kemana lagi nih?” Tanya Debo.
“Terserah deh, gue juga bingung mau kemana..” kata Ify.
Mereka terus berkeliling mall, tanpa mereka sadari Shilla dan Gabriel masih mengikuti mereka dari belakang. Kemudian Ify merasa bahwa daritadi ada yang ngikutin mereka berdua, ia menoleh kebelakang tapi tak ada orang, beberapa menit kemudian Ify menoleh lagi tetap tidak ada orang.
“Kenapa, Fy?” Tanya Debo.
“Gak papa kok,” gumam Ify.
***
Shilla dan Gabriel masih mengendap-endap mengikuti Debo dan Ify, mereka terus mengikuti Debo dan Ify dari belakang.
“Shil, jangan cepet-cepet!”
“Ntar ketinggalan!”
Tiba-tiba Ify melihat kebelakang, Gabriel dan Shilla langsung ngumpet di tiang terdekat (??). Setelah Ify mengalihkan pandangannya, Gabriel dan Shilla langsung keluar dari persembunyiannya, dan terus mengikuti Debo dan Ify. Kemudian Ify menoleh lagi kebelakang, Shilla dan Gabriel panik, soalnya gak ada tiang terdekat, jauh semua..
“Shil, jadi patung!!!” Suruh Gabriel. Shilla mengangguk.
Mereka berubah menjadi patung, eh maksud saya pura-pura jadi patung di depan butik baju. Shilla memakai gaya pragawati, dan Gabriel memakai gaya coolnya. Tiba-tiba seorang anak kecil
berdiri di depan mereka, menatap mereka dengan takjub.
“Rara, kenapa?” Tanya Ibu anak itu.
“Kok, patungnya kayak beneran ya?” Tanya Anak yang bernama Rara itu. Ibunya mengamati secara seksama.
“Eh iya bener juga,” kata Ibu itu.
Shilla dan Gabriel mulai pucat dan berkeringat, takut diapa-apain sama mereka. Tiba-tiba…
“Kak, kabuur!!!” Suruh Shilla. Gabriel dan Shilla langsung kabur dari depan ibu-anak itu. Mereka menganga.
“Mamaaa…patungnya bisa geraaakk!!!” Teriak anak itu takjub. (namanya juga anak-anak -,-)
***
“Cak, gua malu jalan sama lo!” keluh Agni.
“Kenapa??”
“Gue berasa jalan sama orang stress!” kata Agni. Agni memandang Cakka dari bawah sampai atas. Alay mode: on-,-.
“Apa lo liat-liat? Naksir yaa?” Tanya Cakka sambil memegang-megang rambutnya.
“Iiiihh, geuleuh..” kata Agni dengan memasang wajah jijik. Kemudian Agni melihat kearah arena permainan, dan disana ternyata ada Ify dan Debo.
“Eh, eh itu Ify sama Debo!!” Tunjuk Agni sambil nyolek-nyolek Cakka. Tapi Cakka gak nyaut-nyaut. Agni menoleh kearah Cakka. Ternyata Cakka masih sibuk ngerapih-rapihin rambutnya sambil ngaca lewat handphonenya.
“Ag, gue ganteng banget kaan? Masa lo gak tertarik ama guee..hehee..” kata Cakka. Saking kesalnya, Agni merampas handphone Cakka dan melemparnya ke bawah, Cakka menganga.
“Handphone gueee!!!” Seru Cakka sambil memungut handphonenya.
“Gila lo, Ag!! Handphone gue niihh..” keluh Cakka.
“Elo yang gila!! Tuh, Ify sama Debo!" Cakka melihat kearah arena permainan dan melihat Ify dan Debo.
“Lah itu Ify sama Debo!!” Seru Cakka.
“Daritadi guee ngomong ama eluu, ganteeng!! Makanya jangan kebanyakan gayaa!!” Seru Agni.
“Ayo cepetan masuuk!!” Agni menarik tangan Cakka. Tiba-tiba jantungnya Cakka deg-deg ser gitu. Baru kali ini Agni memegang tangannya. Agni dan Cakka ngumpet supaya Ify dan Debo tidak melihat mereka. Karena mereka ingin melihat lagi lebih dekat, Cakka mengumpet di belakang Ibu-ibu yang sedang duduk menunggu anaknya bermain. Ibu itu merasa ada yang aneh di belakangnya. Saat Ibu itu menoleh
kebelakang, ia melihat Cakka sedang mengumpet di belakangnya.
“HEH! Kamu mau nyopet yaa!!?” Seru Ibu tersebut. Cakka terkejut.
“Weiish, nyantai Bu..masa orang ganteng mirip Justin Bieber gini dibilang copet!” Sanggah Cakka. Agni yang melihat dari jauh, cuma nepok jidat.
“Alaaahh, bohoong kamuu!! Dasar copeet!!” Cakka dipukul-pukul pakai tas Ibu-ibu itu.
“Aduuuh!! Sakiit!!” Seru Cakka, kemudian Agni datang.
“Ah, maaf ya, Bu. Ini adik saya emang agak kurang waras gitu deh, Bu..hehee..maaf yaa..kabur, Cak!!” Seru Agni.
Agni dan Cakka segera kabur keluar dari arena permainan, karena Cakka di sangka copet.
Sementara itu Ify dan Debo..
“Kok tadi gue denger di belakang ada yang teriak copet ya??” Tanya Ify.
“Iya, Fy gue tadi denger, udahlah, jalan-jalan lagi yuk..” ajak Debo. Ify mengangguk.
***
Rio mengintip Ify dan Debo dari balik rak buku di sebuah toko buku. Rio terus mengikuti mereka selama mereka di toko buku. Ify dan Debo sedang berada di tempat buku novel terjemahan. Rio berpura-pura baca Koran supaya tidak ketahuan mereka. Tapi tiba-tiba seorang Bapak menatap Rio dengan heran.
“Pak, kenapa mandang saya kayak gitu?” Tanya Rio.
“Kamu bisa baca kebalik ya?”
“Ha? Maksud Bapak?”
“Itu, kamu baca Koran terbalik,” kata Bapak itu sambil menunjuk kearah Koran yang Rio (pura-pura) baca. Rio melihatnya dan kemudian menepok jidatnya.
‘Malu banget guee!!’ pikir Rio. Rio segera menaruh Koran tersebut di rak, dan segera pergi tapi tiba-tiba..
DUUUUKK!!!
“Aduuuhh!!” Rio menabrak rak buku, dan kemudian buku-buku yang berada di rak tersebut jatuh dan ada yang mengenai kepala Rio.
“Aduuuh!!” Ringis Rio sambil memegangi kepalanya.
Begitu mendengar ada sebuah keributan di sana, Ify segera menoleh kearah sumber keributan.
“Kenapa, Fy?” Tanya Debo.
“Kayaknya ada yang jatoh ya?”
“Hah?”
“Iya, itu ada yang ketimpa buku..” gumam Ify. Mata Ify terbelalak begitu melihat seseorang yang sedang memegang kepalanya.
‘Hah? Itu kayak Rio..’ batin Ify.
Balik lagi ke Rio…
“Mas, gak papa??” Tanya seorang pegawai.
“Ng..nggak papa, kok..” kata Rio, kemudian pandangannya tertuju pada tempat Ify dan Debo, mata Rio melotot begitu melihat Ify juga sedang melihatnya.
“Mampus gue!” Gumam Rio. Rio langsung segera meninggalkan tempat tersebut.
***
Debo dan Ify berjalan menuju parkiran, kemudian Debo menatap Ify dalam-dalam. Ify tak bisa mengalihkan pandangannya dari Debo.
“Fy, jawaban lo apaan??” Tanya Debo.
Ify hanya menggaruk-garuk kepala. Balik lagi ke anak-anak-yang-mau-tau- urusan-orang -,- Mereka semua –Sivia, Alvin, Gabriel, Shilla, Agni, Cakka, Rio- mengintip dari belakang semak-semak yang berada tak jauh dari mobil Debo.
“Eh kedengeran gak??” Tanya Sivia.
“Enggak, Vi!” Keluh Shilla.
“Aduuh, sempit banget sih!” Gerutu Alvin.
“Cakka makan tempat nih!!” Kata Gabriel.
“Udah malem, tampang gue masih keren aja!” kata Cakka.
“Mau gue lempar lagi tuh handphone??” Ancam Agni.
“Eh, berisik banget siih!!” Kata Rio. Tapi tiba-tiba..
“Eh,eh semaknya kenapa??”
“Eh kenapa nih??”
“Gawat! Gawat!!”
Dan…
BRUUUKK!!!
Ify dan Debo segera menoleh kearah semak-semak, mata mereka terbelalak begitu melihat teman-temannya tersungkur di semak-semak pada ketindih-tindih.
“Aduuh sakiit..” Rintih Sivia.
“Aduuh,” Ringis Shilla.
“Ah elu sih Cak!!” Tuduh Alvin.
“Kok gue sih!” Sanggah cakka.
“Bego lo, Cak!!” Kata Agni.
“Eh, bangun doong!!” Teriak Gabriel gara-gara ketindih mereka.
“Gue kagak bisa napas niih!!” kata Rio.
Ify dan Debo menghampiri mereka dengan tatapan tidak percaya. Ify hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka hanya bisa nyengir.
“Ternyata daritadi lo semua ngintilin guee??” Tanya Ify.
“Heheheee…” mereka semua tetap nyengir.
“Siviaaa…”
“Eung, maaf Fy, gue emang takut digorok sama lo, tapi gue lebih takut kalo di gorok sama…” kalimat Sivia terhenti begitu mulutnya di bekep sama anak-anak.
“Kak Debo, gue pulang bareng mereka aja deh, omongannya gue kasih tahu di sms,” kata Ify.
“Oke, gue duluan ya semua!” Pamit Debo.
***
Ify masih memasang wajah jutek ke mereka semua, gak mau bicara.
“Fy, jangan marah doong..” rayu Shilla.
“Iya, Fy..kita minta maaf deeh..” kata Sivia.
Ify tetap manyun, gak mau ngomong sama mereka semua. Yang lain lagi pada ngerayu Ify, Rio hanya garuk-garuk kepala saja.
“Fy, jangan manyun gituu..gue beliin yupi sebungkus deeh..” Rayu Cakka.
“Sori gue lagi gak napsu makan yupi, gigi gue udah ompong satu!” kata Ify jutek.
“Yaiyalah ompong, makan nasi aja dia bareng ama makan yupi..” celetuk Alvin.
“Bego lu, Vin!” Kata Gabriel.
“Fy, pliis dong jangan marah, kita kan khawatir sama lo..” kata Agni.
Ify tetap gak mau ngomong, terus membelakangi mereka. Semuanya malah melirik Rio. Rio menatap mereka dengan heran.
“Heh? Ngapain lo pada ngeliatin gue? Baru liat orang ganteng ya?? Iiih sedih amat idup lo pada..” kata Rio ngeles.
“Tanggung jawab lo, Yo!!” Seru Cakka.
“Kita gak mau tau! Pokoknya besok Ify udah normal lagi!” kata Sivia.
“Udah yuk pulang!” Ajak Agni.
Mereka meninggalkan Rio dan Ify berdua, Rio gelagapan pas mereka pada pulang.
“Yah,yah tuh kan!!” keluh Rio.
Ify masih melipat tangannya di dada, tak mau melihat Rio sekalipun. Rio hanya menghela napas, gak bisa ngomong apa-apa.
‘Gue ngomong apaan niih..’ pikir Rio.
Akhirnya Rio memutuskan untuk mendekat ke Ify yang masih mengeluarkan aura neraka.
“Fy, gue minta maaf deh..” kata Rio.
“Ngomong tuh ama selop gue!” Kata Ify enteng.
Rio melengos, emang bener kata Deva, Ify kalo udah ngambek susah dibikin redanya, apa harus Rio bawa satu truk permen yupi buat Ify supaya dia gak marah lagi.
“Fy, maafin gue ama temen-temen dong, kita semua khawatir ama elo, masa lo ngambek kayak gini sih, kayak anak kecil tauk gak!” kata Rio.
“Eh, apa maksud lo, orang sok kegantengan?? Gue bisa ngatasin semuanya sendiri!” kata Ify.
“Hah?? Apa?? Gue gak salah denger?? Orang sedeng bin kurang waras kayak lo bisa ngatasin semuanya?? Yang ada lo malah tambah gila!!” Balas Rio.
“Kenapa sih lo gak bisa bersikap baik ama gue!! Lo selalu aja ngeledek ato marahin gue!! Gue udah kayak orang bego suka sama lo!!” Seru Ify yang hampir saja menangis.
“Tuh kan gue sebel banget kalo udah ngeliat lo nangis!” Kata Rio.
“Yaudah kalo sebel, tinggalin aja guee!!” kata Ify.
‘Kalo dipikir-pikir bener juga kata Ify, selama ini gue gak bisa bersikap baik sama dia,’ pikir Rio.
“Tau gak kenapa gue bisa kayak gitu sama lo?? Soalnya guee.."
“Gue apaan??”
"Gue..su..”
“RIOOO!!!!”
Ucapan Rio terhenti karena mendengar suara seseorang memanggilnya. Ingin sekali ia gantung diri di pohon duren (pohon duren lagi pohon duren lagi -.-). Rio menatapnya dengan aura neraka.
“Yo, dompet gue ada di elo tadi! Gara-gara kantong gue penuh, siniin dompet gue, gue gak bisa pulang!” Kata Cakka. Rio memberikan dompet Cakka yang tadi Cakka titipkan padanya.
‘Nih orang bener-bener, kemaren si China sekarang si orang sarap, heuuh gagal lagi kan gue!!!’ Batin Rio.
“Gue pulang yaa!” Pamit Cakka.
“Tadi lo mau ngomong apaan??” Tanya Ify.
“Gak jadi!” Ketus Rio.
“Lo mau nembak gue kaan??” Tanya Ify.
“Nggak!! Ngarep banget sih!”
Akhirnya Ify gak ngambek lagi dan mau pulang bareng Rio.
***
Subscribe to:
Posts (Atom)