Showing posts with label Love Has No Reason. Show all posts
Showing posts with label Love Has No Reason. Show all posts

Sunday, April 22, 2012

Love Has No Reason~ #Chapter10

Chapter 10: Untitled

Sampai di rumah pun Ify masih tak bersemangat memikirkan antara Gabriel-Alvin-Shilla. Bahkan telpon Rio pun Ify abaikan. Ify benar-benar pusing. Satu tekad Ify terfikir dalam benaknya.

***********

Ify bangun dengan malas pagi ini. Benar-benar malas harus menjalani hari ini setelah mengetahui fakta, bahwa gadis yang selama ini di bicarakan Gabriel adalah, kakak Sivia, yang juga di cintai Alvin.

Ify akhirnya keluar dari kamarnya dan turun untuk sarapan bersama keluarganya dan juga Gabriel. Ah, Gabriel, mengapa Ify merasa malas bertemu dengannya. Bukan karena Ify membencinya atau apa, Ify merasa sedikit bersalah karena berpura-pura tidak mengetahui identitas gadis yang sering Gabriel ceritakan itu.

"Pagi fy, ayo cepet sarapan, nanti telat ke sekolah loh" kata mama Ify. Ify hanya tersenyum masam lalu duduk di meja makan dan memulai sarapan paginya. Ify asyik memakan nasi goreng buatan mamanya sampai tak sadar sedari tadi Gabriel memperhatikannya dengan tatapan bingung.

'Ify kenapa sih, ada yang aneh nih kayanya sama dia, dari kemaren kayanya lemes banget, kayanya ada yg terjadi waktu gue ke kamar mandi pas kemaren ketemu sama cewe itu di mall. Buktinya, Ify berubah semenjak kejadian itu" Gabriel mencoba menerka-nerka penyebab Ify agak berubah pagi ini, matanya tak berhenti menatap Ify. Ify yang menyadari di perhatikan sedari tadi oleh Gabriel mendongakan kepalanya. Menatap heran ke arah Gabriel.

"Kenapa ngeliatin gue terus ? Risih gue" tanya Ify membuyarkan lamunan Gabriel.

"Eh ? Ah, gapapa hehe, muka lo cemong" elak Gabriel. Ify buru-buru meraba-raba wajahnya.

"Mana ?" Tanya Ify lagi.

"Gaada" jawab Gabriel polos. Ify mendengus kesal, lalu kembali melanjutkan makannya.

'Tuh kan, aneh, biasanya kalo gue kerjain kayak gitu si Ify nyambek, ini kok enggak' Gabriel mengerutkan keningnya.

"Emm, Fy, Rio mana ? Kok tumben belum dateng jam segini ?" Tanya Gabriel heran melihat Rio belum datang menjemput Ify. Biasanya, jam segini Rio sudah datang.

"Dia gak jemput gue hari ini" jawab Ify cuek.

"Loh, kok ?" Gabriel mengerutkan keningnya lagi.

"Semalem gue sms, gue suruh dia gak usah jemput gue" jawab Ify seadanya.

"Ooh, lo kangen berangkat bareng gue ya ? Haha" goda Gabriel sambil tertawa kecil. Biasanya Ify akan langsung bereaksi seperti menjitaknya atau apalah.

"Gak, lagi pengen sendiri aja, gue naik angkot kok" jawab Ify.

"Kenapa sih ? Berantem sama Rio ?" Tanya Gabriel mencoba menebak. Ify menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dari kursinya. Piring nasi goreng di hadapannya memang sudah kosong, menandakan Ify sudah selesai sarapan.

"Gue berangkat duluan, ketemu di sekolah" pamit Ify lalu menyambar tasnya dan berjalan ke luar rumahnya.

Ify mencari angkot di dekat rumahnya, setelah menemukan angkot jurusan sekolahnya, Ify langsung menaikinya, beruntung angkot itu tidak terlalu penuh, jadi Ify tak perlu berdesak-desakan. Sepanjang jalan Ify melamun. Sampai panggilang sang kenek angkot itu membuyarkan lamunannya.

"Neng, sekolah di IGS kan ?" Kata abang kenek itu.

"Eh, iya kenapa bang ?" Tanya Ify masih bingung.

"Udah kelebihan tuh neng" kata abang itu sambil menunjuk sekolahnya yang memang sudah terlewat.

"Aduh, kiri bang kiri" kata Ify menyetop angkot itu, lalu beberapa lembar uang ribuan. Setelah itu berjalan sedikit menuju sekolahnya yang sudah terlewat. Sesampainya di kelas Ify langsung duduk, tak menyadari bahwa kekasihnya menatapnya dengan heran di sebelahnya.

"Fy" panggil Rio, tapi tak ada jawaban dari Ify, entah apa yang di pikirkan Ify sehingga ia tak mendengar panggilan Rio.

"Ify" panggil Rio sekali lagi, kali ini dengan mengibaskan tangannya di depan wajah Ify, namun tetap sama, tak ada tanda-tanda Ify mendengar panggilannya.

"IFY" panggil Rio keras, bukan apa-apa, hanya saja gadis di sebelahnya ini sedang memikirkan sesuatu yang sedikit mengganggu pikirannya, sehingga Rio terpaksa memanggilnya dengan keras. Dan itu berhasil, Ify terkesiap mendengar panggilan Rio, lalu menoleh sebentar pada Rio. Ify tersenyum pada Rio, lalu kembali masuk dalam lamunannya.

Rio mengerenyitkan keningnya. Aneh, senyum itu, tampak tak secerah biasanya hari ini.

"Fy, ada masalah ya ?" Tanya Rio lembut tapi cukup membuat Ify menoleh ke arahnya lalu menggeleng.

"Terus kenapa dong ?" Tanya Rio lagi. Ify menghela nafas pelan.

"Gak apa-apa kok, gue cuma agak ga enak badan aja" jawab Ify berbohong. Tampaknya itu bukan jawaban yang bagus yang bisa melepaskan dirinya dari pertanyaan Rio, karena Rio semakin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

"Ga enak badan kenapa ? Lo sakit ? Lo kalo udah tau sakit masih aja sekolah, bukannya istirahat di rumah, atau seenggaknya tadi pagi lo gue jemput aja, untung lo gak kenapa-napa di jalan, coba kalo lo tiba-tiba pingsan di jalan, siapa yang nolongin lo ? Sekarang lo pulang aja ya, istirahat di rumah, gue anterin deh, atau lo mau di UKS aja ? Gue temenin deh" Rio mencecar Ify dengan berbagai pertanyaan, bahkan Rio tak sedikitpun memberinya kesempatan untuk untuk menjawab. Ify berdecak kesal.

"Ck! Jauh banget pikirannya, gue gak apa-apa, cuma pusing dikit" jawab Ify kesal.

"Ya udah sekarang ke UKS aja ya, istirahat di sana, di sana juga ada obat pusing pasti" kata Rio kekeh.

"Gak mau ah, gue di sini aja, pengen belajar" kata Ify menolak tawaran Rio, karena memang ia tak benar-benar sakit.

"Lo mau gue pulangin atau ikut ke UKS ?!" Tanya Rio tegas. Ify tahu, jika Rio sudah mengeluarkan nada tegasnya, itu artinya Rio sama sekali tak ingin di bantah. Ify akhirnya pasrah.

"Iya iya, gue ke UKS" kata Ify kesal. Rio tersenyum kecil, merasa menang.

"Ayo gue anter" Rio menarik tangan Ify.

"Mau kemana yo, fy ?" Tanya Sivia.

"Ini, Ify katanya gak enak badan mau gue bawa ke UKS, izinin gue sama Ify pelajaran pertama ya vi" kata Rio. Sivia mengangguk, lalu Rio kembali menggandeng tangan Ify dan membawanya menuju ruang kesehatan.

'Ify sakit ? Masa ? Orang tadi di rumah baik-bak aja kok" batin Gabriel heran. Gabriel mengangkat bahunya.

"Kenapa yel ?" Tanya Sivia yang melihat Gabriel mengangkat bahunya.

"Eh, gak apa-apa hehe, vi, pulang sekolah ngerjain tugas dari Bu Winda yuk" kata Gabriel. "Janji deh gak bakal kaya yang kemaren kemaren" tambah Gabriel. Sivia tertawa kecil.

"Haha, iya, ayo, lagian gue udah kerjain sebagian, di bantu kak Shilla, jadi kita tinggal nambahin dikit-dikit" kata Sivia.

"Serius ? Wah kalo gitu suruh aja kakak lo aja yang kerjain vi, anggep aja MOS sebagai calon murid baru hahaha"canda Gabriel. Sivia sekali lagi tertawa.

"Lo kalo ketawa manis banget deh vi, jadi keliatan cantik" puji Gabriel. Sivia menghentikan tertawanya, mukanya memerah, malu karena di puji oleh -ehm- orang yang mungkin perlahan mulai masuk ke hatinya.

"Nah, apalagi kalo mukanya merah, tambah lucu" kata Gabriel polos, membuat wajah Sivia semakin memerah.

"Gombal haha" kata Sivia berusaha menutupi kesaltingannya. Sampai bel berbunyi dan memaksa mereka menghentikan senda gurau mereka.

****
Sementara itu di UKS....

"Minum dulu fy obatnya" kata Rio sambil menyerahkan satu tablet obat berwarna merah muda dan segelas air putih. Ify menelan ludahnya. Ia kan tak benar-benar sakit, bagaimana mungkin ia harus memakan obat itu, takut-takut nanti dia overdosis.

"Emm, gamau ah yo" tolak Ify sambil mendorong pelan tangan Rio.

"Loh, kenapa ? Katanya sakit, tapi gak mau minum obat" tanya Rio heran. Ify menggelengkan kepalanya.

"Gamau aja, lagian gue cuma pusing, tiduran bentar sembuh" kata Ify mencari alasan. Rio memicingkan matanya sedikit curiga.

"Bener ?" Tanya Rio meyakinkan. Ify mengangguk cepat.

"Ya udah, kalo gitu istirahat aja di sini, gue ke luar beli makanan ya" kata Rio, saat Rio hendak berdiri Ify menahan tangannya.

"Apa ?" Tanya Rio.

"Lo di sini aja deh ya, temenin gue" jawab Ify.

"Iyaa, udah sana tidur" suruh Rio, Ify berbaring di tempat tidur yang di sediakan di sana, Rio duduk menemaninya di sampingnya.

Ify memejamkan matanya. Ify tidak benar-benar tertidur, ia hanya memejamkan matanya, lalu memikirkan apa yang mengusiknya dari semalam.

"Ehm yo" panggil Ify sambil menoleh ke arah Rio.

"Ya, kenapa ?" Tanya Rio.

"Gue nanya boleh ya ?" Rio mengangguk.

"Emmh, perasaan lo waktu temenan sama Kak Alvin yang dulu gimana sih yo ?" Tany Ify. Rio mengerutkan keningnya.

"Loh kenapa nanya itu ?" Tanyanya heran.

"Eh, gapapa, kalo gamau jawab juga gapapa" kata Ify. Rio menghela nafas.

"Gue udah pernah cerita kan kemaren sama lo, sikap Alvin itu dulu jauh banget dari kata baik, jutek, dingin, dih, siapa yang gak males temenan sama dia, cuma gue yang tahan, dan itu karena gue ngerasa Alvin sama gue punya kesamaan, sama-sama kesepian dan sama-sama di tinggalin orang yang kita sayang waktu kecil, dalam konteks ini Alvin kehilangan Sivia, dan gue kehilangan elo, jadi gue betah temenan sama Alvin, walaupun emang kadang gue gak tahan sama sikap dia yang bener-bener jutek, cuek, kadang gue berfikir buat ninggalin dia, tapi gue tahu, suatu saat dia bakal berubah, dan sekarang terbukti"jelas Rio panjang lebar. Ify mendengar cerita Rio dengan serius, sampai-sampai ia tak sadar bahwa ada yang aneh dari ucapan Rio.

"Ooh, kalo misalnya emm, nanti ada yang ngambil emm, ini misalnya loh ya, misalnya ada yang ngerebut Kak Shilla dari Kak Alvin gimana ?" Tanya Ify gugup. Rio mengerenyitkan dahinya.

"Loh, kok nanya gitu ? Emang kenapa ?" Tanya Rio heran. Ify menggeleng cepat.

"Gapapa, hehe, nanya doang, jawab dong yoo" rajuk Ify pada Rio.

"Gue harap sih itu gak akan pernah terjadi ya fy, gue yakin banget kalo Alvin emang bener-bener sayang sama kak Shilla, itu keliatan banget dari cara dia mandang kak Shilla, dan gue sebisa mungkin gak akan pernah ngebiarin siapapun ngambil kak Shilla dari Alvin. Lo tau ? Mungkin Alvin bisa bener-bener patah hati kalo itu terjadi" jelas Rio panjang lebar. Ify tertegun mendengar penjelasana Rio.

'Jadi gue harus gimana ? Kak Alvin dan Gabriel sama-sama mencintai orang yang sama. Yang mana yang harus gue dahuluin, perasaan sahabat gue yang jelas-jelas udah nemenin gue selama ini, atau orang yang baru gue kenal. Tapi kalo kak Shilla sama Gabriel, gue takut kak Alvin balik lagi kaya dulu, gue gak mau kak Alvin terpuruk lagi' pikir Ify.

"Fy, ifyy" Rio mengguncang-guncangkan bahu Ify, membuat Ify tersadar dari lamunannya.

"Hah, apa yo ?" Tanya Ify mengalihkan pandangannya pada Rio yang terlihat heran.

"Lo kenapa ngelamun terus ? Tadi kan gue suruh istirahat, malah ngelamun" kata Rio.

"Ehehe, iya, udah gapapa kok, nanti pulang sekolah jadi kan yo ?" Tanya Ify memastikan.

"Udah gak apa-apa emang lo ?" Tanya Rio ragu. Ify mengangguk.

"Gue gak apa-apa kok yo" jawab Ify.

"Beneran udah gak apa-apa ?" Tanya Rio sekali lagi.

"Iya Riooo, gue gak apa-apaaa" jawab Ify gemas. Rio tertawa kecil.

"Oke kalo gitu, pulang sekolah ya haha" kata Rio."Tiduran lagi gih, biar cepet sembuhnya" suruh Rio.kali ini Ify langsung menurut dan membaringkan badannya di atas kasur di UKS.

Ify memandang ke arah Rio yang sekarang tengah membaca sebuah buku yang ada di atas meja di samping tempat tidur di sana.

'Maafin gue yel, gue mesti ngorbanin perasaan lo, ini semua gue lakuin buat Kak Alvin, bukan berarti gue gak peduli sama lo, tapi gue rasa saat ini kak Alvin lebih butuh kak Shilla di banding lo, sekali lagi maaf yel, gue gak bisa biarin lo ketemu kak Shilla dulu saat ini' batin Ify sambil terus menatap Rio yang tengah membaca buku.

****

"Yel, Ify sama Rio kemana deh ? Ini udah 4 jam pelajaran masa gak balik-balik juga" tanya Sivia kepada Gabriel saat pelajaran usai. Gabriel mengedikkan bahunya.

"Gak tau gue, gue telpon HP mereka ketinggalan kayaknya di tas" jawab Iel, bersamaan dengan itu Bu Winda masuk ke dalam kelas.

"Gabriel, Sivia, Rio dan Ify masih di UKS ?" Tanya Bu Winda tiba-tiba, membuat Gabriel dan Sivia sontak menoleh ke arahnya.

"Emm, iya bu" jawab Sivia.

"Ify masih sakit kayaknya bu" tambah Gabriel.

"Hemm, kalian tidak ingin menjenguk Ify di UKS ?" Tawar Bu Winda. Gabriel dan Sivia membelalakan matanya.

"Emangnya boleh bu ?" Tanya Gabriel refleks. Bu Winda mengangguk kecil.

"Kalian hanya boleh ke sana sekarang, pada jam istirahat, setelah jam istirahat, kalian berempat harus sudah kembali ke sini" kata Bu Winda tegas.

"Baik bu" kata Gabriel dan Sivia cepat, mereka langsung berlari ke UKS.

****
Di UKS.....

Ify masih berbaring di kasur, bukan tidur, hanya memejamkan matanya sebentar, meyakinkan keputusannya. Sedangkan Rio, masih membaca buku yang sepertinya di tinggalkan oleh penjaga UKS sebelumnya. Sampai terdengar ketukan dari pintu.

TOK TOK TOK....

Ify membuka matanya lalu memandang ke arah pintu. Sama halnya dengan Ify, Rio langsung menutup bukunya, menyimpannya di tempat semula, lalu berjalan ke arah pintu UKS. Matanya terbelalak melihat Gabriel dan Sivia berdiri di ambang pintu.

"Gabriel, Via, kok bisa ada di sini ?" Tanya Rio heran.

"Kenapa ? Gak boleh ya ? Kita gak ganggu kan ?" Goda Gabriel.

"Tadi kita udah dapet izin eksklusif dari Bu Winda, tapi habis istirahat lo sama Ify harus langsung balik ke kelas"jelas Sivia pada Rio.

"Ohaha, masuk deh" kata Rio lalu berjalan ke kursinya lagi. Ify mendudukan dirinya di atas kasur.

"Hai fy, gimana ? Udah baikan ?" Tanya Sivia. Ify tersenyum.

"Gue gak apa-apa kok, si Rio aja lebay" jawab Ify sambil mendelik ke arah Rio seakan menyalahkan dia.

"Apa ? Mau nyalahin gue ? Dari pada lo tepar di kelas fy" jawab Rio mengerti arti tatapan Ify.

"Gue gak apa-apa kali yo" kata Ify pelan.

"Udah, ribut mulu lo berdua, sakit apa lo fy ? Perasaan tadi pagi gak pucet, kalo lemes sih iya" tanya Gabriel. Ify mengalihkan pandangannya pada Gabriel, ada rasa bersalah di hati Ify melihat Gabriel.

"Emm....gapapa.. Gue cuma emm gue pusing aja dikit" jawab Ify gugup.

"Lo kenapa fy ? Gugup banget" tanya Gabriel lagi.

"Gak apa-apa kok hehe" jawab Ify sambil memaksakan seulas senyum. Gabriel mengangguk-anggukan kepalanya. Sesaat kemudian keheningan menyelimuti mereka sampai Rio berbicara.

"Yel, Vi, pulang sekolah mau ikut gue sama Ify gak ?" Tawar Rio.

"Kemana yo ?" Tanya Via.

"Mau ke rumah sakit bokap gue, sekalian ngerjain tugas dari Bu Winda, kenapa kalian gak ikut kita aja ? Tempatnya asik kok, gak kaya rumah sakit kebanyakan" jawab Rio meyakinkan.

"Gimana yaah, gue juga mau ngerjain tugas dari Bu Winda nih, waktu itu kan belum selesai" tolak Gabriel di sertai anggukan kepala Sivia.

"Dimana ?" Tanya Ify spontan, membuat Rio, Gabriel dan Sivia mengalihkan perhatiannya pada Ify.

"Apanya yang di mana ?" Tanya Gabriel polos.

"Ngerjain tugasnya ?" Tanya Ify lagi.

"Ooh, di rumah Sivia" jawab Gabriel enteng. Ify langsung membelalakan matanya mendengar jawaban Gabriel.

"Kenapa fy ?" Tanya Sivia yang menyadari perubahan pada raut muka Ify.

"Gapapa, kenapa gak di rumah gue aja yel ?" Tanya Ify lagi.

"Gak ah, enakan di rumah via kayanya hehe, lagian data-datanya juga ada di rumah Sivia semua, iya kan vi ?" Sivia menganggukan kepalanya. Ify menghela nafas lemas.

'Mampus, Gabriel pasti ketemu Kak Shilla nih, gimana doong, gue gamau Gabriel ketemu kak Shilla dulu, walaupun nanti cepat atau lambat Gabriel pasti tau, secara nanti Kak Shilla sekolah di sini juga, ya tapi seenggaknya gue bisa ngulur waktu laah, aduh gimana niih ?!' Ify berpikir keras, berusaha mencari jalan agar Gabriel dan Shilla tidak bertemu.

"Kak Alvin!" Seru Ify refleks.

"Alvin ?" Tanya Rio heran. Ify langsung menutup mulutnya.

"Kenapa sama Alvin ?" Tanya Rio lagi. Ify menggeleng kecil.

"Gapapa hehe, gue ngerasa ada yang kurang aja gitu, biasanya kan istirahat selalu ada dia hehe" kata Ify berusaha mencari alasan yang tepat. "Rio, pinjem hape lo dong" lanjut Ify.

"Buat apa fy ?" Tanya Rio heran.

"Engga, pinjem aja bentar, gak akan gue abisin kok pulsanya, beneran deh, cuma liat aja" jawab Ify sambil memasang wajah berharap.

Rio akhirnya memberikan HPnya pada Ify dengan ragu, masih bingung dengan Ify. Ify langsung menyambar ponsel Rio dengan cepat, lalu tangannya menari-nari di atas keypad, membuka phonebook, dan mencari 'alvin' dalam kolom search, lalu menyalin sederet nomor itu ke ponselnya.

"Nih" Ify memberikan posel Rio kembali pada pemiliknya, lalu tangannya mulai menari-nari di atas keypad ponselnya.

'Send' Ify menekan tombol send pada ponselnya sambil tersenyum puas, lalu mengantongi ponselnya.

"Yuk" kata Ify memecah keheningan teman-temannya yang masih heran dengan Ify.

"Pada kenapa ?" Tanya Ify polos.

"Lo makin sakit ya fy ?"Tanya Gabriel. Ify menggeleng.

"Lo salah minum obat ?" Tanya Sivia. Ify menggeleng lagi.

"Gue ada salah sama lo ?"Kali ini ganti Rio yang bertanya. Ify lagi-lagi menggeleng.

"Terus lo kenapa ?" Tanya mereka bertiga -Rio, Sivia, Gabriel- kompak. Ify tertawa.

"Gue gak apa-apa hehe" jawab Ify di sertai cengiran lebarnya.

"Tadi lemes banget, sekarang semangat, aneh" cibir Gabriel.

"Suka-suka gue, ayo ke kelas, bentar lagi waktu istirahat abis, di tabok bu Winda kapok lo!" Seru Ify lalu turun dari tempat tidur dan berjalan mendahului Rio, Sivia, dan Gabriel. Sementara mereka bertiga, hanya memandang Ify sambil mengangkat bahunya, lalu berjalan menyusul Ify.

****

Drrt...drrt...

Alvin yang sedang duduk di kelasnya merasakan posel di sakunya bergetar. Alvin langsung merogoh ponsel di sakunya.

From: +628211*******

Ka Alvin! Ini gue Ify.
Kak, pulang sekolah lo sama kak Shilla ada janji gak ?

'Ify ? Tumben" batin Alvin, lalu mulai memencet 'reply' dan membalas pesan Ify, setelah membalasnya Alvin menggeletakan ponselnya di atas meja.

***

"Tuh kan, bentar lagi masuk, untung kita cepet-cepet, kalo engga, bisa abis kita sama bu Winda" cerocos Ify begitu sampai di kelas dan melihat ke arah jam dinding yang tergantung di dekat papan tulis.

"Bawel banget sih fy, lagian juga abis ini bukan pelajaran bu Winda, telat dikit juga gak apa-apa kali" sahut Gabriel lalu berjalan ke bangkunya diikuti Sivia di belakangnya.

"Duduk fy, kaya cacing kesetanan gitu, dari tadi berdiri mulu" kata Rio yang melihat Ify berdiri di samping kursinya, dan bukannya duduk.

"Hehe" Ify hanya tertawa mendengar pernyataan Rio, lalu duduk di kursinya, tepat di sebelah Rio.

"Kenapa sih lo ? Cepet banget berubahnya, tadi lemes, sekarang seneng banget" tanya Rio heran.

"Gak apa-apa sih hehe" jawab Ify sekenannya.

"Udah sembuh emang ? Cuma tiduran gitu aja langsung sembuh, sampe sesemangat ini lagi" kata Rio lagi.

"Iya dong, kan yang ngerawatnya ganteng" gombal Ify, membuat pipi Rio memerah.

"Ciyee, Rio pipinya merah tuh" goda Ify, Rio berusaha menutupi kesaltingannya.

"Apa deh fy, udah jangan ribut, mau di marahin Pak Asep lo ?!" Kata Rio sambil menunjuk Pak Asep guru bahasa Inggrisnya. (._.)

"Marah ? Lo gila ? Ngomong aja seiprit gitu, apalagi marah, kalo marahnya lewat tulisan baru gue percaya" ledek Ify pada guru bahasa Inggrisnya yang memang terkenal pelit dalam hal berbicara. Rio menggaruk belakang kepalanya.

"Hehe, lupa gue, ya udah, nyatet aja" Rio mengeluarkan buku catatannya dan mulai menulis. Ify pun mengikutinya.

Saat sedang asik mencatat, HP di saku Ify bergetar, menandakan ada sms masuk. Ify lantas buru-buru mengambil HP disakunya.

From: Kak Alvin

Gak fy, emangnya knp ?

'Yah, Kak Alvin payah, mentang-mentang matanya sedikit, dia bales sms juga sedikit' batin Ify gak nyambung (-_-)

To: Kak Alvin

Knp kak ? Katanya mau PDKT ?
Kalo mau pdkt itu harus cpt kak, ntar di embat cowo lain sakit hati kak :" haha

From: Kak Alvin

Jangan ngedoain napa py-_-
Ya trs gue harus gimana ?._.

To: Kak Alvin

Ya ajakin kak Shilla jln dong kak-_-
Dongdong bgt sih lo, mumpung dia blm mulai sklh kan?

From: Kak Alvin

Weheeee~ tumben pinter prit? :p

To: Kak Alvin

¬_¬ sialan! Gue emang pinter dari dulu \=D/
Jadi ?

From: Kak Alvin

Jadi apaa ?

To: Kak Alvin

Cakep-cakep bego ya kak ? Errrr-___-
Ya ituu, jadi lo mau ngajakin kak shilla jalan ?

From: Kak Alvin

Okelah, mumpung hari ini gue plg cpt
Gak bljr py ?

To: Kak Alvin

FFFFY! F not P -_- belajar._. Tapi dari tadi cm nyatet doang-_-

From: Kak Alvin

Belajar sono! Ntar otak lo tambah bego lagi (‾⌣‾")♉

To: Kak Alvin

Bukannya bilang makasih udh gue ksh ide-_- malah ngatain! Ya udh gue bljr dulu

From: Kak Alvin

Eheheh~ thanks ipyy pacarnya rio item :p

Ify tertawa kecil melihat balasan pesan terakhir dari Alvin. Ify memilih tak membalasnya, dan memasukkan ponselnya ke saku bajunya.

"Ngapain sih fy ? Asik banget kayanya" tanya Rio setengah berbisik. Ify menoleh ke arah Rio.

"Hah ? Itu tadi gue abis smsan sama Kak Alvin" jawab Ify. Rio mengangguk.

"Ya udah, lanjutin aja nulisnya, ntar kalo di periksa Pak Asep lo di marahin lagi, liat catetanlo sedikit gitu" kata Rio. Kali ini Ify yang mengangguk, lalu meneruskan acara mencatatnya.

***

Pulang sekolah....

"Vi, jadi ya ?" Tanya Gabriel pada Sivia.

"Jadi yel, kalo engga kapan lagi kita ngerjainnya, besok udah harus jadi kan"jawab Sivia. Gabriel mengangguk.

"Kalian bener gabisa ikut kita ?"Tanya Rio.

"Kita kan juga mau ngerjain tugas dari Bu Win,yo, lo berdua aja deh sekalian pacaran" jawab Gabriel di sertai anggukan Sivia.

"Haha, tau aja lo berdua" jawab Rio asal.

"Si Rio asal banget kalo ngomong" kata Ify menimpali jawaban Rio.

"HALOOOO!" Seru Alvin begitu memasuki kelas X-2. Gabriel, Rio, Sivia, dan Ify menutup ke dua telinga mereka dengan tangan.

"Rusuh amat ya ampun kak Alvin" gerutu Ify. Alvin hanya nyengir lalu menghampiri meja mereka berempat.

"Rame amat mau pada kemana ?" Tanya Alvin.

"Rame ? Dari kemaren juga kita berempat terus kan vin" jawab Rio.

"Oh iya ya hehehe" kata Alvin.

"Kak Alvin hari ini jadi ?" Tanya Ify.

"Jadi kok, dia udah nungguin gue di mall, gue tinggal ke mall deh hehe" jawab Alvin.

"Mau kemana kak ?" Tanya Sivia.

"Mau menggencarkan aksi PDKT hahaha" jawab Alvin.

"Yeeeh, jawab yang bener napa kak" gerutu Sivia yang tak puas mendengar jawaban Alvin.

"Emang bener vi, kak Alvin mau pdkt" jawab Ify di sertai anggukan semangat dari Alvin.

"Sama siapa ? Katanya naksir kakak gue, sekarang udah mau PDKT sama orang lagi, gue bilangin kak Shilla nih!" Ancam Sivia.

"Lah ? Orang gut PDKTnya sama kakak lo vi" jawab Alvin.

"Kok bisa ?" Tanya Sivia yang masih belum mengerti.

"Telmi aduh via, maksud Kak Alvin itu, kak Alvin hari ini mau jalan sama kakak lo, sekalian PDKT" kata Ify gemas.

"Loh ? Berarti kakak lo gak ada di rumah dong vi ?" Tanya Gabriel.

"Gatau gue, gue sms kak Shilla dulu deh" Sivia mengeluarkan HPnya.

'Semoga kak Shilla udah ada di mall. Amin' Ify berdoa dalam hatinya.

"Lo sms gimana vi ?" Tanya Ify.

"Ya gue tanya, Kak shilla sekarang dimana, kalo masih di rumah gue suruh kakak gue bantuin gue, kalo udah ada di mall ya terpaksa harus jalan sama kakak sipit ini" jawab Sivia sambil melirik Alvin.

"Monyong banget lo vi! Bukannya dukung gue sama kakak lo!" Gerutu Alvin.

"Lo beneran suka sama kakaknya Sivia kak ?" Tanya Gabriel. Alvin mengangguk cepat.

"Asoy si Alvin, cinta mateeh huahahaha" sahut Rio.

"Alay lo yo, (-_-) tapi asik nih Kak Alvin, gue dukung lo 100 % sama kakaknya Sivia deeh" kata Gabriel sambil mengacungkan dua ibu jarinya.

Ify yang sedang tidak makan atau minum apapun pun tersedak-_-v.

"UHUK UHUK"

"Kenapa fy ? Makan engga, minum engga, tapi bisa keselek"tanya Rio heran.

"Gak apa-apa ehehe, keselek air ludah gue" jawab Ify asal.

"Gue kok bisa ya punya sahabat aneh kaya lo fy"ceplos Gabriel dan di sambut toyoran dari Ify.

'Coba aja lo liat mukanya Kak Shilla, apa mungkin lo masih bisa setuju kak Alvin sama Kak Shilla jadian yel ?' Batin Ify.

Hening sesaat....sampai akhirnya Sivia memecah keheningan.

"Yaaah, lo gak jadi ketemu Kak Shilla lagi yel, kak Shilla udah sampe di mall nih" seru Sivia sambil menatap layar ponselnya.

"Yeeh, terus yang bantuin kita siapa. ?" Tanya Gabriel.

"Tenang aja, kita tinggal lanjutin yang kemaren kemaren kok, kak Shilla udah bikin kerangkanya, tinggal kita yang ngembanginnya" jelas Sivia. Gabriel mengangguk.

"Gue pergi dulu ya, babay semuanyaa, Shilla sudah menungguku nih" pamit Alvin lebay.

"Lebay lo, vin, sukses deh bro" kata Rio. Alvin mengacungkan jempolnya lalu berlalu.

Ify menghela napas lega 'huuh, untung Kak Shilla udah sampe di mall. Maafin gue yel....'

"Fy, ke rumah sakit sekarang yuk" ajak Rio. Ify mengangguk.

"Gue sama Ify duluan yaa" pamit Rio, lalu berjalan keluar kelas bersama Ify.

"Yel, sekarang aja yuk, biar cepet selesai" ajak Sivia.

"Ayok deh" jawab Gabriel lalu berjalan bersama Sivia meninggalkan kelas.

***

"Jauh gak sih yo rumah sakitnya ?" Tanya Ify di perjalanan.

"Lumayan sih, agak ke pinggir kota gitu, deket pantai" jawab Rio, matanya tetap fokus pada jalanan.

"Jauh amat yo, rumah sakit kok di pojokan gitu, biasanya kan di tengah kota gitu yo ?" Tanya Ify heran.

"Gatau, bokap gue, tapi tempatnya keren sih, lagian itu bukan Rumah Sakit umum kok, jadi yang di rawat di situ paling cuma orang yang punya penyakit berat gitu, bukan yang kaya korban kecelakaan gitu-gitu, tapi kadang suka ada juga sih" jelas Rio. Ify mengangguk-anggukan kepalanya.

Setelah satu jam menempuh perjalanan akhirnya Rio memberhentikan mobilnya di tepi pantai.

"Kenapa berhenti di sini yo ? Main-mainnya nanti ajaa, kalo tugasnya udah selesai aja deh, takut di gorok Bu Winda kalo belum selesai. Ntar kalo tugasnya udah selesai suka-suka lo deh mau main di pantai sampe pagi juga" cerocos Ify.

"Suut, diem bentar kenapa fy, tuh rumah sakitnya udah deket, tinggal jalan bentar juga nyampe" Rio menunjuk sebuah bangunan besar berwarna putih khas rumah sakit yang terletak di depan mereka.

"Huaaaa...ini namanya bukan rumah sakit deket pantai, tapi pinggir pantai, Rio" kata Ify takjub. "Kenapa parkir mobilnya gak di rumah sakitnya sekalian ? Jadi kan gak usah jalan" tanya Ify.

"Enakan parkir di sini lagi fy, sambil jalan ke sana kan kita bisa liat pantai, lumayan juga buat cuci mata" jawab Rio.

"Enak di elo dong ya, bilang aja lo mau cari kesempatan buat cari cewe lain" kata Ify sambil menatap tajam Rio.

"Maksud gue cuci mata itu, refreshing gitu fy, bukan cari cewe baru, gue kan orangnya setia" jawab Rio. "Lagian lo takut banget kehilangan gue" lanjut Rio lagi dengan suara jahil.

"Engga, apa deh Rio ih, ayo cepetan ah, keburu makin siang" Ify berjalan mendahului Rio sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah, tapi percuma, Rio sempat melihat rona merah di pipi Ify. Rio diam memandang Ify yang kini berjalan di depannya sambil tersenyum geli.

Merasa berjalan sendiri, Ify membalikan badannya menghadap Rio yang masih diam memandangnya.

"Ayo cepetan Rioo, kok diem terus sih ? Gue tinggal loh!" Ancam Ify lalu membalikan badannya lagi. Rio berlari mensejajarkan langkahnya dengan Ify lalu merangkulnya.

"Yang ada elo yang ga bisa pulang kalo di tinggal, elo kan gak apal jalannya" kata Rio sambil terus merangkul Ify.

"Oh iya hehe"

****

"Assalamualaikum" Sivia mengucapkan salam ketika membuka pintu rumahnya. Gabriel mengikuti di belakangnya.

"Keluarga lo kemana semua vi ? Sepi banget"tanya Gabriel sambil melihat ke sekelilingnya.

"Biasa lah, papa kerja, mama biasanya nemenin papa kerja, kak Shilla kan pergi sama kak Alvin" jawab Sivia.

"Gak ada pembantu ?" Tanya Gabriel lagi.

"Biasanya sih ada, palingan juga lagi ngegosip sama pembantu-pembantu lainnya" jawab Sivia sambil merebahkan dirinya di sofa.

"Berduaan doang dong kita vi ?" Tanya Gabriel.

"Heem, tenang aja, gue gak bakal ngapa-ngapain elo kok" kata Sivia santai.

"Heh ngaco! Harusnya gue yang ngomong gitu ke elo. Lo dari dulu gitu, apa yang biasanya cowo omongin ke cewe malah lo yang omongin duluan" gerutu Gabriel.

"Halah, penting gitu? Gitu aja diribetin. Buruan ah kerjain. Biar cepet selesai" Sivia mulai mengambil kertas-kertas yang telah disiapkan Shilla di atas meja dan membuka laptopnya lalu mengerjakan tugas dari Bu Winda bersama Gabriel.

*********************************

Love Has No Reason~ #Chapter9

CHAPTER 9 : Tekad Baru Ify ?

"Fy, yel, gue balik dulu ya" kata Rio. Rio melirik jam dinding di ruang tamu Ify. Pukul 19.30. Sudah cukup. Lama Rio berada di rumah Ify.

"Yah, kok balik yo ? Katanya mau nemenin gue sampe nyokap gue balik " kata Ify kecewa.

"Kan udah ada Gabriel sayang" kata Rio lembut. Ify tertawa geli mendengar perkataan Rio.

"Yaudah deh, hati-hati ya yo" kata Ify. Rio mengangguk lalu berjalan menuju motornya.

"Rio!" Panggil Ify saat Rio hendak memakai helmnya. Rio berbalik menatap Ify.

"Kenapa fy ?" Tanya Rio sambil memamerkan senyum termanisnya yang membuat Ify merona.

"Hmm, gapapa hehe, cuma mau bilang hati-hati aja" sebenarnya bukan itu yang ingin Ify ucapkan.

Rio masih diam, hanya memandang Ify yang sekarang tengah menunduk. Rio mengerutkan keningnya.

"Kenapa liatin aku kaya gitu ? Pulang sana, udah malem, besok kamu kesiangan loh" kata Ify yang merasa di perhatikan Rio.

Rio semakin mengerutkan keningnya.
'Tumben ngomong aku kamu' batin Rio.

"Kenapa sih fy ? Tumben 'aku kamu' ? Masih ada yg mau di omongin ?" Tanya Rio mengangkat dagu Ify lalu memandang Ify lembut.

"Hemm, gak apa-apa, emangnya gak boleh gitu ya ? Bukannya kalo orang pacaran biasanya aku kamu ?!" Kata Ify agak sinis.

"Ya bukan gitu, aneh aja, kenapa sih ?" Tanya Rio lagi. Ify menggelengkan kepalanya.

"Kenapaa ?" Tanya Rio lagi. Rio turun dari motornya lalu mengajak Ify duduk di teras rumah Ify.

"Ify lo lama amat ngan..." Ucapan Gabriel terhenti saat melihat Rio dan Ify. Rio mengisyaratkan agar Gabriel masuk kembali ke rumahnya melalui isyarat matanya. Gabriel mengangguk lalu masuk lagi ke dalam rumahnya.

"Kenapa sih fy ? Aneh banget deh" tanya Rio (lagi).

"Mmm, aneh apanyaa ?" Tanya Ify balik.

"Tumben amat ngomongnya 'aku kamu' biasanya juga 'gue elo'" jelas Rio.

"Kan biasanya orang pacaran gitu yo, jadi kesannya romantis gitu, gue kan juga pengen kaya gitu" jawab Ify polos. Rio menahan tawanya.

"Emang kalo gitu romantis ya ?" Goda Rio.

"Ih Rioo!" Ify memukul-mukul bahu Rio.

"Aw aw aw! Ampun fy, hahaha iya deh iyaa" kata Rio. Ify menghentikan aksinya(?).

"Iya apa ?" Tanya Ify polos.

"Hemm iya deh kita ngomongnya 'aku kamu' emang udah biasa gitu ?" Tanya Rio.

"Belom, tapi cobain aja dulu, pokoknya lo jangan nanggepin gue kalo gue ngomongnya 'lo gue' oke" kata Ify setengah sadar. Rio mengalihkan pandangannya ke arah lain, berpura-pura tak mendengar Ify.

"Rio, lo dengerin gue gak sih ?!" Tanya Ify kesal karena merasa tak di tanggapi (-_-)

"RIOO!!!" Kata Ify lagi sambil mengguncang-guncangkan tubuh Rio. Tapi Rio tetap tak menghiraukan Ify.

"Lo kenapa sih yo ?! Nyebelin deh!" Ify beranjak dari tempatnya, lalu masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu.

"Loh, Ify kenapa ? Katanya gue di suruh cuekin dia kalo dia ngomongnya 'gue elo'" tanya Rio heran.

"Ifyy! Buka doong! Kenapa siih ?" Rio mengetuk pintu rumah Ify.

"PERGI LO! GUE AJAKIN NGOMONG MALAH GAK NYAUT!" Teriak Ify dari dalem rumah.

"Loh fy, yg nyuruh kan tad..."
"PERGI!" Teriak Ify lagi. Rio mengerutkan keningnya bingung. Benar-benar bingung.

"Ify kenapa yo ? Lo apain ?" Tanya Gabriel setelah membukakan pintu yang di kunci Ify tadi. Rio mengangkat bahunya.

"Gak tau gue tadi kan gini..." Rio menceritakan kronologis kejadian sampai akhirnya Ify marah, selesai Rio bercerita Gabriel malah tertawa.

"Kenapa lo ?" Tanya Rio.

"Pacar lo parah banget yo hahaha, yang nyuruh siapa yang marah siapa hahaha" kata Gabriel terus tertawa. Rio mendengus kesal.

"Gue bantu ngomong deh, ayo masuk" kata Gabriel saat melihat wajah kesal Rio. Rio mengikuti Gabriel masuk ke dalam rumah.

"Fy"
"Hmm"
"Sini dulu"
"Ngapain ada dia ?" Tanya Ify sinis sambil melirik Rio.

Rio menelan ludahnya. 'Ify kalo ngambek serem amat' batin Rio.

"Sini deh bentar, mau ngomong, setelah ini lo mau ngambek sama Rio juga terserah deh" kata Gabriel. Ify berjalan mendekati Gabriel dan Rio, lalu duduk di depan Rio.

"Apaan ?" Tanya Ify jutek.

"Tadi lo ngomong apaan emang sampe-sampe Rio gak nanggepin lo ?" Tanya Gabriel.

"Gue sama dia kan mau coba ngomong 'aku kamu' terus dia nanya, emang gue biasa kaya gitu, ya udah gue jawab aja Belom, tapi cobain aja dulu, gue bilang dia jangan nanggepin gue kalo gue ngomongnya 'lo gue' cuma gitu doang kok" jawab Ify. Ify diam sejenak, mengulang kembali kata-kata yang di ucapkannya dalam hati.

'"Jangan nanggepin gue kalo gue ngomongnya lo gue" MATI GUE! Yang salah gue ternyata bukan Rio!' Batin Ify kaget.

"Rioo" kata Ify manis sambil melemparkan senyumnya ke arah Rio.

"Tugas gue beres ya yo, gue ke kamar dulu, jangan ribut lagi! Berisik! gue ngantuk!" Kata Gabriel sambil ngeloyor ke kamarnya.

"Rioo" kata Ify lagi.

"Apaan ?" Tanya Rio jutek.

"Hehe, maafin gu eh aku ya, aku yang salah hehe" kata Ify. Rio melengos.

"Yah Rio maaf deeh yayaya, pelis yoo, maafin yaah, Rio ganteng deeh" rayu Ify. Rio masih diam.

"Rio maafin dong plis ya" kata Ify lagi, mukanya kali ini benar-benar memelas. Rio menahan tawanya.

"Ah rio mah!" Kini giliran Ify yang marah lagi. Sebelum Ify menjadi-jadi(?) Rio buru-buru menahan Ify.

"Eh iya iyaa, jangan marah lagi ya" kata Rio menahan tangan Ify yang mau berdiri.

"Udah maafin beneran ?" Tanya Ify. Rio menganggukan kepalanya.

"Maaf ya yo hehe, belum terbiasa sih" kata Ify lagi.

"Gapapa fy, kalo ga biasa ga usah di paksa haha" kata Rio.

"Gak usah ngomong aku kamu deh, ribet hehe" kata Ify.

"Ya deh terserah aja. Gue pulang dulu ya fy, udah malem nih, gara-gara lo ngambek jadi aja makin lama, jangan ngambek lagi, jelek!" Kata Rio sambil mengusap kepala Ify lembut.

Ify mengikuti Rio sampai depan rumahnya.

"Kenapa ngikutin ?" Tanya Rio heran. Ify menggelengkn kepalanya.

"Wanna tell me something ?" Tanya Rio. Ify menganggukan kepalanya.

"Apa ?" Tanya Rio lagi. Ify mengisyaratkan agar Rio mendekat padanya. Rio membungkukan sedikit tubuhnya, lalu Ify membisikan sesuatu.

"Aku sayang kamu" bisik Ify. Setelah mengatakan itu, Ify yang tak memberikan waktu untuk Rio mencerna 3 kata yang di bisikan Ify langsung mengecup pipi Rio, lalu berlari masuk ke rumahnya dengan wajah memerah.

Rio masih berdiri mematung di depan rumah Ify, lalu tangan kirinya mengusap pipi kirinya yang baru saja di kecup Ify. Tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar membuat Rio tersadar. Rio merogoh ponsel di sakunya.

From: Alyssa♥

Sana, katanya mau pulang, kok masih berdiri di situ sih ?

»»»»

To: Alyssa♥

Iya deeh:) aku pulang yaa ;)
Bye, see you tomorrow ya cantik:)

»»»»

From: Alyssa♥

Hemm G-O-M-B-A-L ! :p

Rio tersenyum melihat balasan Ify.

To: Alyssa♥

I want to talk something to you, can't I ?

»»»»

From: Alyssa♥

Sure :D what ? Don't make me curious please

*******

"Rio mau ngomong apa sih ?" Tanya Ify penasaran di kamarnya, tiba-tiba ponselnya bergetar.

Mariostev is calling....

"Rio" Ify langsung menekan tombol hijau lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Hal.."
"Aku juga sayang kamu"

KLIK! Sambungan telpon telah di putuskan oleh Rio.

Ify tersenyum mendengar perkataan Rio di telpon tadi. Ify masih bisa melihat Rio memasukan ponselnya ke dalam sakunya, lalu menaiki motornya dan menghilang di kegelapan malam.

"Ifyy! Curhat doong!" Kata Gabriel yang tiba-tiba masuk ke kamar Ify.

"Apaan sih ?" Tanya Ify berbalik menghadap Gabriel yang ada di belakangnya.

"Mau curhat" katanya lagi.

"Bentar bentar" mata Ify tertuju pada ponselnya, jarinya menari-nari di atas keypadnya.

"Yaudah cerita deh sekarang" kata Ify pada Gabriel, tapi pandangannya tetap pada ponselnya.

"Jadi gini tadi siang....." Gabriel menceritakan pertemuannya panjang lebar tentang pertemuannya lagi dengan pujaan hatinya pada Ify. Tapi sepertinya Ify tak menanggapi dan tetap fokus pada ponselnya.

"Gue harus gimana fy ? Masa gue harus sabar terus ?" Tanya Gabriel pada Ify. Gabriel menoleh ke arah Ify karena sedari tadi pertanyaannya tak kunjung di jawab.

"Ify"
"Hmm"
"Lo denger gue gak ?"
"Eh tadi lo nanya apa yel ? Hehe gue gak denger" tanya Ify polos sambil mengalihkan perhatiannya sebentar -catat. Sebentar-

"IFY LO DENGERIN GUE GAK SIH ? JANGAN-JANGAN GUE CERITA PANJANG LEBAR LO GAK DENGER LAGI!" Kata Gabrriel galak. Ia sudah hampir mau meledak karena kesal.

"Ehehe, santai yel hehe, lo ulang deh, gue dengerin sekarang hehe" kata Ify cengengesan.

"Sini HP lo!" Gabriel merampas paksa ponsel Ify dari tangannya.

"Mau ngapain sih lo ?" Kesal Ify.

"Nelpon pacar lo! Biar gak ganggu!" Kata Gabriel. Ify berdecak kesal.

"Halo! Yo, jangan dulu hubungin pacar lo sampai batas waktu yang gue tentuin (brs bigbro-_-v) oke! Awas lo kalo nelpon atau sms lagi!" Ancam Gabriel lalu menutup telponnya.

"Udah ?!" Tanya Ify jengkel sambil merebut ponselnya dari tangan Gabriel.

"Hehe, sekarang temenin gue curhat!" Kata Gabriel.

"Hmm cepetan" jawab Ify sekenannya.

"Gini fy...." Gabriel mengulang kembali ceritanya tentang tadi siang, dan kali ini Ify menyimaknya. Selesai Gabriel bercerita Ify mengangguk-anggukan kepalanya.

"Tadi kata lo siapa namanya ?" Tanya Ify.

"Iya itu dia, dia gak sempet ngomong, yang gue denger cuma 'S'nya doang" jawab Gabriel.

"S ? Saras, Silvia, Siti, Sarimin, Sutarjo, Supardi, Sumanto, Su..."

"STOOOPP! Ngaco amat lo! Masa cewe cantik, putih, mulus gitu namanya Sumanto, yang bener dong fy" gerutu Gabriel.

"Hehee, namanya juga cuma nebak yel hehe" kata Ify cengengesan.

"Ya udah lah, terus gimana ? Udah baikan sama Rio ?" Tanya Gabriel mengalihkan pembicaraan mereka.

"Udah doong, gue gitulooh" jawab Ify dengan bangga.

"Oon, gue malu punya sahabat kaya lo, yang salah siapa yang marah siapa" cibir Gabriel.

"Hehe khilaf tadi gue yel, lo tau sendiri gue emang orangnya gitu" kata Ify polos.

"Huh, untung aja si Rio sabar ya haha" kata Gabriel.

"Pacar gue gitu looh. Eh, mama mana yel ? Kok jam segini belum pulang ?" Tanya Ify.

"Lo sih, tadi kata nyokap lo, dia hari ini ada client gitu di Surabaya, jadi harus langsung terbang ke sana, tadi nyokap lo telpon ke elo, tapi katanya HP lo sibuk" jelas Gabriel. Ify cuma manggut-manggut.

"Berarti, gue cuma berdua sama lo dong ?" Tanya Ify sambil menunjuk Gabriel.

"Yoa~ gue gak bakal ngapa-ngapain elo kok" goda Gabriel sambil bergeser mendekati Ify. Ify memandang Gabriel takut.

"Hem yel lo mau ngapain deket-deket ?" Tanya Ify takut.

"Ngapain yaa ? Enaknya ngapain malem-malem ? (-_-V)" kata Gabriel genit.

"Yel lo mau ngapain jangan aneh-aneh deh" kata Ify takut melihat wajah Gabriel yang mesum._.V

"Ngapain aja boleh deh, asal sama lo". Goda Gabriel lagi sambil memicingkan matanya.

"Mama... Rio tolongin guee..." Teriak Ify ketakutan. Gabriel tertawa melihat Ify yang sudah ketakutan.

"Lo mau aja gue kerjain fy hahahaha, gak nafsu gue sama lo haha, udah ya gue balik ke kamar dulu ngantuk" kata Gabriel lalu kembali ke alamnya ._.

"Sialan si Gabriel, awas aja besok pagi!" Gerutu Ify.

*****

From: Mariostev

Ready ? Gue udah di bawah.

Ify membaca pesan singkat dari kekasihnya, lalu menyelempangkan tasnya lalu keluar dari kamarnya.

"Hai yo, lama ?" Tanya Ify basa-basi.

"Engga kok" jawab Rio singkat.

"Gabriel mana yo ?" Tanya Ify celingukan.

"Tadi udah berangkat duluan dia. Berangkat sekarang yu" ajak Rio. Ify mengangguk mengikuti Rio.

"Tumben bawa mobil yo ?" Tanya Ify heran yang melihat Rio membawa mobil berwarna putih.

"Pengen aja, gak apa-apa kan ?" Jawab Rio seenaknya.

Ify menghembuskan nafasnya heran. Ada yang aneh pada Rio, sifatnya hari ini terkesan lebih dingin dari biasanya.

Di dalam mobil pun Rio terlihat diam. Ify yang bosan diam terus akhirnya memecah keheningan.

"Behenti yo, gue turun di sini aja" kata Ify jutek. Rio sedikit tersentak mendengar perkataan Ify.

"Loh kok gitu fy ?" Tanya Rio heran.

"Males aja, kaya sendirian gue di sini. Berhenti dong yo" kata Ify sedikit memaksa.

"Maaf..." Lirih Rio.

"Buat apa ?" Tanya Ify masih jutek.

"Maaf kalo dari tadi gue nyuekin lo" kata Rio tulus sambil menatap lembut wajah Ify.

"Hemm, kenapa sih yo ? Ada masalah ya ? Atau gue ada salah sama lo ?" Tanya Ify mulai melunak.

"Enggak kok, gue emang ada masalah sedikit tadi di rumah" jawab Rio sambil menghela nafas pelan.

"Kenapa lagi ? Nyokap lo ?" Tebak Ify. Telak. Memang itu yang membuat Rio agak berbeda pagi hari ini. Rio diam.

"Yaudah, kalo belum mau cerita juga gak apa-apa kok" kata Ify. Rio menatap Ify sebentar.

"Maaf" kata Rio lagi.

"Iya, sekarang gue mau sekolah cepet! Gue gak mau telat terus di hukum lagi loh" Suruh Ify. Rio tersenyum.

"Hemm, iya iya tuan putri" kata Rio sambil mengusap lembut rambut Ify.

*****

"Hey pasangan paling serasi di dunia" panggil Gabriel saat Rio dan Ify baru memasuki kelas.

"Apaan ? Mau marah-marah lagi kaya kemaren ?!" Tanya Rio kesal.

"Eheheh, engga kok, kemaren gue lagi curhat tapi si Ifynya malah gak ngedengerin gue, jadi aja gue marah hehe, maafin gue ya Rio ganteng" rayu Gabriel. Rio bergidik ngeri mendengar kata-kata Gabriel.

"Jijik yel" sungut Rio.

"Rio, plis maafin gue doong, lo kan ganteng pacarnya Ify sahabat gue yang paling manis" rayu Gabriel lagi.

"Iya iya, sekarang apa mau lo ?" Tanya Rio.

"Gue gak pengen apa-apa kok, cuma mau mastiin nanti PJnya jadi kan ? Hehe" tanya Gabriel.

"Makan aja lo yang di pikirin! Udah yo duduk aja, orang kaya dia gak usah di tanggepin" kata Ify lalu duduk di kursinya, diikuti Rio.

"Dasar!" Kata Gabriel tapi sepertinya Rio dan Ify tidak mendengar.

"Vi, kakak lo jadi dateng nanti ?" Tanya Gabriel pada Sivia yang sudah duduk di sebelahnya.

"Hem ? Iya jadi kok katanya" jawab Sivia, Gabriel mengangguk lalu memainkan ponselnya sambil menunggu bel berbunyi.

*****

"Iya. Segitu saja pelajaran untuk hari ini. Oh iya, Gabriel, Sivia, Rio, dan Ify, kalian sudah menyelesaikan tugas yang saya berikan ?" Tanya bu Winda di akhir pelajaran.

"Hemm tinggal di susun lagi bu" kata Rio mewakili.

"Baguslah, waktu kalian tinggal 3 hari lagi, kumpulkan langsung di meja ibu" perintah bu Winda. Mereka berempat (rio, ify, sivia, gabriel) hanya mengangguk.

Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi.

"Kak Alvin mana vi ? Tumben istirahat gini gak ke sini ?" Tanya Gabriel.

"Gatau. Tadi sih bilangnya dia masih ada tugas dari gurunya gitu" jawab Sivia. Tak lama kemudian Alvin datang dengan tergesa-gesa.

"Nah itu dia orangnya" kata Sivia sambil menunjuk Alvin. Gabriel langsung menoleh ke arah yang di tunjuk Sivia.

"Hayo looh, lo semua lagi pada ngomongin gue yaa ?" Tanya Alvin pada Gabriel dan Sivia.

"PD kak, tapi emang sih hehe" jawab Sivia. Alvin hanya tersenyum.

"Yo, fy, pulang sekolah jadi kaan" kata Alvin pada Rio dan Ify. Mereka berdua menoleh.

"Heem, jadi kok kak" jawab Ify.

"Oke sip, good, vi, kakak lo jadi ikut kan ?" Tanya Alvin pada Sivia dengan senyuman lebarnya.

"Jadi kak Alviin, tapi kalo dia berubah fikiran di luar kehendak gue ya, tapi tenang, katanya dia usahain dateng" jawab Sivia. Alvin tersenyum lebar.

"Oke vi, gue tunggu kakak lo gitu, bilangin ya! Hehe gue balik ke kelas ya, bye, sampe jumpa pulang sekolah" pamit Alvin sambil melambaikan tangannya.

"Kak Alvin kayaknya seneng banget ya kalo ada kakaknya Sivia" komentar Ify setelah Alvin menghilang dari kelasnya.

"Iya, gue sih seneng aja, daripada Alvin kaya dulu lagi" jawab Rio.

"Dulu ?" Tanya Ify heren.

"Sst, bel udah bunyi" kata Rio saat mendengar bel masuk berbunyi. Bu Winda pun masuk ke dalam kelaz X-2 dan membuat anak-anak heran.

"Jadwalnya pelajaran apa sih ? Masa bu Winda lagi ?" Tanya Gabriel heran.

"Tau tuh, masa bu Winda mulu, sepet banget gue liat mukanya" gerutu Sivia di sertai anggukan kepala Gabriel.

"Anak-anak, saya hanya ingin mengabarkan bahwa guru yang guru yang seharusnya mengajar kalian sedang sakit, dan tidak ada guru penggantinya, jadi hari ini pelajaran kalian kosong" jelas bu Winda. Anak-anak X-2 langsung bersorak gembira. Mereka semua langsung keluar dari kelas.

"Vi, ke perpus yu, cari-cari bahan buat karya ilmiah lagi" ajak Gabriel.

"Emangnya boleh ? Bukannya kita gak boleh keluar ?" Tanya Sivia.

"Boleh, gue udah minta izin ke bu Winda, dia juga udah nyuruh penjaga perpusnya ngawasin kita" jawab Gabriel.

"Ayo deh" kata Sivia. Lalu Gabriel dan Sivia pergi keluar kelas menuju ke Perpustakaan. Di kelas hanya ada tinggal Rio dan Ify.

"Yah, tinggal kita berdua fy" kata Rio. Ify mengangguk.

"Yo, Kak Alvin yang kaya dulu emang kaya gimana sih ?" Tanya Ify.

"Ya gitu, gue kan kenal Alvin udah lama, dulu Alvin itu anaknya rame banget, ya kaya Alvin yang sekarang aja, tapi sifatnya Alvin berubah 180 derajat pas nyokapnya meninggal, Alvin jadi pendiem, dingin, jutek sama sekelilingnya, dan gak pernah mau peduli. Sama kayak gue lah waktu lo tinggalin gue dulu" kata Rio. Rio diam sejenak untuk mengambil nafas.

"Maksud lo apa yo ?" Tanya Ify heran.

"Ish, diem dulu dong, gue lanjutin cerita gue dulu" kata Rio. Ify hanya manggut-manggut heran.

"Nah sifatnya Alvin itu cuma bisa kembali kalo dia lagi main basket doang, akhirnya selama ini gue yang selalu nemenin Alvin main basket. Alvin juga pernah cerita kalo dia punya sahabat cewek, tapi sahabatnya itu gak tau kemana, dan gue baru tahu kalo sahabatnya Alvin itu Sivia, akhir-akhir ini Alvin keliatan bahagia banget, mungkin karena dia juga ketemu kakaknya Sivia, dan gue yakin kalo Alvin itu suka sama kakaknya Via. Gue harap gak akan ada yang ngerusak kebahagiaan Alvin sekarang"jelas Rio.

"Semoga aja deh" kata Ify.

"Gue gak mau liat Alvin berubah kaya dulu lagi" kata Rio sambil menghela nafas. Beberapa saat mereka terdiam.

"Yo"
"Hmm"
"Emm, tadi pagi....ada masalah apa ?" Tanya Ify hati-hati, ia tak ingin merusak mood Rio. Rio menoleh ke arah Ify dan menatapnya.

"Eh, kalo gak mau cerita gak apa-apa kok hehe, emm, yo, lo bawa uang berapa ? Takutnya gak cukup haha, mereka kan makannya ganas semua" kata Ify mengalihkan pembicaraannya dan tertawa setengah memaksa. Rio tetap memandang ke arah Ify.

"Eh Rio, jangan ngeliatin gue kayak gitu, hehe gue malu" kata Ify lagi.

"Fy"
"Hmm, kenapa yo ?"
"Maaf..." Kata Rio lirih.

"Minta maaf mulu lo dari pagi hehe" kata Ify mencoba mencairkan suasana.

"Gue minta maaf banget fy, tapi gue belom bisa cerita sama lo" ucap Rio. Ify tersenyum.

"Gak apa-apa Rio, udah dong mellow amit hihi" kata Ify sambil tertawa.

"Hahaha, lo dari dulu selalu bisa ngebangkitin mood gue fy" kata Rio sambil membelai puncak kepala Ify lembut.

"Loh kok dul..." Rio meletakan telunjuknya di bibir Ify.

"Ssst, Gabriel nelpon, tunggu ya" kata Rio sambil mengangkat telpon dari Gabriel.

'Heran gue, setiap gue mau nanyain ke Rio tentang omongannya yang aneh-aneh, pasti ada aja penghalangnya' gerutu Ify dalam hati.

"Fy!" Kata Rio senang begitu menutup telpon Gabriel. Ify memandang Rio heran.

"Beres-beres cepetan!" Suruh Rio.

"Mau ngapain yo ?" Tanya Ify heran.

"Ayo, sekarang kita ke kafenya" ajak Rio.

"Pelajaran gimana ?" Tanya Ify lagi.

"Guru rapat, murid-murid boleh pulang duluan, yaudah, keburu sore, jadi sekarang aja yuk" ajak Rio lagi. Ify mengangguk lalu membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja.

"Gabriel sama Sivia ?" Tanya Ify.

"Nanti nyusul kok yuk" kata Rio sambil menarik tangan Ify menuju parkiran.

*****

"Yel, kita berangkat sekarang yuk" ajak Sivia.

"Yuk, Rio sama Ify udah berangkat kan ya ?" Tanya Gabriel. Sivia mengangguk.

"Yel, gue nebeng ya hehe" kata Via sambil memamerkan giginya (ngerti ga ? Nyengir gitu ._.v)

"Huft...iya deh ayo!" Kata Gabriel. Lalu mereka berdua meninggalkan perpustakaan.

Saat melewati lapangan, Gabriel di panggil oleh Pak Chiko, guru olahraga sekaligus pelatih basketnya.

"Gabriel!" Panggil Pak Chiko. Gabriel menoleh lalu menghampiri Pak Chiko.

"Rio mana ?" Tanya Pak Chiko.

"Rio sudah pulang duluan pak, ada apa pak ?" Tanya Gabriel.

"Begini, kamu dan Mario akan saya jadikan perwakilan dari kelas X untuk mengikuti tes pemilihan tim inti minggu depan, bisa ?" Tanya Pak Chiko.

"Bisa pak, nanti Rio biar saya saja yang memberitahu" jawab Gabriel. Pak Chiko tersenyum puas.

"Baik, kalau begitu, kamu ikut saya sebentar, akan ada pengarahan untuk semua perwakilan, berhubung Mario sudah pulang, jadi kamu saja yang mewakilkan ya" kata Pak Chiko. Gabriel mengangguk.

"Kalau begitu, saya tunggu di ruang olahraga" kata Pak Chiko sambil menepuk bahu Gabriel, lalu berjalan menuju ruang olahraga. Gabriel berjalan menhampiri Sivia.

"Yah vi, gue harus ikut kumpul dulu di ruang olahraga, lo mau berangkat duluan atau nungguin gue ?" Tanya Gabriel.

"Gue duluan aja deh ya yel" kata Sivia.

"Oke, hati-hati ya vi, gue nanti nyusul kok, bye" kata Gabriel sambil melambaikan tangannya, lalu melangkah menuju ruang olahraga.

*****

Sivia sedang menunggu taksi di depan sekolahnya, sampai Alvin datang dan memberhentikan motornya tepat di sebelah Sivia.

"Mau ke mana vi ? Kafe ?" Tanya Alvin. Sivia terlonjak kaget.

"Kak Alv! Ngagetin aja lo! Iya gue mau ke kafe" jawab Sivia.

"Gabriel, Rio, sama Ify mana ?" Tanya Alvin heran saat melihat hanya ada Sivia sendiri di situ.

"Rio sama Ify udah duluan ke sana, Gabriel tadi di suruh ke ruang olahraga sama pak Chiko" jawab Sivia.

"Oh, kumpul basket ya ?" Tanya Alvin. Sivia mengangguk.

"Ya udah, lo bareng gue aja, ayo naik" Sivia pun naik ke motor Alvin.

"Vi, kakak lo udah di bilangin ?" Tanya Alvin.

"Udah kak, kakak gue juga lagi di jalan kok" jawab Sivia.

"Duh, seneng amat lo kalo udah ketemu Kak Shilla" goda Sivia.

"Hehe, iya dong" jawab Alvin malu-malu.

*****

"Fy, Gabriel, Sivia, sama Alvin mana sih ?" Tanya Rio pada Ify yang sudah duduk di kafe.

"Gatau gue, mereka masih di jalan kali"jawab Ify.

Tak lama kemudian datang Alvin dan Sivia.

"Hey vin, vi!" Panggil Rio sambil melambaikan tangannya.

Alvin dan Sivia mendekati meja Rio dan Ify.

"Gabriel mana ?" Tanya Ify.

"Gabriel di panggil Pak Chiko dulu. Oh iya, lo juga kepilih jadi salah satu perwakilan anak kelas X yang ikutan seleksi tim inti basket sekolah kita" kata Alvin.

"Kita maen bareng lagi vin" kata Rio.

"Yoa men~" balas Alvin.

"Kakak lo mana vi ?" Tanya Ify.

"Belum dateng, paling bentar lagi... Nah itu dia" kata Sivia sambil menunjuk seorang gadis manis yang sedang berjalan ke arah mereka.

"Siaang" sapa Shilla ramah.

"Nah yo, fy, ini kakak gue, kak Shilla, kak Shilla, ini sahabat gue, yang ini Ify, nah sebelahnya itu pacarnya, Rio" jelas Sivia.

"Oh jadi ini yang mau nraktir gue, hai, gue Shilla" kata Shilla.

"Rio"

"Ify" rio dan Ify berjabat tangan dengan Shilla.

"Loh vi, katanya ada 6 orang yg ikut, ini kan cuma 5, satu lagi mana ?" Tanya Shilla.

"Oh satu lagi Gabriel, dia tadi di panggil guru dulu" jelas Sivia. Akhirnya mereka ber5 mengobrol sambil menunggu Gabriel.

Tiba-tiba ponsel Shilla berdering.

Mama is calling.....

"Bentar ya semua, gue angkat telpon dulu" lalu Shilla berjalan agak jauh untuk mengangkat telpon. Beberapa saat kemudian Shilla kembali lagi.

"Aduh semuanya, sori banget ya, tapi nyokap gue maksa gue supaya ikut nganterin dia belanja, dan gu gak bisa nolak, sori banget ya, kayanya gue harus duluan" kata Shill.

"Ck! Mama tuh emang seneng banget maksa" gerutu Sivia.

"Iya gak apa-apa kok kak Shilla, makasih udah mau dateng ya" kata Ify lantas tersenyum.

"Iya, sama-sama, langgeng ya lo berdua" kata Shill dan di amini oleh yang lainnya.

"Shill, gue anter ya" tawar Alvin.

"Gak usah vin, ada supir kok, gue duluan ya semua" pamit Shilla lalu berjalan ke luar dari kafe.

"Hai! Lo semua gak ninggalin gue kan!" Sapa seseorang dengan cerianya.

"Gabriel! Lama amat lo!" Seru Ify.

"Hehe, sori deh, Pak Chiko bacotnya banyak banget (._.V) yo, minggu depan tes tim inti yo" kata Gabriel. Rio mengacungkan jempolnya.

"Loh kakak lo belom dateng vi ?" Tanya Gabriel.

"Kakak gue baru aja pulang, dia dipaksa nyokap gue buat nemenin belanja, biasa nyokap gue kan seneng banget maksa" kata Sivia.

"Yah ga ketemu lagi gue haha" kata Gabriel.

"Udah yuk, pesen makan aja! Laper gue hehe" kata Alvin sambil nyengir.

Akhirnya mereka ber5 makan dengan lahap dan bercanda bersama.

*****

"Ifyy, maaf banget gue gak bisa ngenterin lo pulang, gue di paksa papa ke kantor sekarang juga" sesal Rio.

"Iya gak apa-apa kok, gue sama Gabriel aja, gapapa kan yel ?" Tanya Ify pada Gabriel. Gabriel hanya mengangguk.

"Oke, gue titip Ify ya yel. Bye fy, nanti malem gue telpon. Vin, vi, gue duluan ya" pamit Rio. Lalu dengan tergesa-gesa menuju ke mobilnya.

"Yel, fy, gue nganter Sivia ya, bye" pamit Alvin juga.

"Yuk fy pulang" ajak Gabriel karena tinggal mereka berdua. Ify mengangguk.

Di perjalanan....

"Yel mumpung belum terlalu sore mampir ke mall bentar ya" ajak Ify.

"Boleh deh, di rumah lo juga sepi" akhirnya Gabriel dan Ify menuju salah satu mall.

Di mall mereka berdua jalan-jalan berdua dan memakan es krim.

BRAAAAK!

"Aduh sori sori" kata Ify, saat sedang berjalan ia menabrak seorang gadis.

"Eh iya, gue juga minta maaf" kata gadis Itu.

"Loh! Lo kan yang waktu itu gue tabrak" kata Gabriel mengenali gadis itu yang ternyata adalah gadis pujaannya (Shilla. Shilla hanya tersenyum. Kemudian Gabriel berbisik ke Ify.

"Ini cewek yang gue ceritain ke elo fy" bisik Gabriel. Ify terbelalak mendengarnya.

"Eh iya nama lo siapa ?" Tanya Gabriel.

"Eh, bentar ya bentar, aduh, fy, gue ke toilet bentar ya, panggilan alam nih" kata Gabriel lalu ngacir ke toilet.

"Dia siapa fy ?" Tanya Shilla membuyarkan lamunan Ify.

"Eh ah ? Emm itu Gabriel kak" jawab Ify dengan senyum masam.

"Aduh, gue udah di panggil nyokap nih, gue duluan ya fy" kata Shilla lalu pergi. Ify duduk di salah satu bangku yang ada.

"Kak Shilla ternyata cewek yang di sukain Gabriel. Tapi kak Alvin juga kayanya cinta sama Kak Shilla. Kata Rio, kak Alvin begitu seneng bisa ketemu kak Shilla, dan sifat kak Alvin kembali lagi ke semula semenjak ketemu kak Shilla lagi. Kalo Kak Alvin tahu Gabriel suka juga gimana ? Gue takut kak Alvin berubah kaya dulu lagi. Tapi gue juga gak mau Gabriel sakit hati" pikir Ify.

"Hai fy lama, loh cewe yg tadi mana fy ?" Tanya Gabriel.

"Udah pulang" jawab Ify lemas.

"Pulang yu yel" ajak Ify gabriel bingung melihat ify yg jadi tak bersemangat.

Sampai di rumah pun Ify masih tak bersemangat memikirkan antara Gabriel-Alvin-Shilla. Bahkan telpon Rio pun Ify abaikan. Ify benar-benar pusing. Satu tekad Ify terfikir dalam benaknya.

»»»»»»»»»»»»»»»

Love Has No Reason~ #Chapter8

Chapter 8 : Memang Belum Saatnya

Rio mengantarkan Ify pulang ke rumahnya, bahkan mungkin akan mengantarkannya sampai ke kamarnya. Mengingat sekarang status Ify sudah menjadi gadisnya, Rio merasa bertanggung jawab.

Sesekali Rio melirik ke arah gadis manis di sebelahnya ini. Lalu tersenyum simpul. Menatap wajah gadis yang kini sedang terlelap di dalam mobilnya. Melihat wajah polos gadis ini saat sedang tertidur semakin memantapkan hatinya, bahwa ia memang tak salah pilih.

Rio berhenti di sebuah rumah berwarna orange. Rumah itu terlihat sepi, mungkin karena pemiliknya sudah terlelap. Rio melirik jam di tangannya. Pukul 22.15. Tinggal beberapa jam lagi menuju tengah malam.

Niat Rio untuk membangunkan Ify terpaksa diurungkannya, karena melihat Ify yang tertidur pulas, sepertinya ia kelelahan. Maka Rio keluar dari mobilnya, lalu berjalan ke sisi lain mobilnya. Rio akhirnya menggendong Ify keluar dari mobilnya. Sampai di depan pintu rumah Ify, Rio susah payah mengetuknya. Beberapa saat kemudian keluar Gabriel dari rumah Ify.

"Rio ?"Kata Gabriel.

"Yel ? Ngapain di sini ?" Tanya Rio heran.

"Gue kan emang nginep di sini beberapa minggu, emang Ify gak ngasih tau ?" Tanya Gabriel. Rio menggeleng.

"Ya udah deh, yang penting lo sekarang tau, ini si Ify lo apain sampe teler gini yo ?" Tanya Gabriel asal.

"Tadinya mau gue apa-apain, tapi gak jadi ah" jawab Rio ikutan asal. Gabriel langsung menoyor Rio.

"Jangan asal toyor yel, gue lagi bawa sahabat lo tercinta nih, ntar kalo jatuh gimana ?" Kata Rio sambil melirik Ify.

"Oh iya gue lupa hehe" jawab Gabriel.

"Buruan, tunjukin kamar Ify, gue pegel nih yel" gerutu Rio. Gabriel pun masuk ke dalam rumah, dan menunjukkan kamar Ify. Rio memperhatikan sekelilingnya.

"Nyokapnya Ify mana yel ?" Tanya Rio.

"Nyokapnya udah tidur tadi, dia nungguin si Ify gak balik-balik" jawab Gabriel. "Lo masuk aja gih, gue nunggu di bawah ya, jangan lo apa-apain awas!" Kata Gabriel setelah sampai di kamar Ify.

Rio membawa Ify masuk ke kamarnya, lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Rio duduk di samping Ify, memandang wajah gadisnya untuk yang entah ke berapa kalinya hari ini.

Rio membungkukan badannya, lalu mencium kening Ify. Setelah itu, Rio berbisik di telinga Ify.

"Good night. Sleep tight my dear. Believe me, everything gonna be okay after this night. I swear I'll protect you, sa" kata Rio lembut. Lalu Rio keluar dari kamar Ify, dan turun menuju ruang tamu Ify.

Gabriel tersenyum melihat Rio. "Duduk dulu yo" kata Gabriel. Rio mengangguk lalu duduk di salah satu sofa di dekat Gabriel.

"Jadi ? Gimana ceritanya ?" Tanya Gabriel. Rio mengalihkan pandangannya menuju Gabriel. Lalu menaikkan alisnya tanda bingung.

"Gimana ceritanya lo bisa jadian sama Ify ?" Tanya Gabriel lagi. Rio tertawa kecil.

"Dari mana lo tahu ?" Tanya Rio.

"Gak ada yang ngasih tau gue emang. Tapi, gak mungkin lo bisa cium cium si Ify, kalo emang kalian belum jadian" jelas Gabriel. Lagi-lagi Rio hanya tersenyum kecil.

"Penting ya emang ? Kalo emang penting, gue ceritanya besok aja ya, ngantuk nih gue, mau tidur, pulang dulu ya gue. Oh iya, titip salam buat sahabat lo itu haha, bye Gabs, see you" kata Rio lalu keluar menuju mobilnya yang terparkir rapi di depan rumah Ify. Gabriel hanya mendengus kecil.

Keesokan harinya....

"Ify ! Bangun fy! Tuh pacar lo udah nungguin di bawah, masa jam segini masih belum bangun!" Kata Gabriel sambil menggedor pintu kamar Ify.

"Gue udah siap kok, suruh tunggu bentar, bentar lagi gue turun kok" kata Ify dari dalam kamarnya. Gabriel hanya mengangkat bahunya, lalu turun ke ruang tamu.

"Tunggu bentar katanya yo, pacar baru lo itu emang lelet banget kalo mau berangkat sekolah" kata Gabriel. Rio tersenyum geli mendengar kata 'pacar baru' jujur sampai sekarang, Rio masih merasa bermimpi bisa jadian dengan Ify. Gabriel juga sudah tahu acara penembakan Rio kepada Ify.

"Eh yel, nyokap bokapnya Ify mana ?" Tanya Rio sambil celingukan.

"Nyokapnya tadi pagi udah pergi ke kantor, katanya ada meeting, kalo bokapnya emang lagi dines gitu, jadi gak pulang" jelas Gabriel. Rio hanya meng-o-kan mulutnya.

Tak lama kemudian Ify turun dari kamarnya, sambil membereskan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi.

"Pagi fy" kata Rio. Ify menatap Rio, lalu tersenyum sambil kembali membereskan rambutnya yang jauh dari kata berantakan.

"Udah cantik kok fy, berangkat aja yuk" kata Rio. Wajah Ify memanas mendengar perkataan Rio.

"Gih sana deh lo berdua, umbar kemesraan banget sih, udah tau gue jomblo, sana ah! Liat aja nanti lo, gue tagih PJ gede-gedean di kantin." Gerutu Gabriel sambil mendorong Rio dan Ify. Rio dan Ify hanya tertawa.

"Mentang-mentang udah jadian, dasar gila!" Kata Gabriel setelah Rio dan Ify pergi.

"Liat aja! Kalo gue ketemu lagi sama cewe yang waktu itu, gue gak bakal nyia-nyiain lagi. Gue bakal tanya namanya, alamatnya, nomor HPnya, warna kesukaannya, tanggal lahirnya, angka favoritnya, makanan kesukaannya, minuman kesukaannya, pokoknya semuanya deh" kata Gabriel lagi.

"Haha, gue gila deh, ngayal mulu~ berangkat ah" kata Gabriel lalu menyambar kunci motornya yang tergeletak di meja.

Saat sedang melewati jalan yang agak sepi, Gabriel melihat gadis cantik sedang berdiri di pinggir jalan. Gadis itu menunduk, sehingga rambutnya menutupi wajahnya. Gabriel langsung mengalihkan pandangannya ke arah kaki gadis ini. Gabriel ingin memastikan apakah kaki gadis itu masih berpijak pada tanah atau tidak(-_-) dan TERNYATA kaki gadis itu..... Masih napak pada tanah (? -_-V). Gabriel menghela napas lega. Lalu mendekati gadis itu.

"Hei" sapa Gabriel. Gadis itu mendongakan kepalanya, saat melihat wajah gadis itu Gabriel kaget.

"Elo ngapain di sini ? Kaya orang gila aja di pinggir jalan ?" Tanya Gabriel.

"Ih, lo ngapain di sini ? Pake ngatain gue orang gila lagi!" Tanya gadis itu.

"Gue nanya, elo malah nanya balik. Gue emang tiap berangkat sekolah lewat sini kali, elo yang ngapain ada di sini ?" Tanya Gabriel lagi.

"Gue nungguin angkot dari tadi, tapi gak ada yang lewat" jawab gadis itu dengan muka memelas. Gabriel malah tertawa.

"Ngapain lo ketawa ?!" Tanya gadis itu sinis.

"Haha, gapapa, lo lucu banget, gak akan ada angkot di sini nona, baru pertama kali naik angkot ya ? Kalo mau naik angkot itu tuh di depan sana, jangan di sini, lo aneh-anah aja deh vi" kata Gabriel melanjutkan tertawa. Sementara gadis yang di panggil 'vi' tadi hanya cemberut.

"Udah sana lo, ntar telat ke sekolah, lo jalan dulu ke depan terus naik angkot di depan. Gue duluan yaa" kata Gabriel.

'Dasar cowo gak peka! Bukannya ajakin bareng atau gimana, ih!' Batin siVIa dalam hati.

Saat Gabriel akan melajukan motornya tiba-tiba Sivia menarik tangan Gabriel.

"Apaan lagi vi ?" Tanya Gabriel heran.

"Anterin dong yel, lo tega banget ngebiarin cewe cantik kaya gue nungguin angkot sendirian" pinta Sivia dengan wajah memelas.

Gabriel menaikkan sebelah alisnya."Ogah ah vi, lo naik angkot aja sana, nanti kalo di jalan gue ketemu pujaan hati gue gimana ?" Tanya Gabriel.

"Yah Gabriel, lo jahat banget sih, sekali inii aja, peliiis, pelis banget yel, gue traktir deh nanti di kantin" kata Sivia. Gabriel tampak berfikir.

"Oke deh, naik lo, tapi nanti traktir ya Vi" kata Gabriel. Sivia mengangguk cepat lalu naik ke motor Gabriel. Gabriel mulai melajukan motornya menuju ke sekolah.

"Yel"kaya Sivia.
"Hmm"
"Boleh pegangan gak ?" Tanya Sivia polos.
"Hahaha, via Via, dimana-mana tuh ya cowok yang harusnya nyuruh ceweknya pegangan, ini malah kebalikannya hahaha" kata Gabriel. Sivia lagi-lagi cemberut.

"Kalo nungguin lo yang ngomong mah kelamaan yel, lo kan gak pernah pek" ceplos Via. Gabriel tersenyum lalu menarik tangan Sivia.

"Mau pegangan di jaket gue atau mau di pinggang gue kaya di film-film ?" Tanya Gabriel. Wajah Sivia memerah menahan malu.

"Haha, cepetan, mau di mana nih ?" Goda Gabriel lagi.

"Udah gak usah aja" Sivia cepat-cepat menarik tangannya.

"Udah sini, biar kaya yang di film-film, haha"Gabriel menarik tangan Sivia lagi lalu melingkarkannya hingga ke depan perutnya. Sivia merasakan wajahnya sudah siap makan (re: matang)

****

Di kelas....
"Gabriel belum dateng ya fy ?" Tanya Rio begitu masuk ke kelas.

"Belum kayaknya, lagian pasti duluan kita, orang kita berangkat duluan" jawab Ify. Rio tertawa.

"Oh iya ya haha" kata Rio. "Fy, gue masih berasa mimpi deh" kata Rio lagi. Ify menatap Rio.

"Mimpi apaan yo ?" Tanya Ify polos. Rio mendengus pelan.

"Itu loh yang semalem" kata Rio. Ify masih mengerutkan keningnya.

"Kemaren kenapa emangnya ?" Tanya Ify lagi.

"Kamu gak inget gitu fy ? Tanya Rio. Ify menggelengkan kepalanya. "Ya ampun, belum sehari jadian aja kamu udah lupa hari jadian kita" gerutu Rio. Ify terus menatap Rio. Lalu tiba-tiba menepuk keningnya sendiri.

"Gue lupa yo, haha, serius sumpah lupa, gue gak nyangka aja kita bisa jadian secepat ini hahaha" kata Ify sambil tertawa. Rio tetap memajukan bibirnya.

"Yah Rio, maaf deh, gue beneran lupa, suer deh, maaf ya yo" kata Ify memasang wajah memelasnya. Sebenarnya Rio tak bisa menahan tawanya melihat wajah Ify yang begitu menggelikan. Tapi, Rio tetap berpura-pura marah.

"Rio, maafin dong, maaf ya, Ify lupa beneran deh" kata Ify dengan gaya anak kecil. Rio hanya memalingkan wajahnya.

"Ih Rio kok marah sih!" Ify kini berfikir bagaimana caranya agara Rio tak marah lagi padanya.

Lalu tiba-tiba CUPPP! Ify mengecup pipi kiri Rio. Rio kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Ify. Rio buru-buru menoleh ke arah Ify yang kini sedang tertunduk.

"Fy" kata Rio speechless. Ify tetap menunduk."Lo gila ? Ini di kelas fy" kata Rio lagi. Ify hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Udah tuan dan nyonya adegan mesranya ? Saya sudah boleh masuk kan ?" Sindir Gabriel dari depan pintunya. Di belakangnya ada Sivia yang sedang tertawa geli.

"Lo ? Sejak kapan ada di situ ?" Tanya Rio.

"Sejak kapan vi ?" Gabriel malah melempar pertanyaan yang di tujukan untuknya pada Sivia.

"Emm, kapan ya ? Lupa gue, yang gue inget ciumannya Ify mesra banget tadi" kata Sivia pura-pura gak tau. Wajah Ify memerah sekali lagi.

"Lama dong ?" Tanya Rio polos.
"Menurut lo ?" Kata Gabriel lalu berjalan menuju bangkunya. Sivia juga ikut berjalan di belakang Gabriel, pada saat dia melewati meja Ify, Sivia berhenti sebentar.

"Lo utang cerita plus utang PJ sama gue" kata Sivia pelan.

"Woy! Kalo PJ gue juga belum kecipratan" kata Gabriel, sepertinya mendengar perkataan Sivia.

"Kayanya gak bisa PJ deh, ya gak fy ? Kita kan gak boleh ke kantin seminggu" kata Rio puas. Tapi, bukan Gabriel namanya kalo tidak bisa mencari alternatif lain.

"Besok di kafe Mutiara jam 4 sore, wajib dateng! Nanti gue ajak kak Alvin, sama kakak lo juga Vi, kalo mereka berdua kabur gue tagih sampe kapanpun" kata Gabriel tagas. Rio mendengus kesal.

"Sip yel haha, tapi kenapa gak sekarang aja ?" Tanya Sivia.

"Hari ini kita gak bisa vi, kita ngerjain tugas karya ilmiah dari bu Winda hari ini aja, biar cepet selesai" jelas Gabriel. Sivia menepuk keningnya.

"Hampir aja gue lupa di kasih tugas tambahan sama bu Winda, di mana ngerjainnya yel ?" Tanya Via lagi.

"Di rumah lo aja gimana vi ? Sekalian gue pengen ketemu kakak lo, oke ?" Jawab Gabriel. Sivia hanya menganggukan kepalanya.

Kembali ke meja RiFy...
"Yo, kita kapan mau ngerjain tugas dari bu Winda ?" Tanya Ify pada Rio.

"As soon as possible" jawab Rio asal. Ify melempar buku tulisnya ke kepala Rio.

"Aduh, sakit ify!" Kata Rio meringis sambil mengusap-usap kepalanya.

"Makanya kalo di tanya jangan asal!" Kata Ify tegas.

"Iya nona Mario" kata Rio santai. Ify berdecak kesal.

"Kali ini gak mempan, buruan jawab, kapan mau ngerjainnya ?" Tanya Ify lagi. Rio mengalihkan pandangannya menuju Ify. Selama beberapa saat Ify tenggelam menikmati mata bening itu. Rio juga asyik menikmati wajah gadisnya ini.

"Bubar bubar! Bahaya kalo gini terus" gabriel mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Rio dan Ify. Sivia tertawa melihat Gabriel.

"Ganggu banget lo yel" gerutu Rio.

"Rio, kapan ?" Tanya Ify lembut.

"Hehe, jangan lembut gitu ah, gue jadi malu, lusa aja gimana ? Hehe" kata Rio cengengesan. Ify menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Yaudah deh, lusa ya, dimana ?" Tanya Ify lagi.

"Kita kan di suruh ke rumah kanker, masa ngerjain di rumah lo sih" kata Rio.

"Oh iya ya hehe, emangnya lo tahu tempat rumah kanker di mana ?" Rio mengangguk.

"Di rumah sakit bokap gue ada kok tempat khusus buat anak-anak penderita kanker" jawab Rio. Ify membulatkan matanya.

"Bokap lo punya rumah sakit yo ?" Tanya Ify tak percaya. Rio mengangguk.

"Gak usah pura-pura lupa deh fy, dulu aja lo sering ke sana kan ?" Kata Rio santai. Ify lagi-lagi mengerutkan keningnya bingung.

"Yo gue kan baru ken...." Rio menaruh telunjuknya di bibir Ify.

"Udah ada bu Winda, lo gak mau kena marah lagi kan ?" Rio buru-buru memperhatikan bu Winda yang baru masuk ke kelas. Ify terpaksa menyimpan pertanyaannya itu rapat-rapat. Lalu memperhatikan pelajaran karena takut mendapat hukuman lagi.

****
"Haaai!" Sapa Alvin begitu memasuki kelas X-2, hal yang sudah menjadi kebiasaan rutin bagi Alvin untuk beberapa hari ini. Maka hari ini pun, anak-anak X-2 tidak ada yang heran melihat Alvin di kelas mereka.

"Via, nanti pulang sekolah mau bareng gak ?" Tawar Alvin pada Sivia.

"Ciyeee gak kakaknya sekarang adeknya juga nih" goda Gabriel.

"Sirik ya lo yel ? Gak bisa ngajakin Sivia jalan ?" Tanya Alvin sambil menjulurkan lidahnya.

"Maaf ya, nanti pulang sekolah Sivia pulang bareng gue tuh, jadi lo pulang aja sendiri kak" jawab Gabriel santai, tapi penuh kemenangan.

"Heh, dari pada rebutin Sivia mendingan rebutin gue aja" kata Ify yang baru bergabung.

"Yakin lo fy ? Beneran ya ? Ya udah gue nanti pulang bareng lo deh" kata Alvin asal.

"Eh vin! Jangan! Enak aja lo, cewek gue nih, maen lo ajak pulang aja vin!" Gerutu Rio. Ify tertawa melihat Rio.

"Dia ? Cewek lo yo ? Ckckck, gak nyangka gue lo suka sama cewek macem beginian"kata Alvin polos.

"Kak ALVIN!! Maksud lo apa ??!"Tanya Ify kesal. Alvin menelan ludah.

"Salah ngomong gue, bangunin macan tidur nih" kata Alvin pelan.

"Enggak fy, hehe, iya si Rio kok bisa suka sama cewek imut, manis, cantik, baik, lucu, tidak sombong, rajin menabung, rajin ibadah, cinta orang tua kaya lo hehe" kata Alvin mencari alibi. Ify hanya mendengus kesal.

"Hahaha, hebat ya cewek gue, lo aja takut vin haha, lagian gue udah kepentok cinta sama dia, gue aja gatau kenapa bisa suka sama dia haha" jawab Rio. Ify menyikut pelan lengan Rio.

"Ciyeee deh, PJ kapan ya ? Gue kecipratan gak ya kira-kira ?" Sindir Alvin.

"Besok, kafe Mutiara jam 4 kak, dateng aja, kakanya Sivia juga dateng kok" jawab Gabriel cepat.

"Siap deh, gue pasti dateng" kata Alvin sambil tersenyum lebar. Rio dan Ify mendengus pasrah.

"Lo masalah makan gratis aja cepet vin" gerutu Rio. Alvin hanya nyengir kuda.

"Lo udah tau gue kakak kelas lo masih aja manggil 'Vin' manggilnya 'Kak Alvin' kek gak sopan banget lo" Rio hanya menjulurkan lidahnya.

"Gak enak, udah kebiasaan manggil nama langsung, formil amat pake embel-embel 'kak' haha" jawab Rio.

"Gak sopan lo, tapi, ya udah deh suka-suka lo, yang penting gue kecipratan PJ" jawab Alvin asal. Rio menoyor kepala Alvin.

"Sama senior gak ada hormat-hormatnya lo yo" Alvin mengelus-elus kepalanya. Rio, Ify, Gabriel, dan Sivia tertawa.

"Emang masih jaman ya junior senioran ?" Tanya Rio. Alvin hanya mendengus.

"Jadi vi, lo pulang sekolah bareng dia ini nih ?" Tanya Alvin pada Sivia sambil melirik Gabriel.

"Iya kak hehe, gue mau ngerjain tugas ilmiah dari bu Winda dulu hehe" jawab Sivia.

Akhirnya, mereka berlima menghabiskan waktu istirahat dengan bercanda dan mengobrol tak jelas.

****
"Ayo vi" ajak Gabriel saat pulang sekolah. Sivia mengangguk.

"Yo, fy, gue duluan ya" kata Sivia. Rio dan Ify mengangguk.

"Fy, pulang langsung ?" Tanya Rio.

"Pulang aja deh, lo temenin gue di rumah ya, soalnya nyokap gue baru pulang nanti malem kayanya, yayaya" kata Ify. Rio mengacak-acak rambut Ify gemas.

"Ayo pulang princess, lo lucu banget sih haha" Rio menggandeng lengan Ify. Ify hayya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu.

'Rasanya ini semua terlalu cepat' batin Ify.

*****

"Vi, langsung ke rumah lo ?" Tanya Gabriel saat di perjalanan.

"Ke gramed dulu mau gak yel ? Sekalian cari referensi buat karya ilmiahnya" tawar Sivia.

"Oke deh, gue ikut aja hehe" Gabriel dan Sivia meluncur menuju mall terdekat dari sekolah mereka.

Di Mall....
"Vi, mau makan dulu gak ? Laper nih gue" kata Gabriel.

"Gue engga deh, nanti aja di rumah hehe" jawab Sivia.

"Beneran ? Gue makan dulu ya, gak apa-apa ?"

"Iya, udah sana aja, biar gue yang cari bukunya" kata Sivia sambil mendorong Gabriel.

"Oke, nanti kalo udah selesai telpon aja ya Via" kata Gabriel lagi. Sivia hanya mengangguk lalu masuk ke toko buku.
****
Gabriel masuk ke salah satu restoran cepat saji yang ada di sana, lalu Gabriel memesan beberapa menu makanan. Saat makanan datang, Gabriel cepat-cepat melahapnya karena memang ia lapar.

Setelah makan Gabriel melihat seorang gadis cantik sedang berjalan buru-buru.

'Itu kaan...' Batin Gabriel. Gabriel lalu berjalan menghampiri gadis itu.

"Hai" sapa Gabriel. Gadis itu sepertinya kaget.

"Eh, hai" sapa gadis itu lagi.

"Gak nyangka bisa ketemu lo lagi, hehe, buat yang waktu itu gue hampir nabrak lo sori banget ya" kata Gabriel.

"Haha, masih inget aja lo, gak apa-apa lah, toh guenya juga gak kenapa-napa kan, oh iya waktu itu lo gak telat kan ?" Tanya Gadis itu.

"Engga engga, tepat waktu kok, cuma gara-gara gue ngobrol sama temen gue yg nanya kenapa gue telat, gue jadi dapet hukuman nih dari guru gue" kata Gabriel sedikit curhat.

"Oh ya ? Aduh sori ya, gara-gara gue lo jadi di hukum" kata gadis itu memasang wajah menyesal.

"Eh gapapa dong, bukan salah lo kok, itu juga gara-gara gue ngobrol hehe, oh iya nama lo siapa ?" Tanya Gabriel, hati Gabriel langsung dag-dig-dug.

"Nama gue sh"

Sesungguhnya dia ada di dekatmu
Tapi kau tak pernah menyadari itu

HandPhone Gabriel berdering.

'Sivia is calling'

'Sivia ganggu banget sih' gerutu Gabriel dalam hati.

"Bentar ya gue angkat telpon dulu" kata Gabriel. Shilla hanya mengangguk.

"Apa ? Halo vi... Vi.. Haloo..haloo, aduh sinyalnya jelek" kata Gabriel, sepertinya telponnya putus-putus.

"Bentar ya, gue ke sana dulu sebentar, sinyalnya jelek nih" pamit Gabriel. Lalu menjauh dari gadis itu.

"Apa vi ? Ooh udah selesai ? Oke bentar lagi gue ke sana deh" kata Gabriel pada Sivia di seberang sana (?).

Sementara itu di tempat gadis itu....

"Shill, ngapain di sini ? Gue cariin kirain ke mana, ke kamar mandi aja lama" kata seorang cowo yang menghampiri gadis itu yang ternyata SHILLA.

"Eh vin, engga, tadi gue ketemu temen gue hehe" jawab Shilla. Alvin mengerutkan kening.

"Temen ? Lo udah punya temen di Bandung ?" Tanya Alvin.

"Beberapa hari yang lalu dia hampir nabrak gue hehe" jawab Shilla.

"Hah serius ? Terus lo gak kenapa-kenapa kan ? Sekarang temen lo mana ?" Tanya Alvin bertubi-tubi. Shilla tertawa kecil.

"Gapapa gue, dia tadi lagi nerima telpon dai temennya, tapi sampe sekarang belum balik" jawab Shilla sambil melihat ke arah Gabriel pergi tadi.

"Oh, yaudah deh, makan lagi yuk, tadi makanannya gue tinggal hehe" ajak Alvin. Shilla berfikir sebentar. Lalu mengangguk.

"Ayo deh" Shilla dan Alvin lalu pergi.

Balik lagi ke Gabriel~~

"Oke, lo atur aja vi, gue ikut hehe, oke, gue bentar lagi ke sana ya, bye~" Gabriel memutuskan hubungan telponnya dengan Sivia lalu berjalan menuju tempat tadi.

"Sori lama ya, tadi gu" perkataan Gabriel terpotong karena merasa bicara sendiri.

"Loh, cewe tadi mana ya ?" Gabriel celingukan mencari Shilla. "Ah pasti tadi gue kelamaan deh ah" gerutu Gabriel, lalu berjalan ke toko buku dengan kesal.

"Hai vi" kata Gabriel saat sampai di toko buku.

"Dari mana aja sih yel ? Lama banget ?" Tanya Via. Gabriel menceritakan pertemuannya dengan gadis yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu. Sivia merasa bersalah.

"Yah yel, sori ya, gue beneran gak tau kan" kata Sivia merasa bersalah. Gabriel mengangguk lemas.

"Gapapa vi, mungkin emang belum saatnya gue tau siapa nama dia" jawab Gabriel.

"Ke rumah gue aja yuk, nyimpen buku, terus lo katanya mau ketemu kakak gue kan ? Masalah ngerjainnya, bisa lusa kan" kata Sivia.

"Kok gitu vi ?" Tanya Gabriel heran.

"Pasti hasil karya ilmiahnya jelek kalo lo-nya gak semangat gini, udah gapapa, nanti gue minta bantuin kakak gue buat ngerjain sedikit hehe" kata Sivia.

"Beneran gak apa-apa ?" Tanya Gabriel memastikan. Sivia mengangguk mantap.

"Ya udah, yuk pulang" ajak Gabriel.

****
"Masuk yuk yel" kata Sivia basa-basi saat sudah sampai di depan rumahnya.

"Emang niat awalnya juga kan pengen masuk" kata Gabriel polos.

"Kan cuma basa-basi doang yel" gerutu Sivia. Gabriel tertawa lalu masuk ke dalam rumah Sivia.

"Mama....mamaa" panggil Sivia.

"Ada apa sayang ?" Tanya mama Sivia yang baru keluar dari dapur.

"Kak Shilla mana ma ?" Tanya Sivia.

"Loh, Shilla kan lagi pergi sama Alvin, emangnya Shilla gak ngasih tau ?" Tanya mama Sivia balik. Sivia menggeleng.

"Mungkin kakak kamu lupa, ya udah, mama masuk lagi ya" mama Sivia masuk ke dapur kembali.

"Yah, kak Shilla nya pergi yel" kata Sivia pada Gabriel.

"Pantesan tadi kak Alvin ngajak lo pulang bareng, pasti kak Alvin mau sekalian jemput kakak lo" kata Gabriel memberi pernyataan. Sivia menganggukan kepalanya.

"Ada fotonya gak Vi ? Gue penasaran banget nih" tanya Gabriel.

"Ada sih, tapi masih di koper kakak gue, dia kan baru dateng, jadi belum beres-beres gitu, mau gue ambilin ?" Tanya Sivia.

"Gak usah deh, gue pulang aja hehe, gapapa kan ?" Kata Gabriel.

"Gapapa, maaf ya gara-gara gue tadi" Gabriel memotong perkataan Sivia.

"Gak apa-apa, itu emang belum waktunya hehe, gue balik ya, maaf gara2 mood gue, kita jadi gak bisa ngerjain karya ilmiah itu sekarang" jelas Gabriel sambil tersenyum. Sivia mematung melihat senyum itu.

'Senyumannya Gabriel... Maut banget' batin Sivia.
****

"Ayodong fy, kan tadi baru satu, gue kan kemaren nyium lo dua kali fy" kata Rio di rumah Ify. Mereka berdua sedang mengobrol santai di ruang tamu Ify. Mereka dari tadi tak hentinya tertawa, karena Rio yang terus-terusan menggoda Ify.

"Tadi kan supaya elonya gak marah lagi haha" kata Ify.

"Ah Ify mah, kalo gitu gue ngambek lagi deh" Rio menggembungkan kedua pipinya. Ify mencubit gemas pipi Rio.

"Aww! Ify! Bukannya di cium kok malah di cubit sih ?!" Rio mengelus-elus pipinya yang di cubit Ify.

"Abisnya gemes sih" kata Ify.

"Ify ayo doong, cium gue, kan baru 2-1, harus impas dong, kalo lo cium gue sekali lagi kan impas fy" kata Rio sambil terus membujuk Ify.

"Impas dari mana ? Orang lo nyium si Ify 3 kali" kata seseorang yang baru mucul di pintu.

"Gabriel ?" Kata Rio menoleh ke arah pintu.

"Rio, lo beneran nyium gue 3 kali ?" Tanya Ify pada Rio sambil menyipitkan matanya. Sementara Rio hanya nyengir kuda.

"Lo urus rumah tangga lo berdua deh, gue mau ganti baju dulu" kata Gabriel asal~ yang membuat satu bantal duduk melayang ke arahnya.

"Hehe, iya sih fy" kata Rio. Ify melotot.

"Kapan ? Lo nyiumnya dimana ?" Tanya Ify parno.

"Waktu kemaren malem, pulang dari lembang hehe, di jidat doang kok fy, gak lebih hehe" Ify menjitak kepala Rio.

"Cari kesempatan aja sih lo!" Gerutu Ify.

"Besok siapin duit lebih ya fy, gue takut tekor nih" kata Rio asal. Ify mencibir.

"Gak modal amat lo jadi cowok" Ify mencibir kesal. Rio tertawa.

"Bercanda Ify, haha tenang aja, besok gue traktir mereka semua haha" kata Rio sombong.

Beberapa saat kemudian, Gabriel turun setelah mengganti pakaiannya, lalu duduk bertiga dengan Rio dan Ify, akhirnya mereka bertiga menghabiskan sore itu dengan bercanda bersama.

Love Has No Reason~ #Chapter7

Chapter 7 : Bintang Menjadi Saksi


Tok..tok..tok..

"Hmmm masuk ajaa" kata Ify dari bawah selimutnya. Gabriel masuk ke dalam kamar Ify. Lalu berdiri di samping tempat tidur Ify dan menggelengkan kepalanya.

"Fy, bangun yuk, makan malem tuh, tidur mulu lo, kebo dasar! Ayo ah, laper gue, nyokap lo udah nunggu di bawah tuh fy" kata Gabriel sambil menarik selimut Ify.

"Aaaah, ngantuk gue ah" kata Ify bersiap menarik selimutnya lagi. Tapi Gabriel buru-buru menarik selimut Ify.

"Bangun fy! Cepet! Lelet banget lo jadi cewe" kata Gabriel tegas. Sambil menarik tangan Ify secara paksa. Ify yang masih setengah sadar pun berjalan sempoyongan, karena belum bisa mengembalikan konstrentasinya secara utuh.

"Gabriel! Kalo gue jatoh di tangga gimana ?!" Gerutu Ify kesal.

"Melek makanya lo!" Kata Gabriel tanpa melepaskan tangannya dari tangan Ify.

Di meja makan sudah ada mama Ify yang sedang menunggu Gabriel dan Ify. Ify dan Gabriel lalu duduk di meja makan.

"Kamu ini gadis fy, masa jam segini masih tidur ?" Kata mama Ify sambil mengambilkan untuk Gabriel. Ify menyeringai.

"Hehe, ngantuk ma" jawab Ify santai.

"Saking senengnya di ajak jalan sama sang pujaan hati lo, jadi aja sampe jam segini masih tidur" kata Gabriel sambil memulai memakan makanannya.

"Mau jalan sama siapa fy ?" Tanya mama Ify.

"Sama temen ma, hehe, boleh kan ?" Kata Ify. Mamanya mengangguk.

"Asal jangan malem-malem, nanti kalo udah resmi jangan lupa PJ nya ya" goda mama Ify.

"Ih mama gaul banget ngerti PJ" cibir Ify.

"Harus dong sayang haha" jawab mama Ify. Mereka bertiga pun melanjutkan makannya dalam diam. Karena papa Ify sedang dinas di luar kota, maka hanya ada mama Ify dan Ify, yang kini di tambah Gabriel.

****
Pagi ini Ify bangun dengan semangat '45, pukul 05.45 Ify sudah siap dengan seragamnya, kini ia sedang mematut dirinya di depan cermin. Bingung menentukan model rambut mana yang harus di pilihnya, akhirnya setelah 15 menit bereksperimen dengan rambutnya, Ify akhirnya memilih untuk menggerai rambut indahnya (-_- gini doang 15 menit)

Ify turun dari kamarnya menujuke meja makan dengan wajah sumringah. Di meja makan sudah ada Gabriel.

"Kenapa lo fy ? Gila ?" Tanya Gabriel. Ify hanya mengangkat bahunya, lalu mulai mengambil rotinya dan mulai memakannya.

"Aduuh, anak mama tumben jam segini udah siap ? Mentang-mentang mau nge-date sama calon pacarnya nih" goda mama Ify yang tiba-tiba datang dari dapur.

"Hehe, mama tau aja, gapapa kan ma ? Boleh ya ?" Tanya Ify sekalian pamit pada mamanya.

"Boleh dong, tapi pulangnya jangan malem-malem ya sayang" kata mama Ify membelai lembut rambut Ify. Ify hanya mengangguk.

"Yuk fy, berangkat" ajak Gabriel yang sudah selesai makan. Ify mengangguk lalu berpamitan dengan mamanya, begitu juga dengan Gabriel.

****
"Kakak, Via pergi dulu ya" pamit Sivia pada Shilla.

"Eh vi, tunggu dulu"kata Shilla mencegah Sivia sebentar.

"Apaan lagi kak ?" Tanya Sivia sambil membalikan tubuhnya menghadap Shilla.

"Emmm... Anu...emm gajadi deh hehe" kata Shilla gugup. Sivia mengerutkan keningnya, sesaat kemudian dia tersenyum, mengerti apa yang ingin di sampaikan kakak perempuannya ini.

"Iya deh sip, nanti Via sampein deh salamnya ke Kak Alvin, sekarang Via-nya pergi dulu ya kak, bye" kata Via sambil mencium pipi Shilla. Shilla tersenyum melihat kelakuan adiknya.

*****
"IFYY!!!" Sapa Via begitu masuk ke kelas.

"Via, berisik banget deh lo!" Gerutu Iel. Sivia hanya tertawa kecil.

"Haha pisslop yel, gue duduk sama lo lagi ya ?" Tanya Sivia.

"Kalo lo mau di amuk bu Winda lo boleh kok duduk di tempat lain" jawab Gabriel santai. Sivia memajukan bibirnya.

"Ih, lo mah ga asik" kata Sivia.
"Tapi kan gue ganteng" kata Gabriel gak nyambung.
"Gak nyambung lo"
"Hehe"

"Si Ify kenapa celingukan mulu yel ?" Tanya Sivia yang bingung melihat Ify celingak-celinguk menatap ke arah pintu.gabriel mengangkat bahunya.

"Ify, kenapa sih ? Leher lo gak pegel apa ?"Tanya Via. Ify berbalik menghadap Sivia dan Gabriel

"Rio belum masuk Vi, padahal bentar lagi bel vi" jawab Ify.

"Tenang fy, si Rio gak akan kabur kok, gue jamin acara lo pulang sekolah jadi deh" jawab Gabriel santai.

"Ify mau jalan sama Rio ?" Tanya Via heran.
"Iya hehe, kemaren Rio ngajakin gue jalan" jawab Ify.
"Lo telpon aja fy" usul Via. Ify menjentikkan jarinya.
"Good Idea!!" Ify mengeluarkan handphone-nya, dan mengetikan beberapa digit angka.

"Ngapain telpon gue ? Guenya udah ada di sini kok" kata sebuah suara di belakang Ify. Ify langsung membalikkan badannya menghadap sang pemilik suara.

"Rio!!" Pekik Ify. Rio memamerkan senyum termanisnya yang membuat pipi Ify memerah.

"Hai fy, ngapain telpon gue ? Kangen ya lo ?" Goda Rio. Ify memutar bola matanya.

"Ih, gue bingung nyariin lo, gue gak mau duduk sendiri nih"kata Ify membuaþ alibi. Gabriel mencibir.

"Apaan ? Lo kan takut acara lo pulang sekolah gagal"cibir Gabriel. Sivia dan Rio terkikik geli.

"Haha, tenang aja fy, jadi kok" jawab Rio.
"Kita mau kemana sih sebenernya yo ?" Tanya Ify.
"Kemana ya ? Kemana ajabolehdeh" jawab Rio seenaknya.

"Ih" gerutu Ify.

****
Saat jam istirahat....
Alvin masuk ke dalam kelas Ify.

"Hai via"kata Alvin sumringah.
"Deuuh, yang di sapanya cuma Via doang nih ya"goda Ify. Alvin menoleh pada Ify.

"Lo mau gue sapa fy ? Gak usah ya, gue takut orang di sebelah lo ngambek, tuh liat mukanya sekarang aja udah manyun"kata Alvin sambil mengerling Rio. Ify menatap Rio yang sedang menatap langit-langit sebentar.lalu terkikik geli.

"Eh kak Alvin, dapet salam tuh dari kak Shilla"kata Via menyampaikan amanat dai kakaknya.

"Ah masa Vi ? Hehe, salam balik deh, dia kapan mau mulaisekolah di sini vi ?" Tanya Alvin.

"Kata mama sih minggu depan kak" jawab Via. Alvin mengangguk.

"Eh via, gue penasaran deh sama kakak lo" kata Iel."Menurut gue ya, kakak lo pasti cantik, soalnya adeknya aja cantik gini" ceplos Iel lagi, yang membuat wajah Via memanas.

"Ciye Sivia mukanya meraaah"goda rio diikuti anggukan kepala Ify.

"Apaan sih" sangkal Via.

"Kenapa vi ?" Tanya Gabriel kurang peka.
"Eh gapapa yel hehe" jawab Sivia masih salting.

"Ooh" Gabriel hanya ber-o-ria.

"Eh vi, kakak ke kelas dulu ya"pamit Alvin. Sivia mengangguk.

"Gue duluan ya semua" pamit Alvin pada mereka berempat. Lalu keluar dari kelas X-2.

****
Sepulang sekolah... (Skip)

"Ayo fy" kata Rio yang sudah selesai membereskan buku-bukunya. Ify menoleh sebentar.

"Tunggu yo, masih beres-beres nih gue" kata Ify sambil memasukan beberapa buku dari mejanya.

Beberapa menit kemudian....

"Udah selesai fy ?" Tanya Rio lagi. Kali ini Ify mengangguk.

"Yuk, Vi, Yel, gue sama Rio duluan ya, oh iya yel, nanti bilangin mama gue pulang telat oke" kata Ify pada Gabriel dan Sivia. Sivia menganggukan kepalanya.

"Oke sip fy, have fun ya, PJ-nya jangan lupa besok" goda Gabriel.

"Ih" kata Ify sambil berjalan ke luar kelas, di ikuti Rio di belakangnya.

"Yo, motor lo mana ?" Tanya Ify sambil celingukan mencari motor Rio di parkiran.

"Gak ada" jawab Rio santai. Ify menaikan alisnya.
"Loh kok ?kita jalan-jalannya jalan kaki gitu ?" Tanya Ify. Rio tertawa mendengar kalimat Ify.

"Ngapain jalan kaki ? Cape banget kali" kata Rio di sela tawanya.

"Terus naik apaan dong ?" Tanya Ify lagi.
"Naik bajaj mau ?" Canda Rio. "Ya, kendaraan kan bukan cuma motor fy, gue bawa mobil kok, yuk" kata Rio.

Ify berjalan mengikuti Rio, menuju sebuah mobil hitam. Ify pernah melihatnya beberapa kali di. Majalah ototmotif milik ayahnya. Kalau tidak salah ini....

"Rio!! Gila! Gue pernah liat mobil lo di majalah otomotif bokap gue, di situ tulisannya 'Salah satu mobil sport di dunia' kalo gak salah mobil lo ini merknya...." Ify histeris, sambil mengingat-ingat merk mobil Rio.

"Mikirnya nanti aja sambil jalan, masuk aja sekarang" perintah Rio. Ify pun masuk ke dalam mobil mewah tersebut.

"Aha! Gue inget sekarang! Bugatti Veyron 8.0 W16 Super Sport keluaran tahun 2005, meskipun mobil lama, harganya sampe saat ini masih fantastis, menurut majalah bokap gue, mobil lo ini harganya sampe $ 1.700.000 (Rp 22.100.000.000) gila lo yo!" Kata Ify antusias. Rio tersenyum simpul melihat tingkah gadis di sampingnya.

"Norak banget lo fy, malu gue bawa lo, untung niat gue bawa mobil Veritas RS III Hybrid gak jadi, bisa pingsan lo kalo gue ngajakin jalan pake mobil itu" kata Rio sombong. Ify membelalakan matanya.

"RIOO!!! Lo kenapa gak bawa mobil itu aja!!! Rio itu mobil kan keren bangeeeeet!!!" Teriak Ify norak.

"Ify norak banget lo! Kalo kedengeran orang gimana ?!" Kata Rio kesal.

"Gue gak oon Rio! Mobil lo ini kedap suara, jadi gak akan ada yg denger" kata Ify.

"Lo suka otomotif ?" Tanya Rio mengalihkan pembicaraan. Ify mengangguk.

"Bokap gue suka beli majalah otomotif, gue suka aja liat mobil keren-keren hehe" jawab Ify.

"Fy, keliling bandung yu" kata Rio.
"Lo gila yo ? Cape dong" jawab Ify.
"Yeeh Ify, maksudnya jalan-jalannya keliling-keliling bandung, mau ga ?" Tanya Rio lagi. Ify mengangguk setuju. Kemana saja asak bersama pangerannya ini pasti menarik. Ify melihat arlojinya di tangan kirinya. Masih jam 10.30. Masih cukup pagi. Hari ini di IGS ada rapat mendadak sehingga semua murid pulang cepat.

"Kita kemana dulu nih yo ? Masih lumayan pagi soalnya" tanya Ify. Rio berpikir sejenak.

"Kebun Binatang Bandung" jawab Rio singkat. Ify membelalakan matanya.

"Mau ngapain ke kebun binatang ? Kaya gak ada kerjaan amat lo" cibir Ify. Rio tersenyum.

"Lo percaya aja sama gue, hari ini bakalan jadi hari yang indah buat lo" kata Rio. Ify akhirnya mengangguk. Setelah hampir satu jam, akhirnya mereka sampai juga di Kebun Binatang Bandung, di daerah Jl. Taman Sari. Rio dan Ify turun dari mobilnya dan masuk ke kebun binatang itu.

Hari inikebun binatang tak terlalu ramai, hanya ada beberapa pengunjung yang asyik menikmati ke indahan kebun binatang ini. Mungkin karena hari ini bukan hari libur, maka tak terlalu banyak orang yang berkunjung.

"Rio, kita mau kemana ?" Tanya Ify.
"Liat sodara lo dulu yuk fy" jawab Rio sambil menarik tangan Ify. Ify merasa perasaannya tidak enak mendengar kalimat Rio itu.

Dan ternyata dugaannya benar. 'Sodara' nya menurut Rio adalah SIMPANSE! Ya, mereka ada di kandang simpanse sekarang.

"Rio! Maksud lo sodara gue ini ?!" Tanya Ify kesal. Rio tertawa keras.

"Iya, mirip kan fy, hahaha" kata Rio, lalu mengeluarkan SLR dari tas-nya. Rio berjalan menghampiri salah satu petugas di kandang itu, lalu membisikan sesuatu, terlihat petugas itu mengangguk, lalu masuk ke kandang simpanse dan keluar dengan satu simpanse bertengger di bahuny.

"Ini mas, simpanse paling jinak di sini" kata petugas itu.

"Fy, lo gue foto ya ? Mau ?" Tawar Rio pada Ify. Ify yang memang senang di foto mengangguk setuju. Rio memberi isyarat kepada sang petugas yang masih menggendong simpanse itu. Petugas itu berjalan mendekati Ify, lalu meletakan simpanse itu di bahu Ify. Ify kaget.

"Aduh, pak ini apa-apaan ?" Tanya Ify setengah takut. Pasalnya, dia belum pernah menggendong anak simpanse seperti ini.

"Gak apa-apa kok neng, dia jinak kok" kata petugas itu.

"Ify! Say cheese" Rio membidikan kameranya kepada Ify. Akhirnya Ify berfoto dengan simpanse itu dengan wajah cemberut. Rio tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi muka Ify.

"Fy sini deh" kata Rio. Ify mendekati Rio. Rio menunjukkan foto yang tadi di ambilnya pada Ify.

"Lo liat deh fy, mirip banget kan ? Haha, malah menurut gue cantikan simpanse nya, lo sih cemberut" kata Rio masih tertawa.

"Rio ih! Lo nyebelin deh" kata Ify sambil melengos.

"Engga kok fy, masih cantikan elo haha, jalan lagi yu" ajak Rio, tapi Ify masih ngambek.

"Ayo jalan buruan! Kalo masih ngambek gue cium loh!" Ancam Rio.
"Bodo" kata Ify cuek. Rio melihat sekitarnya. Lalu dengan gerakan cepat mencium pipi kanan Ify. Ify kaget dengan perlakuan Rio.

"Buruan jalan! Atau gue tinggal!" Rioberjalan mendahului Ify. Sebenarnya ia tak ingin Ify melihat wajahnya yang memerah karena malu. Ify berlari mengejar Rio yang sudah berada di depannya. Ify memegangi pipi kanannya yang barusan dicium oleh Rio. Ify benar-benar merasakan wajahnya memanas sekarang.

"Rio,tunggu gue" kata Ify berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Rio.

"Apaan ?" Tanya Rio santai.
"Lo main nyosor aja yo!" Gerutu Ify. Rio tersenyum melihat Ify.
"Tapi lo seneng kaan" goda Rio sambil menaik turunkan alisnya. Ify melengos untuk menyembunyikan wajahnya yang lagi-lagi memerah.

"Yo"
"Hmm"
"Naik gajah yu"
"Hah ?
"Ayo naik gajaaah" kata Ify.
"Ogah ah, kaya anak kecil amat" cibir Rio.
"Yaudah kalo lo gak mau naik, gue aja" Ify berlari menuju sebuah tempat lapang, di sana ada beberapa ekor gajah yang sedang makan.

Selama Ify mengendarai gajah itu. Rio tak henti-hentinya memotret wajah Ify dalam berbagai ekspresi dengan kameranya, setiap selesai mendapatkan foto yang bagus, Rio tersenyum puas.

Setelah Ify naik gajah, mereka pergi menunjungi tempat-tempat yang lain, mereka pun sempat berfoto dengan berbagai binatang, dan satu hal yang tak bisa di lupakan, sepanjang perjalanan mereka di kebun binatang, Rio tak pernah berhenti untuk memotret wajah cantik milik Ify. Seakan tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengabadikan wajah cantik Ify.

Setelah 3 jam berada di kebun binatang, mereka berdua memutuskan untuk pulang, tapi itu bukan berarti acara jalan-jalan mereka berhenti sampai di sana.

"Fy, laper gak ?" Tanya Rio setelah mereka berdua memasuki mobil.
"Laper sih, tapi dikit" jawab Ify dengan senyum yabg sedari tadi tak pernah pudar dari wajahnya, seakan-akan esok hari tak akan ada lagi senyum Ify.

"Mau makan ?" Tanya Rio. Ify menggeleng. "Katanya laper ? Tapi gamau makan, gimana sih ?" Tanya Rio heran.

"Nanti aja, masih mau main gue" jawab Ify manja. Rio tersenyum lalu menganggukan kepalanya.

"Foto-foto yuk fy" ajak Rio. Ify mengalihkan pandangannya ke arah Rio.

"Dari tadi kan juga udah foto-foto" kata Ify polos. Rio mengacak-acak rambut Ify gemas. Ify manyun karena rambutnya di berantakin Rio.

"Maksud aku itu, kita foto-fotonya di tempat yang keren" kata Rio tidak sadar bahwa barusan ia menggunakan kata 'aku' dan bukan 'gue' seperti biasanya. Ify merasa sedikit canggung.

"Emm, oke deh, mau kemana ?" Tanya Ify.
"Bandung Tempo Doeloe. Jl. Braga" jawab Rio pasti.

Setelah satu jam perjalanan Rio dan Ify sampai di jl. Braga. Jl. Braga adalah tempat yang indah bagi para pejalan kaki, jalannya pun bukan terbuat dari aspal, tapi terbuat dari batu marmer, banyak para calon pasangan yang membuat foto pra wedding mereka di sini, memang tempat yang cocok untuk berfoto, di tambah ke adaan sekitar yang membuatnya sejuk, dan membuat siapa saja yang berada di sini seperti kembali ke masa 20-30 tahun yang lalu. (Gak percaya ? Googling aja deh :b)

"Rio! Ini keren bangeet ckckck" decak Ify kagum sambil menikmati pemandangan di depannya.

"Norak!" Cibir Rio. Ify mendelik ke arah Rio yang kini tengah memejamkan matanya, menikmati setiap hembusan nafasnya sendiri, menikmati indahnya tempat ini.

Ify kini bukannya menikmati pemandangan jalan raya di depannya, tapi kini pandangannya teralih pada pria tampan di sebelahnya. Ify menikmati lekukan indah ciptaan sang maha kuasa yang di anugrahkan kepada pria ini, merasa beruntung dapat menikmati wajah tampannya dari jarak sedekat ini. Ada desiran desiran halus yang kian merajai perasaan Ify. Ify kini benar-benar yakin bahwa dirinya telah jatuh hati pada sosok tampan ini.

"Kapan kita fotonya kalo lo terus ngeliatin muka gue ? Lo ngedip gih fy, muka gue juga gak akan berubah tetep ganteng kok"kata Rio santai. Tapi membuat Ify terlonjak kaget. Bagaimana dia bisa tahu ? Sementara sejak tadi, matanya terus terpejam menikmati indahnya tempat ini melalui indra perasanya.

Muka Ify merona merah. Malu. Malu karena jelas-jelas tertangkap basah menikmati wajah itu.

"Foto yuk, keburu sore" kata Rio di sertai senyuman jahilnya, lalu mulai mengeluarkan kameranya lagi.

Ify berjalan menuju sebuah gedung tua. "Rio, fotoin gue di sini dong, scenenya keren nih" kata Ify pada Rio yang masih berkutat dengan kameranya. Rio mendongakkan kepalanya lalu mengangkat jempolnya dan berjalan menuju tempat Ify.

"Senyum fy" suruh Rio. Ify tersenyum manis, Rio memotret Ify. Lalu Ify berlari ke arah Rio untuk melihat hasilnya. Ify terus berpose di depan kamera Rio, meski dengan pose yang berbeda.

"Rio! Lo ikut foto juga doong! Yuk" ajak Ify. Rio mengangguk lalu mengahmpiri Ify. Ify lalu menghampiri bapak-bapak yang terlihat sedang menikmati keadaan sekitarnya.

"Permisi pak, bolehkah saya minta tolong ?" Kata Ify sopan. Bapak tadi mengerutkan keningnya heran.

"Aduh, punten neng, bapak asli urang sunda, janten abdi teu tiasa bahasa indonesia, punten nya neng (aduh, maaf neng, bapak asli orang sunda, jadi saya gak bisa bahasa indonesia, maaf ya neng)" kata bapak itu dengan logat sundanya. Ify cengo. Ify memang orang sunda asli. Tapi jujur, Ify tidak terlalu mengerti bahasa sunda. Ify berlari menghampiri Rio yang sedang memotret panorama di sekitarnya.

"Rio!" Panggil Ify. Rio menengok sekilas.
"Bantuin gue" rengek ify.
"Kenapa sih ?" Tanya Rio. Ify memberikan isyarat agar Rio mendekat ke arahnya. Ify membisikan sesuatu di telinga Rio. Lalu Rio tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ify. Ify mengerucutkan bibirnya kesal.

"Hahaha, ayo deh gue bantuin" kata Rio lalu berjalan menghampiri bapak tadi.

"Punten pak, abdi bade nyungkeun waktosna sakeudap, bapak tiasa pang bantosankeun abdi teu pak ? Pak motokeun sakeudap pak (maaf pak, saya mau minta waktunya sebentar, bapak bisa bantuin saya gak pak ? Tolong fotoin sebentar ya pak)" tanya Rio sopan. Bapak itu tersenyum lalu mengangguk. Rio menyerahkan kameranya. Lalu memberitahu cara kerjanya menggunakan bahasa sunda.

Ify tersenyum geli melihat Rio yang sedang berbicara dengan bapak itu dengan bahasa sunda.

"Ayo fy"kata Rio memulai possenya. Rio dan Ify berfoto dalam berbagai pose.
"Fy, ini terakhir deh, gue ngerangkul elo boleh ya ?" Izin Rio. Ify mengangguk senang. Rio menyampirkan tangannya ke pundak Ify.

"Hiji...dua...ti (1,2, ti)" kata bapak itu sambil menghitung. Memasuki angka ke tiga Rio buru-buru mencium pipi Ify untuk yang ke dua kalinya. Sehingga foto yang terambil adalah foto Rio yang sedang mencium pipi Ify.

Ify speechless, lagi-lagi Rio mencium pipinya untuk yang ke dua kalinya. Bapak yang mengambil foto tadi hanya geleng-geleng kepala, lalu berjalan menghampiri rio.

"Ckckck dasar budak ngora, ieu jang kamerana (dasar anak muda, ini nak kameranya)" kata Bapak itu, menyerahkan kamera Rio. Rio mengucapkan terimakasih sebelum bapak itu pergi.

Rio menarik tangan Ify."Mau kemana ?" Tanya Ify. "Rahasia" jawab Rio misterius.
Ify pun mengikuti Rio masuk ke dalam mobilnya. Hari sudah menunjukkan pukul 15.30. Karena kelelahan, di dalam mobil Ify pun tertidur. Rio tersenyum menatap wajah manis Ify yang terlihat polos saat tertidur.

Rio terus memacu motornya, memecah keheningan kota Bandung sore itu. Tempat terakhir yang Rio tuju cukup jauh, memerlukan waktu hampir 3 jam untuk sampai di tempat itu. Kini Rio sudah sampai di tempat yang di tujunya. Perjalanan dari Bandung kota menuju Bandung Utara itu cukup melelahkan.

Di tatapnya kini sebuah tempat impiannya selama ini. Teropong Bintang Bosscha. Rio membangunkan Ify dengan cara menepuk pipi Ify perlahan, Ify mengerjapkan matanya, dan mendapati sosok tampan di depannya.

"Rio, udah nyampe ?" Tanya Ify pelan, masih mengumpulkan nyawanya sepertinya.

"Udah, turun yuk fy" kata Rio lembut. Ify mengerutkan keningnya bingung.

'Gue masih tidur ya ? Rio kok ngomongnya lembut banget' batin Ify. Ify pun keluar dari mobil, Ify menganga melihat pemandangan di hadapannya.

"Gue kayanya pernah liat ini di TV deh, acara apa ya ?" Tanya Ify pada dirinya sendiri. Rio mencibir kesal. Ify benar-benar merusak suasana romantis yang sedari tadi berusaha ia bangun.

"Oh iya! Gue pernah liat di film Petualangan Sherina!!" Pekik Ify histeris.

"Lo jadul banget sih fy! Masa ingetnya film itu sih, di acara lain juga kan pernah ada" gerutu Rio. Ify hanya menyeringai kecil.

"Kamu pasti laper, makan yuk" kata Rio, memperlembut nada suaranya. Ify seperti terhipnotis oleh Rio, Ify mengikuti Rio dalam diam. Rio membawanya ke bagian belakang bosscha, di sana ada satu meja putih dan dua kursi, serta hidangan di atas mejanya.

"Emm, lo bikin ini semuanya sendiri ?" Tanya Ify takjub. Rio mengangguk.

"Ini semua aku yang siapin sa, alasan aku kenapa ngajak kamu jalan-jalan hari ini itu sebenernya ini" kata Rio sambil menuntun Ify ke tempat makan malam itu.

"Ayo makan fy" akhirnya, mereka berdua makan dalam diam, hanya di temani oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip menambah ke indahan malam ini. Bukan hanya karena mereka benar-benar lapar, tapi mereka juga masih mencoba menetralisir perasaan yang menggebu-gebu dalam hati mereka.

Setelah selesai makan, Rio beranjak dari tempatnya lalu duduk di rerumputan sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat bintang. Ify mengikuti jejak Rio.

"Kalo mau lihat bintang kenapa gak ke dalem aja ? Pake teropong, biar lebih jelas" kata Ify memberi saran. Rio menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari bintang.

"Aku mau semuanya alami, berjalan apa adanya, aku gak perlu melihat bintang dengan teropong bintang kalo aku sendiri masih bisa melihatnya dengan jelas, selagi aku masih bisa melihat, aku akan mempergunakan mata ini sebaik-baiknya" jelas Rio. Ify tertegun.

"Begitu juga hati ini, sejak pertama bertemu denganmu, aku merasakan ada sesuatu yang lain di sini, perasaanku terus berdesir hebat bila dekat denganmu, dan perasaan itu mengalir alami, aku gak mau perasaan ini hilang, selagi aku masih bisa merasakan cinta, aku akan membiarkannya terus berkembang. Perasaan ini terus berkembang hanya karena seseorang, seseorang yang secara tidak sadar memberikan warna lain dalam hidupku, dan aku tak akan pernah menyia-nyiakan orang itu selagi aku masih memiliki kesempatan. Dan orang itu, kamu..... Alyssa" ify lagi-lagi tertegun. Masih berusaha mencerna beberapa kalimat yang terasa mimpi di dengar olehnya.

"Emm, maksud lo.. Eh kamu ?" Tanya Ify canggung. Desiran halus itu mulai muncul di hati Ify, dan menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.

"Sebenernya, aku bukan orang yang romantis fy, aku bener-bener bukan seorang pujangga yang bisa merangkai kata-kata indah untuk sang pujaan hatinya, tapi di sini, aku, Rio, bener-bener udah jatuh hati sama gadi yang sekarang duduk di hadapan aku, di bawah bintang ini aku janji, gak akan pernah nyakitin kamu sekali pun. Alyssa, would you be my girl ?" Ify tertegun lagi. Berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang di lontarkan Rio. Dan itu terlalu cepat menurut Ify.

Desiran halus itu kini muncul lagi di hati Ify, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia yakin dengan perasaannya saati ini. Ia tahu apa yang harus di jawabnya. Tapi saat akan menjawab pernyataan itu, setitik keraguan muncul di hati Ify. Tapi Ify berusaha menutupinya dengan cinta dan sayang yang dimilikinya untuk Rio. Perlahan tapi pasti Ify menganggukan kepalanya lalu menghambur ke pelukan Rio.

'Semoga aku tak salah langkah' batin Ify di pelukan Rio. Rio membalas pelukan Ify dengan senyum merekah di bibirnya. Rio membisikkan sesuatu.

"Thanks for everything today. Makasih kamu udah percaya sama aku" bisik Rio tepat di telinga Ify. Ify tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada Rio. Bosscha dan bintang menjadi saksi pertemuan dua hati ini malam ini, dan menjadi saksi janji Rio padanya untuk tidak akan pernah menyakiti hatinya sekali pun. Ify memejamkan matanya, menikmati desiran di hatinya yang semakin menjadi-jadi sekarang. Berharap semuanya akan baik-baik saja setelah malam yang panjang dan indah ini.

»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»