Part 17 : Kebun yang Menyimpan 2 Cerita Cinta
Okee… tampaknya Rio dan Alvin sudah berhasil menggapai impiannya masing-masing. Hmm.. kira-kira gaya mereka waktu menyapa pacar masing-masing bagaimana yaaa?? Secara Rio kan blak-blakan, kalau Alvin malu-malu! Bagaimana yaa??
****
“Wah, pinter juga lo cara nembaknya” komentar Rio saat Alvin selesai menceritakan tentang kemarin, saat ia menembak Sivia.
“Hahaha, elo juga keren cara nembaknya! Pake ngegitar lagi!” puji Alvin balik, Rio senyum-senyum sendiri.
Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sibuk membaca-baca catatan fisika, karena nanti di jam pelajaran ke 3, Pak Duta akan memberikan mereka tes kecil.
Ehmm... sebenarnya hanya Alvin yang benar-benar belajar. Rio memang membaca bukunya, tapi entah kenapa saat ia memelototi rumus-rumus Fisika itu, yang terbayang justru wajah Ify. Membuat Rio jadi malu-malu sendiri.
“Heheheee…” tiba-tiba Rio terkekeh pelan, padahal tidak ada yang mengajaknya mengobrol atau bercanda. Alvin yang mulai ketakutan meninju pundak Rio.
“Aduh! Sakit, Vin!” Rio meringis sambil mengusap-usap pundaknya.
“Elo, sih! Ketawa-ketawa gak jelas! Gua kan takut!” kilah Alvin, meneruskan menghafalkan rumus-rumus Fisika.
Sayup-sayup terdengar suara anak cewek yang sedang mengobrol sambil tertawa-tawa dari luar kelas. Alvin refleks mendongak, Rio juga. Mereka hafal suara itu, itu… Sivia dan Ify!
Alvin buru-buru mengeluarkan buku-buku fisikanya dan mencoba menyelesaikan SEMUA soal yang ada di sana.
Rio sibuk memastikan rambutnya ada dalam gaya paling keren, dan berlatih untuk tersenyum—senyum yang bisa membuat Ify balas tersenyum kepadanya.
“Eh…” gumam Ify pelan saat memasuki kelas. Begitu pun Sivia.
Mereka memang belum terbiasa dengan adanya pacar di dalam kelas. Apalagi mereka masih kelas 8 SMP.
Alvin mendongak lagi dan tersenyum ke arah Sivia, Rio juga tersenyum ke arah Ify.
Sivia dan Ify balas tersenyum dan cepat-cepat meletakkan tas mereka di bangku masing-masing, lalu keluar kelas lagi.
Alvin melengos menatap kepergian Sivia. "Kenapa dia jadi pergi?” gumam Alvin pelan.
“Yaah… Kok Ify pergi, sih!” keluh Rio pelan, senyum yang sejak tadi dipamerkannya kini hilang.
“Mungkin juga mereka masih malu, Yo” ujar Alvin, mencoba menghibur Rio. Rio hanya mengangguk maklum.
***
“Yahelah, Vin! Masa gua dari mulai masuk kelas tadi sampe sekarang belom disapa sama si Ify sih?!” keluh Rio saat dirinya dan Alvin melangkah ke kantin. Saat itu memang sedang istirahat.
"Namanya juga orang malu..” jawab Alvin yang sedang sibuk mencari-cari potongan keripik Chitato yang paling besar untuk dimasukkan ke mulutnya.
“Eh, Zevana ga masuk ya?” tanya Rio tiba-tiba.
Alvin menatapnya heran, “Dia kan
liburan lagi ke Hong Kong! Kok nyariin Zevana? Hayooo elo naksir Zevana yaaa???” goda Alvin kemudian.
Rio melotot seraya meninju pundak Alvin,“Hih! Ga sudi! Gua cuma nanya! Kan ribet nanti kalo gua lagi asik sama Ify terus si nenek lampir itu dateng!” Alvin terkekeh, lalu asyik lagi dengan Chitatonya.
“Ehmm…” terdengar dehaman dari arah pintu kelas. Sontak Alvin dan Rio menoleh.
Oops.. Ify dan Sivia. Sedang berusaha menahan senyum. Ya. Mereka mendengar semua yang Alvin dan Rio bicarakan.
“Eeh… Ify.. Heheheee” sapa Rio, menggaruk bagian belakang telinganya yang sebetulnya tidak gatal sama sekali.
“Err.. Via yaa… hehehehehe” sapa Alvin juga, gugup.
Sivia dan Ify terkekeh mendengar sapaan Rio dan Alvin yang gugup itu. Mereka berdua berjalan ke arah bangku mereka masing-masing.
“Maaf kalo gua masih jarang nyapa. Gua masih belom terbiasa…” ujar Ify, tersenyum pada Rio.
“Maaf kalo udah bikin elo kesel… Gua juga belom terbiasa…” ujar Sivia, kali ini ke Alvin.
Alvin dan Rio hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu mereka berdua duduk menghadap Sivia dan Ify.
“Eh, ngomong-ngomong, kita bisa jadian gara-gara kebun ya?” tanya Rio tiba-tiba.
“Mmm… kalo gua sama Rio sih emang gara-gara kebun.. Tapi elo sama Sivia?” tanya Ify balik.
“Iya, semenjak Rio jadi tukang kebunnya Ify, gua jadi ada waktu buat sendiri, buat mikirin masalah gua sendiri, biasanya kan kemana-mana atau apapun itu juga gua barengan sama Rio melulu” jawab Alvin diikuti anggukan dari Sivia.
“Gua juga, semenjak ada Rio, Ify jadi jarang minta ditemenin ke mall atau beli-beli bibit bunga. Dia lebih betah di kamar kali, curi-curi pandang ke tukang kebunnya…” goda Sivia, menyikut lengan Ify yang kini wajahnya merona merah.
“Apaan sih, Siv!” elak Ify, berusaha menutupi wajahnya yang merona merah.
“Udah ah. Intinya, kita semua bisa jadian gara-gara kebun dong?” tanya Rio lagi. Kali ini dijawab oleh anggukan dari Sivia, Alvin, dan Ify.
“Jadi gara-gara kebun ya! Ga nyangka gua, hahahaha!” seru Rio. Alvin tertawa kecil, sedangkan Ify dan Sivia hanya terkekeh.
“Ada apa dengan kebun, Rio?” tanya sebuah suara yang agak berat. Ooh, Pak Duta sedang berjalan ke arah meja guru, dan ia mendengar perkataan Rio yang terakhir tadi!
Alvin dan Rio berpandangan sesaat, lalu kompak menjawab, “Ada cinta, Pak!”
~TAMAT~
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Tadaaaa~ tamat yaap~ tunggu repost/post selanjutnya yaa :D
-Anggia
Showing posts with label Ada Apa dengan Kebun. Show all posts
Showing posts with label Ada Apa dengan Kebun. Show all posts
Sunday, June 12, 2011
Ada Apa dengan Kebun Part 16 (repost)
Part 16 : Dengan Sebuah Sejarah Di Dalamnya...
Benar-benar berbeda dengan Rio dan Ify, perjalanan pedekate Alvin ke Sivia berjalan lancar, sangat lancar malah. Ehm, dan juga tidak ada perkembangannya. Jadi… setelah perjalanan Rio sukses, akankan perjalanan Alvin ikut sukses?
****
Sender : Rio
Gua jadian sama Ify! Elo juga harus usaha ya!
Alvin tertawa kecil saat menerima sms dari Rio. Ternyata sahabatnya itu berani juga untuk mengungkapkan perasaannya pada Ify. Tapi seketika senyumnya memudar. Ia juga teringat akan Sivia.
Masa iya gua juga mesti nembak Sivia? Pikir Alvin ragu. Ia melangkah keluar kamar dan menuruni tangga. Saat kaki Alvin menapaki anak tangga terakhir, harum manis cokelat tiba-tiba tercium.
“Mama masak cokelat yaaaa?” tanya Alvin setengah berteriak, ia mulai menambah kecepatan langkahnya menuju dapur.
Di dapur, mama Alvin tersenyum kepadanya, tangannya masih sibuk mengaduk sesuatu di panci, sepertinya lelehan—atau adonan cokelat.
“Kamu tau aja kalo mama bikin cokelat! Sini, bantuin mama bikinnya” suruh Mama Alvin lembut. Alvin menurut, ia mengambil alih sendok kayu dari tangan mamanya, lalu menggantikan mamanya untuk mengaduk lelehan cokelat itu.
Saat Alvin sibuk mengaduk lelehan cokelat, tiba-tiba saja wajah Sivia terbayang di kepalanya. Membuat Alvin tersenyum. Sivia kan suka cokelat… pikirnya.
Seketika itu juga sebuah ide terbesit di otaknya.
“Ma, cokelat ini mau dibikin jadi cokelat apa?” tanya Alvin.
Mama Alvin tersenyum saat mendengar pertanyaan anaknya yang sepertinya mengharapkan sesuatu.
“Alvin maunya cokelat ini dibuat jadi apa?” tanya Mama Alvin balik.
Alvin tersenyum-senyum sendiri sambil terus mengaduk lelehan cokelat,“Yaa… jadi cokelat biasa aja. Tapi dihias pake tulisan gitu… pake marzipan bisa gak, Ma?”
“Bisa sih. Nanti mama yang ngehias pake marzipan. Kamu mau pake cetakan apa?” Mama Alvin menatap rak piring tempat dimana cetakan-cetakan cokelat berada.
Alvin menunjuk salah satu cetakan yang berbentuk bulat. Ya, bulat, tidak usah berbentuk hati.
Lalu Alvin dan mamanya sibuk membuat cokelat di dapur. Senyum Alvin terus terkembang, apalagi saat mamanya mengizinkannya untuk menghias sendiri cokelat itu.
Yaaah… walaupun hasilnya agak berantakan. Tapi proses pembuatan cokelat itu didominasi oleh Alvin.
Mamanya hanya membantu sedikit-sedikit.
“Mau dikasih siapa sih, Vin?” tanya mama Alvin penasaran. Tak biasanya anaknya ini tiba-tiba mau ikut membuat cokelat.
Alvin tersenyum menatap mamanya. Ia memang tidak bisa berbohong pada mamanya, tapi… kalau dibilang untuk mengungkapkan perasaan… apa tidak terlalu jujur?
“Buat cewek, Ma” jawab Alvin singkat. Kembali menekuni kegiatannya, yaitu menghias cokelat.
Mama Alvin tersenyum, ia menyadari perubahan senyum Alvin. bukan senyum ceria seperti biasanya, tapi kini senyuman malu. Pasti Alvin sedang jatuh cinta.
“Mama tau kok. Kasih ini, Vin, di cokelatmu” suruh Mama Alvin, menyodorkan sebatang cokelat tanpa merk. Yang diterima Alvin dengan heran.
"Ini apa?” tanya Alvin heran, menatap cokelat yang kini ada di genggamannya.
“Itu…” jelas Mamanya, “Cokelat khusus. Rasanya enaaaaak banget, bisa bikin yang makan jadi bahagia. Karena, waktu mama bikin cokelat itu, perasaan mama lagi bahagia! Ingat, Vin, perasaan seseorang bisa mempengaruhi rasa dalam masakannya… ”
Alvin menatap cokelat itu ragu, tapi toh ia mengambil pisau untuk mengiris-iris cokelat itu menjadi serpihan kecil, lalu ia taburkan di atas cokelatnya yang sudah jadi.
Alvin lalu meraih satu kotak kosong, lalu dengan hati-hati ia masukkan cokelatnya ke dalam kotak itu. Mama Alvin hanya tersenyum.
***
“Alvin pergi dulu ya Ma!” pamit Alvin setelah ia berganti baju, bersiap menemui Sivia. Di tangannya tersampir sebuah kantong kertas berisi cokelat yang akan ia berikan khusus untuk Sivia.
“Iya, hati-hati ya…” pesan mamanya sambil tersenyum.
Alvin segera berlari ke arah garasi untuk mengambil sepeda balapnya. Ehm… sebenarnya bisa saja ia meminta sopirnya untuk mengantar, tapi… ah sudahlah, pokoknya Alvin berniat memakai sepedanya saja.
Saat memakai helm khas pembalap sepeda, Alvin merasakan hp nya bergetar, ia meraih hp itu lalu membaca sms yang masuk. Oh, ternyata sms Sivia yang menyanggupi ajakan Alvin untuk bertemu di taman perumahannya.
Alvin tersenyum lagi. Ya, ia akan mengumpulkan seluruh keberaniannya. Untuk tujuannya.
***
Alvin menyandarkan sepedanya di salah satu pohon, taman perumahan. Ia melepaskan helm ala pembalap sepeda seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman.
Hmm… Alvin melihat seseorang yang sedang duduk di salah satu bangku di tengah taman. Sivia. Alvin meraih kantong kertasnya dan berlari kecil menuju Sivia. Sivia tersenyum melihat Alvin.
“Maaf ya, Siv… Elo jadi kelamaan nunggu…” ucap Alvin seraya duduk di bangku yang berhadapan dengan Sivia. Sivia tertawa kecil, “Nggak apa-apa Vin! Terus… mau ngapain nih? Setau gua, udah semenjak SD dulu kita temenan tapi baru kali ini elo ngajak ketemu beduaan” tanya Sivia, lantas terbahak.
Alvin hanya menunjukkan cengiran lebarnya, otaknya masih sibuk memikirkan kata-kata yang cocok untuk basa-basi.
“Emm… ini, Siv” ujar Alvin pelan, menyodorkan kantong kertas yang sedari tadi digenggamnya erat-erat, mencoba menggapai keberanian dari sana.
Alvin bisa melihat dahi Sivia yang berkerut, tapi toh Sivia menarik pelan kantong kertas itu. Lalu ditariknya keluar sebuah kotak berukuran sedang dari dalam sana.
“Cokelat?” tanya Sivia pelan, terselip kegirangan di perkataannya tadi. Alvin mengangguk cepat sambil tersenyum.
“Iya, tadi… engg… tadi… mama bikinin buat elo” jawab Alvin setengah berbohong.
“Buat gua nih? Boleh gua makan?” tanya Sivia bersemangat, matanya berbinar saat melihat ada hiasan namanya di atas cokelat itu.
“Boleh lah. Itu kan buat elo” jawab Alvin, berusaha menahan senyumnya saat melihat ekspresi Sivia yang sangat bersemangat.
Sivia memotong cokelat itu dengan tangannya dan memasukkan sepotong kecil cokelat ke dalam mulutnya. Kelihatan jelas bahwa Sivia sangat menikmati cokelat itu.
“Enak, Vin. Beneran! Nih, elo cobain!” tawar Sivia, mendorong cokelat itu pelan ke Alvin. Alvin juga memotong cokelat itu dengan tangannya dan memasukkan potongannya ke mulutnya.
Jadilah mereka berdua bersama-sama menikmati cokelat yang berukuran sedang itu.
***
“Hmm… enak banget Vin cokelatnya! Makasih banyak ya…” ucap Sivia saat cokelat itu sudah habis tak bersisa.
“Iya, Siv. Sama-sama, eh elo beneran penggila cokelat ya? Cokelat apa aja elo makan” komentar Alvin sambil tersenyum geli.
“Iya dong, cokelat itu yang bisa ngerubah perasaan gua. Yang tadinya gua kesel, jadi seneng, yang tadinya gua males, jadi rajin. Pokoknya cokelat itu selalu nemenin gua!” sahut Sivia gembira.
“Kalo seandainya udah nggak ada cokelat di dunia ini?” tanya Alvin, setengah menggoda.
Sivia mencibir, “Gua bakalan mati kali” sahutnya cuek.
Raut muka Alvin seketika berubah. Ia teringat maksudnya.
“Kalo gitu bisa nggak gua yang jadi pengganti cokelat buat elo?” tanya Alvin, wajahnya berubah serius.
“Emang elo mau gua makan?” tanya Sivia balik, bercanda.
“Serius ini Siv!” tukas Alvin. Sivia segera duduk tegak dan menanggapi perkataan Alvin dengan lebih serius.
“Maksud lo?”
“Ya…” Alvin memulai penjelasannya, “Kan tadi elo bilang kalo cokelat yang selalu nemenin elo. Cokelat kan bisa abis di toko, atau pabriknya bangkrut gitu… Gua bisa nggak jadi pengganti cokelat buat elo? Gua bisa nggak jadi orang yang nemenin elo terus?” Alvin kini sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya selama ini. Sekarang hanya bagaimana tanggapan Sivia saja.
Sivia terpaku. Berbeda dengan Ify, Sivia lebih peka dengan hal-hal seperti ini. Dan ia sadar ebtul bahwa tadi itu, adalah ungkapan hati seorang Alvin. Dengan kata yang lebih simpel, Alvin-baru-saja-menembaknya.
“Jadi? Gua boleh jadi pengganti cokelat? Gua bisa lebih dari sekadar pengganti cokelat, Siv. Cokelat bikin elo jadi semangat lagi, dan gua bakalan bikin hidup elo yang jadi lebih berwarna” lanjut Alvin lagi. Menatap mata Sivia yang kini tengah terpaku.
Sivia-tidak-bisa-bergerak-ataupun-berkata-sesuatu. Ia hanya terpaku. Yaaah… mungkin memang tidak seromantis adegan di film, atapun cerita di novel. Tapi… entah kenapa ketika Alvin mengungkapkan hal itu kepadanya, itulah cara yang jujur, dan tak bertele-tele.
“Jadi? Gua boleh jadi pengganti cokelat?” tanya Alvin lagi, meminta sebuah kepastian dari Sivia yang masih terpaku. Sivia mulai merasakan semburat panas yang menjalar sampai ke kuping. Oh, apa lagi yang harus ia katakan? Ia tak ingin menolaknya! Tapi ia tak bisa berkata apa-apa!
Sivia mengangguk kecil. Lalu mengangguk mantap lagi untuk kedua kalinya, diiringi senyuman manisnya. Alvin tersenyum lega melihat reaksi Sivia.
“Makasih ya Siv…” ucap Alvin pelan, ia menyodorkan sebatang cokelat kecil yang sedari tadi disimpannya di saku celana.
Sivia menerima cokelat itu dan melambaikannya tepat di sebelah telinganya,“Lebih dari cokelat ya, Vin…”
“Iya, lebih dari cokelat, dan akan bikin hari-hari selanjutnya makin berwarna” ucap Alvin lagi.
Sivia tersenyum, Alvin tersenyum. Di hadapan mereka berdua ada sebuah kotak bekas cokelat yang menyimpan sejarah antara mereka berdua… Dan tak akan terlupakan…
*****
Benar-benar berbeda dengan Rio dan Ify, perjalanan pedekate Alvin ke Sivia berjalan lancar, sangat lancar malah. Ehm, dan juga tidak ada perkembangannya. Jadi… setelah perjalanan Rio sukses, akankan perjalanan Alvin ikut sukses?
****
Sender : Rio
Gua jadian sama Ify! Elo juga harus usaha ya!
Alvin tertawa kecil saat menerima sms dari Rio. Ternyata sahabatnya itu berani juga untuk mengungkapkan perasaannya pada Ify. Tapi seketika senyumnya memudar. Ia juga teringat akan Sivia.
Masa iya gua juga mesti nembak Sivia? Pikir Alvin ragu. Ia melangkah keluar kamar dan menuruni tangga. Saat kaki Alvin menapaki anak tangga terakhir, harum manis cokelat tiba-tiba tercium.
“Mama masak cokelat yaaaa?” tanya Alvin setengah berteriak, ia mulai menambah kecepatan langkahnya menuju dapur.
Di dapur, mama Alvin tersenyum kepadanya, tangannya masih sibuk mengaduk sesuatu di panci, sepertinya lelehan—atau adonan cokelat.
“Kamu tau aja kalo mama bikin cokelat! Sini, bantuin mama bikinnya” suruh Mama Alvin lembut. Alvin menurut, ia mengambil alih sendok kayu dari tangan mamanya, lalu menggantikan mamanya untuk mengaduk lelehan cokelat itu.
Saat Alvin sibuk mengaduk lelehan cokelat, tiba-tiba saja wajah Sivia terbayang di kepalanya. Membuat Alvin tersenyum. Sivia kan suka cokelat… pikirnya.
Seketika itu juga sebuah ide terbesit di otaknya.
“Ma, cokelat ini mau dibikin jadi cokelat apa?” tanya Alvin.
Mama Alvin tersenyum saat mendengar pertanyaan anaknya yang sepertinya mengharapkan sesuatu.
“Alvin maunya cokelat ini dibuat jadi apa?” tanya Mama Alvin balik.
Alvin tersenyum-senyum sendiri sambil terus mengaduk lelehan cokelat,“Yaa… jadi cokelat biasa aja. Tapi dihias pake tulisan gitu… pake marzipan bisa gak, Ma?”
“Bisa sih. Nanti mama yang ngehias pake marzipan. Kamu mau pake cetakan apa?” Mama Alvin menatap rak piring tempat dimana cetakan-cetakan cokelat berada.
Alvin menunjuk salah satu cetakan yang berbentuk bulat. Ya, bulat, tidak usah berbentuk hati.
Lalu Alvin dan mamanya sibuk membuat cokelat di dapur. Senyum Alvin terus terkembang, apalagi saat mamanya mengizinkannya untuk menghias sendiri cokelat itu.
Yaaah… walaupun hasilnya agak berantakan. Tapi proses pembuatan cokelat itu didominasi oleh Alvin.
Mamanya hanya membantu sedikit-sedikit.
“Mau dikasih siapa sih, Vin?” tanya mama Alvin penasaran. Tak biasanya anaknya ini tiba-tiba mau ikut membuat cokelat.
Alvin tersenyum menatap mamanya. Ia memang tidak bisa berbohong pada mamanya, tapi… kalau dibilang untuk mengungkapkan perasaan… apa tidak terlalu jujur?
“Buat cewek, Ma” jawab Alvin singkat. Kembali menekuni kegiatannya, yaitu menghias cokelat.
Mama Alvin tersenyum, ia menyadari perubahan senyum Alvin. bukan senyum ceria seperti biasanya, tapi kini senyuman malu. Pasti Alvin sedang jatuh cinta.
“Mama tau kok. Kasih ini, Vin, di cokelatmu” suruh Mama Alvin, menyodorkan sebatang cokelat tanpa merk. Yang diterima Alvin dengan heran.
"Ini apa?” tanya Alvin heran, menatap cokelat yang kini ada di genggamannya.
“Itu…” jelas Mamanya, “Cokelat khusus. Rasanya enaaaaak banget, bisa bikin yang makan jadi bahagia. Karena, waktu mama bikin cokelat itu, perasaan mama lagi bahagia! Ingat, Vin, perasaan seseorang bisa mempengaruhi rasa dalam masakannya… ”
Alvin menatap cokelat itu ragu, tapi toh ia mengambil pisau untuk mengiris-iris cokelat itu menjadi serpihan kecil, lalu ia taburkan di atas cokelatnya yang sudah jadi.
Alvin lalu meraih satu kotak kosong, lalu dengan hati-hati ia masukkan cokelatnya ke dalam kotak itu. Mama Alvin hanya tersenyum.
***
“Alvin pergi dulu ya Ma!” pamit Alvin setelah ia berganti baju, bersiap menemui Sivia. Di tangannya tersampir sebuah kantong kertas berisi cokelat yang akan ia berikan khusus untuk Sivia.
“Iya, hati-hati ya…” pesan mamanya sambil tersenyum.
Alvin segera berlari ke arah garasi untuk mengambil sepeda balapnya. Ehm… sebenarnya bisa saja ia meminta sopirnya untuk mengantar, tapi… ah sudahlah, pokoknya Alvin berniat memakai sepedanya saja.
Saat memakai helm khas pembalap sepeda, Alvin merasakan hp nya bergetar, ia meraih hp itu lalu membaca sms yang masuk. Oh, ternyata sms Sivia yang menyanggupi ajakan Alvin untuk bertemu di taman perumahannya.
Alvin tersenyum lagi. Ya, ia akan mengumpulkan seluruh keberaniannya. Untuk tujuannya.
***
Alvin menyandarkan sepedanya di salah satu pohon, taman perumahan. Ia melepaskan helm ala pembalap sepeda seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman.
Hmm… Alvin melihat seseorang yang sedang duduk di salah satu bangku di tengah taman. Sivia. Alvin meraih kantong kertasnya dan berlari kecil menuju Sivia. Sivia tersenyum melihat Alvin.
“Maaf ya, Siv… Elo jadi kelamaan nunggu…” ucap Alvin seraya duduk di bangku yang berhadapan dengan Sivia. Sivia tertawa kecil, “Nggak apa-apa Vin! Terus… mau ngapain nih? Setau gua, udah semenjak SD dulu kita temenan tapi baru kali ini elo ngajak ketemu beduaan” tanya Sivia, lantas terbahak.
Alvin hanya menunjukkan cengiran lebarnya, otaknya masih sibuk memikirkan kata-kata yang cocok untuk basa-basi.
“Emm… ini, Siv” ujar Alvin pelan, menyodorkan kantong kertas yang sedari tadi digenggamnya erat-erat, mencoba menggapai keberanian dari sana.
Alvin bisa melihat dahi Sivia yang berkerut, tapi toh Sivia menarik pelan kantong kertas itu. Lalu ditariknya keluar sebuah kotak berukuran sedang dari dalam sana.
“Cokelat?” tanya Sivia pelan, terselip kegirangan di perkataannya tadi. Alvin mengangguk cepat sambil tersenyum.
“Iya, tadi… engg… tadi… mama bikinin buat elo” jawab Alvin setengah berbohong.
“Buat gua nih? Boleh gua makan?” tanya Sivia bersemangat, matanya berbinar saat melihat ada hiasan namanya di atas cokelat itu.
“Boleh lah. Itu kan buat elo” jawab Alvin, berusaha menahan senyumnya saat melihat ekspresi Sivia yang sangat bersemangat.
Sivia memotong cokelat itu dengan tangannya dan memasukkan sepotong kecil cokelat ke dalam mulutnya. Kelihatan jelas bahwa Sivia sangat menikmati cokelat itu.
“Enak, Vin. Beneran! Nih, elo cobain!” tawar Sivia, mendorong cokelat itu pelan ke Alvin. Alvin juga memotong cokelat itu dengan tangannya dan memasukkan potongannya ke mulutnya.
Jadilah mereka berdua bersama-sama menikmati cokelat yang berukuran sedang itu.
***
“Hmm… enak banget Vin cokelatnya! Makasih banyak ya…” ucap Sivia saat cokelat itu sudah habis tak bersisa.
“Iya, Siv. Sama-sama, eh elo beneran penggila cokelat ya? Cokelat apa aja elo makan” komentar Alvin sambil tersenyum geli.
“Iya dong, cokelat itu yang bisa ngerubah perasaan gua. Yang tadinya gua kesel, jadi seneng, yang tadinya gua males, jadi rajin. Pokoknya cokelat itu selalu nemenin gua!” sahut Sivia gembira.
“Kalo seandainya udah nggak ada cokelat di dunia ini?” tanya Alvin, setengah menggoda.
Sivia mencibir, “Gua bakalan mati kali” sahutnya cuek.
Raut muka Alvin seketika berubah. Ia teringat maksudnya.
“Kalo gitu bisa nggak gua yang jadi pengganti cokelat buat elo?” tanya Alvin, wajahnya berubah serius.
“Emang elo mau gua makan?” tanya Sivia balik, bercanda.
“Serius ini Siv!” tukas Alvin. Sivia segera duduk tegak dan menanggapi perkataan Alvin dengan lebih serius.
“Maksud lo?”
“Ya…” Alvin memulai penjelasannya, “Kan tadi elo bilang kalo cokelat yang selalu nemenin elo. Cokelat kan bisa abis di toko, atau pabriknya bangkrut gitu… Gua bisa nggak jadi pengganti cokelat buat elo? Gua bisa nggak jadi orang yang nemenin elo terus?” Alvin kini sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya selama ini. Sekarang hanya bagaimana tanggapan Sivia saja.
Sivia terpaku. Berbeda dengan Ify, Sivia lebih peka dengan hal-hal seperti ini. Dan ia sadar ebtul bahwa tadi itu, adalah ungkapan hati seorang Alvin. Dengan kata yang lebih simpel, Alvin-baru-saja-menembaknya.
“Jadi? Gua boleh jadi pengganti cokelat? Gua bisa lebih dari sekadar pengganti cokelat, Siv. Cokelat bikin elo jadi semangat lagi, dan gua bakalan bikin hidup elo yang jadi lebih berwarna” lanjut Alvin lagi. Menatap mata Sivia yang kini tengah terpaku.
Sivia-tidak-bisa-bergerak-ataupun-berkata-sesuatu. Ia hanya terpaku. Yaaah… mungkin memang tidak seromantis adegan di film, atapun cerita di novel. Tapi… entah kenapa ketika Alvin mengungkapkan hal itu kepadanya, itulah cara yang jujur, dan tak bertele-tele.
“Jadi? Gua boleh jadi pengganti cokelat?” tanya Alvin lagi, meminta sebuah kepastian dari Sivia yang masih terpaku. Sivia mulai merasakan semburat panas yang menjalar sampai ke kuping. Oh, apa lagi yang harus ia katakan? Ia tak ingin menolaknya! Tapi ia tak bisa berkata apa-apa!
Sivia mengangguk kecil. Lalu mengangguk mantap lagi untuk kedua kalinya, diiringi senyuman manisnya. Alvin tersenyum lega melihat reaksi Sivia.
“Makasih ya Siv…” ucap Alvin pelan, ia menyodorkan sebatang cokelat kecil yang sedari tadi disimpannya di saku celana.
Sivia menerima cokelat itu dan melambaikannya tepat di sebelah telinganya,“Lebih dari cokelat ya, Vin…”
“Iya, lebih dari cokelat, dan akan bikin hari-hari selanjutnya makin berwarna” ucap Alvin lagi.
Sivia tersenyum, Alvin tersenyum. Di hadapan mereka berdua ada sebuah kotak bekas cokelat yang menyimpan sejarah antara mereka berdua… Dan tak akan terlupakan…
*****
Ada Apa dengan Kebun Part 15 (repost)
Part 15 : Ify’s Happiness
Kayaknya Rio sama Ify memang
ditakdirkan untuk berantem , maafan,
berantem lagi, maafan lagi.
Unpredictable. Rio senang Ify cemburu,
tandanya Ify ada rasa! Tapi, apa benar
Ify ada rasa?
Hmm… bagaimana dengan Sivia-Alvin?
****
Ify menatap pemandangan jalan raya
yang ramai di balik jendela mobilnya.
Di hatinya kini ada perasaan aneh yang
sedang bergejolak, lebih tepatnya saat
ia mengingat Rio dan Zevana yang
berpegang-pegangan tangan.
Ify menghela nafas panjang sekali lagi
untuk menenangkan perasaannya.
Masa iya ini yang namanya… mm…
cemburu?
Ify menggelengkan kepalanya kuat-
kuat. Ia bukan siapa-siapanya Rio. Ia
bukan teman spesial Rio. Ia bukan
sahabat Rio. Ia hanya teman yang
baru dikenal Rio selama kurang lebih 2
minggu ini. Ify juga tak ada rasa
apapun terhadap
Rio!
Tapi… kalau memang Ify tak ada
perasaan “khusus” terhadap Rio… kenapa
perasaan yang sekarang berkecamuk di
hatinya ini mampu membuatnya
gelisah?
Ify menghela nafas lagi. Sekadar untuk
memastikan apa yang ada di benaknya
saat ini.
Ify.Memang.Cemburu.
‘Kalo gua cemburu, berarti gua suka
sama dia. Ah masa sih?’ pikir Ify.
Sesaat kemudian ia membuka risleting
tasnya dan menarik jurnalnya keluar.
Jurnal itu memang selalu dibawanya
kemana pun ia pergi. termasuk ke
sekolah.
Pelan-pelan, ia menarik 3 lembar kertas
yang terselip di antara halaman-
halaman jurnalnya. Ia lalu membaca isi
kertas itu dan kembali tersenyum.
Ya, kertas itu memang surat-surat
kaleng yang diberikan oleh Rio.
Memang hanya 3 surat, isinya pun
jauh dari romantis, tidak seperti isi surat
dari penggemar rahasia di dalam
film-film.
Ify mendekap erat-erat ketiga surat itu
sambil memejamkan matanya.
Terbayang senyum Rio—yang kini baru
disadarinya—mampu mengalahkan
senyum manis Dayat.
Dan kini ia benar-benar yakin, ia
memang menyukai Rio.
***
Rio menatap langit-langit kamarnya dari
atas tempat tidur. Memang seharusnya
ia berada di rumah Ify, untuk bekerja.
Tapi… hari ini kan hari Sabtu! Dan
mama Ify memperbolehkan Rio untuk
mengambil libur saat hari Sabtu.
Bukannya sedih karena Ify cemburu,
Rio malah senang. Tandanya Ify
menyimpan perasaan“khusus” padanya.
Seperti apa yang dibilang Alvin tadi
siang.
TOK TOK TOK…
Rio tersadar dari lamunannya tentang
Ify saat suara ketukan pintu tiba-tiba
terdengar.
“Masuk” ujar Rio, melangkah ke arah
pintu kamarnya.
Pintu terbuka, dan nampaklah kakak
Rio, Gabriel, yang sedang tersenyum.
"Eh, Kak Iel. Ngapain kak?” tanya Rio,
menahan pintu agar kakaknya bisa
masuk ke kamarnya.
“Engga apa-apa sih. Cuma gua liat akhir-
akhir ini elo kerjaannya ngelamuuuun
melulu. Sukses ya pedekate elo sama
Ify?” tanya Gabriel balik. Duduk di
salah satu sofa berwarna hitam.
Rio tercengang. Kakaknya ini memang
lebih cocok jadi dokter spesialis. Dokter
spesialis cinta maksudnya. Karena
Gabriel selaluuu saja tahu tentang
perkembangan Rio dan Ify, hanya
karena gerak-gerik Rio.
Tak mampu mengelak, Rio hanya
mengangguk.
Gabriel tersenyum melihat anggukan
kepala Rio,“Tembak” ujarnya pelan.
Rio mengerutkan kening, maksudnya?
“Maksudnya?” tanya Rio, duduk di
sofa yang bersebelahan dengan Gabriel.
“Ya tembak! Elo tembak si Ify!” jawab
Gabriel cepat. Gemas juga dia melihat
Rio yang terlalu lugu.
“Engga kecepetan?” tanya Rio ragu. Dia
baru pedekate ke Ify kurang dari 2
minggu!
“Nggak! Tembak deh. Pake tuh gitar lo!”
jawab Gabriel lagi, menunjuk sebuah
gitar yang sudah beberapa hari ini tak
disentuh oleh Rio. Karena terlalu sibuk
memikirkan Ify.
Rio berjalan ke arah gitarnya dan
mencoba memetikkan beberapa kord. Ia
menatap Gabriel dengan senyuman
bangga.
“Iya deh. Gua tembak aja si Ify!
Makasih ya kak, sarannya!” ujar Rio,
tersenyum kepada Gabriel. Beruntung ia
mempunyai kakak sepengertian Gabriel.
Gabriel mengangguk, “Biasa aja lah,
Yo”.
Lantas Gabriel pergi keluar dari kamar
Rio. Sedangkan Rio masih sibuk berpikir
tentang lagu yang cocok untuk
menembak Ify.
I’m Yours? Ah, sudah sering!
Bukan Cinta Biasa? Ribet ah!
Cinta Gila? Makin ribet!
L.O.V.E? Hmm… dari Nat King Cole,
ya…
Great! L.O.V.E dari Nat King Cole!
Simpel, tapi maksudnya jelas. Rio
segera melatih kelancarannya
memainkan lagu L.O.V.E dengan
gitarnya.
Tak sampai 15 menit, Rio sudah
berganti pakaian menjadi yang lebih
keren. Kaus putih, jaket puith bermotif
garis horizontal hitam, dan jins hitam.
Hmm… sanggup membuat cewek-cewek
histeris sepertinya.
Rio tersenyum melihat bayangannya di
cermin. Dengan sigap ia meraih gitarnya,
lalu pergi ke rumah Ify. Rumahnya dan
rumah Ify memang hanya berjarak
beberapa blok saja.
***
Rio menghela nafas panjang untuk
menyiapkan dirinya. Lalu tangannya
bergerak perlahan untuk memijat bel
rumah Ify.
TING TONG…
“Sebentaaaar…” sayup-sayup terdengar
suara seorang cewek dari dalam rumah.
Rio hafal suara itu. Suara Ify.
“Eh, elo, Yo? Ada apa? Kan hari Sabtu?
Elo libur kan? Ngapain bawa gitar?”
tanya Ify bertubi-tubi saat pintu telah
terbuka.
Rio tersenyum sesaat, “Ini, Fy. Gua ada
perlu. Ehm… bisa kita ngomong di sana
aja?” pinta Rio, tangan kirinya
menunjuk sepasang kursi dan meja
berpayung di sudut taman Ify.
“Boleh, yuk” ujar Ify pelan, hatinya
tiba-tiba berdegup kencang. Firasatnya
mengatakan Rio akan mengatakan
sesuatu yang penting.
Ify dan Rio duduk di kursi masing-
masing. Posisinya berhadapan. Rio
segera bersiap untuk memainkan lagu,
sementara Ify masih bingung dengan
maksud Rio.
“Dengerin aja deh. Kalo mau nanya,
nanti dulu aja ya” ujar Rio pelan
sambil tersenyum, seakan mengerti
pikiran Ify.
Perlahan, Rio mulai memetik senar-
senar gitarnya, memainkan sebuah
lagu , dan Rio juga bersenandung
khusus untuk Ify.
L is for the way you look at me
O is for the only one I see
V is very, very extraordinary
E is even more than anyone that you
adore and
Love is all that I can give to you
Love is more than just a game for two
Two in love can make it
Take my heart and please don't break it
Love was made for me and you
Liriknya memang simpel. Maksud dari
liriknya sangat jelas. Tapi memang,
lagu ini lagu yang romantis tanpa harus
bertele-tele.
“Love… was made for me and you…” Rio
melantunkan bait terakhir dari lagunya.
Mendekatkan kursinya ke arah Ify.
Ify masih tercengang. Tidak percaya.
Oh Tuhan, ini mimpi atau apa? Baru
tadi disadarinya tentang perasaannya
sendiri, yang ternyata ia benar-benar
menyukai seorang
Mario Stevano, sekarang orang itu
benar-benar… menembaknya? Oh
apakah lagu itu
dimaksudkan untuk menyatakan
perasaan Rio kepada Ify?
Rio menatap mata Ify lekat-lekat,
senyum masih terkembang di
wajahnya.
“Jadi..?” tanya Rio pelan, membuat hati
Ify berdegup semakin kencang.
“Euh… barusan itu… mmm… nem… err…
nembak atau… cuma sekadar nyanyi?”
tanya Ify ragu. Ia memang tidak
mengerti maksud Rio sebenarnya.
Tawa Rio meledak. “Ify… Ify! Udah
jelas kan maksud dari lagu itu? Love…
was made for ME and YOU…” Rio
kembali melantunkan bait terakhir di
lagu itu beserta penekanan
di kata-kata khusus.
“Ja… jadi itu… ehmm… nem… nembak?”
tanya Ify lagi. Masih ragu. Rio
mengangguk cepat. Rio juga sudah
penasaran akan jawaban Ify.
“Jadi?” tanya Rio, meminta kepastian
dari Ify.
Ify berpikir sebentar. Diterima? Atau
tidak?
“Two in love can make it… Take my
heart and please don’t break it… Love…
was made for me and you…” Ify juga
melantunkan beberapa bait terakhir dari
lagu itu. Senyumnya merekah.
Senyum Rio makin merekah, begitu pun
Ify.
“Makasih, Fy” ucap Rio pelan, menarik
tangan Ify lembut dan
menggenggamnya.
“Itu… itu juga lagu kesukaan aku…”
ujar Ify pelan. Senyumnya masih
belum lepas dari wajahnya.
“Love is all that I can give to you… Love
is more than just a game for two, ² in love can make it, Take my heart and
please don't break it… Love was made
for me and you…”
Mereka berdua. Rio dan Ify.
Melantunkan lagu itu bersama-sama.
Dan hari itu juga menjadi… hari yang
takkan bisa dilupakan oleh Ify dan Rio.
Hari dimana mereka bisa bersama…
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Kayaknya Rio sama Ify memang
ditakdirkan untuk berantem , maafan,
berantem lagi, maafan lagi.
Unpredictable. Rio senang Ify cemburu,
tandanya Ify ada rasa! Tapi, apa benar
Ify ada rasa?
Hmm… bagaimana dengan Sivia-Alvin?
****
Ify menatap pemandangan jalan raya
yang ramai di balik jendela mobilnya.
Di hatinya kini ada perasaan aneh yang
sedang bergejolak, lebih tepatnya saat
ia mengingat Rio dan Zevana yang
berpegang-pegangan tangan.
Ify menghela nafas panjang sekali lagi
untuk menenangkan perasaannya.
Masa iya ini yang namanya… mm…
cemburu?
Ify menggelengkan kepalanya kuat-
kuat. Ia bukan siapa-siapanya Rio. Ia
bukan teman spesial Rio. Ia bukan
sahabat Rio. Ia hanya teman yang
baru dikenal Rio selama kurang lebih 2
minggu ini. Ify juga tak ada rasa
apapun terhadap
Rio!
Tapi… kalau memang Ify tak ada
perasaan “khusus” terhadap Rio… kenapa
perasaan yang sekarang berkecamuk di
hatinya ini mampu membuatnya
gelisah?
Ify menghela nafas lagi. Sekadar untuk
memastikan apa yang ada di benaknya
saat ini.
Ify.Memang.Cemburu.
‘Kalo gua cemburu, berarti gua suka
sama dia. Ah masa sih?’ pikir Ify.
Sesaat kemudian ia membuka risleting
tasnya dan menarik jurnalnya keluar.
Jurnal itu memang selalu dibawanya
kemana pun ia pergi. termasuk ke
sekolah.
Pelan-pelan, ia menarik 3 lembar kertas
yang terselip di antara halaman-
halaman jurnalnya. Ia lalu membaca isi
kertas itu dan kembali tersenyum.
Ya, kertas itu memang surat-surat
kaleng yang diberikan oleh Rio.
Memang hanya 3 surat, isinya pun
jauh dari romantis, tidak seperti isi surat
dari penggemar rahasia di dalam
film-film.
Ify mendekap erat-erat ketiga surat itu
sambil memejamkan matanya.
Terbayang senyum Rio—yang kini baru
disadarinya—mampu mengalahkan
senyum manis Dayat.
Dan kini ia benar-benar yakin, ia
memang menyukai Rio.
***
Rio menatap langit-langit kamarnya dari
atas tempat tidur. Memang seharusnya
ia berada di rumah Ify, untuk bekerja.
Tapi… hari ini kan hari Sabtu! Dan
mama Ify memperbolehkan Rio untuk
mengambil libur saat hari Sabtu.
Bukannya sedih karena Ify cemburu,
Rio malah senang. Tandanya Ify
menyimpan perasaan“khusus” padanya.
Seperti apa yang dibilang Alvin tadi
siang.
TOK TOK TOK…
Rio tersadar dari lamunannya tentang
Ify saat suara ketukan pintu tiba-tiba
terdengar.
“Masuk” ujar Rio, melangkah ke arah
pintu kamarnya.
Pintu terbuka, dan nampaklah kakak
Rio, Gabriel, yang sedang tersenyum.
"Eh, Kak Iel. Ngapain kak?” tanya Rio,
menahan pintu agar kakaknya bisa
masuk ke kamarnya.
“Engga apa-apa sih. Cuma gua liat akhir-
akhir ini elo kerjaannya ngelamuuuun
melulu. Sukses ya pedekate elo sama
Ify?” tanya Gabriel balik. Duduk di
salah satu sofa berwarna hitam.
Rio tercengang. Kakaknya ini memang
lebih cocok jadi dokter spesialis. Dokter
spesialis cinta maksudnya. Karena
Gabriel selaluuu saja tahu tentang
perkembangan Rio dan Ify, hanya
karena gerak-gerik Rio.
Tak mampu mengelak, Rio hanya
mengangguk.
Gabriel tersenyum melihat anggukan
kepala Rio,“Tembak” ujarnya pelan.
Rio mengerutkan kening, maksudnya?
“Maksudnya?” tanya Rio, duduk di
sofa yang bersebelahan dengan Gabriel.
“Ya tembak! Elo tembak si Ify!” jawab
Gabriel cepat. Gemas juga dia melihat
Rio yang terlalu lugu.
“Engga kecepetan?” tanya Rio ragu. Dia
baru pedekate ke Ify kurang dari 2
minggu!
“Nggak! Tembak deh. Pake tuh gitar lo!”
jawab Gabriel lagi, menunjuk sebuah
gitar yang sudah beberapa hari ini tak
disentuh oleh Rio. Karena terlalu sibuk
memikirkan Ify.
Rio berjalan ke arah gitarnya dan
mencoba memetikkan beberapa kord. Ia
menatap Gabriel dengan senyuman
bangga.
“Iya deh. Gua tembak aja si Ify!
Makasih ya kak, sarannya!” ujar Rio,
tersenyum kepada Gabriel. Beruntung ia
mempunyai kakak sepengertian Gabriel.
Gabriel mengangguk, “Biasa aja lah,
Yo”.
Lantas Gabriel pergi keluar dari kamar
Rio. Sedangkan Rio masih sibuk berpikir
tentang lagu yang cocok untuk
menembak Ify.
I’m Yours? Ah, sudah sering!
Bukan Cinta Biasa? Ribet ah!
Cinta Gila? Makin ribet!
L.O.V.E? Hmm… dari Nat King Cole,
ya…
Great! L.O.V.E dari Nat King Cole!
Simpel, tapi maksudnya jelas. Rio
segera melatih kelancarannya
memainkan lagu L.O.V.E dengan
gitarnya.
Tak sampai 15 menit, Rio sudah
berganti pakaian menjadi yang lebih
keren. Kaus putih, jaket puith bermotif
garis horizontal hitam, dan jins hitam.
Hmm… sanggup membuat cewek-cewek
histeris sepertinya.
Rio tersenyum melihat bayangannya di
cermin. Dengan sigap ia meraih gitarnya,
lalu pergi ke rumah Ify. Rumahnya dan
rumah Ify memang hanya berjarak
beberapa blok saja.
***
Rio menghela nafas panjang untuk
menyiapkan dirinya. Lalu tangannya
bergerak perlahan untuk memijat bel
rumah Ify.
TING TONG…
“Sebentaaaar…” sayup-sayup terdengar
suara seorang cewek dari dalam rumah.
Rio hafal suara itu. Suara Ify.
“Eh, elo, Yo? Ada apa? Kan hari Sabtu?
Elo libur kan? Ngapain bawa gitar?”
tanya Ify bertubi-tubi saat pintu telah
terbuka.
Rio tersenyum sesaat, “Ini, Fy. Gua ada
perlu. Ehm… bisa kita ngomong di sana
aja?” pinta Rio, tangan kirinya
menunjuk sepasang kursi dan meja
berpayung di sudut taman Ify.
“Boleh, yuk” ujar Ify pelan, hatinya
tiba-tiba berdegup kencang. Firasatnya
mengatakan Rio akan mengatakan
sesuatu yang penting.
Ify dan Rio duduk di kursi masing-
masing. Posisinya berhadapan. Rio
segera bersiap untuk memainkan lagu,
sementara Ify masih bingung dengan
maksud Rio.
“Dengerin aja deh. Kalo mau nanya,
nanti dulu aja ya” ujar Rio pelan
sambil tersenyum, seakan mengerti
pikiran Ify.
Perlahan, Rio mulai memetik senar-
senar gitarnya, memainkan sebuah
lagu , dan Rio juga bersenandung
khusus untuk Ify.
L is for the way you look at me
O is for the only one I see
V is very, very extraordinary
E is even more than anyone that you
adore and
Love is all that I can give to you
Love is more than just a game for two
Two in love can make it
Take my heart and please don't break it
Love was made for me and you
Liriknya memang simpel. Maksud dari
liriknya sangat jelas. Tapi memang,
lagu ini lagu yang romantis tanpa harus
bertele-tele.
“Love… was made for me and you…” Rio
melantunkan bait terakhir dari lagunya.
Mendekatkan kursinya ke arah Ify.
Ify masih tercengang. Tidak percaya.
Oh Tuhan, ini mimpi atau apa? Baru
tadi disadarinya tentang perasaannya
sendiri, yang ternyata ia benar-benar
menyukai seorang
Mario Stevano, sekarang orang itu
benar-benar… menembaknya? Oh
apakah lagu itu
dimaksudkan untuk menyatakan
perasaan Rio kepada Ify?
Rio menatap mata Ify lekat-lekat,
senyum masih terkembang di
wajahnya.
“Jadi..?” tanya Rio pelan, membuat hati
Ify berdegup semakin kencang.
“Euh… barusan itu… mmm… nem… err…
nembak atau… cuma sekadar nyanyi?”
tanya Ify ragu. Ia memang tidak
mengerti maksud Rio sebenarnya.
Tawa Rio meledak. “Ify… Ify! Udah
jelas kan maksud dari lagu itu? Love…
was made for ME and YOU…” Rio
kembali melantunkan bait terakhir di
lagu itu beserta penekanan
di kata-kata khusus.
“Ja… jadi itu… ehmm… nem… nembak?”
tanya Ify lagi. Masih ragu. Rio
mengangguk cepat. Rio juga sudah
penasaran akan jawaban Ify.
“Jadi?” tanya Rio, meminta kepastian
dari Ify.
Ify berpikir sebentar. Diterima? Atau
tidak?
“Two in love can make it… Take my
heart and please don’t break it… Love…
was made for me and you…” Ify juga
melantunkan beberapa bait terakhir dari
lagu itu. Senyumnya merekah.
Senyum Rio makin merekah, begitu pun
Ify.
“Makasih, Fy” ucap Rio pelan, menarik
tangan Ify lembut dan
menggenggamnya.
“Itu… itu juga lagu kesukaan aku…”
ujar Ify pelan. Senyumnya masih
belum lepas dari wajahnya.
“Love is all that I can give to you… Love
is more than just a game for two, ² in love can make it, Take my heart and
please don't break it… Love was made
for me and you…”
Mereka berdua. Rio dan Ify.
Melantunkan lagu itu bersama-sama.
Dan hari itu juga menjadi… hari yang
takkan bisa dilupakan oleh Ify dan Rio.
Hari dimana mereka bisa bersama…
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ada Apa dengan Kebun Part 14 (repost)
Part 14 : Zev The Annoyer
Oops… Ify tahu juga kalau Rio yang selama ini ngirimin dia surat kaleng! Kayaknyaa… hubungan mereka berdua bakalan makin akrab nih! Gimana juga sama Zevana, fans Rio yang ga ada matinya ngejar-ngejar Rio?
****
Ify terkekeh. Lalu tertawa pelan. Lama kelamaan, tawanya makin keras. Rio yang melihat tawa Ify yang heboh merasa heran.
“Euh… Kok elo ketawa?” tanya Rio tiba-tiba, tawa Ify semakin keras.
“Yaiyalah gua ketawa! Masa gua bisa sih ngga nyadar kalo selama ini elo pengirimnya?” jawab Ify yang sudah bisa mengendalikan tawanya. Rio ikut tersenyum. Tapi canggung. Bagaimanapun juga, rahasianya sudah terbongkar secepat ini!
“Ah udah deh. Gua juga capek ketawa. Elo nggak pulang, Yo?” tanya Ify, melipat kembali surat itu dan memasukkannya di saku.
“Pulang sih… Kebetulan hari ini aku bawa motor. Baru bisa naik motor sih. Hehehe” jawab Rio, masih canggung. Ify tersenyum mendengar perkataan Rio yang terakhir.
“Boleh… nebeng?” tanya Ify lagi, tapi pelan. Rio tercengang mendengar pertanyaan Ify, tanpa pikir panjang, Rio mengangguk mantap.
“Boleh! Yuk!” ajak Rio, melangkah keluar kelas beriringan dengan Ify. Ify merasa beruntung karena hari ini sopirnya tidak bisa menjemput. Pulang bareng Rio? Wow. Bukan hanya karena Rio yang baru-baru ini disadari Ify sebagai cowok ganteng saja. Tapi juga karena Rio adalah pengirim surat-surat kaleng itu. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah Ify.
“Naik, Fy!” ajak Rio, Ify seketika sadar dari lamunannya. Ternyata ia sudah di parkiran. Dan Rio sudah siap untuk memboncengnya.
Ify tersenyum, pelan-pelan ia naik ke motor Rio. Ia duduk menyamping karena memakai rok. Kedua tangannya memegang baju Rio. Ia masih merasa malu kalau harus memeluk pinggang Rio.
Rio yang merasakan Ify memegang bagian belakang bajunya tersenyum senang.
“Gua pelan-pelan kok Fy, bawa motornya. Tenang aja” ujar Rio yang seakan mengerti pikiran Ify. Senyum Ify makin merekah. Ia senang dengan sikap Rio yang perhatian.
“Iya, Yo”
Dan mereka berdua pulang. Bersama-sama. Dengan motor. Diterpa angin sore yang lembut. Jalan raya pun sudah lengang. Ify merasa tidak usah sampai rumah pun tidak apa-apa.
***
“… Gitu ceritanya Vin!” ujar Rio, mengakhiri cerita panjangnya tentang dirinya yang ketahuan Ify sebagai pengirim surat-surat kaleng. Ini memang waktunya pelajaran terakhir, tetapi karena gurunya tidak ada, anak-anak kelas 8E kebanyakan mengobrol di kelas.
Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar cerita Rio yang nyaris seperti sinetron.
“Elo pulang berdua lagi sama Ify? Enak banget deh lo. Gua juga mau pulang sama Sivia” ujar Alvin lesu. Rio terkekeh lantas menepuk pundak sahabatnya itu.
“Sabaaar… semua a…” belum sempat Rio menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Zevana dataaaang…
“RIOOOO”
Ugh. Perasaan Rio seperti dijungkir balikkan. Baru saja ia tersenyum senang karena Ify, Zevana yang nekat ini sudah datang!
“Pergi yuk Vin” ajak Rio sambil berbisik. Alvin menurut dan cepat-cepat keluar kelas. Rio juga cepat-cepat melangkah keluar.
“Eiiitt.. Rio mau kemanaaa?? Disini ajaa” ujar Zevana genit sambil menahan Rio. Tangan Rio dipegangnya. Sedangkan Alvin sudah lolos, ia sudah berada di depan kelas.
“Err… lepasin Zev” pinta Rio, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Zevana yang kuat.
"Disini aja! Temenin aku dooong” rayu Zevana genit. Tak tanggung-tanggung, kedua tangan Rio dicengkeramnya. Posisi mereka berhadap-hadapan. Membuat siapa saja yang melihat mereka pasti berpikir macam-macam.
Rio berpikir keras agar bisa melepaskan diri dari Zevana. Tiba-tiba, Ify dan Sivia yang baru kembali dari toilet masuk ke kelas. Rio kaget melihat Ify yang masuk tiba-tiba. Ify lebih kaget melihat Rio dan Zevana yang berpegang-pegangan tangan. Sivia hanya melongo, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Alvin yang berada di depan kelas menepuk dahinya dengan kesal.
TENG… TENG… TENG…
Bel tanda pulang sekolah sudah berdentang. Ify tidak mempedulikan Rio dan Zevana lagi. Ia buru-buru meraih tasnya dan pergi begitu saja. Sivia mengikuti Ify.
Rio melepaskan cengkeraman Zevana dengan kasar. Lalu mengambil ranselnya.
“Pergi lo!” hardik Rio kasar pada Zevana, Alvin buru-buru masuk kelas dan mengambil tasnya.
Rio dan Alvin cepat-cepat pergi ke gerbang sekolah agar tidak dikejar-kejar Zevana lagi.
“Ify kayaknya cemburu deh Yo” ujar Alvin saat mereka sudah sampai di gerbang. Hari ini Rio tidak membawa motor. Ia akan pulang bersama Alvin.
"Serius lo?” tanya Rio senang tapi agak ragu.
Tapi saat melihat anggukan mantap dari Alvin, Rio tersenyum senang. Ify cemburu? Itu tandanya Ify ada perasaan“khusus”! Berguna juga Zevana The Annoyer itu!
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Oops… Ify tahu juga kalau Rio yang selama ini ngirimin dia surat kaleng! Kayaknyaa… hubungan mereka berdua bakalan makin akrab nih! Gimana juga sama Zevana, fans Rio yang ga ada matinya ngejar-ngejar Rio?
****
Ify terkekeh. Lalu tertawa pelan. Lama kelamaan, tawanya makin keras. Rio yang melihat tawa Ify yang heboh merasa heran.
“Euh… Kok elo ketawa?” tanya Rio tiba-tiba, tawa Ify semakin keras.
“Yaiyalah gua ketawa! Masa gua bisa sih ngga nyadar kalo selama ini elo pengirimnya?” jawab Ify yang sudah bisa mengendalikan tawanya. Rio ikut tersenyum. Tapi canggung. Bagaimanapun juga, rahasianya sudah terbongkar secepat ini!
“Ah udah deh. Gua juga capek ketawa. Elo nggak pulang, Yo?” tanya Ify, melipat kembali surat itu dan memasukkannya di saku.
“Pulang sih… Kebetulan hari ini aku bawa motor. Baru bisa naik motor sih. Hehehe” jawab Rio, masih canggung. Ify tersenyum mendengar perkataan Rio yang terakhir.
“Boleh… nebeng?” tanya Ify lagi, tapi pelan. Rio tercengang mendengar pertanyaan Ify, tanpa pikir panjang, Rio mengangguk mantap.
“Boleh! Yuk!” ajak Rio, melangkah keluar kelas beriringan dengan Ify. Ify merasa beruntung karena hari ini sopirnya tidak bisa menjemput. Pulang bareng Rio? Wow. Bukan hanya karena Rio yang baru-baru ini disadari Ify sebagai cowok ganteng saja. Tapi juga karena Rio adalah pengirim surat-surat kaleng itu. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah Ify.
“Naik, Fy!” ajak Rio, Ify seketika sadar dari lamunannya. Ternyata ia sudah di parkiran. Dan Rio sudah siap untuk memboncengnya.
Ify tersenyum, pelan-pelan ia naik ke motor Rio. Ia duduk menyamping karena memakai rok. Kedua tangannya memegang baju Rio. Ia masih merasa malu kalau harus memeluk pinggang Rio.
Rio yang merasakan Ify memegang bagian belakang bajunya tersenyum senang.
“Gua pelan-pelan kok Fy, bawa motornya. Tenang aja” ujar Rio yang seakan mengerti pikiran Ify. Senyum Ify makin merekah. Ia senang dengan sikap Rio yang perhatian.
“Iya, Yo”
Dan mereka berdua pulang. Bersama-sama. Dengan motor. Diterpa angin sore yang lembut. Jalan raya pun sudah lengang. Ify merasa tidak usah sampai rumah pun tidak apa-apa.
***
“… Gitu ceritanya Vin!” ujar Rio, mengakhiri cerita panjangnya tentang dirinya yang ketahuan Ify sebagai pengirim surat-surat kaleng. Ini memang waktunya pelajaran terakhir, tetapi karena gurunya tidak ada, anak-anak kelas 8E kebanyakan mengobrol di kelas.
Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar cerita Rio yang nyaris seperti sinetron.
“Elo pulang berdua lagi sama Ify? Enak banget deh lo. Gua juga mau pulang sama Sivia” ujar Alvin lesu. Rio terkekeh lantas menepuk pundak sahabatnya itu.
“Sabaaar… semua a…” belum sempat Rio menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Zevana dataaaang…
“RIOOOO”
Ugh. Perasaan Rio seperti dijungkir balikkan. Baru saja ia tersenyum senang karena Ify, Zevana yang nekat ini sudah datang!
“Pergi yuk Vin” ajak Rio sambil berbisik. Alvin menurut dan cepat-cepat keluar kelas. Rio juga cepat-cepat melangkah keluar.
“Eiiitt.. Rio mau kemanaaa?? Disini ajaa” ujar Zevana genit sambil menahan Rio. Tangan Rio dipegangnya. Sedangkan Alvin sudah lolos, ia sudah berada di depan kelas.
“Err… lepasin Zev” pinta Rio, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Zevana yang kuat.
"Disini aja! Temenin aku dooong” rayu Zevana genit. Tak tanggung-tanggung, kedua tangan Rio dicengkeramnya. Posisi mereka berhadap-hadapan. Membuat siapa saja yang melihat mereka pasti berpikir macam-macam.
Rio berpikir keras agar bisa melepaskan diri dari Zevana. Tiba-tiba, Ify dan Sivia yang baru kembali dari toilet masuk ke kelas. Rio kaget melihat Ify yang masuk tiba-tiba. Ify lebih kaget melihat Rio dan Zevana yang berpegang-pegangan tangan. Sivia hanya melongo, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Alvin yang berada di depan kelas menepuk dahinya dengan kesal.
TENG… TENG… TENG…
Bel tanda pulang sekolah sudah berdentang. Ify tidak mempedulikan Rio dan Zevana lagi. Ia buru-buru meraih tasnya dan pergi begitu saja. Sivia mengikuti Ify.
Rio melepaskan cengkeraman Zevana dengan kasar. Lalu mengambil ranselnya.
“Pergi lo!” hardik Rio kasar pada Zevana, Alvin buru-buru masuk kelas dan mengambil tasnya.
Rio dan Alvin cepat-cepat pergi ke gerbang sekolah agar tidak dikejar-kejar Zevana lagi.
“Ify kayaknya cemburu deh Yo” ujar Alvin saat mereka sudah sampai di gerbang. Hari ini Rio tidak membawa motor. Ia akan pulang bersama Alvin.
"Serius lo?” tanya Rio senang tapi agak ragu.
Tapi saat melihat anggukan mantap dari Alvin, Rio tersenyum senang. Ify cemburu? Itu tandanya Ify ada perasaan“khusus”! Berguna juga Zevana The Annoyer itu!
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ada Apa dengan Kebun Part 13 (repost)
Part 13 : Ify Menyadari, Rio yang Terlalu Jujur
Ify dan Rio sudah berbaikan lagi! Memang proses berbaikannya cepat, walaupun sempat ada gengsi diantara keduanya untuk meminta maaf duluan. Bagaimana kelanjutannya?
****
Rio berjalan menyusuri koridor sekolah dengan seulas senyum tersungging di wajahnya. Semenjak kemarin sore, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Berbaikan dengan Ify membuat perasaannya kembali baik.
Rio mengintip ke dalam kelas. Wow, tumben Alvin belum datang? Biasanya dia adalah siswa kelas 8E pertama yang datang setiap pagi. Eh tunggu, tapi tas Alvin sudah ada di kursinya! Hmm… Kemana Alvin?
Rio segera meletakkan tasnya dan duduk nyaman di kursinya. Tapi sayup-sayup, ia mendengar suara Alvin di luar kelas. Perlahan, Rio bangkit dari kursinya dan mengintip ke luar kelas lewat jendela.
Rio sempat terkikik saat melihat Alvin dan Sivia yang sedang berduaan di depan kelas. Pantas saja tadi Rio tidak melihat mereka! Karena mereka berdua duduk di sebuah kursi kayu yang terletak di balik tembok besar.
“Alvin… Alvin! Elo kerjanya ngasih Sivia cokelat melulu!” gumam Rio pelan saat ia melihat Alvin yang menyodorkan sebatang Kit-Kat kepada Sivia.
Yaah, Sivia memang suka cokelat, dan Alvin selalu memberinya cokelat kesukaannya.
“Eh? Beneran, Vin? Wah makasih ya! Udah ngajarin Kimia, sekarang gua dikasih cokelat lagi! Makasih ya, Vin!” ujar Sivia girang saat menerima cokelat dari Alvin. Alvin mengangguk sambil tersenyum. Rio tertawa pelan melihat kejadian itu. Cepat-cepat ia kembali ke tempat duduknya, takut ketahuan Alvin kalau dia mengintip.
Rio berusaha menyembunyikan tawanya saat ia melihat Sivia dan Alvin yang masuk ke kelas bersamaan. Sivia melempar senyum ke arah Rio, meletakkan tasnya dan pergi keluar kelas lagi. Sementara Alvin melengos melihat Rio dan duduk di kursinya.
“Pasti tadi elo ngintip” tebak Alvin malas-malasan, memalingkan wajahnya.
“Dih? kok elo tau sih, Vin? Eh tapi elo nggak kreatif banget. Masa ngasih cokelat melulu sih?” tanya Rio, mengubah posisi duduknya agar ia bisa berhadapan dengan Alvin.
Alvin memperlihatkan cengirannya, lalu menjawab,“Engga juga, kemaren waktu elo belom dateng, gua ngasih dia bolpoin Winnie The Pooh” Rio tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,“Ckckck… Elo jagoan ternyata kalo pedekate ke cewek! Terus kapan elo mau nembak?" Alvin terdiam beberapa saat setelah mendengar pertanyaan Rio. Kalau hanya sekadar memberi hadiah, ia masih berani. Tapi kalau mengungkapkan perasaan? Duh, dia belum siap!
“Err… Belom siap, Yo” jawab Alvin pendek, menggaruk bagian belakang kupingnya.
Rio mengangguk maklum, “Oh… sama! Gua juga belom siap! Oh iya, kemaren gua sama Ify baikan lho!” Lalu Rio menceritakan kejadian kemarin. Saat Ify meminta maaf duluan, dan Ify yang ternyata menyukai surat-surat yang dikirim oleh seseorang yang misterius—yang tak lain dan tak bukan adalah Rio sendiri!!
Sedangkan Alvin mendengarkan cerita Rio dengan antusias. Dan seperti biasa, ketika Rio selesai bercerita, maka Alvin akan segera berkomentar.
“Elo sama Ify tuh cepet berantemnya, tapi baikannya juga cepet ya? Nggak usah pake ribet segala” komentar Alvin kali ini.
“Iya juga sih. Tapi kan yang penting maafan, Vin!” kilah Rio. Alvin tertawa, Rio tertawa, mereka berdua tertawa.
***
“Yak, sekarang kalian buka buku kalian dan kerjakan halaman 72! Kerjakan dalam waktu 20 menit! Saya mau ke ruang guru dulu” perintah Pak Duta saat selesai menuliskan salah satu rumus fisika di papan tulis. Kemudian guru-galak-tapi-perhatian itu pergi ke ruang guru.
Alvin segera meraih bukunya dengan semangat dan membuka halaman 72. Semenit kemudian, ia sudah sibuk mencari rumus yang harus digunakan dalam soal nomor 1. Sedangkan Rio? Ia asyik melamun sambil tersenyum-senyum sendiri. Zevana yang duduk di salah satu bangku yang berseberangan dengan Rio menjawil pundak Rio sambil tersenyum genit.
“Rioooo… kok kamu melamun sih?? Ngelamunin aku yaaa?? Hihihi” Rio yang sedari tadi melamunkan Ify sontak menoleh dan bergidik.
“Idih. Najis” gumam Rio pelan, lalu buru-buru membuka bukunya untuk mengerjakan latihan soal. Alvin yang tadi melihat kejadian itu tersenyum geli.
“Apaan sih, Vin?” tanya Rio risih saat tawa Alvin semakin keras.
“Ya nggak apa-apa. Emang ketawa dilarang?” tanya Alvin balik, Rio hanya mendengus. Tak berani menoleh ke arah kanan karena Zevana masih mencoba menggodanya. Sedangkan Alvin tertawa makin keras saat melihat hal itu.
Ify dan Sivia yang duduk di depan Rio dan Alvin merasa terganggu karena sejak tadi dua cowok itu berisik terus.
“Woy, Vin. Daripada elo ngakak kayak gitu, mendingan elo kasitau gua deh rumusnya nomor 5 gimana” ujar Ify saat ia membalikkan badannya menghadap Rio dan Alvin yang sedang tertawa bersama. Sivia mengikuti Ify.
Alvin yang sadar kalau Sivia sekarang menghadap ke arah dirinya, segera berdeham dan berlaku ramah.
“Nomor 5? Itu pake rumus yang ini, nih…” jawab Alvin, menunjuk sederet rumus di buku tulisnya. Ify dan Sivia mencatat rumus itu sambil mengangguk-angguk kecil. Sivia memperhatikan buku tulis Alvin dengan seksama. Tidak seperti Ify yang sesekali curi-curi pandang ke arah Rio. Tapi Rio sendiri tidak sadar.
‘Cakep’ batin Ify saat memandangi wajah Rio dari dekat. Entah kenapa pandangan matanya tak lepas dari seorang Mario Stevano, yang baru dikenalnya sekitar 2 minggu ini.
Rio yang merasa sedang dipandangi sontak menoleh ke arah Ify. Ify sempat kaget tapi buru-buru memalingkan wajahnya. Terlihat rona merah di pipi Ify sekarang.
‘Eh. Ify tadi ngeliatin gua tuh kayaknya…’ pikir Rio sambil tersenyum-senyum saat memandangi pipi Ify yang merona merah.
“Eh, elo berdua mau diajarin apa engga sih?” tanya Alvin tiba-tiba. Rio dan Ify yang sedang hanyut dalam pikiran masing-masing seketika sadar dari lamunannya. Dan memperhatikan Alvin yang sedang menjelaskan rumus-rumus.
***
Kelas sudah sepi saat itu. Hanya ada Rio yang sedang membereskan buku-bukunya. Alvin sudah pulang dari tadi, karena ada urusan di rumah.
Sedangkan Sivia juga sudah pulang. Tas Ify masih tergeletak begitu saja di kursinya. Karena Ify memang sedang pergi ke toilet. Rio yang melihat risleting tas Ify yang terbuka mendadak teringat surat yang hendak ia selipkan untuk Ify.
‘Ah, mendingan gua selipin sekarang aja deh’ pikir Rio sambil mengeluarkan secarik kertas yang sudah dilipat dari sakunya, lalu berusaha menyelipkan surat itu di antara buku-buku Ify. Tanpa menyadari ada seseorang di pintu yang mengawasi gerak-gerik Rio.
“Beres!” gumam Rio pelan saat ia berhasil menyelipkan surat itu dengan baik.
“Beres apanya, Yo?” tanya Ify yang sedang berdiri di depan pintu kelas dengan wajah menahan senyum.
Rio amat-sangat kaget melihat Ify yang sekarang berjalan ke arahnya.
“Jadi elo pengirimnya?” tanya Ify lagi, mengambil surat itu dari dalam tasnya dan membaca isinya. Mengabaikan Rio yang sedang melongo menatapnya.
Hey, Fy! Elo keliatan ceria banget hari ini. Pasti elo udah nemuin jalan keluar buat masalah elo kan? Gua harap, elo bisa terus senyum kayak gitu lagi!
Ify tersenyum saat membaca surat itu. Isinya tidak romantis. Juga tidak memakai kata-kata yang sanggup membuat ia meleleh. Tapi, bagi Ify, kata-kata itu berubah menjadi lebih indah daripada film Titanic.
Ify melihat ke arah Rio yang sekarang tersenyum malu-malu sambil menggaruk bagian belakang telinganya.
“Jadi elo?” tanya Ify untuk ketiga kalinya.
Rio mengangguk. Yang artinya “Iya”.
Senyum Ify makin merekah melihat jawaban Rio yang jujur. Sekarang ia merasa menjadi cewek paling bahagia di seluruh jagat raya.
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ify dan Rio sudah berbaikan lagi! Memang proses berbaikannya cepat, walaupun sempat ada gengsi diantara keduanya untuk meminta maaf duluan. Bagaimana kelanjutannya?
****
Rio berjalan menyusuri koridor sekolah dengan seulas senyum tersungging di wajahnya. Semenjak kemarin sore, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Berbaikan dengan Ify membuat perasaannya kembali baik.
Rio mengintip ke dalam kelas. Wow, tumben Alvin belum datang? Biasanya dia adalah siswa kelas 8E pertama yang datang setiap pagi. Eh tunggu, tapi tas Alvin sudah ada di kursinya! Hmm… Kemana Alvin?
Rio segera meletakkan tasnya dan duduk nyaman di kursinya. Tapi sayup-sayup, ia mendengar suara Alvin di luar kelas. Perlahan, Rio bangkit dari kursinya dan mengintip ke luar kelas lewat jendela.
Rio sempat terkikik saat melihat Alvin dan Sivia yang sedang berduaan di depan kelas. Pantas saja tadi Rio tidak melihat mereka! Karena mereka berdua duduk di sebuah kursi kayu yang terletak di balik tembok besar.
“Alvin… Alvin! Elo kerjanya ngasih Sivia cokelat melulu!” gumam Rio pelan saat ia melihat Alvin yang menyodorkan sebatang Kit-Kat kepada Sivia.
Yaah, Sivia memang suka cokelat, dan Alvin selalu memberinya cokelat kesukaannya.
“Eh? Beneran, Vin? Wah makasih ya! Udah ngajarin Kimia, sekarang gua dikasih cokelat lagi! Makasih ya, Vin!” ujar Sivia girang saat menerima cokelat dari Alvin. Alvin mengangguk sambil tersenyum. Rio tertawa pelan melihat kejadian itu. Cepat-cepat ia kembali ke tempat duduknya, takut ketahuan Alvin kalau dia mengintip.
Rio berusaha menyembunyikan tawanya saat ia melihat Sivia dan Alvin yang masuk ke kelas bersamaan. Sivia melempar senyum ke arah Rio, meletakkan tasnya dan pergi keluar kelas lagi. Sementara Alvin melengos melihat Rio dan duduk di kursinya.
“Pasti tadi elo ngintip” tebak Alvin malas-malasan, memalingkan wajahnya.
“Dih? kok elo tau sih, Vin? Eh tapi elo nggak kreatif banget. Masa ngasih cokelat melulu sih?” tanya Rio, mengubah posisi duduknya agar ia bisa berhadapan dengan Alvin.
Alvin memperlihatkan cengirannya, lalu menjawab,“Engga juga, kemaren waktu elo belom dateng, gua ngasih dia bolpoin Winnie The Pooh” Rio tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,“Ckckck… Elo jagoan ternyata kalo pedekate ke cewek! Terus kapan elo mau nembak?" Alvin terdiam beberapa saat setelah mendengar pertanyaan Rio. Kalau hanya sekadar memberi hadiah, ia masih berani. Tapi kalau mengungkapkan perasaan? Duh, dia belum siap!
“Err… Belom siap, Yo” jawab Alvin pendek, menggaruk bagian belakang kupingnya.
Rio mengangguk maklum, “Oh… sama! Gua juga belom siap! Oh iya, kemaren gua sama Ify baikan lho!” Lalu Rio menceritakan kejadian kemarin. Saat Ify meminta maaf duluan, dan Ify yang ternyata menyukai surat-surat yang dikirim oleh seseorang yang misterius—yang tak lain dan tak bukan adalah Rio sendiri!!
Sedangkan Alvin mendengarkan cerita Rio dengan antusias. Dan seperti biasa, ketika Rio selesai bercerita, maka Alvin akan segera berkomentar.
“Elo sama Ify tuh cepet berantemnya, tapi baikannya juga cepet ya? Nggak usah pake ribet segala” komentar Alvin kali ini.
“Iya juga sih. Tapi kan yang penting maafan, Vin!” kilah Rio. Alvin tertawa, Rio tertawa, mereka berdua tertawa.
***
“Yak, sekarang kalian buka buku kalian dan kerjakan halaman 72! Kerjakan dalam waktu 20 menit! Saya mau ke ruang guru dulu” perintah Pak Duta saat selesai menuliskan salah satu rumus fisika di papan tulis. Kemudian guru-galak-tapi-perhatian itu pergi ke ruang guru.
Alvin segera meraih bukunya dengan semangat dan membuka halaman 72. Semenit kemudian, ia sudah sibuk mencari rumus yang harus digunakan dalam soal nomor 1. Sedangkan Rio? Ia asyik melamun sambil tersenyum-senyum sendiri. Zevana yang duduk di salah satu bangku yang berseberangan dengan Rio menjawil pundak Rio sambil tersenyum genit.
“Rioooo… kok kamu melamun sih?? Ngelamunin aku yaaa?? Hihihi” Rio yang sedari tadi melamunkan Ify sontak menoleh dan bergidik.
“Idih. Najis” gumam Rio pelan, lalu buru-buru membuka bukunya untuk mengerjakan latihan soal. Alvin yang tadi melihat kejadian itu tersenyum geli.
“Apaan sih, Vin?” tanya Rio risih saat tawa Alvin semakin keras.
“Ya nggak apa-apa. Emang ketawa dilarang?” tanya Alvin balik, Rio hanya mendengus. Tak berani menoleh ke arah kanan karena Zevana masih mencoba menggodanya. Sedangkan Alvin tertawa makin keras saat melihat hal itu.
Ify dan Sivia yang duduk di depan Rio dan Alvin merasa terganggu karena sejak tadi dua cowok itu berisik terus.
“Woy, Vin. Daripada elo ngakak kayak gitu, mendingan elo kasitau gua deh rumusnya nomor 5 gimana” ujar Ify saat ia membalikkan badannya menghadap Rio dan Alvin yang sedang tertawa bersama. Sivia mengikuti Ify.
Alvin yang sadar kalau Sivia sekarang menghadap ke arah dirinya, segera berdeham dan berlaku ramah.
“Nomor 5? Itu pake rumus yang ini, nih…” jawab Alvin, menunjuk sederet rumus di buku tulisnya. Ify dan Sivia mencatat rumus itu sambil mengangguk-angguk kecil. Sivia memperhatikan buku tulis Alvin dengan seksama. Tidak seperti Ify yang sesekali curi-curi pandang ke arah Rio. Tapi Rio sendiri tidak sadar.
‘Cakep’ batin Ify saat memandangi wajah Rio dari dekat. Entah kenapa pandangan matanya tak lepas dari seorang Mario Stevano, yang baru dikenalnya sekitar 2 minggu ini.
Rio yang merasa sedang dipandangi sontak menoleh ke arah Ify. Ify sempat kaget tapi buru-buru memalingkan wajahnya. Terlihat rona merah di pipi Ify sekarang.
‘Eh. Ify tadi ngeliatin gua tuh kayaknya…’ pikir Rio sambil tersenyum-senyum saat memandangi pipi Ify yang merona merah.
“Eh, elo berdua mau diajarin apa engga sih?” tanya Alvin tiba-tiba. Rio dan Ify yang sedang hanyut dalam pikiran masing-masing seketika sadar dari lamunannya. Dan memperhatikan Alvin yang sedang menjelaskan rumus-rumus.
***
Kelas sudah sepi saat itu. Hanya ada Rio yang sedang membereskan buku-bukunya. Alvin sudah pulang dari tadi, karena ada urusan di rumah.
Sedangkan Sivia juga sudah pulang. Tas Ify masih tergeletak begitu saja di kursinya. Karena Ify memang sedang pergi ke toilet. Rio yang melihat risleting tas Ify yang terbuka mendadak teringat surat yang hendak ia selipkan untuk Ify.
‘Ah, mendingan gua selipin sekarang aja deh’ pikir Rio sambil mengeluarkan secarik kertas yang sudah dilipat dari sakunya, lalu berusaha menyelipkan surat itu di antara buku-buku Ify. Tanpa menyadari ada seseorang di pintu yang mengawasi gerak-gerik Rio.
“Beres!” gumam Rio pelan saat ia berhasil menyelipkan surat itu dengan baik.
“Beres apanya, Yo?” tanya Ify yang sedang berdiri di depan pintu kelas dengan wajah menahan senyum.
Rio amat-sangat kaget melihat Ify yang sekarang berjalan ke arahnya.
“Jadi elo pengirimnya?” tanya Ify lagi, mengambil surat itu dari dalam tasnya dan membaca isinya. Mengabaikan Rio yang sedang melongo menatapnya.
Hey, Fy! Elo keliatan ceria banget hari ini. Pasti elo udah nemuin jalan keluar buat masalah elo kan? Gua harap, elo bisa terus senyum kayak gitu lagi!
Ify tersenyum saat membaca surat itu. Isinya tidak romantis. Juga tidak memakai kata-kata yang sanggup membuat ia meleleh. Tapi, bagi Ify, kata-kata itu berubah menjadi lebih indah daripada film Titanic.
Ify melihat ke arah Rio yang sekarang tersenyum malu-malu sambil menggaruk bagian belakang telinganya.
“Jadi elo?” tanya Ify untuk ketiga kalinya.
Rio mengangguk. Yang artinya “Iya”.
Senyum Ify makin merekah melihat jawaban Rio yang jujur. Sekarang ia merasa menjadi cewek paling bahagia di seluruh jagat raya.
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ada Apa dengan Kebun Part 12 (repost)
Part 12 : For The First Time
Rio dan Ify sama-sama gengsi untuk meminta maaf duluan. Kira-kira siapa yang akan mengalah?
****
Seharian itu dilewati Ify tanpa semangat. Jarang ia menampakkan senyum cerahnya, yang ada hanya senyuman lesu.
Seperti saat ini, di kamarnya. Biasanya, ia pasti sudah sibuk membaca buku di kebun atau hanya sekadar menyiram koleksi herb yang ada di balkon kamarnya yang luas.
Ify mendesah pelan, lalu mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas. Catatan Biologi, karena besok, Ify harus menghadapi tes biologi yang biasanya susah-susah, jadi dia memilih untuk belajar dengan giat.
Ify mengerutkan kening saat menyadari ada sehelai kertas yang sudah dilipat menjadi beberapa bagian yang terselip di antara halaman bukunya. Perlahan, ia membuka kertas itu.
Hey Ify! Kayaknya elo cemberut banget hari ini? Sakit perut ya? Engga kan? Atau.. ada masalah? Hmm… apapun itu, semoga surat ini bisa bikin elo senyum lagi, senyum yang tulus.
Ify memang benar-benar tersenyum saat membaca surat itu, sudah lama orang ini tidak mengiriminya surat, tapi kali ini, surat itu datang! Entah kenapa Ify jadi menunggu kedatangan surat itu, karena menarik baginya saat ia mencoba menebak-nebak siapakah pengirimnya.
Lagi-lagi Ify meraih jurnal dimana ia menyimpan semua kenangan manisnya, dan menyelipkan surat itu disana. Ia menjadi bersemangat saat belajar Biologi. Hmm… apa gua yang minta maaf ya?’ pikiran itu terlintas tiba-tiba di kepala Ify saat ia menghafalkan pengertian tentang pertumbuhan.
Cepat-cepat ia bangkit dari kursinya dan mengintip kebunnya dari jendela. Bagus! Rio belum datang! Ify kembali ke meja belajarnya, meraih sehelai kertas kecil dan menuliskan sesuatu dengan bolpoin birunya.
Ia tersenyum puas melihat hasil kerjanya itu, ia segera keluar kamar dan menuruni tangga, pergi ke arah kebun.
Ify sempat mengawasi keadaan sekitar. Yak, tidak ada orang! Ify buru-buru menempelkan kertasnya itu dengan isolasi di keran air. Tujuannya? Agar nanti saat Rio datang, Rio bisa membacanya! Ify merasa tidak enak kalau harus berbicara langsung.
Setelah menempel kertas itu, Ify masuk ke dalam kamarnya. Sesekali ia mengintip dari balik jendela, kapan Rio akan datang dan membaca pesannya?
***
Dengan malas, Rio membuka pintu gerbang rumah Ify. Ia meletakkan tasnya di kursi kayu yang terletak di sudut kebun, lalu bersiap untuk bekerja.
Pertama, ia akan menggunting daun-daun yang sudah layu dan menguning. Kali ini ia berhati-hati saat memotongnya, takut kalau akan mengenai bunga atau tanaman yang tidak layu.
Kedua, ia harus menyirami tanaman. Dengan sigap Rio mengambil slang air dan menyalakan keran. Eit, tunggu. Apa ini? Kenapa ada kertas yang menempel di keran? Apaan nih?’ pikir Rio sambil meraih kertas itu.
Maaf, Yo. Gua yang salah. Kemaren gua kelewat emosi, jadinya gua ngebentak elo tanpa pikir panjang. Mau maafin gua?
Ify
Rio tertegun saat membaca surat itu. Senang, tentu saja. Tapi kenapa Ify tidak mau bicara langsung, ya?
Belum sempat Rio menemukan jawaban untuk pikirannya, sudah ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang. Rio sontak menoleh.
“Ify?” ujar Rio ragu saat melihat Ify yang sudah tersenyum canggung di depannya.
“Euh… iya, Yo. Mau maafin gua?” tanya Ify lagi, persis seperti suratnya. 5 menit yang lalu, saat ia mengintip dari balik jendela, ia melihat Rio sedang membaca suratnya. Dan Ify segera turun ke kebun untuk meminta jawaban dari Rio atas permintaan maafnya.
Rio sempat terpana, lalu sedetik kemudian ia tersenyum dan mengangguk.“Iya, gua maafin. Gua ngerti kok!” Ify tersenyum senang mendengar jawaban Rio. Tiba-tiba saja, Ify ingin ngobrol dengan Rio tentang seseorang yang mengiriminya surat itu.
“Makasih, ya Yo! Oh iya, engga usah nyiram tanaman deh, ntar biar gua aja. Gua mau ngomong nih, elo tunggu di kursi itu ya? Gua ambilin sesuatu dulu” suruh Ify sambil menunjuk sepasang kursi dan meja berpayung di kebunnya. Rio mengangguk, lalu berjalan menuju
kursi itu. Sedangkan Ify masuk lagi ke rumah.
"Ini, Yo. Diminum dulu” ujar Ify saat ia kembali ke kebun dengan membawa 2 gelas es teh dan meletakkannya di meja. Rio mengangguk pelan dan meneguk es teh itu.
Kemudian Ify mengangsurkan 2 helai kertas ke hadapan Rio. Yang disambut Rio dengan kening berkerut. Perlahan, ia mengamati kertas itu. Lalu terperanjat. Itu kan surat-surat yang diberinya pada Ify? Apa jangan-jangan Ify sudah tahu kalau selama ini Rio yang mengiriminya surat? Rio melirik Ify dengan curiga.
“Itu, gua dikasih sama seseorang. Gua juga engga tau itu siapa, elo kenal tulisan itu?” tanya Ify. Diam-diam, Rio menghembuskan nafas lega, itu artinya Ify belum tahu kalau dialah pengirimnya.
“Engga tuh. Gua kayaknya nggak pernah liat tulisan ini deh” jawab Rio. Berbohong sebetulnya. Tapi… yaah, daripada ketahuan?
Ify menghela nafas. Baru 2 kali dikirimi surat, tapi ia sudah penasaran siapa yang mengirimkannya.
“Yaudah deh. Sini mana kertasnya, gua takut ilang. Entah kenapa kok setiap gua dapet surat dia, gua jadi semangat lagi” ujar Ify yang lebih pantas dikatakan curhat. Rio tersenyum saat mendengar perkataan Ify. Itu artinya, walaupun ia tak memakai kata-kata romantis ataupun kata-kata gombal, Ify menyukai surat kaleng yang ia kirim.
“Hmm” sahut Rio sekenanya, masih tersenyum.
“Eh, iya Yo. Elo tau? Gua baru kali ini lho minta maaf duluan ke cowok” celetuk Ify lagi, mukanya tampak bersemangat.
“Beneran? Kalo sama Alvin?” tanya Rio, berubah jadi penasaran. Alvin tetangga Ify dari dulu, mereka juga akrab kan?
“Yee… Kalo sama Alvin sih gua ga ada tuh minta maaf! Adanya setelah berantem, terus ketawa-ketawa lagi!” jawab Ify sambil tertawa.
Rio tersenyum lagi mendengar jawaban Ify.“Berarti gua cowok pertama yang dapet permintaan maaf dari elo dong?”
“Yup. Eh, tapi kalo sama papa , gua minta maaf duluan lho, Yo! Hehe” sahut Ify lagi, meneguk es tehnya yang masih penuh.
“Yeee… Kalo sama papa elo sih engga masuk itungan! Maksud gua, temen cowok pertama. Hahaha” balas Rio. Ify dan Rio tertawa bersama. Sungguh, hari ini adalah hari dimana Ify bisa tertawa lepas tanpa beban. Bersama Rio. Dan Ify menikmati hari itu.
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Rio dan Ify sama-sama gengsi untuk meminta maaf duluan. Kira-kira siapa yang akan mengalah?
****
Seharian itu dilewati Ify tanpa semangat. Jarang ia menampakkan senyum cerahnya, yang ada hanya senyuman lesu.
Seperti saat ini, di kamarnya. Biasanya, ia pasti sudah sibuk membaca buku di kebun atau hanya sekadar menyiram koleksi herb yang ada di balkon kamarnya yang luas.
Ify mendesah pelan, lalu mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas. Catatan Biologi, karena besok, Ify harus menghadapi tes biologi yang biasanya susah-susah, jadi dia memilih untuk belajar dengan giat.
Ify mengerutkan kening saat menyadari ada sehelai kertas yang sudah dilipat menjadi beberapa bagian yang terselip di antara halaman bukunya. Perlahan, ia membuka kertas itu.
Hey Ify! Kayaknya elo cemberut banget hari ini? Sakit perut ya? Engga kan? Atau.. ada masalah? Hmm… apapun itu, semoga surat ini bisa bikin elo senyum lagi, senyum yang tulus.
Ify memang benar-benar tersenyum saat membaca surat itu, sudah lama orang ini tidak mengiriminya surat, tapi kali ini, surat itu datang! Entah kenapa Ify jadi menunggu kedatangan surat itu, karena menarik baginya saat ia mencoba menebak-nebak siapakah pengirimnya.
Lagi-lagi Ify meraih jurnal dimana ia menyimpan semua kenangan manisnya, dan menyelipkan surat itu disana. Ia menjadi bersemangat saat belajar Biologi. Hmm… apa gua yang minta maaf ya?’ pikiran itu terlintas tiba-tiba di kepala Ify saat ia menghafalkan pengertian tentang pertumbuhan.
Cepat-cepat ia bangkit dari kursinya dan mengintip kebunnya dari jendela. Bagus! Rio belum datang! Ify kembali ke meja belajarnya, meraih sehelai kertas kecil dan menuliskan sesuatu dengan bolpoin birunya.
Ia tersenyum puas melihat hasil kerjanya itu, ia segera keluar kamar dan menuruni tangga, pergi ke arah kebun.
Ify sempat mengawasi keadaan sekitar. Yak, tidak ada orang! Ify buru-buru menempelkan kertasnya itu dengan isolasi di keran air. Tujuannya? Agar nanti saat Rio datang, Rio bisa membacanya! Ify merasa tidak enak kalau harus berbicara langsung.
Setelah menempel kertas itu, Ify masuk ke dalam kamarnya. Sesekali ia mengintip dari balik jendela, kapan Rio akan datang dan membaca pesannya?
***
Dengan malas, Rio membuka pintu gerbang rumah Ify. Ia meletakkan tasnya di kursi kayu yang terletak di sudut kebun, lalu bersiap untuk bekerja.
Pertama, ia akan menggunting daun-daun yang sudah layu dan menguning. Kali ini ia berhati-hati saat memotongnya, takut kalau akan mengenai bunga atau tanaman yang tidak layu.
Kedua, ia harus menyirami tanaman. Dengan sigap Rio mengambil slang air dan menyalakan keran. Eit, tunggu. Apa ini? Kenapa ada kertas yang menempel di keran? Apaan nih?’ pikir Rio sambil meraih kertas itu.
Maaf, Yo. Gua yang salah. Kemaren gua kelewat emosi, jadinya gua ngebentak elo tanpa pikir panjang. Mau maafin gua?
Ify
Rio tertegun saat membaca surat itu. Senang, tentu saja. Tapi kenapa Ify tidak mau bicara langsung, ya?
Belum sempat Rio menemukan jawaban untuk pikirannya, sudah ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang. Rio sontak menoleh.
“Ify?” ujar Rio ragu saat melihat Ify yang sudah tersenyum canggung di depannya.
“Euh… iya, Yo. Mau maafin gua?” tanya Ify lagi, persis seperti suratnya. 5 menit yang lalu, saat ia mengintip dari balik jendela, ia melihat Rio sedang membaca suratnya. Dan Ify segera turun ke kebun untuk meminta jawaban dari Rio atas permintaan maafnya.
Rio sempat terpana, lalu sedetik kemudian ia tersenyum dan mengangguk.“Iya, gua maafin. Gua ngerti kok!” Ify tersenyum senang mendengar jawaban Rio. Tiba-tiba saja, Ify ingin ngobrol dengan Rio tentang seseorang yang mengiriminya surat itu.
“Makasih, ya Yo! Oh iya, engga usah nyiram tanaman deh, ntar biar gua aja. Gua mau ngomong nih, elo tunggu di kursi itu ya? Gua ambilin sesuatu dulu” suruh Ify sambil menunjuk sepasang kursi dan meja berpayung di kebunnya. Rio mengangguk, lalu berjalan menuju
kursi itu. Sedangkan Ify masuk lagi ke rumah.
"Ini, Yo. Diminum dulu” ujar Ify saat ia kembali ke kebun dengan membawa 2 gelas es teh dan meletakkannya di meja. Rio mengangguk pelan dan meneguk es teh itu.
Kemudian Ify mengangsurkan 2 helai kertas ke hadapan Rio. Yang disambut Rio dengan kening berkerut. Perlahan, ia mengamati kertas itu. Lalu terperanjat. Itu kan surat-surat yang diberinya pada Ify? Apa jangan-jangan Ify sudah tahu kalau selama ini Rio yang mengiriminya surat? Rio melirik Ify dengan curiga.
“Itu, gua dikasih sama seseorang. Gua juga engga tau itu siapa, elo kenal tulisan itu?” tanya Ify. Diam-diam, Rio menghembuskan nafas lega, itu artinya Ify belum tahu kalau dialah pengirimnya.
“Engga tuh. Gua kayaknya nggak pernah liat tulisan ini deh” jawab Rio. Berbohong sebetulnya. Tapi… yaah, daripada ketahuan?
Ify menghela nafas. Baru 2 kali dikirimi surat, tapi ia sudah penasaran siapa yang mengirimkannya.
“Yaudah deh. Sini mana kertasnya, gua takut ilang. Entah kenapa kok setiap gua dapet surat dia, gua jadi semangat lagi” ujar Ify yang lebih pantas dikatakan curhat. Rio tersenyum saat mendengar perkataan Ify. Itu artinya, walaupun ia tak memakai kata-kata romantis ataupun kata-kata gombal, Ify menyukai surat kaleng yang ia kirim.
“Hmm” sahut Rio sekenanya, masih tersenyum.
“Eh, iya Yo. Elo tau? Gua baru kali ini lho minta maaf duluan ke cowok” celetuk Ify lagi, mukanya tampak bersemangat.
“Beneran? Kalo sama Alvin?” tanya Rio, berubah jadi penasaran. Alvin tetangga Ify dari dulu, mereka juga akrab kan?
“Yee… Kalo sama Alvin sih gua ga ada tuh minta maaf! Adanya setelah berantem, terus ketawa-ketawa lagi!” jawab Ify sambil tertawa.
Rio tersenyum lagi mendengar jawaban Ify.“Berarti gua cowok pertama yang dapet permintaan maaf dari elo dong?”
“Yup. Eh, tapi kalo sama papa , gua minta maaf duluan lho, Yo! Hehe” sahut Ify lagi, meneguk es tehnya yang masih penuh.
“Yeee… Kalo sama papa elo sih engga masuk itungan! Maksud gua, temen cowok pertama. Hahaha” balas Rio. Ify dan Rio tertawa bersama. Sungguh, hari ini adalah hari dimana Ify bisa tertawa lepas tanpa beban. Bersama Rio. Dan Ify menikmati hari itu.
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ada Apa dengan Kebun Part 11 (repost)
Part 11 : Perubahan Rio, Kebahagiaan Alvin
Karena kelewat emosi, Ify membentak Rio yang berniat menghibur Ify. Rio tak menyangka Ify bertindak seperti itu. Rio pergi begitu saja. Adakah yang mau mengalah untuk meminta maaf?
****
Rio benar-benar tak habis pikir. Ia-benar-benar-tidak-sengaja. Dan haruskah Ify membentaknya seperti itu?!
Oke, Rio laki-laki. Ia tak mungkin cengeng, atau menangis gara-gara hal kecil seperti ini. Kali ini ia mencoba mendinginkan otak. Mencoba berpikir mengapa Ify marah seperti itu.
Oh-oh. Sepertinya pantas kalau Ify marah. Di telinga seorang cewek, yang sedang drop karena kehilangan seseorang, mungkin kata-kata Rio tadi dianggap kurang ajar. Apalagi, Rio adalah orang baru di hidup Ify.
Rio berdecak kesal, lalu membalikkan badannya. Sebetulnya ia masih berdiri beberapa meter dari rumah Ify. Hanya saja, Ify sudah tak bisa melihat Rio lagi di jarak
semacam itu. Haruskah ia minta maaf? Kata-kata itu terngiang di kepala Rio saat dia memikirkan Ify. Rio mendesah kesal, memutuskan untuk meminta pendapat Alvin. Rio melangkah menuju rumah Alvin yang berada tepat di sebelah rumah Ify.
TING TONG…
Rio memijit bel itu hanya sekali, tapi Alvin sudah menyambutnya di depan pintu sambil tersenyum sumringah.
“Hei! Kenapa, Yo?” sapa Alvin ramah, tangannya memberi kode agar Rio masuk ke dalam.
“Gua dibentak Ify. Terus sekarang dia marah” ujar Rio langsung. Ia malas kalau harus berbasa-basi.
Ekspresi Alvin berubah kaget, tapi hanya sesaat. Secepat itukah Rio dan Ify harus bermusuhan lagi?
“Masuk ke kamar gua deh. Cerita aja. Ehm, bi, tolong buatkan minuman ya, terus tolong antar ke kamar saya. Makasih, bi” ujar Alvin pada pembantunya, begitulah Alvin. Selalu meminta tolong dan mengucapkan terima kasih. Tidak peduli dengan status orang itu. Bibinya mengangguk sambil tersenyum.
***
Di kamar, dengan segelas es jeruk di tangannya, Rio menceritakan kejadian di kebun Ify tadi, dengan lesu. Ia sudah capek. Untungnya hari belum sore, masih ada waktu bagi Rio untuk meminta pendapat Alvin.
Alvin mendengarkan cerita Rio dengan seksama. Sesekali mengangguk kecil, atau menggeleng-gelengkan kepalanya.
“… Jadi gitu, Vin” Rio mengakhiri ceritanya sebelum meneguk es jeruknya lagi. Alvin tampak berpikir sebentar, lalu bersiap untuk berkomentar.
“Kalo menurut gua, Ify yang salah. Karena dia terlalu mikirin diri sendiri, engga menghargai orang yang sebenernya mau ngehibur dia. Tapi ya wajar aja, sih, namanya juga lagi drop”
“Terus kalo menurut elo, gua harus ngapain?” tanya Rio tak sabar, memainkan sedotannya.
“Yaa… elo bersikap kayak biasa aja. Eh, ngomong-ngomong, elo masih ngirimin Ify surat?” tanya Alvin balik. Rio mengangguk perlahan.
“Kalo gitu, elo harus tetep ngasih surat! Ntar Ify curiga! Masalah Ify yang marah, menurut gua sih, dia bakal nyadar kok, terus minta maaf duluan. Pokoknya elo harus tetep kasih surat ke dia, ya!” pesan Alvin dengan mimik muka serius.
Rio berpikir sebentar. Iya juga ya, nanti kalau dia tidak mengirim surat lagi, Ify bisa-bisa curiga! Wah! Bisa gawat!
“Oke deh. Bereees… Makasih ya, Vin! Gua pulang sekarang, deh” pamit Rio sambil meraih ranselnya. Alvin tersenyum, lalu mengantarkan Rio sampai ke gerbang.
“Eit, bentar, Vin! Terus tentang elo sama Sivia gimana?” tanya Rio tiba-tiba saat mereka berdua sudah ada di depan gerbang rumah Alvin.
Alvin terhenyak. Salting tiba-tiba. “Ngg… Err… Yaaa gitu deh” jawabnya sekenanya.
Rio tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu, lalu menepuk pundak Alvin. “Kan gua udah ada sesi romantisnya sama Ify, elo juga harus usaha! Udah, ya. Pulang dulu gua!” pamit Rio sambil melambaikan tangannya. Alvin balas melambai. Saat Rio sudah benar-benar jauh dari rumahnya, baru Alvin melangkah masuk ke dalam rumah. Ia masih memikirkan kata-kata Rio tadi.
***
‘Kalo gua mau Sivia jadi pacar gua, artinya gua mesti pedekate. Tapi gimana caranya?’ pikir Alvin saat melangkah ke arah kamarnya yang ada di lantai atas.
“Alvin!” panggil seseorang dari lantai bawah. Sontak Alvin menghentikan langkahnya. Ah, ia hafal suara itu. Itu suara mamanya. Alvin bergegas turun ke lantai bawah, menemui mamanya itu.
“Apa ma?” tanya Alvin saat menemukan mamanya yang sedang berkutat dengan secarik kertas di dapur.
“Ini, mau bantuin mama ya? Mama mau bikin cokelat, tapi bahannya kurang. Tolong beliin di supermarket ya?” pinta Mama Alvin sambil melambaikan secarik kertas itu. Mungkin itu resep.
Alvin mengangguk. Lalu Mama Alvin segera memberinya uang dan daftar belanja.
“Ini, ntar liat disini aja ya apa aja yang harus dibeli, ini uangnya” ujar Mama Alvin lagi, menyodorkan dompet dan kertas yang penuh tulisan tangan Mama yang rapi. Alvin mengangguk lagi.
“Perginya sama Pak Jo aja, ya!” pesan mama Alvin lagi. Alvin mengangguk untuk ketiga kalinya, lalu segera pergi ke garasi untuk meminta Pak Jo agar mengantarnya.
Alvin sempat melihat penampilannya yang lumayan berantakan saat melihat bayangan dirinya di depan cermin besar yang ada di ruang keluarga. Tapi Alvin tidak mempedulikannya. Toh hanya ke supermarket, tidak akan bertemu presiden juga.
“Pak, ke supermarket ya!” ujar Alvin saat ia sudah menaiki mobil. Pak Jo mengangguk dan melajukan mobil. Pergi ke supermarket.
***
15 menit kemudian, mobil Alvin sudah sampai di depan supermarket. Pak Jo disuruhnya menunggu di parkiran. Sedangkan Alvin sendiri cepat-cepat turun dan membeli barang-barang yang tertulis di daftar belanja.
“Hmm… Cokelat bubuk. Dimana ya cokelat bubuk… cokelat bubuk…” gumam Alvin sambil menyusuri salah satu koridor supermarket untuk mencari cokelat bubuk.
DEGG!! Tubuh Alvin serasa membeku saat ia melihat Sivia yang juga sedang memilih-milih sesuatu di rak barang. Dalam hati, Alvin menyesal tidak membenahi penampilannya yang masih berantakan itu.
Alvin masih terdiam di tempatnya saat Sivia menyadari kehadirannya dan menyapanya.
“Hei, Vin! Belanja?” tanya Sivia ramah, Alvin mengangguk canggung. Pikirannya masih tertuju pada satu hal. Penampilannya.
“Tumben ya cowok belanja? Tapi gua suka cowok yang mau belanja! Tandanya dia menghormati perempuan” ujar Sivia lagi, senyumnya masih belum lepas dari wajahnya yang manis.
Alvin sudah bisa mengendalikan sikapnya, dan berjalan mendekati Sivia. Siapa tahu, mereka bisa mengobrol lama.
“Eh… iya nih. Disuruh mama. Kamu tau tempatnya cokelat bubuk nggak, Siv?” tanya Alvin, berusaha mencari bahan obrolan.
“Cokelat bubuk? Ini kan cokelat bubuk!” jawab Sivia sambil menunjuk sebuah kotak yang terletak tepat di samping kepala Alvin.
Alvin gelagapan menyadari barang yang dicarinya ternyata ada di sampingnya sendiri. Ia buru-buru meraih kotak itu lalu tersenyum malu ke arah Sivia.
“Eeh… err… hehehe” Alvin menunjukkan cengiran malunya yang berhasil membuat Sivia tertawa.
“Alvin… Alvin! hahaha… eh, barengan aja yuk belanjanya! Gua juga disuruh mama nih” ajak Sivia bersemangat, Alvin mengangguk cepat. Wah, benar-benar tidak rugi dia pergi ke supermarket ini!
***
Esoknya, giliran Alvin yang berjalan ke kelasnya dengan rasa penuh percaya diri. Rio yang berjalan disampingnya hanya bisa tersenyum lesu, menenteng sehelai kertas yang sudah dilipat menjadi beberapa bagian.
“Indah duniaaa…” gumam Alvin saat meletakkan tas di kursinya, tidak seperti biasanya.
“Elo, Vin! Belanja berdua aja udah bahagia beneeer” ledek Rio—yang memang sudah diceritakan oleh Alvin tentang kejadian di supermarket—sambil menyenggol siku Alvin yang sekarang tersenyum.
“Dih, elo, Yo! Bukannya ngasih selamat, atau didoain biar bisa jalan bareng lagi!” sahut Alvin, balas menyenggol Rio.
“Eh, itu tasnya Ify. Yang di tangan elo itu surat kan? Selipin di tasnya Ify sana! Mumpung Ify nggak ada!” suruh Alvin pelan seraya menunjuk sehelai kertas yang digenggam Rio. Rio mengangguk. Lalu perlahan-lahan ia menyelipkan surat itu di sela-sela buku tulis Ify. Lalu dengan sigap menutup risleting tas itu lagi.
“Keluar, yuk!” ajak Rio pelan. Alvin mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua lalu berjalan keluar kelas.
Tak disangka, di depan kelas mereka bertemu Ify yang sedang melamun. Tapi Ify segera bangun dari lamunannya saat menyadari ada Alvin dan Rio yang berjalan di sampingnya.
“Pagi…” sapa Ify pelan, tersenyum lesu.
“Pagi, Fy…” sapa Alvin balik, memamerkan senyum mautnya.
“Hmm…” sahut Rio sekenanya. Tanpa ada senyum sedikitpun di wajahnya. Ify sempat terhenyak melihat sikap Rio.
Tapi Ify sadar, kalau Rio pasti sedang marah. Jadi Ify membiarkan mereka berdua berjalan melewatinya. Selepas Alvin dan Rio pergi, Ify menghela nafas berat. Haruskah ia yang meminta maaf?
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Karena kelewat emosi, Ify membentak Rio yang berniat menghibur Ify. Rio tak menyangka Ify bertindak seperti itu. Rio pergi begitu saja. Adakah yang mau mengalah untuk meminta maaf?
****
Rio benar-benar tak habis pikir. Ia-benar-benar-tidak-sengaja. Dan haruskah Ify membentaknya seperti itu?!
Oke, Rio laki-laki. Ia tak mungkin cengeng, atau menangis gara-gara hal kecil seperti ini. Kali ini ia mencoba mendinginkan otak. Mencoba berpikir mengapa Ify marah seperti itu.
Oh-oh. Sepertinya pantas kalau Ify marah. Di telinga seorang cewek, yang sedang drop karena kehilangan seseorang, mungkin kata-kata Rio tadi dianggap kurang ajar. Apalagi, Rio adalah orang baru di hidup Ify.
Rio berdecak kesal, lalu membalikkan badannya. Sebetulnya ia masih berdiri beberapa meter dari rumah Ify. Hanya saja, Ify sudah tak bisa melihat Rio lagi di jarak
semacam itu. Haruskah ia minta maaf? Kata-kata itu terngiang di kepala Rio saat dia memikirkan Ify. Rio mendesah kesal, memutuskan untuk meminta pendapat Alvin. Rio melangkah menuju rumah Alvin yang berada tepat di sebelah rumah Ify.
TING TONG…
Rio memijit bel itu hanya sekali, tapi Alvin sudah menyambutnya di depan pintu sambil tersenyum sumringah.
“Hei! Kenapa, Yo?” sapa Alvin ramah, tangannya memberi kode agar Rio masuk ke dalam.
“Gua dibentak Ify. Terus sekarang dia marah” ujar Rio langsung. Ia malas kalau harus berbasa-basi.
Ekspresi Alvin berubah kaget, tapi hanya sesaat. Secepat itukah Rio dan Ify harus bermusuhan lagi?
“Masuk ke kamar gua deh. Cerita aja. Ehm, bi, tolong buatkan minuman ya, terus tolong antar ke kamar saya. Makasih, bi” ujar Alvin pada pembantunya, begitulah Alvin. Selalu meminta tolong dan mengucapkan terima kasih. Tidak peduli dengan status orang itu. Bibinya mengangguk sambil tersenyum.
***
Di kamar, dengan segelas es jeruk di tangannya, Rio menceritakan kejadian di kebun Ify tadi, dengan lesu. Ia sudah capek. Untungnya hari belum sore, masih ada waktu bagi Rio untuk meminta pendapat Alvin.
Alvin mendengarkan cerita Rio dengan seksama. Sesekali mengangguk kecil, atau menggeleng-gelengkan kepalanya.
“… Jadi gitu, Vin” Rio mengakhiri ceritanya sebelum meneguk es jeruknya lagi. Alvin tampak berpikir sebentar, lalu bersiap untuk berkomentar.
“Kalo menurut gua, Ify yang salah. Karena dia terlalu mikirin diri sendiri, engga menghargai orang yang sebenernya mau ngehibur dia. Tapi ya wajar aja, sih, namanya juga lagi drop”
“Terus kalo menurut elo, gua harus ngapain?” tanya Rio tak sabar, memainkan sedotannya.
“Yaa… elo bersikap kayak biasa aja. Eh, ngomong-ngomong, elo masih ngirimin Ify surat?” tanya Alvin balik. Rio mengangguk perlahan.
“Kalo gitu, elo harus tetep ngasih surat! Ntar Ify curiga! Masalah Ify yang marah, menurut gua sih, dia bakal nyadar kok, terus minta maaf duluan. Pokoknya elo harus tetep kasih surat ke dia, ya!” pesan Alvin dengan mimik muka serius.
Rio berpikir sebentar. Iya juga ya, nanti kalau dia tidak mengirim surat lagi, Ify bisa-bisa curiga! Wah! Bisa gawat!
“Oke deh. Bereees… Makasih ya, Vin! Gua pulang sekarang, deh” pamit Rio sambil meraih ranselnya. Alvin tersenyum, lalu mengantarkan Rio sampai ke gerbang.
“Eit, bentar, Vin! Terus tentang elo sama Sivia gimana?” tanya Rio tiba-tiba saat mereka berdua sudah ada di depan gerbang rumah Alvin.
Alvin terhenyak. Salting tiba-tiba. “Ngg… Err… Yaaa gitu deh” jawabnya sekenanya.
Rio tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu, lalu menepuk pundak Alvin. “Kan gua udah ada sesi romantisnya sama Ify, elo juga harus usaha! Udah, ya. Pulang dulu gua!” pamit Rio sambil melambaikan tangannya. Alvin balas melambai. Saat Rio sudah benar-benar jauh dari rumahnya, baru Alvin melangkah masuk ke dalam rumah. Ia masih memikirkan kata-kata Rio tadi.
***
‘Kalo gua mau Sivia jadi pacar gua, artinya gua mesti pedekate. Tapi gimana caranya?’ pikir Alvin saat melangkah ke arah kamarnya yang ada di lantai atas.
“Alvin!” panggil seseorang dari lantai bawah. Sontak Alvin menghentikan langkahnya. Ah, ia hafal suara itu. Itu suara mamanya. Alvin bergegas turun ke lantai bawah, menemui mamanya itu.
“Apa ma?” tanya Alvin saat menemukan mamanya yang sedang berkutat dengan secarik kertas di dapur.
“Ini, mau bantuin mama ya? Mama mau bikin cokelat, tapi bahannya kurang. Tolong beliin di supermarket ya?” pinta Mama Alvin sambil melambaikan secarik kertas itu. Mungkin itu resep.
Alvin mengangguk. Lalu Mama Alvin segera memberinya uang dan daftar belanja.
“Ini, ntar liat disini aja ya apa aja yang harus dibeli, ini uangnya” ujar Mama Alvin lagi, menyodorkan dompet dan kertas yang penuh tulisan tangan Mama yang rapi. Alvin mengangguk lagi.
“Perginya sama Pak Jo aja, ya!” pesan mama Alvin lagi. Alvin mengangguk untuk ketiga kalinya, lalu segera pergi ke garasi untuk meminta Pak Jo agar mengantarnya.
Alvin sempat melihat penampilannya yang lumayan berantakan saat melihat bayangan dirinya di depan cermin besar yang ada di ruang keluarga. Tapi Alvin tidak mempedulikannya. Toh hanya ke supermarket, tidak akan bertemu presiden juga.
“Pak, ke supermarket ya!” ujar Alvin saat ia sudah menaiki mobil. Pak Jo mengangguk dan melajukan mobil. Pergi ke supermarket.
***
15 menit kemudian, mobil Alvin sudah sampai di depan supermarket. Pak Jo disuruhnya menunggu di parkiran. Sedangkan Alvin sendiri cepat-cepat turun dan membeli barang-barang yang tertulis di daftar belanja.
“Hmm… Cokelat bubuk. Dimana ya cokelat bubuk… cokelat bubuk…” gumam Alvin sambil menyusuri salah satu koridor supermarket untuk mencari cokelat bubuk.
DEGG!! Tubuh Alvin serasa membeku saat ia melihat Sivia yang juga sedang memilih-milih sesuatu di rak barang. Dalam hati, Alvin menyesal tidak membenahi penampilannya yang masih berantakan itu.
Alvin masih terdiam di tempatnya saat Sivia menyadari kehadirannya dan menyapanya.
“Hei, Vin! Belanja?” tanya Sivia ramah, Alvin mengangguk canggung. Pikirannya masih tertuju pada satu hal. Penampilannya.
“Tumben ya cowok belanja? Tapi gua suka cowok yang mau belanja! Tandanya dia menghormati perempuan” ujar Sivia lagi, senyumnya masih belum lepas dari wajahnya yang manis.
Alvin sudah bisa mengendalikan sikapnya, dan berjalan mendekati Sivia. Siapa tahu, mereka bisa mengobrol lama.
“Eh… iya nih. Disuruh mama. Kamu tau tempatnya cokelat bubuk nggak, Siv?” tanya Alvin, berusaha mencari bahan obrolan.
“Cokelat bubuk? Ini kan cokelat bubuk!” jawab Sivia sambil menunjuk sebuah kotak yang terletak tepat di samping kepala Alvin.
Alvin gelagapan menyadari barang yang dicarinya ternyata ada di sampingnya sendiri. Ia buru-buru meraih kotak itu lalu tersenyum malu ke arah Sivia.
“Eeh… err… hehehe” Alvin menunjukkan cengiran malunya yang berhasil membuat Sivia tertawa.
“Alvin… Alvin! hahaha… eh, barengan aja yuk belanjanya! Gua juga disuruh mama nih” ajak Sivia bersemangat, Alvin mengangguk cepat. Wah, benar-benar tidak rugi dia pergi ke supermarket ini!
***
Esoknya, giliran Alvin yang berjalan ke kelasnya dengan rasa penuh percaya diri. Rio yang berjalan disampingnya hanya bisa tersenyum lesu, menenteng sehelai kertas yang sudah dilipat menjadi beberapa bagian.
“Indah duniaaa…” gumam Alvin saat meletakkan tas di kursinya, tidak seperti biasanya.
“Elo, Vin! Belanja berdua aja udah bahagia beneeer” ledek Rio—yang memang sudah diceritakan oleh Alvin tentang kejadian di supermarket—sambil menyenggol siku Alvin yang sekarang tersenyum.
“Dih, elo, Yo! Bukannya ngasih selamat, atau didoain biar bisa jalan bareng lagi!” sahut Alvin, balas menyenggol Rio.
“Eh, itu tasnya Ify. Yang di tangan elo itu surat kan? Selipin di tasnya Ify sana! Mumpung Ify nggak ada!” suruh Alvin pelan seraya menunjuk sehelai kertas yang digenggam Rio. Rio mengangguk. Lalu perlahan-lahan ia menyelipkan surat itu di sela-sela buku tulis Ify. Lalu dengan sigap menutup risleting tas itu lagi.
“Keluar, yuk!” ajak Rio pelan. Alvin mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua lalu berjalan keluar kelas.
Tak disangka, di depan kelas mereka bertemu Ify yang sedang melamun. Tapi Ify segera bangun dari lamunannya saat menyadari ada Alvin dan Rio yang berjalan di sampingnya.
“Pagi…” sapa Ify pelan, tersenyum lesu.
“Pagi, Fy…” sapa Alvin balik, memamerkan senyum mautnya.
“Hmm…” sahut Rio sekenanya. Tanpa ada senyum sedikitpun di wajahnya. Ify sempat terhenyak melihat sikap Rio.
Tapi Ify sadar, kalau Rio pasti sedang marah. Jadi Ify membiarkan mereka berdua berjalan melewatinya. Selepas Alvin dan Rio pergi, Ify menghela nafas berat. Haruskah ia yang meminta maaf?
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ada Apa dengan Kebun Part 10 (repost)
Part 10 : Dayat pergi, Rio datang
Rio berhasil meminta maaf ke Ify, Ify pun menerimanya, tapi… apakah memang sampai disitu saja??
****
“Elo ngapain nyengir gitu Yo? Aneh” komentar Alvin saat melihat Rio yang berjalan penuh percaya diri dan cengiran lebarnya ke arahnya.
“Iya dong! Kemaren kan gua maafan sama Ify!” sahut Rio bangga, menghempaskan dirinya di kursi.
“Ooh… pantesan. Ceritain dong!” pinta Alvin, mengubah posisi duduknya menjadi tegak.
Rio dengan senyum berseri-seri menceritakan kejadian kemarin. Mata Alvin semakin terbelalak saat mendengar Rio sepayung dengan Ify.
“Wah, udah kayak drama korea! Kapan ya gua bisa sepayung sama Sivia....” ucap Alvin saat Rio sudah selesai menceritakan semuanya.
Rio menepuk bahu sahabatnya itu keras,“Yahelah, Vin! Kok elo jadi gini lagi sih?”
“Engga tau juga! Ah bodo lah, jalanin aja pelan-pelan” ujar Alvin, mendekap ranselnya dan memejamkan matanya. Saat itu memang masih jam 6 kurang 5 menit. Kelas pun masih sepi, Yang sudah masuk kelas hanya Alvin dan Rio. Mereka berdua memang paling senang datang pagi-pagi. Saat suasana masih lengang dan udara masih segar.
“Nah. Gitu dong!” ujar Rio lagi, lalu ikut mendekap tasnya, tapi ia tidak memejamkan matanya. Ia masih terbayang-bayang kejadian kemarin.
Saat ia sepayung berdua dengan Ify. Tiba-tiba, Ify melangkah masuk ke kelas diikuti Sivia. Alvin dan Rio yang tadi masih ngantuk-ngantuk jadi semangat 2012. Alvin segera mengeluarkan buku fisikanya, mencoba mempelajari bab baru yang belum diajarkan Pak Duta. Yaah… Sivia memang suka cowok pintar, dia juga sering minta diajari Alvin tentang Fisika.
Rio? Rio tersenyum pada Ify, yang dibalas Ify dengan senyuman manisnya. Sebelum Ify dan Sivia keluar kelas lagi. Alvin yang tadi curi-curi pandang ke arah Sivia mendesah kecewa.
“Yaaah… Kok dia pergi sih?” keluh Alvin sambil menutup bukunya lagi. Rio terkekeh pelan, lalu kembali mendekap tasnya. Memejamkan matanya perlahan-lahan…
“RIO CINTAAAA…”
Mata Rio seketika terbelalak. Mencari-cari asal suara yang menggelegar itu. Dan… Rio menemukannya. Seorang cewek, di depan pintu kelas, dengan memakai aksesoris berwarna serba cerah di rambut dan tangannya, dan menenteng tas berwarna merah menyala. Zevana.
Yah, Zevana memang suka pada Rio sejak kelas 7. Terobsesi mungkin, karena Zevana nekat, dan tak pernah menyerah untuk mendapatkan perhatian Rio. Termasuk memanggil nama Rio seperti layaknya memanggil pacar.
“Err… elo Zev,” gumam Rio pelan, mukanya berubah pucat. Ia memang trauma dikejar-kejar Zevana sampai ke dalam toilet cowok
waktu kelas 7 dulu.
“Riooo… aduuuh kamu makin ganteng! Seminggu pas aku pergi ke London kemarin kamu engga kenapa-kenapa kaaan???” tanya Zevana genit, mengerlingkan matanya dengan cara yang membuat Rio bergidik.
“Ga kenapa-kenapa. Gua engga kurang suatu apa. Gua beli busur dulu ya buat matematika!! Ayo, Vin!” ujar Rio cepat sambil menggeret Alvin keluar kelas.
“Panik banget elo, Yo?” tanya Alvin saat mereka sudah berhasil melarikan diri ke lapangan basket.
“Mana bisa gua santai kalo ada cewek kayak dia! Mestinya dia liburan ke London terus ga balik lagi!” sahut Rio sambil mengatur nafasnya. Zevana anak orang kaya, dan sering jalan-jalan ke luar negeri, dan beberapa hari ini Rio bebas darinya karena Zevana pergi ke London selama seminggu, semenjak pembagian kelas. Tapi, yaah… sekarang Zevana sudah pulang dan Rio harus bersiap-siap untuk kabur darinya lagi.
“RIOOO KOK KAMU KABUR SIIH??” tiba-tiba ada suara seorang cewek menggelegar. Alvin dan Rio berpandangan sesaat.
“LARI, VIIIN!!!” seru Rio sambil menyeret Alvin.
***
“Makasih Vin, tumpangannya. Gua masih capek tadi dikejar-kejar Zevana” ujar Rio saat dia sudah berada di depan rumah Ify untuk bekerja. Sekarang sudah jam 13.30, dan pasti Ify sedang menunggu kedatangan Rio untuk membereskan kebunnya.
“Yahelah, Yo! Kan kejar-kejarannya udah tadi pagi! Ah, elo cowok kok lemes sih, Yo? Semangat dong! Elo kan mau kerja!” Alvin memberi semangat diikuti senyumannya.
Rio mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu berbalik dan segera berjalan ke kebun Ify. Memulai pekerjaannya. Tapi… disana, di bawah meja berpayung, ada Ify. Tunggu, Ify tidak ceria seperti biasanya! Ia menelungkupkan kedua tangannya dan membenamkan wajahnya disana. Sesekali badannya tergoncang pelan. Menangis?
Rio yang digelayuti rasa heran mendekat ke arah Ify, ia ingin memastikan asumsinya. Oh-oh, isakan Ify terdengar pelan. Ify. Menangis.
Rio menyentuh bahu Ify pelan, “Fy?” panggilnya lembut. Ify mendongak, wajahnya merah dan matanya sembap. Ia memeluk Rio tiba-tiba. Refleks, Rio membelai rambut Ify canggung.
“Kak Dayat. Kak Dayat. Kak Dayat. Kak Dayat” ucap Ify terus-terusan. Dayat? Oh, cowok yang dulu membawa mawar putih. Pikir Rio sesaat.
“Kak Dayat? Cowok yang 2 hari yang lalu kesini? Kenapa memangnya?” tanya Rio lembut, ia yakin kondisi Ify saat ini sedang sangat-amat sedih.
“Kak Dayat pergi… dia pergi…” jawab Ify lirih, diikuti cegukan kecilnya. Mungkin karena terlalu lama menangis.
‘Apa? Dayat pergi? Horeee!! Gua jadi ga ada saingan!’ Pikiran itu sempat terbesit di otak Rio. Tapi melihat kondisi Ify yang sedang menangis ini… Rio jadi tidak tega.
“Pergi kemana?” tanya Rio lagi, masih membelai lembut rambut Ify dengan canggung. Baru pertama kalinya ia membelai seorang cewek. Baru pertama kalinya ia berusaha menenangkan cewek yang menangis.
“Pergi. Australia. Dayat. Pergi…” ceracau Ify. Rio berusaha mencerna kata-kata Ify barusan, Dayat. Pergi. Australia? Dayat pergi ke Australia maksudnya?
“Pergi ke Australia?” tanya Rio lagi, ingin memastikan. Ify mengangguk perlahan, tapi tangisnya semakin kencang.
Rio semakin terbiasa membelai rambut Ify. Untuk kali ini ia tidak merasa canggung, Rio melepaskan dekapan Ify pelan, dan menuntunnya untuk duduk. Beruntung, di meja ada secangkir teh, entah masih hangat atau tidak. Rio tak peduli. Ia menyodorkan cangkir itu pelan ke hadapan Ify.
“Diminum dulu, biar tenang” ujar Rio pelan, Ify menerima cangkir itu dan meneguk tehnya. Lumayan, perasaannya lebih tenang.
Rio tersenyum melihat raut muka Ify yang berubah menjadi rileks. Ia duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Ify.
“Jadi… udah bisa cerita?” tanya Rio lembut, tangannya ingin membelai rambut Ify lagi, tapi hatinya menolak.
Ify mengangguk pelan, dan menghela nafas. Ia menceritakan kejadian satu jam yang lalu saat Dayat tiba-tiba meneleponnya dan mengatakan hal yang tidak disangka-sangka oleh Ify. Dayat sudah ada di dalam pesawat, hendak pergi ke Australia untuk melanjutkan sekolahnya yang masih SMA. Dayat sengaja tidak memberitahu Ify akan hal ini sebelum ia berangkat. Ia tak tega melihat Ify menangis.
Yah, Dayat memang selalu menemani hari-hari Ify selama 4 tahun terakhir. Memberi bunga, bibit bunga kesukaan Ify, memberi cokelat, dan hal-hal lain yang selalu bisa membuat hati Ify berbunga-bunga. Rio terpaku mendengar penjelasan yang meluncur cepat dari mulut Ify. Pantaslah Dayat sangat berarti bagi Ify. Dayat yang selalu menemani Ify. Dibandingkan dirinya? Yang baru beberapa hari ini bertemu Ify? Cih, Rio belum berarti apa-apa untuk Ify. Tapi Rio tidak bisa berbohong kalau sebenarnya ada sedikit rasa lega mengetahui Dayat sudah pergi.
“Udah, engga apa-apa” ujar Rio pelan, mengusap-usap pundak Ify yang sesekali masih cegukan kecil.
“Engga apa-apa, masih ada gua kan?” ceplos Rio tiba-tiba. Rio menepuk mulutnya, mencoba menahan perasaan malu di dadanya karena mengucapkan sesuatu yang—ehm— biasanya diucapkan oleh orang-orang dewasa.
Ify menoleh kesal ke arah Rio. Beraninya cowok yang baru dikenalnya kurang dari 2 minggu ini membandingkan dirinya sendiri dengan Dayat yang sudah menemaninya 4 tahun!
“Elo ga tau perasaan gua! Dayat itu yang udah nemenin gua sampe bertahun-tahun! Ga kayak elo yang baru kenal sama gua kurang dari 2 minggu!!! Jangan berani-berani ngebandingin diri elo sendiri sama Dayat! Pergi lo!!” seru Ify dibawah kesadarannya. Mau apalagi? Ia kesal melihat Rio yang membandingkan dirinya sendiri dengan Dayat! Meski
Ify tak tahu kalau Rio benar-benar tak sengaja. Rio terperangah mendengar ucapan Ify. Dia tahu dia salah, tapi kenapa Ify harus membentaknya seperti itu?? Rio tahu dia baru kenal dengan Ify kurang dari 2 minggu, tapi Rio benar-benar tak bermaksud membandingkan dirinya sendiri dengan Dayat!! Ia hanya ingin berusaha menghibur Ify! Mengapa cewek selalu salah menanggapi sesuatu?
Rio tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia meraih ranselnya dan bergegas pergi dari rumah Ify. Perlahan ia mendorong pintu gerbang, dan berjalan menjauh dari rumah Ify. Terus menjauh, menjauh, sampai Ify tak bisa melihat Rio lagi. Ify baru menyadari perkataannya itu saat Rio pergi. Sungguh, Ify mengatakan hal itu dibawah sadarnya. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Oh-oh, satu orang lagi yang telah mewarnai hari-hari Ify belakangan ini sudah pergi. Apalagi setelah ini?? Ify berlari kedalam rumah dan menangis
sejadi-jadinya di kamar. Kenapa hari ini dia bertindak begitu bodoh?!!
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Rio berhasil meminta maaf ke Ify, Ify pun menerimanya, tapi… apakah memang sampai disitu saja??
****
“Elo ngapain nyengir gitu Yo? Aneh” komentar Alvin saat melihat Rio yang berjalan penuh percaya diri dan cengiran lebarnya ke arahnya.
“Iya dong! Kemaren kan gua maafan sama Ify!” sahut Rio bangga, menghempaskan dirinya di kursi.
“Ooh… pantesan. Ceritain dong!” pinta Alvin, mengubah posisi duduknya menjadi tegak.
Rio dengan senyum berseri-seri menceritakan kejadian kemarin. Mata Alvin semakin terbelalak saat mendengar Rio sepayung dengan Ify.
“Wah, udah kayak drama korea! Kapan ya gua bisa sepayung sama Sivia....” ucap Alvin saat Rio sudah selesai menceritakan semuanya.
Rio menepuk bahu sahabatnya itu keras,“Yahelah, Vin! Kok elo jadi gini lagi sih?”
“Engga tau juga! Ah bodo lah, jalanin aja pelan-pelan” ujar Alvin, mendekap ranselnya dan memejamkan matanya. Saat itu memang masih jam 6 kurang 5 menit. Kelas pun masih sepi, Yang sudah masuk kelas hanya Alvin dan Rio. Mereka berdua memang paling senang datang pagi-pagi. Saat suasana masih lengang dan udara masih segar.
“Nah. Gitu dong!” ujar Rio lagi, lalu ikut mendekap tasnya, tapi ia tidak memejamkan matanya. Ia masih terbayang-bayang kejadian kemarin.
Saat ia sepayung berdua dengan Ify. Tiba-tiba, Ify melangkah masuk ke kelas diikuti Sivia. Alvin dan Rio yang tadi masih ngantuk-ngantuk jadi semangat 2012. Alvin segera mengeluarkan buku fisikanya, mencoba mempelajari bab baru yang belum diajarkan Pak Duta. Yaah… Sivia memang suka cowok pintar, dia juga sering minta diajari Alvin tentang Fisika.
Rio? Rio tersenyum pada Ify, yang dibalas Ify dengan senyuman manisnya. Sebelum Ify dan Sivia keluar kelas lagi. Alvin yang tadi curi-curi pandang ke arah Sivia mendesah kecewa.
“Yaaah… Kok dia pergi sih?” keluh Alvin sambil menutup bukunya lagi. Rio terkekeh pelan, lalu kembali mendekap tasnya. Memejamkan matanya perlahan-lahan…
“RIO CINTAAAA…”
Mata Rio seketika terbelalak. Mencari-cari asal suara yang menggelegar itu. Dan… Rio menemukannya. Seorang cewek, di depan pintu kelas, dengan memakai aksesoris berwarna serba cerah di rambut dan tangannya, dan menenteng tas berwarna merah menyala. Zevana.
Yah, Zevana memang suka pada Rio sejak kelas 7. Terobsesi mungkin, karena Zevana nekat, dan tak pernah menyerah untuk mendapatkan perhatian Rio. Termasuk memanggil nama Rio seperti layaknya memanggil pacar.
“Err… elo Zev,” gumam Rio pelan, mukanya berubah pucat. Ia memang trauma dikejar-kejar Zevana sampai ke dalam toilet cowok
waktu kelas 7 dulu.
“Riooo… aduuuh kamu makin ganteng! Seminggu pas aku pergi ke London kemarin kamu engga kenapa-kenapa kaaan???” tanya Zevana genit, mengerlingkan matanya dengan cara yang membuat Rio bergidik.
“Ga kenapa-kenapa. Gua engga kurang suatu apa. Gua beli busur dulu ya buat matematika!! Ayo, Vin!” ujar Rio cepat sambil menggeret Alvin keluar kelas.
“Panik banget elo, Yo?” tanya Alvin saat mereka sudah berhasil melarikan diri ke lapangan basket.
“Mana bisa gua santai kalo ada cewek kayak dia! Mestinya dia liburan ke London terus ga balik lagi!” sahut Rio sambil mengatur nafasnya. Zevana anak orang kaya, dan sering jalan-jalan ke luar negeri, dan beberapa hari ini Rio bebas darinya karena Zevana pergi ke London selama seminggu, semenjak pembagian kelas. Tapi, yaah… sekarang Zevana sudah pulang dan Rio harus bersiap-siap untuk kabur darinya lagi.
“RIOOO KOK KAMU KABUR SIIH??” tiba-tiba ada suara seorang cewek menggelegar. Alvin dan Rio berpandangan sesaat.
“LARI, VIIIN!!!” seru Rio sambil menyeret Alvin.
***
“Makasih Vin, tumpangannya. Gua masih capek tadi dikejar-kejar Zevana” ujar Rio saat dia sudah berada di depan rumah Ify untuk bekerja. Sekarang sudah jam 13.30, dan pasti Ify sedang menunggu kedatangan Rio untuk membereskan kebunnya.
“Yahelah, Yo! Kan kejar-kejarannya udah tadi pagi! Ah, elo cowok kok lemes sih, Yo? Semangat dong! Elo kan mau kerja!” Alvin memberi semangat diikuti senyumannya.
Rio mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu berbalik dan segera berjalan ke kebun Ify. Memulai pekerjaannya. Tapi… disana, di bawah meja berpayung, ada Ify. Tunggu, Ify tidak ceria seperti biasanya! Ia menelungkupkan kedua tangannya dan membenamkan wajahnya disana. Sesekali badannya tergoncang pelan. Menangis?
Rio yang digelayuti rasa heran mendekat ke arah Ify, ia ingin memastikan asumsinya. Oh-oh, isakan Ify terdengar pelan. Ify. Menangis.
Rio menyentuh bahu Ify pelan, “Fy?” panggilnya lembut. Ify mendongak, wajahnya merah dan matanya sembap. Ia memeluk Rio tiba-tiba. Refleks, Rio membelai rambut Ify canggung.
“Kak Dayat. Kak Dayat. Kak Dayat. Kak Dayat” ucap Ify terus-terusan. Dayat? Oh, cowok yang dulu membawa mawar putih. Pikir Rio sesaat.
“Kak Dayat? Cowok yang 2 hari yang lalu kesini? Kenapa memangnya?” tanya Rio lembut, ia yakin kondisi Ify saat ini sedang sangat-amat sedih.
“Kak Dayat pergi… dia pergi…” jawab Ify lirih, diikuti cegukan kecilnya. Mungkin karena terlalu lama menangis.
‘Apa? Dayat pergi? Horeee!! Gua jadi ga ada saingan!’ Pikiran itu sempat terbesit di otak Rio. Tapi melihat kondisi Ify yang sedang menangis ini… Rio jadi tidak tega.
“Pergi kemana?” tanya Rio lagi, masih membelai lembut rambut Ify dengan canggung. Baru pertama kalinya ia membelai seorang cewek. Baru pertama kalinya ia berusaha menenangkan cewek yang menangis.
“Pergi. Australia. Dayat. Pergi…” ceracau Ify. Rio berusaha mencerna kata-kata Ify barusan, Dayat. Pergi. Australia? Dayat pergi ke Australia maksudnya?
“Pergi ke Australia?” tanya Rio lagi, ingin memastikan. Ify mengangguk perlahan, tapi tangisnya semakin kencang.
Rio semakin terbiasa membelai rambut Ify. Untuk kali ini ia tidak merasa canggung, Rio melepaskan dekapan Ify pelan, dan menuntunnya untuk duduk. Beruntung, di meja ada secangkir teh, entah masih hangat atau tidak. Rio tak peduli. Ia menyodorkan cangkir itu pelan ke hadapan Ify.
“Diminum dulu, biar tenang” ujar Rio pelan, Ify menerima cangkir itu dan meneguk tehnya. Lumayan, perasaannya lebih tenang.
Rio tersenyum melihat raut muka Ify yang berubah menjadi rileks. Ia duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Ify.
“Jadi… udah bisa cerita?” tanya Rio lembut, tangannya ingin membelai rambut Ify lagi, tapi hatinya menolak.
Ify mengangguk pelan, dan menghela nafas. Ia menceritakan kejadian satu jam yang lalu saat Dayat tiba-tiba meneleponnya dan mengatakan hal yang tidak disangka-sangka oleh Ify. Dayat sudah ada di dalam pesawat, hendak pergi ke Australia untuk melanjutkan sekolahnya yang masih SMA. Dayat sengaja tidak memberitahu Ify akan hal ini sebelum ia berangkat. Ia tak tega melihat Ify menangis.
Yah, Dayat memang selalu menemani hari-hari Ify selama 4 tahun terakhir. Memberi bunga, bibit bunga kesukaan Ify, memberi cokelat, dan hal-hal lain yang selalu bisa membuat hati Ify berbunga-bunga. Rio terpaku mendengar penjelasan yang meluncur cepat dari mulut Ify. Pantaslah Dayat sangat berarti bagi Ify. Dayat yang selalu menemani Ify. Dibandingkan dirinya? Yang baru beberapa hari ini bertemu Ify? Cih, Rio belum berarti apa-apa untuk Ify. Tapi Rio tidak bisa berbohong kalau sebenarnya ada sedikit rasa lega mengetahui Dayat sudah pergi.
“Udah, engga apa-apa” ujar Rio pelan, mengusap-usap pundak Ify yang sesekali masih cegukan kecil.
“Engga apa-apa, masih ada gua kan?” ceplos Rio tiba-tiba. Rio menepuk mulutnya, mencoba menahan perasaan malu di dadanya karena mengucapkan sesuatu yang—ehm— biasanya diucapkan oleh orang-orang dewasa.
Ify menoleh kesal ke arah Rio. Beraninya cowok yang baru dikenalnya kurang dari 2 minggu ini membandingkan dirinya sendiri dengan Dayat yang sudah menemaninya 4 tahun!
“Elo ga tau perasaan gua! Dayat itu yang udah nemenin gua sampe bertahun-tahun! Ga kayak elo yang baru kenal sama gua kurang dari 2 minggu!!! Jangan berani-berani ngebandingin diri elo sendiri sama Dayat! Pergi lo!!” seru Ify dibawah kesadarannya. Mau apalagi? Ia kesal melihat Rio yang membandingkan dirinya sendiri dengan Dayat! Meski
Ify tak tahu kalau Rio benar-benar tak sengaja. Rio terperangah mendengar ucapan Ify. Dia tahu dia salah, tapi kenapa Ify harus membentaknya seperti itu?? Rio tahu dia baru kenal dengan Ify kurang dari 2 minggu, tapi Rio benar-benar tak bermaksud membandingkan dirinya sendiri dengan Dayat!! Ia hanya ingin berusaha menghibur Ify! Mengapa cewek selalu salah menanggapi sesuatu?
Rio tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia meraih ranselnya dan bergegas pergi dari rumah Ify. Perlahan ia mendorong pintu gerbang, dan berjalan menjauh dari rumah Ify. Terus menjauh, menjauh, sampai Ify tak bisa melihat Rio lagi. Ify baru menyadari perkataannya itu saat Rio pergi. Sungguh, Ify mengatakan hal itu dibawah sadarnya. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Oh-oh, satu orang lagi yang telah mewarnai hari-hari Ify belakangan ini sudah pergi. Apalagi setelah ini?? Ify berlari kedalam rumah dan menangis
sejadi-jadinya di kamar. Kenapa hari ini dia bertindak begitu bodoh?!!
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ada Apa dengan Kebun Part 9 (repost)
Part 9 : Sebaris Maaf Dengan Payung
Rio tak sengaja mematahkan bunga matahari kesukaan Ify. Ify tidak tanggung-tanggung, dia betul-betul marah. Rio berniat meminta maaf, berhasilkah?
****
Rio melangkah gontai ke arah kelasnya. Dengan mata berkantung yang sayu. Semalam ia sulit tidur, memikirkan cara yang tepat untuk meminta maaf pada Ify.
Lorong yang biasanya ia lewati dengan riang kini terasa sangat panjang. Ia masih berpikir. Sayup-sayup, ia mendengar langkah kaki. Langkah itu semakin cepat, dan mendekat. Perlahan-lahan, Rio menoleh ke belakang. Ify. Ify berjalan di belakangnya dengan tatapan lurus kedepan, langkahnya cepat, dan seolah tidak melihat ada Rio disana. Rio berusaha tersenyum, meskipun senyumnya tidak setulus biasanya. Ify meliriknya sesaat, sebelum kemudian melengos dan mempercepat langkahnya. Meninggalkan Rio.
‘Gua bego, bego! Ngapain juga gua motong bunga kesukaan Ify? Gua emang bego!’ seru Rio di dalam hati. Mempercepat langkahnya juga menuju kelas. Ia ingin berkonsultasi
dengan Alvin.
Rio melongok ke dalam kelas. Hanya ada Alvin. Tas Ify sudah tergeletak di kursi tapi pemiliknya tidak ada. Rio menghembuskan nafas lega, paling tidak dia bisa berkonsultasi ke Alvin tanpa ada yang mengganggu.
Rio meletakkan tasnya sebelum duduk di kursi. Ia memandangi Alvin yang sibuk menulis-nulis sesuatu di bukunya.
“Elo ngapain Vin?” tanya Rio heran,
“Ngga apa-apa. Ngehafalin rumus doang kok” jawab Alvin sambil tetap mencorat-coret halaman belakang bukunya.
Rio menatap Alvin maklum. Sahabatnya ini memang digolongkan anak cerdas. Rio sudah biasa melihat Alvin yang waktu makan pun masih sempat belajar.
“Oh iya, elo udah dapet cara buat bantuin gua minta maaf ke Ify?” tanya Rio lagi, berharap Alvin sudah menemukan cara yang cocok.
Alvin menutup bukunya, dan menatap Rio,“Nah, itu dia. Gua udah ketemu sih, tapi gua bisanya kasih saran, bukan cara. Ify itu orangnya pemaaf. Ify itu suka anak cowok yang mentingin keperluan orang lain. Jadi maksudnya dia suka cowok yang penolong, engga cuma mikirin diri sendiri”
Rio terdiam mendengar kata-kata Alvin. Cowok yang penolong. Rasanya Rio bisa memenuhi kriteria itu.
“Kalo urusan caranya, maaf banget Yo. Gua bukannya engga mau bantu. Tapi emang gua engga tau caranya!” lanjut Alvin lagi, dengan terburu-buru. Ia takut Rio marah.
“Ngga apa-apa! Elo udah banyak bantuin gua! Kali ini, gua minta doanya aja banyak-banyak ya! Hehe” sahut Rio yang sudah mulai ceria. Alvin tersenyum pada sahabatnya. Ia yakin Rio mampu menyelesaikan semuanya dengan cara yang mengejutkan tapi selalu berhasil.
***
Rio menolak Chitato pembrian Alvin. Alvin tak memaksa, ia mengerti kondisi hati Rio saat ini. Rio masih melamun, sedangkan Alvin hanya diam. Benar-benar tak seperti
biasanya.
“Eh iya beneran gu…” kata-kata Ify terputus saat ia menyadari ada Rio di dalam kelas. Awalnya memang Ify dan Sivia hendak masuk ke kelas, tapi setelah Ify melihat ada Rio, Ify berbalik sambil memegang lengan Sivia. Menariknya keluar kelas.
Rio hanya menghelas nafas. Ify memang benar-benar marah. Walaupun bukan marah terang-terangan, tapi cukup membuat perasaan Rio makin campur aduk. Hari ini nyaris dilewatkan Rio dengan murung. Hanya Alvin yang berkali-kali memberinya
semangat.
“Oh iya, Vin. Ntar elo pulang duluan aja deh ya. Gua mau di sekolah dulu aja” ujar Rio tiba-tiba. Masih dengan tatapan kosong. Meski heran, Alvin tak mau bertanya aneh-aneh, ia menepuk pundak Rio 2 kali yang artinya“Iya”.
***
Meski hujan deras diluar, kelas 8E tetap sunyi saat pelajaran Fisika. Mereka semua sibuk mengerjakan sekumpulan soal-soal, dan nanti, salah satu dari mereka akan dipanggil untuk mengerjakan di depan kelas.
“Mario, kerjakan soal nomor 3 di papan” perintah Pak Duta, mengulurkan spidol hitam kepada Rio.
“Ya, pak” jawab Rio patuh, ia mengambil spidol dari tangan Pak Duta dan segera mengerjakan soal nomor 3 di papan. Tanpa senyum sedikitpun, tanpa kesalahan yang ia perbuat saat menulis rumus.
“Ya, bagus” ucap Pak Duta saat Rio selesai menuliskan jawabannya. Meskipun dalam hati Pak Duta heran juga, tidak biasanya Rio sepatuh dan sependiam itu. Guru yang galak-tapi-perhatian itu berencana untuk berbicara dengan Rio nanti.
TEENG… TEEENG… TEEENG…
“Ya, bel sudah berbunyi. Silakan bereskan buku-buku kalian” kata Pak Duta lagi, anak-anak kelas 8E segera membereskan buku-buku mereka. Ketua kelas memimpin doa, dan berebutan menyalami Pak Duta, lalu, segera pulang!
Lain halnya dengan Rio, Rio sengaja berlama-lama keluar kelas. Seharian ini dilaluinya tanpa senyuman, dan lama-lama perasaannya makin tidak enak. Alvin sudah disuruhnya pulang sejak tadi.
“Mario” panggil Pak Duta yang masih membereskan barang-barangnya. Sontak Rio menoleh, dan berjalan mendekati Pak Duta.“Ya, pak?”
“Kamu sakit? Atau mungkin ada apa-apa? Saya perhatikan dari tadi kamu hanya diam. Tidak seperti biasanya” tanya Pak Duta heran, akhirnya dia bisa menanyakan hal itu pada Rio, setelah tadi sempat merasa bingung.
“Nggak apa-apa kok, pak. Cuma agak capek” jawab Rio sambil tersenyum. Tapi tetap saja senyumnya lesu.
Pak Duta tersenyum maklum, sambil menepuk pundak Rio.“Ya sudah, kamu istirahat yang cukup!”
Rio mengangguk, lalu berjalan keluar kelas. Kakinya terus melangkah sampai ia tak sadar sudah berada di gerbang sekolah.
‘Untung aja gua bawa payung sama jaket’ batin Rio seraya mengeluarkan payung dari dalam tasnya. Dan memakai jaketnya.
Sekilas Rio mengalihkan pandangannya ke sampingnya. Oh, ada Ify. Rio kembali membuka payungnya. EH! IFY? Ya, ada Ify yang sedang menyandarkan badannya di gerbang, dengan tatapan yang menerawang. Rio berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk sekadar mengobrol dengan Ify.
“Fy? Kok engga pulang?” tanya Rio hati-hati. Ify meliriknya sebentar, tapi kemudian memandang lurus ke depan lagi.
“Sopir gua sakit. Ga ada yang bisa jemput. Gua ga bawa payung, nunggu hujan berhenti aja” jawab Ify datar, bersikap seolah tidak peduli.
“Err… pake payung gua aja gimana?” tawar Rio, masih berhati-hati.
“Engga usah. Makasih” tolak Ify halus. Rio menyadari, Ify psti tidak mau sepayung dengannya. Maka ia buru-buru mengubah penawarannya.
“Maksudnya bukan sepayung sama gua. Gua sih pake jaket aja, elo yang pake payung. Ini udah jam 2 lho, hujannya deras juga, bakalan lama kalo harus nungguin” tawar Rio lagi, kali ini disertai senyumnya yang tulus. Senyuman tulusnya yang pertama di
hari ini.
Ify memandang Rio ragu, kemarin bunga mataharinya sudah dipatahkan. Apa ia harus menerima tawaran Rio?
“Engga usah kok Yo. Makasih” kata Ify lagi. Rio sudah tak sabar, ia benar-benar ingin minta maaf ke Ify. Rio merangkul Ify bukan di pundaknya, tapi di lehernya. Rio mengalungkan tangan kirinya di leher Ify. Rio menggamit leher Ify pelan, sambil menariknya pulang.
“Udah ayo pulang! Elo jadi cewek susah bener dikasihtau” ujar Rio cepat, Ify yang tadi mau protes terdiam. Ia merasa hangat berada di rangkulan Rio. Sudah 3 menit, tapi Rio masih menggamit leher Ify. Ify pun tak menolak. Sampai akhirnya Rio melepaskan rangkulannya, menyerahkan payungnya ke Ify, dan ia berjalan bukan dibawah payung, tapi tetap disamping Ify.
“Eh? Ntar elo kehujanan, Yo!” seru Ify sambil memayungi Rio. Tapi Rio mendorongnya pelan.
“Gua engga usah. Elo aja. Kan gua udah ada jaket, lagian payung gua kecil, elo aja deh. Gak apa-apa kok” ujar Rio pelan. Tapi berhasil membuat Ify speechless.
Cowok yang seperti ini yang dicarinya, cowok yang rela berkorban demi orang lain. Ify masih menatap Rio. Tetapi Rio tiba-tiba menoleh padanya dengan raut muka penuh penyesalan.
“Ma… Maafin gua Fy. Tentang bunga matahari itu…” Rio berhasil minta maaf. Terserah Ify ia akan memaafkannya atau tidak, ia sudah berusaha.
Ify tersenyum lembut, “Nggak apa-apa, Yo. Lagian kemaren gua kelewat emosi, marah terus-terusan kan juga engga baik”
Rio tersenyum mendengar kata-kata Ify barusan.“Makasih ya, Fy…” ucapnya pelan. Ify mengangguk, senyumnya masih belum lepas dari wajahnya yang manis.
“Iya. Oh iya, elo payungan juga dong, biarin gua kena hujan juga, tapi elo jangan hujan-hujanan sendiri” lanjut Ify sambil memayungi Rio. Rio tersenyum, senyum bahagia. Ify tersenyum juga.
Mereka berdua, di tengah hujan yang semakin deras, berdua, di bawah payung. Berjalan berdampingan. Membuat semua hal paling romantis pun menjadi basi ketika kita melihat satu hal yang biasa, tapi bisa membuat kita semua merasakan kehangatan yang tak terhingga.
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Rio tak sengaja mematahkan bunga matahari kesukaan Ify. Ify tidak tanggung-tanggung, dia betul-betul marah. Rio berniat meminta maaf, berhasilkah?
****
Rio melangkah gontai ke arah kelasnya. Dengan mata berkantung yang sayu. Semalam ia sulit tidur, memikirkan cara yang tepat untuk meminta maaf pada Ify.
Lorong yang biasanya ia lewati dengan riang kini terasa sangat panjang. Ia masih berpikir. Sayup-sayup, ia mendengar langkah kaki. Langkah itu semakin cepat, dan mendekat. Perlahan-lahan, Rio menoleh ke belakang. Ify. Ify berjalan di belakangnya dengan tatapan lurus kedepan, langkahnya cepat, dan seolah tidak melihat ada Rio disana. Rio berusaha tersenyum, meskipun senyumnya tidak setulus biasanya. Ify meliriknya sesaat, sebelum kemudian melengos dan mempercepat langkahnya. Meninggalkan Rio.
‘Gua bego, bego! Ngapain juga gua motong bunga kesukaan Ify? Gua emang bego!’ seru Rio di dalam hati. Mempercepat langkahnya juga menuju kelas. Ia ingin berkonsultasi
dengan Alvin.
Rio melongok ke dalam kelas. Hanya ada Alvin. Tas Ify sudah tergeletak di kursi tapi pemiliknya tidak ada. Rio menghembuskan nafas lega, paling tidak dia bisa berkonsultasi ke Alvin tanpa ada yang mengganggu.
Rio meletakkan tasnya sebelum duduk di kursi. Ia memandangi Alvin yang sibuk menulis-nulis sesuatu di bukunya.
“Elo ngapain Vin?” tanya Rio heran,
“Ngga apa-apa. Ngehafalin rumus doang kok” jawab Alvin sambil tetap mencorat-coret halaman belakang bukunya.
Rio menatap Alvin maklum. Sahabatnya ini memang digolongkan anak cerdas. Rio sudah biasa melihat Alvin yang waktu makan pun masih sempat belajar.
“Oh iya, elo udah dapet cara buat bantuin gua minta maaf ke Ify?” tanya Rio lagi, berharap Alvin sudah menemukan cara yang cocok.
Alvin menutup bukunya, dan menatap Rio,“Nah, itu dia. Gua udah ketemu sih, tapi gua bisanya kasih saran, bukan cara. Ify itu orangnya pemaaf. Ify itu suka anak cowok yang mentingin keperluan orang lain. Jadi maksudnya dia suka cowok yang penolong, engga cuma mikirin diri sendiri”
Rio terdiam mendengar kata-kata Alvin. Cowok yang penolong. Rasanya Rio bisa memenuhi kriteria itu.
“Kalo urusan caranya, maaf banget Yo. Gua bukannya engga mau bantu. Tapi emang gua engga tau caranya!” lanjut Alvin lagi, dengan terburu-buru. Ia takut Rio marah.
“Ngga apa-apa! Elo udah banyak bantuin gua! Kali ini, gua minta doanya aja banyak-banyak ya! Hehe” sahut Rio yang sudah mulai ceria. Alvin tersenyum pada sahabatnya. Ia yakin Rio mampu menyelesaikan semuanya dengan cara yang mengejutkan tapi selalu berhasil.
***
Rio menolak Chitato pembrian Alvin. Alvin tak memaksa, ia mengerti kondisi hati Rio saat ini. Rio masih melamun, sedangkan Alvin hanya diam. Benar-benar tak seperti
biasanya.
“Eh iya beneran gu…” kata-kata Ify terputus saat ia menyadari ada Rio di dalam kelas. Awalnya memang Ify dan Sivia hendak masuk ke kelas, tapi setelah Ify melihat ada Rio, Ify berbalik sambil memegang lengan Sivia. Menariknya keluar kelas.
Rio hanya menghelas nafas. Ify memang benar-benar marah. Walaupun bukan marah terang-terangan, tapi cukup membuat perasaan Rio makin campur aduk. Hari ini nyaris dilewatkan Rio dengan murung. Hanya Alvin yang berkali-kali memberinya
semangat.
“Oh iya, Vin. Ntar elo pulang duluan aja deh ya. Gua mau di sekolah dulu aja” ujar Rio tiba-tiba. Masih dengan tatapan kosong. Meski heran, Alvin tak mau bertanya aneh-aneh, ia menepuk pundak Rio 2 kali yang artinya“Iya”.
***
Meski hujan deras diluar, kelas 8E tetap sunyi saat pelajaran Fisika. Mereka semua sibuk mengerjakan sekumpulan soal-soal, dan nanti, salah satu dari mereka akan dipanggil untuk mengerjakan di depan kelas.
“Mario, kerjakan soal nomor 3 di papan” perintah Pak Duta, mengulurkan spidol hitam kepada Rio.
“Ya, pak” jawab Rio patuh, ia mengambil spidol dari tangan Pak Duta dan segera mengerjakan soal nomor 3 di papan. Tanpa senyum sedikitpun, tanpa kesalahan yang ia perbuat saat menulis rumus.
“Ya, bagus” ucap Pak Duta saat Rio selesai menuliskan jawabannya. Meskipun dalam hati Pak Duta heran juga, tidak biasanya Rio sepatuh dan sependiam itu. Guru yang galak-tapi-perhatian itu berencana untuk berbicara dengan Rio nanti.
TEENG… TEEENG… TEEENG…
“Ya, bel sudah berbunyi. Silakan bereskan buku-buku kalian” kata Pak Duta lagi, anak-anak kelas 8E segera membereskan buku-buku mereka. Ketua kelas memimpin doa, dan berebutan menyalami Pak Duta, lalu, segera pulang!
Lain halnya dengan Rio, Rio sengaja berlama-lama keluar kelas. Seharian ini dilaluinya tanpa senyuman, dan lama-lama perasaannya makin tidak enak. Alvin sudah disuruhnya pulang sejak tadi.
“Mario” panggil Pak Duta yang masih membereskan barang-barangnya. Sontak Rio menoleh, dan berjalan mendekati Pak Duta.“Ya, pak?”
“Kamu sakit? Atau mungkin ada apa-apa? Saya perhatikan dari tadi kamu hanya diam. Tidak seperti biasanya” tanya Pak Duta heran, akhirnya dia bisa menanyakan hal itu pada Rio, setelah tadi sempat merasa bingung.
“Nggak apa-apa kok, pak. Cuma agak capek” jawab Rio sambil tersenyum. Tapi tetap saja senyumnya lesu.
Pak Duta tersenyum maklum, sambil menepuk pundak Rio.“Ya sudah, kamu istirahat yang cukup!”
Rio mengangguk, lalu berjalan keluar kelas. Kakinya terus melangkah sampai ia tak sadar sudah berada di gerbang sekolah.
‘Untung aja gua bawa payung sama jaket’ batin Rio seraya mengeluarkan payung dari dalam tasnya. Dan memakai jaketnya.
Sekilas Rio mengalihkan pandangannya ke sampingnya. Oh, ada Ify. Rio kembali membuka payungnya. EH! IFY? Ya, ada Ify yang sedang menyandarkan badannya di gerbang, dengan tatapan yang menerawang. Rio berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk sekadar mengobrol dengan Ify.
“Fy? Kok engga pulang?” tanya Rio hati-hati. Ify meliriknya sebentar, tapi kemudian memandang lurus ke depan lagi.
“Sopir gua sakit. Ga ada yang bisa jemput. Gua ga bawa payung, nunggu hujan berhenti aja” jawab Ify datar, bersikap seolah tidak peduli.
“Err… pake payung gua aja gimana?” tawar Rio, masih berhati-hati.
“Engga usah. Makasih” tolak Ify halus. Rio menyadari, Ify psti tidak mau sepayung dengannya. Maka ia buru-buru mengubah penawarannya.
“Maksudnya bukan sepayung sama gua. Gua sih pake jaket aja, elo yang pake payung. Ini udah jam 2 lho, hujannya deras juga, bakalan lama kalo harus nungguin” tawar Rio lagi, kali ini disertai senyumnya yang tulus. Senyuman tulusnya yang pertama di
hari ini.
Ify memandang Rio ragu, kemarin bunga mataharinya sudah dipatahkan. Apa ia harus menerima tawaran Rio?
“Engga usah kok Yo. Makasih” kata Ify lagi. Rio sudah tak sabar, ia benar-benar ingin minta maaf ke Ify. Rio merangkul Ify bukan di pundaknya, tapi di lehernya. Rio mengalungkan tangan kirinya di leher Ify. Rio menggamit leher Ify pelan, sambil menariknya pulang.
“Udah ayo pulang! Elo jadi cewek susah bener dikasihtau” ujar Rio cepat, Ify yang tadi mau protes terdiam. Ia merasa hangat berada di rangkulan Rio. Sudah 3 menit, tapi Rio masih menggamit leher Ify. Ify pun tak menolak. Sampai akhirnya Rio melepaskan rangkulannya, menyerahkan payungnya ke Ify, dan ia berjalan bukan dibawah payung, tapi tetap disamping Ify.
“Eh? Ntar elo kehujanan, Yo!” seru Ify sambil memayungi Rio. Tapi Rio mendorongnya pelan.
“Gua engga usah. Elo aja. Kan gua udah ada jaket, lagian payung gua kecil, elo aja deh. Gak apa-apa kok” ujar Rio pelan. Tapi berhasil membuat Ify speechless.
Cowok yang seperti ini yang dicarinya, cowok yang rela berkorban demi orang lain. Ify masih menatap Rio. Tetapi Rio tiba-tiba menoleh padanya dengan raut muka penuh penyesalan.
“Ma… Maafin gua Fy. Tentang bunga matahari itu…” Rio berhasil minta maaf. Terserah Ify ia akan memaafkannya atau tidak, ia sudah berusaha.
Ify tersenyum lembut, “Nggak apa-apa, Yo. Lagian kemaren gua kelewat emosi, marah terus-terusan kan juga engga baik”
Rio tersenyum mendengar kata-kata Ify barusan.“Makasih ya, Fy…” ucapnya pelan. Ify mengangguk, senyumnya masih belum lepas dari wajahnya yang manis.
“Iya. Oh iya, elo payungan juga dong, biarin gua kena hujan juga, tapi elo jangan hujan-hujanan sendiri” lanjut Ify sambil memayungi Rio. Rio tersenyum, senyum bahagia. Ify tersenyum juga.
Mereka berdua, di tengah hujan yang semakin deras, berdua, di bawah payung. Berjalan berdampingan. Membuat semua hal paling romantis pun menjadi basi ketika kita melihat satu hal yang biasa, tapi bisa membuat kita semua merasakan kehangatan yang tak terhingga.
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ada Apa dengan Kebun Part 8 (repost)
Part 8 : Pangeran Datang, Rio menggila
Ify sudah mulai menyukai kehadiran Rio, Ify juga sudah mulai bercanda dengan Rio. Apakah proses pedekate Rio ke Ify hanya sampai disitu saja?
****
“Woi, Vin!” sapa Rio sambil menepuk pundak Alvin yang sedang menikmati cokelat Toblerone.
“Hmmmm…” sahut Alvin sekenanya, ia masih menikmati potongan cokelat berbentuk segitiga itu.
“Yah, elo gitu amat. Yaudah deh, gua cerita aja ya? Elo sambil makan juga engga apa-apa! Jadi…” Rio memulai ceritanya tentang peristiwa kemarin, mulai dari sosok Ify yang membaca buku, menggombal yang dibalas dengan slang air, tragedi 3 buah kue. Rio menceritakan semuanya dengan bersemangat, dan tidak ada satu bagian
pun yang ia lewatkan. Sedangkan Alvin hanya mendengarkan cerita Rio sambil sesekali menggigit cokelatnya atau sekadar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“… Jadi gitu, Vin!” Rio mengakhiri ceritanya yang panjang itu. Alvin yang sudah menghabiskan cokelatnya dari tadi langsung berkomentar.
“Jadi intinya, elo udah akrab sama Ify! Ya, kan?” Alvin segera menanggapi.
“Yap! Gua jadi makin semangat kerja deh!” seru Rio, matanya berbinar.
“Tapi elo juga pu…” belum sempat Alvin menyelesaikan perkataannya, Ify dan Sivia sudah datang sambil tertawa-tawa. Rio sempat tersenyum kepada Ify, tapi Ify tidak sadar. Dia malah tetap tertawa-tawa bersama Sivia. Tapi Rio tidak merasa sedih sama sekali, toh nanti di rumah Ify dia bisa bercanda lagi, Rio juga tak pusing-pusing memikirkan perkataan Alvin yang tadi terputus.
***
Rio sedang asyik melahap Chitato yang baru dibelinya, sedangkan Alvin sibuk membaca buku, sesekali tangannya meraih beberapa kentang goreng andalan kantin sekolahnya.
Saat itu memang istirahat, dan kedua sahabat itu memutuskan untuk membeli makanan dan memakannya di kelas.
“Itu Spiderwick Chronicles kan? Itu kan buku lama, Vin? Elo masih suka?” tanya Rio setelah mengintip judul buku yang dibaca Alvin.
“Iya, emang buku lama. Tapi kan ceritanya keren, Yo. Ga bosen gua bacanya” jawab Alvin, pandangannya tetap tertuju pada buku.
Rio mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil terus melahap Chitatonya yang sekarang tinggal setengah.
“Selesai baca untuk ke-5 kalinya…” gumam Alvin pelan sambil menutup bukunya dan mengambil sepotong kentang goreng lagi.
“Elo udah baca buku itu 5 kali?” tanya Rio lagi, tampak tidak percaya.
Tapi Alvin mengangguk mantap, “Gua udah hafal ceritanya malah”.
Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, tangannya masih berusaha menggapai sisa-sisa Chitato yang ada di bungkusnya. Begitu mengintip ke dalam, ternyata isinya sudah kosong melompong. Rio berdecak kesal, lalu mencomot sepotong kentang goreng milik Alvin.
“Bagi ya, Vin!” ujar Rio setelah sukses memasukkan kentang goreng itu ke mulutnya. Rio memang suka mencomot dulu baru minta izin, apalagi pada sahabatnya dari kecil ini.
Tapi Alvin tak keberatan, ia mengangguk sambil mengunyah kentang gorengnya.
“Oh iya, Vin! Ntar gua nebeng lagi boleh ga?” tanya Rio, nyengir. Alvin menatapnya sesaat, menelan kentang gorengnya, lalu berujar, “Boleh, selama elo kerja, elo nebeng gua aja”. Rio bersorak sambil menepuk bahu Alvin, lalu mereka berdua sibuk saling menusuk-nusuk pinggang dengan pensil 2B atau dengan penggaris pendek.
***
“Gua turun ya, Vin! Makasih” ujar Rio, kakinya berpijak pada tanah dulu sebelum ia menutup pintu mobil Alvin.
Alvin hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu mobilnya melaju ke rumah di sebelah rumah Ify. Rio bergegas masuk ke rumah Ify, meletakkan tasnya di kursi kayu, dan mulai bekerja.
Selama bekerja, Rio seringkali mencuri-curi pandang ke arah sepasang kursi dan meja berpayung di sudut taman rumah Ify. Berharap Ify akan segera datang dan mengajaknya istirahat sambil mengobrol. Tapi nyatanya, sampai keringat Rio mulai berjatuhan, Ify belum juga tampak disana.
‘Ify mana ya?’ pikirnya, sambil tetap melanjutkan kegiatannya, yaitu menyirami koleksi bunga anggrek milik Mama Ify.
Kening Rio berkerut saat melihat seorang cowok berperawakan tegap tiba-tiba memarkir motornya di depan gerbang rumah Ify, tangannya menggenggam sekuntum mawar putih. Dengan langkah pasti, cowok itu berjalan ke pintu rumah Ify tanpa sedikitpun menoleh ke arah Rio.
Cowok itu memijit bel, dan tampaklah Ify yang membuka pintu itu. Senyum Ify merekah saat melihat cowok itu, Ify mempersilakannya masuk ke ruang tamu, tapi pintu itu tidak ditutup. Sehingga Rio masih bisa mencuri-curi pandang ke arah mereka berdua.
“Ini, Fy… Khusus buat kamu!” ucap cowok itu, mengulurkan sekuntum mawar putih yang tadi digenggamnya. Senyum Ify makin merekah saat menerima bunga itu,“Makasih ya Kak Dayat! Kakak inget aja kalo Ify suka
mawar putih! Hehe”
“Yaiyalah kakak inget! Masa bisa lupa, sih?” ujar cowok yang bernama Dayat itu sambil tersenyum.
Meskipun Rio tidak bisa mendengar percakapan antara Dayat dan Ify, dari kejauhan saja sudah terlihat kalau mereka berdua sangat akrab. Rio makin merasakan perasaan aneh di dadanya.
‘Masa iya gua cemburu?’ pikirnya, berusaha mengalihkan pandangan dari Dayat dan Ify yang sibuk mengobrol dengan sangat akrab.
‘Tapi kan itu haknya Ify, dia mau akrab sama sapa aja terserah dia dong” pikir Rio lagi, menenangkan hatinya yang masih diliputi perasaan aneh. Rio menebar pupuk kesana kemari, dia tidak konsentrasi.
“Yo!” panggil seseorang, sontak Rio menoleh. Ternyata Alvin datang, dan sedang berjalan ke arah Rio.
“Alvin? mau ngapain?” tanya Rio heran, seingatnya Alvin jarang main ke rumah Ify saat Rio sedang bekerja.
“Nggak apa-apa sih, mau ngobrol sama elo aja. Ify ada tamu ya?” Alvin mengalihkan pandangannya ke ruang tamu, tempat dimana Dayat dan Ify sedang bercakap-cakap.
“Iya tuh. Cowok, mana pake ngasih Ify mawar putih lagi. Akrab banget! Cemburu gua jadinya” sungut Rio, memotong bagian-bagian tanaman yang sudha layu dengan kasar.
“Itu Kak Dayat ya…” gumam Alvin pelan, tapi Rio mendengarnya, Rio menghentikan aktivitasnya dan memegang pundak Alvin. Membuat Alvin menoleh kepadanya.
“Apa tadi? Dayat? Cowok itu namanya Dayat? Kok elo tau, Vin?” tanya Rio bertubi-tubi.
“Iya gua tau lah! Tadi pagi gua kan mau bilang ke elo, tapi Ify keburu dateng! Kak Dayat itu udah kelas 9, tapi bukan di SMP kita, rumahnya di blok sebelah, jadi gua akrab sama dia juga. Dia udah lama naksir Ify, tapi akhir-akhir ini dia bilang, rasa sukanya sama Ify berubah jadi rasa sayang kakak ke adik aja” jelas Alvin, kening Rio semakin berkerut. Kalau memang perasaannya berubah jadi sayang kakak ke adik, kenapa kelihatannya akrab seperti orang pacaran? Pikir Rio dalam hati.
“Ooh… gitu” sahut Rio singkat, hatinya masih dipenuhi perasaan aneh, tapi ia berusaha menepis perasaannya itu.
Alvin mengajak Rio mengobrol, sehingga Rio perlahan-lahan mulai lupa akan perasaannya itu. Sampai pada saat Rio membalik badannya, bermaksud menyalakan keran untuk menyiram, Rio tak sengaja melihat Dayat dan Ify yang sedang berpegangan tangan. Wajah Ify terlihat tersipu malu.
Rio terperangah sesaat, lalu tidak jadi menyalakan keran. Ia berbalik dan kembali meraih gunting tanamannya. Lalu mencari-cari daun yang sekiranya layu untuk dipotong, ia ingin menumpahkan amarahnya lewat memotong tanaman.
“Yo? Tadi katanya mau nyiram?” tanya Alvin heran saat sahabatnya itu bersiap-siap menggunting lagi.
“Gak apa-apa!” sahut Rio ketus, Alvin mengintip ke ruang tamu, dan disana, Dayat dan Ify memang sedang berpegangan tangan, tapi sedetik kemudian, Dayat segera berdiri, mungkin bersiap-siap untuk pergi lagi.
Alvin mendekati Rio dengan hati-hati, ia tahu pasti Rio cemburu. Makanya sikapnya berubah jadi ketus. Rio sedang memangkas daun-daun yang layu dengan brutal, raut mukanya berubah marah dan merengut.
“YO!! Awas itu bukan daun layu!!! Itu bunga matahari kesu….” Belum selesai Alvin mengingatkan Rio, tiba-tiba…
KREK…
“…kesukaan Ify…” lanjut Alvin pelan.
Rio menatap bunga matahari yang sudah patah itu dengan tatapan tidak percaya. Alvin juga terperangah, kaget dengan tindakan Rio barusan. Alvin langsung mengerti kalau Rio pasti tidak sengaja, tapi apakah nanti Ify mau mengerti?
“BUNGA MATAHARI GUA!!!!” pekik Ify dari belakang Alvin, sontak Alvin menoleh, ternyata Ify berniat mengantar Dayat ke gerbang, tetapi sial bagi Rio, Ify melihat bunga mataharinya yang sudah patah.
“Fy… Maaf gua ga…” Rio berniat meminta maaf, tapi kata-katanya sudah terpotong lagi oleh Ify.
“PERGI! PULANG LO!”
“Fy… Tapi gua mau min…”
“GUA BILANG ELO BOLEH PULANG!! PERGI!” Rio melangkah gontai saat mengambil tasnya, Alvin masih menunggui Rio, Ify sudah berlari ke dalam rumah, sedangkan Dayat sudah pergi dari tadi.
“Sabar, Yo. Ntar gua bantuin ngomong ke Ify” hibur Alvin, menepuk-nepuk bahu Rio yang hanya bisa tersenyum lesu.
“Iya deh. Bantuin gua ya Vin” ujarnya pelan. Lalu saat Alvin berbelok ke rumahnya, Rio melambaikan tangannya dengan lesu sebelum melangkah pulang ke rumahnya sendiri.
Rio berharap waktu bisa diputar sekaliii… saja agar dia bisa memperbaiki semuanya. Rio tadi kalap, ia lupa sama sekali tentang Ify yang selalu merawat tanamannya dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Rio lupa hal itu…
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ify sudah mulai menyukai kehadiran Rio, Ify juga sudah mulai bercanda dengan Rio. Apakah proses pedekate Rio ke Ify hanya sampai disitu saja?
****
“Woi, Vin!” sapa Rio sambil menepuk pundak Alvin yang sedang menikmati cokelat Toblerone.
“Hmmmm…” sahut Alvin sekenanya, ia masih menikmati potongan cokelat berbentuk segitiga itu.
“Yah, elo gitu amat. Yaudah deh, gua cerita aja ya? Elo sambil makan juga engga apa-apa! Jadi…” Rio memulai ceritanya tentang peristiwa kemarin, mulai dari sosok Ify yang membaca buku, menggombal yang dibalas dengan slang air, tragedi 3 buah kue. Rio menceritakan semuanya dengan bersemangat, dan tidak ada satu bagian
pun yang ia lewatkan. Sedangkan Alvin hanya mendengarkan cerita Rio sambil sesekali menggigit cokelatnya atau sekadar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“… Jadi gitu, Vin!” Rio mengakhiri ceritanya yang panjang itu. Alvin yang sudah menghabiskan cokelatnya dari tadi langsung berkomentar.
“Jadi intinya, elo udah akrab sama Ify! Ya, kan?” Alvin segera menanggapi.
“Yap! Gua jadi makin semangat kerja deh!” seru Rio, matanya berbinar.
“Tapi elo juga pu…” belum sempat Alvin menyelesaikan perkataannya, Ify dan Sivia sudah datang sambil tertawa-tawa. Rio sempat tersenyum kepada Ify, tapi Ify tidak sadar. Dia malah tetap tertawa-tawa bersama Sivia. Tapi Rio tidak merasa sedih sama sekali, toh nanti di rumah Ify dia bisa bercanda lagi, Rio juga tak pusing-pusing memikirkan perkataan Alvin yang tadi terputus.
***
Rio sedang asyik melahap Chitato yang baru dibelinya, sedangkan Alvin sibuk membaca buku, sesekali tangannya meraih beberapa kentang goreng andalan kantin sekolahnya.
Saat itu memang istirahat, dan kedua sahabat itu memutuskan untuk membeli makanan dan memakannya di kelas.
“Itu Spiderwick Chronicles kan? Itu kan buku lama, Vin? Elo masih suka?” tanya Rio setelah mengintip judul buku yang dibaca Alvin.
“Iya, emang buku lama. Tapi kan ceritanya keren, Yo. Ga bosen gua bacanya” jawab Alvin, pandangannya tetap tertuju pada buku.
Rio mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil terus melahap Chitatonya yang sekarang tinggal setengah.
“Selesai baca untuk ke-5 kalinya…” gumam Alvin pelan sambil menutup bukunya dan mengambil sepotong kentang goreng lagi.
“Elo udah baca buku itu 5 kali?” tanya Rio lagi, tampak tidak percaya.
Tapi Alvin mengangguk mantap, “Gua udah hafal ceritanya malah”.
Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, tangannya masih berusaha menggapai sisa-sisa Chitato yang ada di bungkusnya. Begitu mengintip ke dalam, ternyata isinya sudah kosong melompong. Rio berdecak kesal, lalu mencomot sepotong kentang goreng milik Alvin.
“Bagi ya, Vin!” ujar Rio setelah sukses memasukkan kentang goreng itu ke mulutnya. Rio memang suka mencomot dulu baru minta izin, apalagi pada sahabatnya dari kecil ini.
Tapi Alvin tak keberatan, ia mengangguk sambil mengunyah kentang gorengnya.
“Oh iya, Vin! Ntar gua nebeng lagi boleh ga?” tanya Rio, nyengir. Alvin menatapnya sesaat, menelan kentang gorengnya, lalu berujar, “Boleh, selama elo kerja, elo nebeng gua aja”. Rio bersorak sambil menepuk bahu Alvin, lalu mereka berdua sibuk saling menusuk-nusuk pinggang dengan pensil 2B atau dengan penggaris pendek.
***
“Gua turun ya, Vin! Makasih” ujar Rio, kakinya berpijak pada tanah dulu sebelum ia menutup pintu mobil Alvin.
Alvin hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu mobilnya melaju ke rumah di sebelah rumah Ify. Rio bergegas masuk ke rumah Ify, meletakkan tasnya di kursi kayu, dan mulai bekerja.
Selama bekerja, Rio seringkali mencuri-curi pandang ke arah sepasang kursi dan meja berpayung di sudut taman rumah Ify. Berharap Ify akan segera datang dan mengajaknya istirahat sambil mengobrol. Tapi nyatanya, sampai keringat Rio mulai berjatuhan, Ify belum juga tampak disana.
‘Ify mana ya?’ pikirnya, sambil tetap melanjutkan kegiatannya, yaitu menyirami koleksi bunga anggrek milik Mama Ify.
Kening Rio berkerut saat melihat seorang cowok berperawakan tegap tiba-tiba memarkir motornya di depan gerbang rumah Ify, tangannya menggenggam sekuntum mawar putih. Dengan langkah pasti, cowok itu berjalan ke pintu rumah Ify tanpa sedikitpun menoleh ke arah Rio.
Cowok itu memijit bel, dan tampaklah Ify yang membuka pintu itu. Senyum Ify merekah saat melihat cowok itu, Ify mempersilakannya masuk ke ruang tamu, tapi pintu itu tidak ditutup. Sehingga Rio masih bisa mencuri-curi pandang ke arah mereka berdua.
“Ini, Fy… Khusus buat kamu!” ucap cowok itu, mengulurkan sekuntum mawar putih yang tadi digenggamnya. Senyum Ify makin merekah saat menerima bunga itu,“Makasih ya Kak Dayat! Kakak inget aja kalo Ify suka
mawar putih! Hehe”
“Yaiyalah kakak inget! Masa bisa lupa, sih?” ujar cowok yang bernama Dayat itu sambil tersenyum.
Meskipun Rio tidak bisa mendengar percakapan antara Dayat dan Ify, dari kejauhan saja sudah terlihat kalau mereka berdua sangat akrab. Rio makin merasakan perasaan aneh di dadanya.
‘Masa iya gua cemburu?’ pikirnya, berusaha mengalihkan pandangan dari Dayat dan Ify yang sibuk mengobrol dengan sangat akrab.
‘Tapi kan itu haknya Ify, dia mau akrab sama sapa aja terserah dia dong” pikir Rio lagi, menenangkan hatinya yang masih diliputi perasaan aneh. Rio menebar pupuk kesana kemari, dia tidak konsentrasi.
“Yo!” panggil seseorang, sontak Rio menoleh. Ternyata Alvin datang, dan sedang berjalan ke arah Rio.
“Alvin? mau ngapain?” tanya Rio heran, seingatnya Alvin jarang main ke rumah Ify saat Rio sedang bekerja.
“Nggak apa-apa sih, mau ngobrol sama elo aja. Ify ada tamu ya?” Alvin mengalihkan pandangannya ke ruang tamu, tempat dimana Dayat dan Ify sedang bercakap-cakap.
“Iya tuh. Cowok, mana pake ngasih Ify mawar putih lagi. Akrab banget! Cemburu gua jadinya” sungut Rio, memotong bagian-bagian tanaman yang sudha layu dengan kasar.
“Itu Kak Dayat ya…” gumam Alvin pelan, tapi Rio mendengarnya, Rio menghentikan aktivitasnya dan memegang pundak Alvin. Membuat Alvin menoleh kepadanya.
“Apa tadi? Dayat? Cowok itu namanya Dayat? Kok elo tau, Vin?” tanya Rio bertubi-tubi.
“Iya gua tau lah! Tadi pagi gua kan mau bilang ke elo, tapi Ify keburu dateng! Kak Dayat itu udah kelas 9, tapi bukan di SMP kita, rumahnya di blok sebelah, jadi gua akrab sama dia juga. Dia udah lama naksir Ify, tapi akhir-akhir ini dia bilang, rasa sukanya sama Ify berubah jadi rasa sayang kakak ke adik aja” jelas Alvin, kening Rio semakin berkerut. Kalau memang perasaannya berubah jadi sayang kakak ke adik, kenapa kelihatannya akrab seperti orang pacaran? Pikir Rio dalam hati.
“Ooh… gitu” sahut Rio singkat, hatinya masih dipenuhi perasaan aneh, tapi ia berusaha menepis perasaannya itu.
Alvin mengajak Rio mengobrol, sehingga Rio perlahan-lahan mulai lupa akan perasaannya itu. Sampai pada saat Rio membalik badannya, bermaksud menyalakan keran untuk menyiram, Rio tak sengaja melihat Dayat dan Ify yang sedang berpegangan tangan. Wajah Ify terlihat tersipu malu.
Rio terperangah sesaat, lalu tidak jadi menyalakan keran. Ia berbalik dan kembali meraih gunting tanamannya. Lalu mencari-cari daun yang sekiranya layu untuk dipotong, ia ingin menumpahkan amarahnya lewat memotong tanaman.
“Yo? Tadi katanya mau nyiram?” tanya Alvin heran saat sahabatnya itu bersiap-siap menggunting lagi.
“Gak apa-apa!” sahut Rio ketus, Alvin mengintip ke ruang tamu, dan disana, Dayat dan Ify memang sedang berpegangan tangan, tapi sedetik kemudian, Dayat segera berdiri, mungkin bersiap-siap untuk pergi lagi.
Alvin mendekati Rio dengan hati-hati, ia tahu pasti Rio cemburu. Makanya sikapnya berubah jadi ketus. Rio sedang memangkas daun-daun yang layu dengan brutal, raut mukanya berubah marah dan merengut.
“YO!! Awas itu bukan daun layu!!! Itu bunga matahari kesu….” Belum selesai Alvin mengingatkan Rio, tiba-tiba…
KREK…
“…kesukaan Ify…” lanjut Alvin pelan.
Rio menatap bunga matahari yang sudah patah itu dengan tatapan tidak percaya. Alvin juga terperangah, kaget dengan tindakan Rio barusan. Alvin langsung mengerti kalau Rio pasti tidak sengaja, tapi apakah nanti Ify mau mengerti?
“BUNGA MATAHARI GUA!!!!” pekik Ify dari belakang Alvin, sontak Alvin menoleh, ternyata Ify berniat mengantar Dayat ke gerbang, tetapi sial bagi Rio, Ify melihat bunga mataharinya yang sudah patah.
“Fy… Maaf gua ga…” Rio berniat meminta maaf, tapi kata-katanya sudah terpotong lagi oleh Ify.
“PERGI! PULANG LO!”
“Fy… Tapi gua mau min…”
“GUA BILANG ELO BOLEH PULANG!! PERGI!” Rio melangkah gontai saat mengambil tasnya, Alvin masih menunggui Rio, Ify sudah berlari ke dalam rumah, sedangkan Dayat sudah pergi dari tadi.
“Sabar, Yo. Ntar gua bantuin ngomong ke Ify” hibur Alvin, menepuk-nepuk bahu Rio yang hanya bisa tersenyum lesu.
“Iya deh. Bantuin gua ya Vin” ujarnya pelan. Lalu saat Alvin berbelok ke rumahnya, Rio melambaikan tangannya dengan lesu sebelum melangkah pulang ke rumahnya sendiri.
Rio berharap waktu bisa diputar sekaliii… saja agar dia bisa memperbaiki semuanya. Rio tadi kalap, ia lupa sama sekali tentang Ify yang selalu merawat tanamannya dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Rio lupa hal itu…
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ada Apa dengan Kebun Part 7 (repost)
Part 7 : Ketika Rio Menggombal, Air Slang Datang
Rio berhasil nyelipin suratnya di novel Ify, Ify yang menerima surat itu hanya tertawa, tanpa tahu siapa pengirimnya. Kira-kira… Rio bakalan ngapain lagi ya buat bikin Ify deket sama dia?
****
Rio melangkah ke kelasnya dengan penuh percaya diri. Dia merasa semakin pede karena kemarin sudah berhasil menyelipkan surat untuk Ify.
Rio melihat Alvin yang ada di dalam kelas. Tapi… berdua. Dengan Sivia. Rio buru-buru
sembunyi di balik tembok lagi. Berusaha mendengar apa yang Alvin dan Sivia bicarakan.
“Emm… Siv, ini buat elo deh…” suara Alvin sayup-sayup terdengar. Rio makin penasaran lagi, dia berusaha curi-curi pandang ke dalam kelas.
“Beneran Vin? Waah… gua suka banget cokelat yang ini! Makasih ya Vin!” suara Sivia yang lembut juga terdengar sayup-sayup.
Karena rasa penasarannya yang tidak bisa dibendung, Rio memutuskan untuk masuk ke dalam kelas, dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Hai, Siv! Hai, Vin!” sapa Rio, tersenyum seperti biasanya dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
“Engg… Pagi, Yo! Gua ke ruang guru dulu yaa...” ujar Sivia sambil berjalan cepat ke luar kelas. Sedangkan Alvin menatap Rio dengan tatapan tanpa ekspresi.
“Bilang aja tadi elo ngintip, Yo” ucap Alvin pelan, masih tanpa ekspresi saat Sivia sudah tidak kelihatan lagi.
“Hehee… Elo tau aja sih! Iye, gua tadi ngintip! Elo serius suka sama Sivia??” tanya Rio, menghempaskan badannya ke kursi.
“Kayaknya sih gitu… Soalnya gua pasti deg-degan kalo liat dia!” Alvin akhirnya mau mengakui apa yang dipendamnya selama ini. Sedangkan Rio yang tadinya mau menggoda, diurungkan dulu niatnya itu. Sekarang dia ingin memberi semangat pada Alvin.
“Yahelah, Vin! Itu sih jelas-jelas elo suka! Udah ah, ntar kalo urusan gua udah selesai, urusan elo sama Sivia pasti gua bantu!” sahut Rio sambil menepuk-nepuk pundak Alvin.
“Kalo urusan elo ga selesai-selesai?? Hahahahaa” canda Alvin yang sudah kembali bersemangat, sedang Rio pura-pura cemberut.
“Eh iya! Kemaren gua sukses nyelipin surat! Gua selipin di novelnya Ify!” cerita Rio, ia teringat akan suratnya kemarin. Alvin menyambutnya dengan antusias.
Sepanjang bel masuk belum berbunyi itu, Rio sibuk menceritakan tentang kamar Ify yang seperti taman, suratnya yang ia selipkan, saat Ify tersenyum, saat Ify berjalan, semuanya! Sampai Alvin yang tadinya semangat jadi semakin merasa ngantuk mendengar ocehan Rio.
Untungnya, Pak Duta, wali kelas sekaligus guru Fisika-Kimia mereka segera masuk dan
memulai pelajaran. Paling tidak Alvin bisa kembali memelototi buku Kimia kesayangannya.
***
Rio asyik menatapi Ify dari belakang. Dia tak pernah bosan menatapi rambut bagian belakang Ify yang tergerai.
‘Ify… Ify! Elo tuh mau diliat dari belakang aja cantik, apalagi dari depan!’ batin Rio sambil cengengesan.
Alvin sebetulnya mau menegur, tapi karena takut sama Pak Duta jadi didiemin saja.
BLETAK!
“RIO!! JANGAN MELAMUN!” seru Pak Duta, ternyata spidol yang tadi dipegang Pak Duta sudah berhasil mendarat di kepala Rio yang sedang asyik-asyiknya melamun. Rio cengar-cengir sambil mengusap-usap
kepalanya yang sakit.“Hehee… Maaf pak!”
“Cengengesan saja kamu itu!! Sudah! Perhatikan papan tulis!” perintah Pak Duta lagi, Rio dengan sigap segera membuka buku catatannya dan pura-pura mencatat. Padahal dia nggak ngerti sama sekali tentang Hukum Newton yang sedang dijelaskan Pak Duta di depan kelas.
Rio melirik ke arah Alvin. Tatapan sahabatnya itu terus berpindah-pindah dari papan tulis ke bukunya. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk kecil tanda ia mengerti apa yang dijelaskan oleh Pak Duta.
‘Sip dah! Gua bisa minta bantuin Alvin buat ngajarin!’ pikir Rio senang, masih cengar-cengir.
BLETUAK!!
“MARIO!!!” panggil Pak Duta lagi dengan suara menggelegar.
Rio meringis sambil mengusap-usap kepalanya. Kali ini yang dilempar Pak Duta adalah penghapus papan tulis yang besarnya kira-kira sama seperti tempat pensil Rio.
“I… Iya, Pak? Maaf Pak…” ucap Rio pelan, masih mengusap-usap kepalanya.
“Apa bunyi Hukum Newton yang pertama?! Jawab sekarang juga!!” suara Pak Duta masih menggelegar, memandang lurus ke arah Rio yang sedang gelagapan karena
tidak bisa menjawab.
“Benda bergerak dengan kecepatan tetap dan percepatannya nol jika tidak ada resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut…” bisik Alvin pelan, tapi tatapan Alvin tetap tertuju pada papan tulis. Sekilas Rio melihat Alvin, tapi sedetik kemudian ia segera menjawab pertanyaan Pak Duta persis seperti apa yang Alvin ucapkan barusan.
“Bagus! Sekarang perhatikan! Jangan melakukan hal lain kecuali bernafas dan mendengarkan penjelasan saya!” perintah Pak Duta lagi, lalu beliau melanjutkan mengajar.
Rio menghembuskan nafas lega. “Makasih, Vin!” bisiknya pelan. Alvin mengangguk sambil tersenyum geli.
***
“Vin, hari ini gua nebeng lagi ke rumah Ify boleh ga?” pinta Rio saat Alvin sudah dijemput.
Alvin tertawa, “Ya bolehlah! Masuk!” Pelan-pelan, Rio masuk ke mobil Alvin. Di mobil, sesekali Rio terlihat menghafalkan sesuatu.
Ya, Rio berencana mau merayu—atau menggombal—ke Ify, siapa tahu nanti Ify jadi nggak terlalu galak lagi sama dia.
“Elo ngapain, sih?” tanya Alvin heran saat melihat Rio yang sibuk menghafal.
“Gua ntar mau buktiin omongannya Kak Iel! Kan katanya Kak Iel, setiap cewek yang dirayu pasti jadi malu-malu, jadi ntar gua mau ngebuktiin…” jawab Rio cepat dan penuh rasa percaya diri.
“Yee… bilang aja elo pengen ngegombalin Ify!!” tuduh Alvin sambil tertawa-tawa. Rio cuma bisa nyengir. Memang itulah tujuan utamanya!
***
Tak sampai setengah jam, Rio sekarang sudah berdiri (lagi) di depan gerbang rumah Ify. Rio sempat menghela nafas sejenak, mencoba menghafalkan trik menggombal paling ampuh dari kakaknya, lalu melangkah masuk ke pekarangan rumah Ify.
Rio meletakkan tasnya di sebuah kursi yang terletak di pekarangan rumah Ify. Nama sih boleh pekarangan, tapi sepertinya “pekarangan” yang ada di rumah Ify ini lebih cocok dinamakan taman. Karena selain besar, bunga-bunga dan segala jenis tanaman juga ada disini!
Rio mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman itu. Rio melihat berbagai macam alat yang biasa dipakai untuk merawat tanaman-tanaman. Rio mengayunkan kakinya, berjalan untuk mengambil alat-alat itu agar dia bisa segera bekerja.
‘Wah, ternyata Ify suka bunga matahari juga, ya?’ batin Rio saat ia memotong daun-daun yang sudah layu dan berwarna kekuningan.
Rio asyik menyiram, menebar pupuk, dan memotong daun-daun atau beberapa bagian tanaman yang sekiranya sudah layu. Saking asyiknya, Rio tidak menyadari kehadiran Ify yang sudah sekitar 20 menit duduk di sebuah kursi di sudut taman rumahnya. Ada dua kursi kayu disana. Kedua kursi kayu itu ditemani oleh meja kecil dari kayu yang dilengkapi payung diatas meja, Membuat sepasang kursi dan meja itu tampak seperti yang ada di café-café. Tapi tentu saja lebih nyaman, karena dikelilingi oleh tanaman-tanaman yang hijau dan asri.
Dan… disanalah Ify, Ify yang sedang membaca buku, di mejanya terdapat 2 gelas es jeruk, dan sepiring kue cokelat buatan Mama Ify.
Rio menyadari kehadiran Ify di kursi itu saat ia berniat menebar pupuk di sekumpulan bunga mawar putih yang
terletak tidak jauh dari kursi dimana Ify berada. Sejenak Rio terperangah menatap sosok yang di mata Rio terlihat sangat… sempurna… Bayangkan saja, Ify yang sedang membaca buku sedang duduk di sebuah kursi, lengkap dengan meja kayu berpayung, terlindungi oleh sebuah
pohon angsana berukuran sedang dari sinar matahari yang menyengat, tapi masih ada seberkas cahaya matahari yang bisa melewati daun-daun lebat di pohon itu. Tentu saja melewati sela-sela daun yang rimbun. Rio benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
Cewek yang tidak harus menebar senyum kepada setiap cowok yang dilewatinya, tidak harus bertingkah laku aneh-aneh dan mencari sensasi, tidak harus menebar pesona kepada setiap cowok, tapi mampu membuat para cowok itu terpana. Itu semua ada di dalam diri Ify.
“Yo! Ngapain elo bengong? Sini! Istirahat
dulu deh! Mama nyuruh gua bawain es jeruk sama kue cokelat!” seru Ify, menyadarkan Rio yang tadi masih terpana. Rio mengangguk, lalu berjalan ke arah kursi yang masih kosong. Berhadapan dengan Ify.
Rio duduk di kursi itu dengan canggung. Ify yang melihatnya malah semakin heran.
“Kok elo jadi canggung sih? Makan deh kuenya, minum juga esnya” ujar Ify, menunjuk kue dan es jeruk yang ada di meja. Rio hanya mengangguk, dia benar-benar speechless di hadapan Ify.
Pelan-pelan Rio mengambil 1 kue cokelat, dan menggigitnya. Disaat Rio sedang menikmati kue cokelatnya, dia teringat akan niatnya tadi yang mau merayu—ehm, menggombal—ke Ify. Rio buru-buru menghabiskan potongan kue cokelat yang tadi diambilnya, meneguk es jeruk yang nikmat. Dan berdeham kecil.
“Yo, kalo elo ngerayu cewek, usahain ekspresi elo harus bagus! Jadinya dia ngerasa elo itu serius banget, terus romantis juga!”. Kata-kata itu yang selalu diucapkan oleh Kak Iel saat Rio meminta tips menggombal padanya. Rio berniat mempraktekkannya sekarang juga.
Rio berusaha mengingat-ingat salah satu gombalan yang sudah dihafalkannya tadi siang. Lalu ia berdeham lagi.
“Fy… Gua mau ngomong serius…” ucap Rio, berusaha mengubah mimik mukanya menjadi serius. Tapi gagal. Ify saja terlihat menaham tawanya saat melihat ekspresi muka Rio yang terlihat sangat aneh dan seperti dibuat-buat.
“Fy… elo kok… emm… tega sih ninggalin surga? Er… kan kasian malaikat-malaikat disana… sibuk… mm… nyariin bidadarinya yang kabur ke bumi… salah satunya ya yang ada… engg… di depan gua ini…” Rio menggombal lagi, tapi lebih kedengaran seperti membaca. Karena Rio mengucapkannya terbata-bata.
Ify sebetulnya sudah tidak bisa menahan tawanya, tapi dia pura-pura tidak peduli saja. Ify melihat slang yang masih mengucurkan air. Karena memang kerannya belum ditutup! Ify menunduk sedikit, meraih slang air itu. Rio masih belum sadar kalau Ify sedang menunduk, Rio asyik saja mengucapkan kata-kata gombalan yang lebih yahud—menurut kakaknya—pada Ify.
Sedangkan Ify sudah berhasil meraih slang air itu, pelan-pelan, ia memegang slang air itu dibawah meja, agar Rio tidak bisa melihatnya. Senyum Ify terkembang, jarang-jarang dia bisa mengusili anak cowok!
“Fy… Kalo elo jadi api, gua mau kok jadi lilinnya, gua mau membakar diri gua demi… Hrftthhhffhhkgglkglkglkk!!!” saat asyik-asyiknya menggombal, Ify menyiram muka Rio dengan slang air itu!
“Huahahahahahahahahaaaaa” tawa Ify meledak melihat Rio yang sekarang basah kuyup, berusaha meludahkan air yang tadi sempat masuk ke mulutnya.
“Elo engga tau ya, Yo? Gua paling engga suka digombalin!! Hahahahahaa!! Tapi elo asik juga ya? Belom pernah ada anak cowok
yang berhasil bikin gua ketawa kayak gini selain papa gua sama Alvin!! Huahhahahaaaaa” ujar Ify di sela-sela tawanya yang heboh.
Rio merengut kesal ke Ify. Udah capek-capek ngehafalin gombalan, eh, disiram pake air! Pikirnya sebal. Ia melihat sisa kue cokelat yang teronggok pasrah di piring, dan melihat Ify yang sedang heboh tertawa.
“Huahhahahahahahahaaa… Yo, elo bener-bener.. Hrtsffghhhhhhhekkk!!” Rio sukses memasukkan 3 buah kue sekaligus kedalam mulut Ify, sukses membuat Ify nyaris tersedak. Tapi untungnya, Ify cepat-cepat mengunyah dan menelan kue-kue itu, dan meneguk habis es jeruknya.
“Kita seri!!! Huahahhahhahaa… oh iya, Fy. Udah jam 5 nih, gua pulang dulu ya! Ati-ati, jangan keselek! Hahahaaa” pamit Rio, tetap menggoda Ify. Ify hanya bisa merengut kesal campur tertawa geli. Baru kali ini dia bisa langsung merasa nyaman dengan cowok yang baru dikenalnya!
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Rio berhasil nyelipin suratnya di novel Ify, Ify yang menerima surat itu hanya tertawa, tanpa tahu siapa pengirimnya. Kira-kira… Rio bakalan ngapain lagi ya buat bikin Ify deket sama dia?
****
Rio melangkah ke kelasnya dengan penuh percaya diri. Dia merasa semakin pede karena kemarin sudah berhasil menyelipkan surat untuk Ify.
Rio melihat Alvin yang ada di dalam kelas. Tapi… berdua. Dengan Sivia. Rio buru-buru
sembunyi di balik tembok lagi. Berusaha mendengar apa yang Alvin dan Sivia bicarakan.
“Emm… Siv, ini buat elo deh…” suara Alvin sayup-sayup terdengar. Rio makin penasaran lagi, dia berusaha curi-curi pandang ke dalam kelas.
“Beneran Vin? Waah… gua suka banget cokelat yang ini! Makasih ya Vin!” suara Sivia yang lembut juga terdengar sayup-sayup.
Karena rasa penasarannya yang tidak bisa dibendung, Rio memutuskan untuk masuk ke dalam kelas, dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Hai, Siv! Hai, Vin!” sapa Rio, tersenyum seperti biasanya dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
“Engg… Pagi, Yo! Gua ke ruang guru dulu yaa...” ujar Sivia sambil berjalan cepat ke luar kelas. Sedangkan Alvin menatap Rio dengan tatapan tanpa ekspresi.
“Bilang aja tadi elo ngintip, Yo” ucap Alvin pelan, masih tanpa ekspresi saat Sivia sudah tidak kelihatan lagi.
“Hehee… Elo tau aja sih! Iye, gua tadi ngintip! Elo serius suka sama Sivia??” tanya Rio, menghempaskan badannya ke kursi.
“Kayaknya sih gitu… Soalnya gua pasti deg-degan kalo liat dia!” Alvin akhirnya mau mengakui apa yang dipendamnya selama ini. Sedangkan Rio yang tadinya mau menggoda, diurungkan dulu niatnya itu. Sekarang dia ingin memberi semangat pada Alvin.
“Yahelah, Vin! Itu sih jelas-jelas elo suka! Udah ah, ntar kalo urusan gua udah selesai, urusan elo sama Sivia pasti gua bantu!” sahut Rio sambil menepuk-nepuk pundak Alvin.
“Kalo urusan elo ga selesai-selesai?? Hahahahaa” canda Alvin yang sudah kembali bersemangat, sedang Rio pura-pura cemberut.
“Eh iya! Kemaren gua sukses nyelipin surat! Gua selipin di novelnya Ify!” cerita Rio, ia teringat akan suratnya kemarin. Alvin menyambutnya dengan antusias.
Sepanjang bel masuk belum berbunyi itu, Rio sibuk menceritakan tentang kamar Ify yang seperti taman, suratnya yang ia selipkan, saat Ify tersenyum, saat Ify berjalan, semuanya! Sampai Alvin yang tadinya semangat jadi semakin merasa ngantuk mendengar ocehan Rio.
Untungnya, Pak Duta, wali kelas sekaligus guru Fisika-Kimia mereka segera masuk dan
memulai pelajaran. Paling tidak Alvin bisa kembali memelototi buku Kimia kesayangannya.
***
Rio asyik menatapi Ify dari belakang. Dia tak pernah bosan menatapi rambut bagian belakang Ify yang tergerai.
‘Ify… Ify! Elo tuh mau diliat dari belakang aja cantik, apalagi dari depan!’ batin Rio sambil cengengesan.
Alvin sebetulnya mau menegur, tapi karena takut sama Pak Duta jadi didiemin saja.
BLETAK!
“RIO!! JANGAN MELAMUN!” seru Pak Duta, ternyata spidol yang tadi dipegang Pak Duta sudah berhasil mendarat di kepala Rio yang sedang asyik-asyiknya melamun. Rio cengar-cengir sambil mengusap-usap
kepalanya yang sakit.“Hehee… Maaf pak!”
“Cengengesan saja kamu itu!! Sudah! Perhatikan papan tulis!” perintah Pak Duta lagi, Rio dengan sigap segera membuka buku catatannya dan pura-pura mencatat. Padahal dia nggak ngerti sama sekali tentang Hukum Newton yang sedang dijelaskan Pak Duta di depan kelas.
Rio melirik ke arah Alvin. Tatapan sahabatnya itu terus berpindah-pindah dari papan tulis ke bukunya. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk kecil tanda ia mengerti apa yang dijelaskan oleh Pak Duta.
‘Sip dah! Gua bisa minta bantuin Alvin buat ngajarin!’ pikir Rio senang, masih cengar-cengir.
BLETUAK!!
“MARIO!!!” panggil Pak Duta lagi dengan suara menggelegar.
Rio meringis sambil mengusap-usap kepalanya. Kali ini yang dilempar Pak Duta adalah penghapus papan tulis yang besarnya kira-kira sama seperti tempat pensil Rio.
“I… Iya, Pak? Maaf Pak…” ucap Rio pelan, masih mengusap-usap kepalanya.
“Apa bunyi Hukum Newton yang pertama?! Jawab sekarang juga!!” suara Pak Duta masih menggelegar, memandang lurus ke arah Rio yang sedang gelagapan karena
tidak bisa menjawab.
“Benda bergerak dengan kecepatan tetap dan percepatannya nol jika tidak ada resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut…” bisik Alvin pelan, tapi tatapan Alvin tetap tertuju pada papan tulis. Sekilas Rio melihat Alvin, tapi sedetik kemudian ia segera menjawab pertanyaan Pak Duta persis seperti apa yang Alvin ucapkan barusan.
“Bagus! Sekarang perhatikan! Jangan melakukan hal lain kecuali bernafas dan mendengarkan penjelasan saya!” perintah Pak Duta lagi, lalu beliau melanjutkan mengajar.
Rio menghembuskan nafas lega. “Makasih, Vin!” bisiknya pelan. Alvin mengangguk sambil tersenyum geli.
***
“Vin, hari ini gua nebeng lagi ke rumah Ify boleh ga?” pinta Rio saat Alvin sudah dijemput.
Alvin tertawa, “Ya bolehlah! Masuk!” Pelan-pelan, Rio masuk ke mobil Alvin. Di mobil, sesekali Rio terlihat menghafalkan sesuatu.
Ya, Rio berencana mau merayu—atau menggombal—ke Ify, siapa tahu nanti Ify jadi nggak terlalu galak lagi sama dia.
“Elo ngapain, sih?” tanya Alvin heran saat melihat Rio yang sibuk menghafal.
“Gua ntar mau buktiin omongannya Kak Iel! Kan katanya Kak Iel, setiap cewek yang dirayu pasti jadi malu-malu, jadi ntar gua mau ngebuktiin…” jawab Rio cepat dan penuh rasa percaya diri.
“Yee… bilang aja elo pengen ngegombalin Ify!!” tuduh Alvin sambil tertawa-tawa. Rio cuma bisa nyengir. Memang itulah tujuan utamanya!
***
Tak sampai setengah jam, Rio sekarang sudah berdiri (lagi) di depan gerbang rumah Ify. Rio sempat menghela nafas sejenak, mencoba menghafalkan trik menggombal paling ampuh dari kakaknya, lalu melangkah masuk ke pekarangan rumah Ify.
Rio meletakkan tasnya di sebuah kursi yang terletak di pekarangan rumah Ify. Nama sih boleh pekarangan, tapi sepertinya “pekarangan” yang ada di rumah Ify ini lebih cocok dinamakan taman. Karena selain besar, bunga-bunga dan segala jenis tanaman juga ada disini!
Rio mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman itu. Rio melihat berbagai macam alat yang biasa dipakai untuk merawat tanaman-tanaman. Rio mengayunkan kakinya, berjalan untuk mengambil alat-alat itu agar dia bisa segera bekerja.
‘Wah, ternyata Ify suka bunga matahari juga, ya?’ batin Rio saat ia memotong daun-daun yang sudah layu dan berwarna kekuningan.
Rio asyik menyiram, menebar pupuk, dan memotong daun-daun atau beberapa bagian tanaman yang sekiranya sudah layu. Saking asyiknya, Rio tidak menyadari kehadiran Ify yang sudah sekitar 20 menit duduk di sebuah kursi di sudut taman rumahnya. Ada dua kursi kayu disana. Kedua kursi kayu itu ditemani oleh meja kecil dari kayu yang dilengkapi payung diatas meja, Membuat sepasang kursi dan meja itu tampak seperti yang ada di café-café. Tapi tentu saja lebih nyaman, karena dikelilingi oleh tanaman-tanaman yang hijau dan asri.
Dan… disanalah Ify, Ify yang sedang membaca buku, di mejanya terdapat 2 gelas es jeruk, dan sepiring kue cokelat buatan Mama Ify.
Rio menyadari kehadiran Ify di kursi itu saat ia berniat menebar pupuk di sekumpulan bunga mawar putih yang
terletak tidak jauh dari kursi dimana Ify berada. Sejenak Rio terperangah menatap sosok yang di mata Rio terlihat sangat… sempurna… Bayangkan saja, Ify yang sedang membaca buku sedang duduk di sebuah kursi, lengkap dengan meja kayu berpayung, terlindungi oleh sebuah
pohon angsana berukuran sedang dari sinar matahari yang menyengat, tapi masih ada seberkas cahaya matahari yang bisa melewati daun-daun lebat di pohon itu. Tentu saja melewati sela-sela daun yang rimbun. Rio benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
Cewek yang tidak harus menebar senyum kepada setiap cowok yang dilewatinya, tidak harus bertingkah laku aneh-aneh dan mencari sensasi, tidak harus menebar pesona kepada setiap cowok, tapi mampu membuat para cowok itu terpana. Itu semua ada di dalam diri Ify.
“Yo! Ngapain elo bengong? Sini! Istirahat
dulu deh! Mama nyuruh gua bawain es jeruk sama kue cokelat!” seru Ify, menyadarkan Rio yang tadi masih terpana. Rio mengangguk, lalu berjalan ke arah kursi yang masih kosong. Berhadapan dengan Ify.
Rio duduk di kursi itu dengan canggung. Ify yang melihatnya malah semakin heran.
“Kok elo jadi canggung sih? Makan deh kuenya, minum juga esnya” ujar Ify, menunjuk kue dan es jeruk yang ada di meja. Rio hanya mengangguk, dia benar-benar speechless di hadapan Ify.
Pelan-pelan Rio mengambil 1 kue cokelat, dan menggigitnya. Disaat Rio sedang menikmati kue cokelatnya, dia teringat akan niatnya tadi yang mau merayu—ehm, menggombal—ke Ify. Rio buru-buru menghabiskan potongan kue cokelat yang tadi diambilnya, meneguk es jeruk yang nikmat. Dan berdeham kecil.
“Yo, kalo elo ngerayu cewek, usahain ekspresi elo harus bagus! Jadinya dia ngerasa elo itu serius banget, terus romantis juga!”. Kata-kata itu yang selalu diucapkan oleh Kak Iel saat Rio meminta tips menggombal padanya. Rio berniat mempraktekkannya sekarang juga.
Rio berusaha mengingat-ingat salah satu gombalan yang sudah dihafalkannya tadi siang. Lalu ia berdeham lagi.
“Fy… Gua mau ngomong serius…” ucap Rio, berusaha mengubah mimik mukanya menjadi serius. Tapi gagal. Ify saja terlihat menaham tawanya saat melihat ekspresi muka Rio yang terlihat sangat aneh dan seperti dibuat-buat.
“Fy… elo kok… emm… tega sih ninggalin surga? Er… kan kasian malaikat-malaikat disana… sibuk… mm… nyariin bidadarinya yang kabur ke bumi… salah satunya ya yang ada… engg… di depan gua ini…” Rio menggombal lagi, tapi lebih kedengaran seperti membaca. Karena Rio mengucapkannya terbata-bata.
Ify sebetulnya sudah tidak bisa menahan tawanya, tapi dia pura-pura tidak peduli saja. Ify melihat slang yang masih mengucurkan air. Karena memang kerannya belum ditutup! Ify menunduk sedikit, meraih slang air itu. Rio masih belum sadar kalau Ify sedang menunduk, Rio asyik saja mengucapkan kata-kata gombalan yang lebih yahud—menurut kakaknya—pada Ify.
Sedangkan Ify sudah berhasil meraih slang air itu, pelan-pelan, ia memegang slang air itu dibawah meja, agar Rio tidak bisa melihatnya. Senyum Ify terkembang, jarang-jarang dia bisa mengusili anak cowok!
“Fy… Kalo elo jadi api, gua mau kok jadi lilinnya, gua mau membakar diri gua demi… Hrftthhhffhhkgglkglkglkk!!!” saat asyik-asyiknya menggombal, Ify menyiram muka Rio dengan slang air itu!
“Huahahahahahahahahaaaaa” tawa Ify meledak melihat Rio yang sekarang basah kuyup, berusaha meludahkan air yang tadi sempat masuk ke mulutnya.
“Elo engga tau ya, Yo? Gua paling engga suka digombalin!! Hahahahahaa!! Tapi elo asik juga ya? Belom pernah ada anak cowok
yang berhasil bikin gua ketawa kayak gini selain papa gua sama Alvin!! Huahhahahaaaaa” ujar Ify di sela-sela tawanya yang heboh.
Rio merengut kesal ke Ify. Udah capek-capek ngehafalin gombalan, eh, disiram pake air! Pikirnya sebal. Ia melihat sisa kue cokelat yang teronggok pasrah di piring, dan melihat Ify yang sedang heboh tertawa.
“Huahhahahahahahahaaa… Yo, elo bener-bener.. Hrtsffghhhhhhhekkk!!” Rio sukses memasukkan 3 buah kue sekaligus kedalam mulut Ify, sukses membuat Ify nyaris tersedak. Tapi untungnya, Ify cepat-cepat mengunyah dan menelan kue-kue itu, dan meneguk habis es jeruknya.
“Kita seri!!! Huahahhahhahaa… oh iya, Fy. Udah jam 5 nih, gua pulang dulu ya! Ati-ati, jangan keselek! Hahahaaa” pamit Rio, tetap menggoda Ify. Ify hanya bisa merengut kesal campur tertawa geli. Baru kali ini dia bisa langsung merasa nyaman dengan cowok yang baru dikenalnya!
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Ada Apa dengan Kebun Part 6 (repost)
Part 6 : Penyurat Rahasia Dari Kebun
Rio sukses diterima jadi tukang kebun di rumah Ify, tapi di perjalanan pulang, ada motor yang mengikutinya, siapakah itu?
****
BRUUUMMM!! TIN TIIIN!!!
“ADUH KAGET GUA!!” seru Rio lantang sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang sekarang. Dia menoleh pelan ke arah pengendara motor yang tadi sudah membuatnya kaget itu.
“KAK IEL!!!” jerit Rio, masih lantang. Ia hafal jenis motor kakaknya dan plat nomornya. Gabriel melepas helm full facenya dan tidak bisa menahan tawanya.
“HAHAHAHAHAHAHAHAAA!! Eh, Yo! Salah sendiri! Sapa juga yang nyuruh elo jalan di tengah jalan? Untung tadi gua yang lewat! Kalo ada mobil, udah ditabrak lo! Eh iya, sejak kapan elo belajar menjerit kayak banci gitu? Hahahahahahaaaa!!” Gabriel masih sempat-sempatnya bercanda sebelum mengisyaratkan Rio agar naik ke motornya.
Rio hanya diam. Sewot. Lagi asyik-asyiknya mikirin Ify malah diganggu! Dengusnya sebal. Tapi tentu saja Gabriel tidak peduli, karena dia harus konsentrasi ke jalan.
***
“Rio? Kamu kenapa telat pulangnya?” tanya Mama Rio heran, biasanya kalau Rio pulang telat, pasti Rio memberitahu mamanya dulu.
“Tadi Rio ke rumah temen. Itu lho, Ma, rumah temen yang butuh tukang kebun. Tadi Rio udah diterima, jadi besok mulai kerja. Tapi kerjanya sehari 3 jam, Ma, dari pulang sekolah. Nggak apa-apa kan, Ma?” tanya Rio balik, Gabriel hanya mengerutkan kening mendengar jawaban adik semata wayangnya itu.
Mama Rio menggeleng cepat, “Nggak apa-apa. Itu tandanya kamu sudah makin mandiri! Nah, sekarang kamu makan, terus mandi ya!” Rio mengangguk, lalu berjalan ke ruang makan diikuti kakaknya yang masih digelayuti rasa heran. Adiknya? Jadi
tukang kebun?
“Yo, elo jadi tukang kebun?” tanya Gabriel heran saat Rio menyendokkan nasi ke piringnya. Rio hanya mengangguk.
“Kok tumben sih? Ah, gua tau. Ini pasti ada apa-apanya. Dan biasanyaa… cowok langsung mau berubah kayak gini gara-gara cewek. Gua tebak ya? Elo naksir cewek, ceweknya suka bunga atau tanaman, terus mungkin elo mau kerja di rumahnya?” Wow. Seratus buat Gabriel. Dengan cepat dan tangkas ia langsung menebak maksud Rio.
Dengan benar. Rio menghela nafas pelan, Kenapa kakaknya ini selalu tahu maksudnya sih?
“Ntar aja, kak. Ada mama tuh” bisik Rio pelan, sambil menunjuk mamanya yang sedang nonton TV.
Senyum Gabriel makin merekah. Ia yakin tebakannya tadi benar, karena tiba-tiba Rio jadi malu-malu kucing.
‘Heran. Kak Iel kok kalo nebak bisa bener gitu sih? Dulu pas gua minta diajarin ngegombal, langsung tau, sekarang gua naksir cewek, langsung tau juga! Dah, emang nasib punya kakak spesialis cinta gini’ pikir Rio sambil makan. Saking asyiknya mikir, makanan yang dia masukin ke mulut engga dikunyah dulu tapi langsung ditelen. Ajaibnya, Rio gak keselek sama sekali.
“Yo, gua tunggu di kamar ya! Ceritain yang sebenernya aja, sapa tau gua bisa bantu-bantu. Eheheheee” pesan Gabriel sambil senyum-senyum menggoda. Rio mengangguk pasrah.
***
“Oooh… Jadi gitu…” gumam Gabriel saat Rio selesai menjelaskan maksud utama dirinya yang mendadak mau kerja sambilan. Ya, karena mau pedekate ke Ify!
“Gini, gua kan tadi udah janji mau ngebantuin elo. Cara yang paling gampang buat elo yang baru pertama kalinya suka sama cewek. Adalaaah… elo bikin surat!” usul Gabriel cepat. Rio mikir, hmm… di dalam rumahnya Ify kan tanamannya di pot ada banyak juga, siapa tahu nanti dia bisa menyelinap sebentar ke kamar Ify buat nyelipin suratnya?
“Iya, bisa juga kak. Tadi sih di dalem rumahnya ada taneman di pot-pot gitu, siapa tau ntar mamanya nyuruh buat diberesin juga, jadinya kan gua bisa nyelipin surat di kamarnya Ify!” sahut Rio bersemangat. Wah, kakaknya ini oke juga buat tempat curhat masalah cinta!
Gabriel tersenyum puas, “Nah! Sapa tau juga di dalem kamarnya… siapa tadi? Ify? Di dalem kamarnya Ify ada tanemannya! Terus elo disuruh ngeberesin tanemannya, kan elo bisa langsung nyelipin suratnya!” Rio mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu ia segera pergi ke kamarnya untuk menulis surat. Ia berusaha mati-matian agar tulisan tangannya jadi lebih rapi, biar nggak gampang dikenali sama Ify.
***
Rio berjalan santai ke arah kelasnya, dia sempat melihat Alvin yang sudah ada di dalam kelas, saat Rio membuka mulutnya untuk menyapa Alvin, Rio buru-buru sembunyi di balik tembok. Karena dia melihat Alvin dan Sivia. Alvin dan Sivia. Berdua. Di kelas.
‘Yah. Si Alvin diem-diem menghanyutkan! Dia gak pernah cerita kalo dia naksir Sivia!’ pikir Rio sambil ngintip-ngintip Alvin dan Sivia yang lagi berduaan di dalam kelas.
“Ooh… Kalo yang ini itu, angka yang ini dikalikan sama yang ini, nanti hasilnya dibagi sama yang ini” suara Alvin yang sedang menjelaskan rumus-rumus terdengar sayup-sayup.
“Oooh… caranya ternyata gitu, ya… Ya udah deh, makasih ya Vin!” suara Sivia yang lembut juga terdengar sayup-sayup.
Rio yang masih sembunyi di balik tembok sudah tidak mendengar suara apa-apa lagi. Dan dia memutuskan untuk masuk ke kelas. Tepat pada saat Rio melangkah masuk ke dalam kelas, dia melihat…
Rio melihat Alvin yang menyodorkan sebatang cokelat yang dihiasi pita kepada Sivia. Sivia menerimanya dengan muka yang merona merah dihiasi dengan senyuman manisnya.
“Makasih ya, Vin!” ucap Sivia sambil memegang erat cokelat pemberian Alvin. Alvin tersenyum sambil mengangguk. Sivia menyadari ada Rio yang berdiri mematung di sebelah papan tulis, lalu Sivia buru-buru keluar dari kelas. Tetapi Rio masih sempat melihat rona merah di pipi Sivia saat Sivia berjalan melewatinya.
Rio meletakkan tasnya tanpa ekspresi. Alvin kelihatan salah tingkah. Rio tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi saat ia melihat Alvin yang tiba-tiba salting.
“CIE CIEEE!! Ngakunya belom pernah suka sama ceweeeek… Kok tadi beduaan…” goda Rio sambil menusuk-nusuk pinggang Alvin dengan pensilnya.
“Apaan sih Yo! Aku cuma ngasih Sivia cokelat!” kilah Alvin, berusaha membuat wajahnya terlihat biasa. Tapi gagal.
“Cuma ngasih yaa? Yakin cuma ngasih?? Hahahahaaa” goda Rio lagi, Alvin meninju lengan Rio pelan.
“Halah! Elo mah kerjanya ngegodain gua melulu! Ntar sore elo mulai kerja kan?” tanya Alvin, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Yap! Gua udah diajarin sama Kak Iel, katanya, kalo suka sama cewek, kita bisa ngasih surat ke cewek itu! Gua udah nyiapin surat nih, ntar gua selipin di kamar Ify!” jawab Rio semangat.
“Mana suratnya? Gua baca dong!” pinta Alvin sambil mengulurkan tangannya.
“Nggak. Ga boleh diliat sama siapapun!” tolak Rio tegas, tapi sambil cengengesan. Alvin menoyor kepala sahabatnya itu, lalu
mengeluarkan catatan kimianya untuk dibaca-baca.
***
“Yo, elo langsung ke rumah gua aja ya? Gua pulang duluan, ya Vin, Yo. Daah” pamit Ify sambil tersenyum pada Rio. Rio berusaha untuk membalas senyum Ify walaupun sesak nafas.
“Udah! Ngapain cengengesan gitu? Elo bareng gua aja ke rumah Ify! Ntar gua pulang ke rumah, elo langsung ke rumah Ify” suruh Alvin sambil menarik tangan Rio yang masih terpana karena senyuman Ify.
Alvin dan Rio segera masuk ke mobil, sopir Alvin juga sudah menunggu dari tadi. Di mobil, Rio berkali-kali berusaha menepis perasaannya yang nggak PD.
***
“Udah, Vin. Gua turun disini aja deh. Makasih ya Vin!” ucap Rio seraya turun dari mobil Alvin. Alvin mengangguk sambil
tersenyum, lalu mobilnya melaju ke pekarangan rumahnya sendiri.
Rio berbalik ke gerbang rumah Ify dan membukanya. Sebetulnya Rio mau langsung kerja saja, tapi karena masih belum tahu letak perlengkapan taman kepunyaan Ify, ya sudah, Rio memutuskan untuk menekan bel rumah Ify saja.
“Sebentar…” suara Ify terdengar sayup-sayup saat Rio menekan bel rumah Ify. Deritan halus pintu terdengar, dan tampaklah Ify di balik pintu.
“Oh, elo, Yo! Mama lagi engga ada di rumah! Tapi tadi mama pesen, hari ini elo bisa ngeberesin taneman yang ada di dalem
rumah dulu aja” ujar Ify sambil memberi kode agar Rio masuk ke dalam.
“Nah, ini alat-alat yang bisa elo pake. Elo langsung mulai aja, ya? Gua masih mau makan. Oh iya, ntar tolong sekalian beresin
taneman yang ada di balkon kamar gua, ya! Tuh, kamar gua ada diatas, ada papan namanya kok” pesan Ify sebelum ia pergi ke meja makan. Ify percaya Rio tidak akan mengutak-atik barangnya.
Rio membereskan tanaman-tanaman yang ada di dalam rumah Ify dengan cepat, tanaman-tanaman yang tadinya layu pun terlihat lebih segar. Apalagi beberapa koleksi anggrek yang terletak di ruang keluarga, kini terlihat sangat indah dan cantik. Dan sekarang, saat yang paling ditunggu-tunggu Rio. Masuk ke kamar Ify dan menyelipkan suratnya!!
Perlahan-lahan Rio menaiki tangga, dan menemukan sebuah pintu kamar dengan hiasan nama“IFY”. Rio membuka pintu itu pelan.
WOW. Kamar Ify benar-benar… hijau! Rasanya nyaman berada di kamar Ify, serasa seperti di taman. Dengan wallpaper hutan yang teduh, dan furnitur di kamar Ify yang berbentuk seperti kayu alami, dan koleksi bunga favorit Ify di balkon kamarnya… Kamar itu benar-benar nyaman!
‘Kamarnya bagus bener! Nyaman banget deh kayaknya…’ batin Rio sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
Rio teringat suratnya yang akan dia selipkan untuk Ify, Rio buru-buru meraih surat itu yang terlipat dengan rapi di sakunya. Ia berusaha mencari tempat yang strategis untuk menyelipkan suratnya, sesaat kemudian, ia melihat ada sebuah novel yang dibatasi dengan pembatas buku. Otak Rio langsung bekerja, surat itu ia selipkan di tengah-tengah lembar novel itu.
‘Hehehe… Gua pengen liat ekspresi Ify pas dia baca surat gua!’ batin Rio sambil nyengir, ia segera sadar dari lamunannya dan buru-buru membereskan tanaman-tanaman Ify di balkon.
“Udah, Yo?” tanya Ify tiba-tiba, Rio yang tadi sibuk memotong daun yang sudah layu sampai terlonjak kaget. Untung gunting tanamannya nggak lepas dari tangannya.
“Err… Ini udah kok!” jawab Rio singkat, jantungnya masih berdebar nggak karuan karena kaget.
“Ini kan udah jam 5, tandanya elo udah 3 jam kerja. Elo bisa pulang kok. Oh iya, di bawah ada minuman sama makanan, kalo elo mau” ujar Ify, melirik jam dindingnya
“Oh.. iya deh. Gua pulang ya, Fy…” pamit Rio, ia lalu meraih tasnya yang diletakkan di lantai, lalu turun ke lantai bawah. Di ruang tamu, ia sempat meneguk minuman yang sudah disediakan oleh Ify. Setelah itu ia
bergegas pulang.
Ify berniat membaca novel yang belum diselesaikannya tadi. Ia duduk di kursinya dan membuka halaman dimana ia meletakkan pembatas buku.
‘Surat??’ batin Ify, keningnya berkerut. Ia mendapati sebuah surat yang terlipat rapi di
salah satu halaman novel itu. Ia membukanya perlahan.
Ify, hai! Elo mungkin engga kenal sama gua ya? Engga apa-apa, pokoknya mulai sekarang gua selalu ada buat elo!
PS : Maap kalo surat gua ini engga ada romantis-romantisnya. Gua engga berbakat.
Ify tertawa pelan saat membaca surat itu. Ya, hanya tulisan itu saja. Tanpa nama penulis. Tulisan tangannya rapi.
Ify masih menyunggingkan senyumnya saat melipat kembali surat aneh itu. Ia melipatnya menjadi 8 bagian, dan diselipkannya di dalam buku jurnal kesayangannya. Tempat dimana dia menyimpan semua kenangan manisnya.
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Rio sukses diterima jadi tukang kebun di rumah Ify, tapi di perjalanan pulang, ada motor yang mengikutinya, siapakah itu?
****
BRUUUMMM!! TIN TIIIN!!!
“ADUH KAGET GUA!!” seru Rio lantang sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang sekarang. Dia menoleh pelan ke arah pengendara motor yang tadi sudah membuatnya kaget itu.
“KAK IEL!!!” jerit Rio, masih lantang. Ia hafal jenis motor kakaknya dan plat nomornya. Gabriel melepas helm full facenya dan tidak bisa menahan tawanya.
“HAHAHAHAHAHAHAHAAA!! Eh, Yo! Salah sendiri! Sapa juga yang nyuruh elo jalan di tengah jalan? Untung tadi gua yang lewat! Kalo ada mobil, udah ditabrak lo! Eh iya, sejak kapan elo belajar menjerit kayak banci gitu? Hahahahahahaaaa!!” Gabriel masih sempat-sempatnya bercanda sebelum mengisyaratkan Rio agar naik ke motornya.
Rio hanya diam. Sewot. Lagi asyik-asyiknya mikirin Ify malah diganggu! Dengusnya sebal. Tapi tentu saja Gabriel tidak peduli, karena dia harus konsentrasi ke jalan.
***
“Rio? Kamu kenapa telat pulangnya?” tanya Mama Rio heran, biasanya kalau Rio pulang telat, pasti Rio memberitahu mamanya dulu.
“Tadi Rio ke rumah temen. Itu lho, Ma, rumah temen yang butuh tukang kebun. Tadi Rio udah diterima, jadi besok mulai kerja. Tapi kerjanya sehari 3 jam, Ma, dari pulang sekolah. Nggak apa-apa kan, Ma?” tanya Rio balik, Gabriel hanya mengerutkan kening mendengar jawaban adik semata wayangnya itu.
Mama Rio menggeleng cepat, “Nggak apa-apa. Itu tandanya kamu sudah makin mandiri! Nah, sekarang kamu makan, terus mandi ya!” Rio mengangguk, lalu berjalan ke ruang makan diikuti kakaknya yang masih digelayuti rasa heran. Adiknya? Jadi
tukang kebun?
“Yo, elo jadi tukang kebun?” tanya Gabriel heran saat Rio menyendokkan nasi ke piringnya. Rio hanya mengangguk.
“Kok tumben sih? Ah, gua tau. Ini pasti ada apa-apanya. Dan biasanyaa… cowok langsung mau berubah kayak gini gara-gara cewek. Gua tebak ya? Elo naksir cewek, ceweknya suka bunga atau tanaman, terus mungkin elo mau kerja di rumahnya?” Wow. Seratus buat Gabriel. Dengan cepat dan tangkas ia langsung menebak maksud Rio.
Dengan benar. Rio menghela nafas pelan, Kenapa kakaknya ini selalu tahu maksudnya sih?
“Ntar aja, kak. Ada mama tuh” bisik Rio pelan, sambil menunjuk mamanya yang sedang nonton TV.
Senyum Gabriel makin merekah. Ia yakin tebakannya tadi benar, karena tiba-tiba Rio jadi malu-malu kucing.
‘Heran. Kak Iel kok kalo nebak bisa bener gitu sih? Dulu pas gua minta diajarin ngegombal, langsung tau, sekarang gua naksir cewek, langsung tau juga! Dah, emang nasib punya kakak spesialis cinta gini’ pikir Rio sambil makan. Saking asyiknya mikir, makanan yang dia masukin ke mulut engga dikunyah dulu tapi langsung ditelen. Ajaibnya, Rio gak keselek sama sekali.
“Yo, gua tunggu di kamar ya! Ceritain yang sebenernya aja, sapa tau gua bisa bantu-bantu. Eheheheee” pesan Gabriel sambil senyum-senyum menggoda. Rio mengangguk pasrah.
***
“Oooh… Jadi gitu…” gumam Gabriel saat Rio selesai menjelaskan maksud utama dirinya yang mendadak mau kerja sambilan. Ya, karena mau pedekate ke Ify!
“Gini, gua kan tadi udah janji mau ngebantuin elo. Cara yang paling gampang buat elo yang baru pertama kalinya suka sama cewek. Adalaaah… elo bikin surat!” usul Gabriel cepat. Rio mikir, hmm… di dalam rumahnya Ify kan tanamannya di pot ada banyak juga, siapa tahu nanti dia bisa menyelinap sebentar ke kamar Ify buat nyelipin suratnya?
“Iya, bisa juga kak. Tadi sih di dalem rumahnya ada taneman di pot-pot gitu, siapa tau ntar mamanya nyuruh buat diberesin juga, jadinya kan gua bisa nyelipin surat di kamarnya Ify!” sahut Rio bersemangat. Wah, kakaknya ini oke juga buat tempat curhat masalah cinta!
Gabriel tersenyum puas, “Nah! Sapa tau juga di dalem kamarnya… siapa tadi? Ify? Di dalem kamarnya Ify ada tanemannya! Terus elo disuruh ngeberesin tanemannya, kan elo bisa langsung nyelipin suratnya!” Rio mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu ia segera pergi ke kamarnya untuk menulis surat. Ia berusaha mati-matian agar tulisan tangannya jadi lebih rapi, biar nggak gampang dikenali sama Ify.
***
Rio berjalan santai ke arah kelasnya, dia sempat melihat Alvin yang sudah ada di dalam kelas, saat Rio membuka mulutnya untuk menyapa Alvin, Rio buru-buru sembunyi di balik tembok. Karena dia melihat Alvin dan Sivia. Alvin dan Sivia. Berdua. Di kelas.
‘Yah. Si Alvin diem-diem menghanyutkan! Dia gak pernah cerita kalo dia naksir Sivia!’ pikir Rio sambil ngintip-ngintip Alvin dan Sivia yang lagi berduaan di dalam kelas.
“Ooh… Kalo yang ini itu, angka yang ini dikalikan sama yang ini, nanti hasilnya dibagi sama yang ini” suara Alvin yang sedang menjelaskan rumus-rumus terdengar sayup-sayup.
“Oooh… caranya ternyata gitu, ya… Ya udah deh, makasih ya Vin!” suara Sivia yang lembut juga terdengar sayup-sayup.
Rio yang masih sembunyi di balik tembok sudah tidak mendengar suara apa-apa lagi. Dan dia memutuskan untuk masuk ke kelas. Tepat pada saat Rio melangkah masuk ke dalam kelas, dia melihat…
Rio melihat Alvin yang menyodorkan sebatang cokelat yang dihiasi pita kepada Sivia. Sivia menerimanya dengan muka yang merona merah dihiasi dengan senyuman manisnya.
“Makasih ya, Vin!” ucap Sivia sambil memegang erat cokelat pemberian Alvin. Alvin tersenyum sambil mengangguk. Sivia menyadari ada Rio yang berdiri mematung di sebelah papan tulis, lalu Sivia buru-buru keluar dari kelas. Tetapi Rio masih sempat melihat rona merah di pipi Sivia saat Sivia berjalan melewatinya.
Rio meletakkan tasnya tanpa ekspresi. Alvin kelihatan salah tingkah. Rio tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi saat ia melihat Alvin yang tiba-tiba salting.
“CIE CIEEE!! Ngakunya belom pernah suka sama ceweeeek… Kok tadi beduaan…” goda Rio sambil menusuk-nusuk pinggang Alvin dengan pensilnya.
“Apaan sih Yo! Aku cuma ngasih Sivia cokelat!” kilah Alvin, berusaha membuat wajahnya terlihat biasa. Tapi gagal.
“Cuma ngasih yaa? Yakin cuma ngasih?? Hahahahaaa” goda Rio lagi, Alvin meninju lengan Rio pelan.
“Halah! Elo mah kerjanya ngegodain gua melulu! Ntar sore elo mulai kerja kan?” tanya Alvin, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Yap! Gua udah diajarin sama Kak Iel, katanya, kalo suka sama cewek, kita bisa ngasih surat ke cewek itu! Gua udah nyiapin surat nih, ntar gua selipin di kamar Ify!” jawab Rio semangat.
“Mana suratnya? Gua baca dong!” pinta Alvin sambil mengulurkan tangannya.
“Nggak. Ga boleh diliat sama siapapun!” tolak Rio tegas, tapi sambil cengengesan. Alvin menoyor kepala sahabatnya itu, lalu
mengeluarkan catatan kimianya untuk dibaca-baca.
***
“Yo, elo langsung ke rumah gua aja ya? Gua pulang duluan, ya Vin, Yo. Daah” pamit Ify sambil tersenyum pada Rio. Rio berusaha untuk membalas senyum Ify walaupun sesak nafas.
“Udah! Ngapain cengengesan gitu? Elo bareng gua aja ke rumah Ify! Ntar gua pulang ke rumah, elo langsung ke rumah Ify” suruh Alvin sambil menarik tangan Rio yang masih terpana karena senyuman Ify.
Alvin dan Rio segera masuk ke mobil, sopir Alvin juga sudah menunggu dari tadi. Di mobil, Rio berkali-kali berusaha menepis perasaannya yang nggak PD.
***
“Udah, Vin. Gua turun disini aja deh. Makasih ya Vin!” ucap Rio seraya turun dari mobil Alvin. Alvin mengangguk sambil
tersenyum, lalu mobilnya melaju ke pekarangan rumahnya sendiri.
Rio berbalik ke gerbang rumah Ify dan membukanya. Sebetulnya Rio mau langsung kerja saja, tapi karena masih belum tahu letak perlengkapan taman kepunyaan Ify, ya sudah, Rio memutuskan untuk menekan bel rumah Ify saja.
“Sebentar…” suara Ify terdengar sayup-sayup saat Rio menekan bel rumah Ify. Deritan halus pintu terdengar, dan tampaklah Ify di balik pintu.
“Oh, elo, Yo! Mama lagi engga ada di rumah! Tapi tadi mama pesen, hari ini elo bisa ngeberesin taneman yang ada di dalem
rumah dulu aja” ujar Ify sambil memberi kode agar Rio masuk ke dalam.
“Nah, ini alat-alat yang bisa elo pake. Elo langsung mulai aja, ya? Gua masih mau makan. Oh iya, ntar tolong sekalian beresin
taneman yang ada di balkon kamar gua, ya! Tuh, kamar gua ada diatas, ada papan namanya kok” pesan Ify sebelum ia pergi ke meja makan. Ify percaya Rio tidak akan mengutak-atik barangnya.
Rio membereskan tanaman-tanaman yang ada di dalam rumah Ify dengan cepat, tanaman-tanaman yang tadinya layu pun terlihat lebih segar. Apalagi beberapa koleksi anggrek yang terletak di ruang keluarga, kini terlihat sangat indah dan cantik. Dan sekarang, saat yang paling ditunggu-tunggu Rio. Masuk ke kamar Ify dan menyelipkan suratnya!!
Perlahan-lahan Rio menaiki tangga, dan menemukan sebuah pintu kamar dengan hiasan nama“IFY”. Rio membuka pintu itu pelan.
WOW. Kamar Ify benar-benar… hijau! Rasanya nyaman berada di kamar Ify, serasa seperti di taman. Dengan wallpaper hutan yang teduh, dan furnitur di kamar Ify yang berbentuk seperti kayu alami, dan koleksi bunga favorit Ify di balkon kamarnya… Kamar itu benar-benar nyaman!
‘Kamarnya bagus bener! Nyaman banget deh kayaknya…’ batin Rio sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
Rio teringat suratnya yang akan dia selipkan untuk Ify, Rio buru-buru meraih surat itu yang terlipat dengan rapi di sakunya. Ia berusaha mencari tempat yang strategis untuk menyelipkan suratnya, sesaat kemudian, ia melihat ada sebuah novel yang dibatasi dengan pembatas buku. Otak Rio langsung bekerja, surat itu ia selipkan di tengah-tengah lembar novel itu.
‘Hehehe… Gua pengen liat ekspresi Ify pas dia baca surat gua!’ batin Rio sambil nyengir, ia segera sadar dari lamunannya dan buru-buru membereskan tanaman-tanaman Ify di balkon.
“Udah, Yo?” tanya Ify tiba-tiba, Rio yang tadi sibuk memotong daun yang sudah layu sampai terlonjak kaget. Untung gunting tanamannya nggak lepas dari tangannya.
“Err… Ini udah kok!” jawab Rio singkat, jantungnya masih berdebar nggak karuan karena kaget.
“Ini kan udah jam 5, tandanya elo udah 3 jam kerja. Elo bisa pulang kok. Oh iya, di bawah ada minuman sama makanan, kalo elo mau” ujar Ify, melirik jam dindingnya
“Oh.. iya deh. Gua pulang ya, Fy…” pamit Rio, ia lalu meraih tasnya yang diletakkan di lantai, lalu turun ke lantai bawah. Di ruang tamu, ia sempat meneguk minuman yang sudah disediakan oleh Ify. Setelah itu ia
bergegas pulang.
Ify berniat membaca novel yang belum diselesaikannya tadi. Ia duduk di kursinya dan membuka halaman dimana ia meletakkan pembatas buku.
‘Surat??’ batin Ify, keningnya berkerut. Ia mendapati sebuah surat yang terlipat rapi di
salah satu halaman novel itu. Ia membukanya perlahan.
Ify, hai! Elo mungkin engga kenal sama gua ya? Engga apa-apa, pokoknya mulai sekarang gua selalu ada buat elo!
PS : Maap kalo surat gua ini engga ada romantis-romantisnya. Gua engga berbakat.
Ify tertawa pelan saat membaca surat itu. Ya, hanya tulisan itu saja. Tanpa nama penulis. Tulisan tangannya rapi.
Ify masih menyunggingkan senyumnya saat melipat kembali surat aneh itu. Ia melipatnya menjadi 8 bagian, dan diselipkannya di dalam buku jurnal kesayangannya. Tempat dimana dia menyimpan semua kenangan manisnya.
*****
-author: ditaa
-facebook: Anindita Putri
Subscribe to:
Posts (Atom)